Aug 18, 2007

'Kay Mau Ke Shubang!'

‘Mama pulang dulu ya,’ demikian suara Nenek membangunkan Baba. Sebelum Baba sempat menjawab, Kay menyeruak masuk, air mata berderai di pipinya.

‘Kay mau ke Shubang!’ rengeknya.

Baba menggendong anak itu dan membujuknya.

‘Iya, nanti kita ke Subangnya, ya,’ bujuk Baba, ‘kan sekarang Teteh Iis lagi di kampung.’

Teteh Iis memang sedang ijin pulang kampung selama tiga hari.

‘KelumahYangtikeshubangshamaNenekaja!’ rengeknya lagi.

‘Shh, shh,’ bujuk Baba sambil menepuk-nepuk punggung Kay, ‘kata Jojo apa? Kalau kamu kesal, tarik na—?’

Kay menolak meneruskan kalimat itu. Tangisnya makin menjadi. Tangan kirinya menunjuk-nunjuk ke garasi.

‘Mau shama Kakek!’ tangisnya sambil menunjuk Kakek yang sedang memarkir mobil.

‘Iya, nanti kita ke Subang,’ Baba terus membujuk Kay hingga ia agak tenang.

Baba melap ingus dan air mata Kay dengan handuk kecilnya, lalu menyalakan TV. Iklan produk suplemen terpampang di layar. Baba mengganti saluran ke Playhouse Disney.

‘HUAAAAAAAA!!!’ tangis Kay kembali merebak. Ia sekarang terbaring di tempat tidur di depan TV, kakinya menendang-nendang tidak karuan.

‘Ganti!’ katanya meminta saluran TV diganti, ‘She-De-El aja!’

‘Emang tadi lagi iklan itu?’ tanya Nenek.

‘Iya, tadi diganti ke saluran anak-anak,’ jelas Baba.

Saat saluran dipindah iklan itu sudah selesai, beruntung Kay bisa segera terbujuk melihat iklan-iklan lainnya. Setelah tenang, Baba kembali menggendong Kay dan menyuruhnya berpamitan pada Nenek.

‘Salim dulu, Kay,’ kata Baba.

Sambil cemberut Kay mencium tangan Nenek.

‘Sini yuk, sama Kakek,’ kata Kakek menyodorkan dua tangan sebagai tanda ingin menggendong.

‘Jangan, Pa,’ kata Baba, ‘nanti ngamuk lagi lho.’

Benar saja. Tangis Kay meledak lagi. Setelah Kay berhasil dibujuk dan tangisnya berhenti, Nenek dan Kakek naik ke mobil dan berangkat ke Subang.

Kay menolak melambaikan tangan maupun memberikan kiss bye.

Setelah masuk ke rumah lagi, Kay tampak masih kesal. Sambil merajuk ia mulai mencari-cari mainannya.

‘Mau itu!’ katanya.

‘Mau apa? “Itu” apa?’ tanya Baba sambil menghampiri Kay.

‘Itu!’ katanya lagi, tangisan sudah membayang di wajahnya.

‘Sini,’ kata Baba sambil memeluk Kay, ‘Kay mau apa?’

‘Shapu,’ katanya. Rupanya ia mau memainkan sapu kecil yang dulu sekali dibelikan Nenek. Kay memang sangat suka menirukan Bibi menyapu dengan sapu mini tersebut.

Setelah itu Kay menghampiri Baba dan meletakkan kepalanya di pangkuan Baba. Baba mengangkatnya dan merebahkan Kay di tempat tidur depan TV dan kami pun menonton TV bersama.

‘Baba goyang-goyang Kay,’ kata Baba sambil menirukan cara Kay menggoyang badannya.

Kay ikut goyang-goyang. Senyumnya kembali terkembang.

Aug 17, 2007

Kegiatan Hingga Siang Hari Ini

‘Bobo,’ kata Kay sambil merebahkan tubuhnya di lantai teras depan rumah.

‘Oh, gitu bobonya,’ kata Bibi. Nenek memperhatikan tingkah Kay sambil tersenyum.

Tiba-tiba Kay bangkit berdiri sambil berkata, ‘Ambil bantal.’

Ia masuk ke dalam rumah. Tujuannya adalah kamar tidur, tempat yang ia tahu pasti ada bantalnya.

‘Ini ada bantal di sini,’ kata Baba sambil menunjuk ke sofa ruang tamu. Di sofa itu memang tergeletak sebuah bantal. Sofa ini adalah tempat tidur siang favorit Kakek. Kay berbalik arah dan mengambil bantal itu. Setelah meletakkan bantal di lantai teras, ia kembali merebahkan tubuhnya.

‘Oo, anaknya Mama,’ kata Bibi. Kay senyam-senyum, memamerkan lesung pipit sebesar ujung jarum di sudut kanan bibirnya.

Kemudian ia mengangkat perut dan merapikan bajunya agar menutupi perut. Lalu ia rebahan menghadap satu sisi, meringkuk dan menepuk-nepuk pantatnya, seperti yang biasa Baba atau Bibi lakukan untuk membuatnya tidur.

Semenit kemudian ia bangun lagi, menghampiri meja komputer. Kay menarik-narik kursi dan memposisikan kursi itu di depan komputer sambil bergumam, ‘Gini. Gini.’

Setelah kursi itu berada di depan monitor ia pun duduk. ‘Duduk,’ katanya. Lalu ia menarik laci keyboard dan mulai berpura-pura mengetik.

Baba, Nenek dan Bibi memperhatikan segala kelakuan Kay sambil tersenyum geli.

Saat Baba melintas, Kay turun dari kursi dan mengikuti Baba ke dapur. Baba berbalik dan menangkapnya lalu melemparnya tinggi-tinggi melampaui kepala Baba. Kay senang sekali dilempar dan, tentu saja, ditangkap lagi seperti itu.

‘Lagi!’ serunya, ‘Terbang lagi!’ Nyaring sekali suara tawanya, memenuhi rumah.

Baba melemparnya sekali lagi, lalu menggendongnya ke dapur.

‘Mimi dulu, yuk,’ ajak Baba. Kay minum setengah gelas air putih. Rupanya ia haus sekali.

‘Mau itu,’ katanya setelah turun dari gendongan Baba. Tangannya menunjuk kulkas. Di dinding kulkas terpasang secarik kertas kado bertuliskan Happy Birthday bekas pembungkus hadiah ulang tahun Kay.

‘Mau ini?’ tanya Baba sambil mengambil kertas kado tersebut.

‘Mau itu,’ kata Kay. Tangannya masih menunjuk sisi kulkas.

Rupanya yang ia inginkan adalah magnet kulkas berbentuk disk yang melekatkan kertas kado itu.

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Kay mengangkat bajunya dan mulai mengerik perut.

Yes, Gentles, lempengan magnet kulkas itu ia gunakan untuk kerokan. Ada-ada saja.

Kemudian ia mendekati Kakek yang sedang mengambil nasi dan mengerik punggung Kakek.

‘Aduuh, sakiit,’ kata Kakek.

‘Shakit,’ ulang Kay, ‘beldalah.’

Menurut Kay kalau sakit pasti berdarah.

Beberapa menit kemudian Kay sudah duduk di lantai, lempengan magnet kulkas ditutul-tutulkan ke lantai lalu ia gosok-gosokkan ke telapak kaki dan tangannya. Ia masih menggunakan magnet itu untuk kerokan. Kali ini pasiennya adalah dirinya sendiri.

Semua kegiatan ini berlangsung dalam tempo kurang dari dua jam. Kay mulai terlihat aktif dan tidak bisa diam.

Saat Baba mengetik entri ini, ia sudah melongok ke monitor komputer, memperhatikan tulisan yang Baba buat, minta diputarkan lagi Curi-Curi Pandang kesayangannya, menari diiringi lagu itu, menepuk-nepuk pahanya mengikuti irama lagu, berlari lagi ke dapur, mengangkat setengah buah pepaya dari piring dan mengambil bijinya dan menghancurkan biji pepaya itu dengan sisi lempengan magnet kulkas yang tadi ia pakai untuk kerokan.

Di dapur Baba menemukan Kay sedang mengusap-usap sikutnya.

‘Shakit. Pake Zam-Buk,’ katanya.

‘Kenapa?’ tanya Baba.

‘Kepentok tembok,’ jawab Bibi.

Baba mengambilkan Zam-Buk yang ia minta dan ia mengoleskannya ke sikutnya yang sakit.

Saat ini Kay sedang makan siang. Menu hari ini adalah tahu goreng dan kecap, sayur bening brokoli dan wortel dan, tentu saja, selembar keju cheddar.

Aug 9, 2007

Transkrip Pembicaraan Melalui Telepon

Baba : Lagi ngapain dia Is?
Teteh Iis : Itu lagi di tempat tidur.
Baba : Baru bangun?
Teteh Iis : Nggak. Biasa lah.

Tempat tidur lagi dibersihkan kan digeser, dia nangkring di

pinggiran tempat tidur nyanyi 'Kucingku Belang Tiga'.
Baba : Nemplok di pinggiran kasur sambil ayun-ayunan?
Teteh Iis : Iya. Biasa.
Baba : Sekolahnya gimana?
Teteh Iis : Ih! Males! Disuruh nggak mau, malah meluk-meluk gurunya!

Untungnya gurunya laki, jadi digalakin sedikit dia mau nurut.
Baba : Lho, emangnya kalo gurunya perempuan dia gimana?
Teteh Iis : Malah makin susah dan manja

Meluk-meluk dan bilang 'Aduuuuh!', 'Alaaaaah!'
Baba : Mana anaknya? Mau ngomong nggak?
Teteh Iis : Kay, ini Baba nih! Hayu ngomong dulu sini!
Kay : (Memperdengarkan sejumlah geraman dan erangan marah.)
Baba : Ya udahlah kalo nggak mau.
Teteh Iis : Tadi dia habis minum susu minta melon.

Akhirnya malah melonnya nggak dikunyah. Kenyang kali ya.
Baba : Diemut gitu?
Teteh Iis : Iya.
Baba : Dasar.

Ya udah lah kalo gitu. Nggak mau ngomong dia.
Teteh Iis : Ya udah ya.

Aug 7, 2007

Anak Manisnya Baba dan Mama

Kay mengangkat kepalanya dan memandang Baba sambil senyum.

‘Baba, Baba, Baba, Baba!’ serunya.

Ia sedang memilah-milah mainannya saat ia memanggil Baba. Baba sedang sarapan di meja makan di salah satu sisi ruangan, sementara Kay berada di sisi lain ruang tengah itu. Di dekat pintu yang menuju garasi.

‘Apa sayang, apa sayang, apa sayang,’ jawab Baba membalas senyumnya.

Sebelum Baba menyelesaikan kata-kata itu, Kay dengan tergopoh-gopoh beranjak dan menghampiri Baba…

…lalu memberikan sebuah pelukan erat yang amat hangat di pagi yang tiba-tiba menjadi sangat cerah bagi Baba.

Setelah itu ia kembali lagi menuju tumpukan mainannya dan kembali asyik bermain…

Aug 1, 2007

A Day In The Life Of Kay

05:30 – 06:00

Bangun pagi, pipis, langsung cari ayam atau mainan favorit hari ini. Main-main, gangguin Baba yang masih bobo.


07:00 – 07:30

Sarapan: havermout dengan madu dan pisang atau bubur manado rekayasa (dengan brokoli, wortel dan kaldu ceker ayam) dan semur tahu atau bubur roti dengan susu dan telur atau nasi dengan telur orak-arik.


08:00 – 09:00

Main, nonton TV atau jalan-jalan ke TK dekat rumah


09:00 – 09:30

Milkshake time (susu Ultra tawar, strawberry dan madu) atau susu dan madu (kalau tidak ada strawberry.)


09:30 – 11:30

Main lagi.


11:30 – 12:30

Makan siang. Sayur bening (oyong, katuk, bayam atau bayam merah dengan wortel) atau sop bola-bola daging atau udang dengan kaldu ceker dan semur tahu dan hati ayam atau nasi tim ayam atau kwetiau goreng.


13:00 – 15:00

Bobo siang.


15:00 – 16:00

Buah (pisang, alpukat atau papaya) dan susu cokelat atau bila tidak ada buah, agar-agar.


16:00 – 17:30

Main di depan rumah.


17:30 – 18:30

Makan sore, menu sama dengan makan siang.


19:00 – 20:30

Main di dalam rumah, atau menonton TV (Playhouse Disney). Minum susu tawar dengan madu atau susu cokelat.


20:30 – 21:00

Gosok gigi, cuci muka, kaki dan tangan, pakai piyama.


Sekitar jam 21:00

Bobo malam.


23:00 – 23:30

Dibangunkan Baba untuk pipis tengah malam sebagai pencegah ngompol. Langsung dilanjutkan dengan bobo lagi sampai pagi.

Talik Napaash

‘Talik napaash. Ssssssss—haaaaaa,’ kata Kay sambil menarik napas dalam-dalam. Saat menarik napas dadanya membusung dan bahunya diangkat.

‘Terus?’ tanya Baba.

‘Hitung shampai lima!’ serunya, sambil nyengir nakal.

‘Sampai sepuluh,’ kata Baba mengoreksi.

‘Shampai lima!’serunya lagi sambil tertawa-tawa jahil.

‘Sampai sepuluh,’ kata Baba lagi, ‘Jojo bilang tarik napas dan hitung sampai sepuluh.’

‘Shampai shepuluh,’ kata Kay akhirnya. Lalu dia lari menjauhi Baba sambil tertawa-tawa dan berteriak, ‘SHAMPAI LIMAAAAAA!!! HAHAHAHA!!’

Jul 30, 2007

Sapi atau Kambing? Kambing!

‘Ayo Kay, merangkak!’ perintah sang terapis pada Kay, ‘Seperti sapi.’

Sambil merangkak menuruti sang terapis Kay protes.

‘Bukan,’ katanya, ‘kambing.’

Maksudnya bukan sapi, tapi kambing.

Lalu Kay dengan jenaka menggoyang-goyangkan pantatnya sambil merangkak, memancing tawa dari semua orang yang melihatnya.

Iih, isengnya anak ini! Jangan-jangan dia akan jadi badut kelas nantinya...

Kuda Terbang

Akhirnya Baba sampai di rumah setelah usai mengunjungi perhelatan nikah rekan kerja di Cianjur dan Jakarta hari Minggu kemarin. Jam menunjukkan pukul 21:30 saat Baba menekan klakson mobil, minta dibukakan pintu garasi.
Saat Baba hendak memasukkan mobil ke dalam garasi yang sudah dibuka oleh Teteh Iis, tiba-tiba terdengar teriakan senang seorang anak kecil dari dalam rumah.
‘WAAAAAHAHAHAHAHAHAHA!!’
Sepersekian detik kemudian sosok Kay berlari keluar menyambut mobil. Teteh segera menggendong dan memasukkan Kay ke dalam mobil, di kursi sebelah pengemudi.
‘Ini Kay, Baba belikan mainan,’ kata Baba sambil memberikan mainan kuda terbang yang Baba beli di salah satu restoran di Puncak. Kuda itu terbuat dari karet dengan sebatang bambu mencuat dari perutnya, seperti wayang. Kaki-kaki kuda terbang itu berada pada posisi melompat, kaki depan terlipat sedangkan kaki belakangnya terjulur ke belakang. Dari sayapnya terpasang tali yang pada ujungnya terdapat cincin karet. Jika cincin itu ditarik sayapnya akan mengepak.
Kay senang sekali. ‘Kuda lumping,’ katanya.
Di dalam rumah, kuda terbang itu dimainkan olehnya, dikepak-kepakkannya sayap si kuda sambil bernyanyi:
Kuda lumping geningan ecel-ecelan
Lalu ia mulai menyelidiki apa yang menyebabkan sayap si kuda bisa mengepak. Ia merunut tali dan memperhatikan dengan seksama sambil menarik-narik tali itu dengan kencang.
‘Awas, nanti rusak,’ kata Baba memperingati.
‘Kita bobo yuk,’ ajak Baba, ‘bilang sama Bibi dan Teteh.’
‘Teh, Kay mau bobo dulu.’
‘Sama Bibi?’
‘Bi, Kay mau bobo dulu.’
‘Kay sudah ditolong sama Bibi hari ini. Bilang apa?’
‘Telimakashih.’
Lalu kami masuk ke kamar tidur.
Di kamar Kay tidak segera tidur. Dia masih asyik bermain-main dengan kuda barunya dan Baba harus mengingatkannya beberapa kali untuk tidur karena esok pagi harus sekolah.
Akhirnya Baba tidak yakin siapa yang tidur lebih dulu, Baba atau Kay, karena hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Baba...

Jul 27, 2007

Berkembang Biak?

Setengah mengantuk, Baba memanggil Kay yang sedang ngambek mencari Ayam Dua.

‘Ini, Ayam Dua ada di kamar,’ kata Baba.

Si bocah masih ngambek dan tidak mau beranjak dari tempatnya gogoleran di dekat tenda. Terpaksa Baba bangun, mengambil Ayam Dua dari tempat tidur dan menyerahkannya kepada Kay yang langsung berhenti merajuk.

Lalu Baba kembali masuk ke kamar dengan niat meneruskan tidur yang terganggu. Saat Baba hendak merebahkan tubuh, mata Baba tertumbuk pada sesosok mainan ayam yang tergeletak di atas tape compo.

Ayam Dua ada di sini, pikir Baba.

Tunggu, tunggu. Ayam Dua kan tadi udah dikasih ke Kay, kenapa masih ada di sini?

Baba mengambil mainan ayam itu dan bergegas keluar kamar. Kay masih bermain-main di dekat tenda. Tangan kanannya masih memegang Ayam Dua.

Baba memandang ayam di tangan Baba. Ayam Dua ada dua!?

Saat ini Kay sudah meninggalkan Ayam Dua dan mencari-cari Oli Uwa Abah*. Baba segera mengambil Ayam Dua, Ayam Kecil dan Ayam Satu, lalu menggabungkannya dengan Ayam Dua II yang ada di tangan Baba.

‘Teh?’ tanya Baba kepada Teteh yang sedang mencuci baju, ‘Ini ayamnya nambah?’

‘Iya, dibawa dari sekolah.’

‘Iya, yang ini kan dari sekolah,’ kata Baba menunjukkan Ayam Kecil.

‘Yang kakinya buntung juga dari sekolah,’ jelas Teteh, ‘yang punya Kay mah masih utuh.’

‘Ini ada tiga yang kakinya buntung,’ kata Baba lagi sambil menunjukkan Ayam Satu, Ayam Dua dan Ayam Dua II yang memang masing-masing sudah terpisah dari base-nya.

‘Yang ayam betina ini dari sekolah juga,’ kata Teteh menjelaskan.

Di tangan Baba ada empat ayam, tiga diantaranya kakinya sudah terpisah dari base, satu—Si Ayam Kecil—masih nempel dengan base. Ayam Satu yang kakinya buntung itu dari sekolah, begitu juga dengan Ayam Kecil dan, tampaknya, Ayam Dua II. Berarti—

‘Sekarang ayamnya ada lima?’ tanya Baba takjub.

‘Iya.’

Cepat sekali hewan-hewan ini berkembang biak!



*Gantungan berbentuk kemasan oli mobil yang menyatakan pada kilometer berapa mobil harus servis berkala. Gantungan yang Kay miliki diberikan oleh Uwa Abah.

Jul 24, 2007

Memberikan Pertolongan

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’ seru Baba mengiringi derap Kay keluar kamar.

‘Belhentiiiiiiii!’ kata Kay sambil mengambil sikap sempurna. Sebuah senyuman nakal tersungging di bibirnya.

‘Hormaaaat gerak!’ seru Baba lagi. Ia meletakkan tangan kanannya di dahi.

‘Kay,’ kata Baba hendak menguji pemahaman Kay akan perintah, ‘tolong ambilin kaus kaki Baba dong.’

Kay bergegas ke dapur, dengan lincah berkelit dari Bibi yang berusaha menghalanginya.

‘Mau ke mana?’ tanya Bibi yang hendak masuk. Bibi menghadang Kay ke dapur karena di sana tidak ada orang.

Kay berkelit dan meraih kaus kaki yang tersampir di gantungan handuk, lalu ia berbalik menuju Baba sambil mengayun-ayunkan sepasang kaus kaki itu.

Thank you,’ ujar Baba saat Kay memberikan kaus kaki.

Yowekam*,’ jawab Kay.

‘Baba pake kaosh kaki,’ ujar Kay saat melihat Baba memakai kaus kaki.

‘Eh, Kay, tolong Baba lagi dong,’ pinta Baba, ‘tolong ambilin buku Baba di kamar, ada di lantai. Bukunya berwarna biru ya.’

Kay masuk ke kamar dan sejenak kemudian keluar sambil membawa buku yang Baba minta.

Thank you,’ kata Baba.

Yowekam,’ jawab Kay, ‘Dadaaaaa!’ lanjut Kay sambil melambaikan tangannya. Ia tahu Baba sudah akann berangkat ke kantor.

‘Salim dulu dong,’ kata Baba. Kay meraih tangan Baba dan menciumnya.

‘Dadaaaaaa!’ katanya lagi.

‘Kiss dulu sini!’ Baba merangkul dan menciumi pipi tembam Kay. Kay tertawa-tawa kegelian.

‘Dadaaaaaa!’ katanya lagi. Lambaian tangannya makin bersemangat.

‘Dadaaa!’ jawab Baba, ‘Kiss-bye!’

‘Mmmmmuahhh!’ kata Kay sambil meletakkan tangannya di mulut.


*maksudnya: you’re welcome.

Ayam Dua

‘Ayam dua?’

Terdengar suara anak kecil mencari mainan favoritnya: sebuah miniatur ayam yang merupakan bagian dari sekelompok mainan hewan-hewan ternak yang Baba belikan bulan lalu.

Kay saat ini memiliki tiga buah miniatur ayam: seekor ayam betina yang ia sebut ‘Ayam Satu’, seekor ayam jantan berwarna jingga dan putih yang ia sebut ‘Ayam Dua’, dan seekor ayam jantan berwarna jingga dan hitam yang ia sebut ‘Ayam Kecil’ meskipun posturnya lebih besar dari Ayam Satu dan Dua.

‘Ayam Dua?’

Suaranya terdengar lagi, nyaring dan cempreng.

‘Pake celana dulu, nanti kita cari,’ jawab Teteh Iis.

‘Dishimpen di mana?’ tanya Kay lagi.

‘Nanti kita cari, ya,’ bujuk Teteh.

‘Dishimpen di mana?’ desak Kay.

‘Pake celana dulu, nanti tanya sama Baba. Ayamnya ada di kamar,’ kata Baba.

Kay merajuk. Kain gendong yang disampirkan di sandaran kursi ditarik dan dibuang.

‘Hey, sini!’ ajak Baba, ‘masuk ke kamar dan lihat di atas tape ada apa.’

Kay masuk kamar, cemberut. Ia mendekati tape compo dan mengambil Ayam Dua yang disimpan di atasnya.

Saat keluar dari kamar, senyuman mengembang di wajahnya.

* * *

Dua jam kemudian Ayam Dua kembali membuat kehebohan.

Si bocah, yang baru saja pulang main ayunan dari TK dekat rumah mencari si ayam, dan tidak bisa menemukannya.

Seisi rumah menjadi heboh, terutama karena Kay mulai merajuk dan menangis mencari Ayam Dua kesayangannya. Bujukan untuk menghitung hingga sepuluh gagal total.

‘Yuk sama-sama kita cari,’ Baba mengajaknya keliling rumah mencari si ayam.

Di dalam tenda hanya ada Ayam Satu dan hewan ternak lainnya.

‘Coba ke depan, yuk,’ ajak Baba. Yang diajak masih merengek dan mengikuti dengan enggan.

Tangisnya meledak ketika di teras depan yang ditemui hanya si Ayam Kecil.

‘Ayam Dua aja!’ rengeknya sambil melepaskan diri dari gandengan Baba dan duduk menangis tersedu-sedu di depan televisi.

Baba mencari Ayam Dua di kolong tempat tidur, Bibi mencari di dapur, Teteh di garasi.

Akhirnya Bibi mengambil kain gendongan dengan niat menenangkan si bocah sambil menggendongnya. Saat itulah si Ayam Dua jatuh dari lipatan kain.

‘Nih, ayamnya!’ kata Bibi.

Kay bangun dan mengambil si ayam. Lalu tangisnya berlanjut. Sudah terlanjur sakit hati dan kecewa rupanya.

Akhirnya Bibi tetap menggendong Kay dan kurang dari semenit kemudian ia tenang kembali.

* * *

Habis mandi, Baba mendapatkan Kay sedang duduk di depan pintu kamar mandi, menunggu Baba.

‘Ikut,’ katanya. Ia memang biasa ikut Baba ke kamar saat Baba bersiap-siap berangkat ke kantor.

‘Ayam Dua-nya ambil dulu, nanti hilang,’ kata Baba.

Tangan kecil Kay meraih dan mengambil Ayam Dua yang tergeletak di samping keset kamar mandi dan hampir saja ditinggalkan oleh Kay.

'If You're Upset, Take A Deep Breath And Count To Ten.'

Dalam beberapa minggu terakhir ini Baba sedang berusaha mengajarkan Kay untuk mengontrol marahnya.

Ide ini Baba dapatkan setelah bersama-sama dengan Kay menonton salah satu episode Jojo’s Circus di televisi.

Dalam episode itu Jojo berkata, ‘If you’re upset, take a deep breath and count to ten – jika kamu sedang kesal, tarik napas dalam-dalam dan hitung hingga sepuluh.’

Sekarang setiap kali Kay marah atau kesal, yang biasanya disusul dengan gigitan pada tangannya sendiri, Baba langsung menggendong Kay dan mengusap-usap punggungnya sambil membujuk.

‘Kata Jojo apa? Kalau marah, ambil napas dalam-dalam dan hitung sampai sepuluh. Yuk kita hitung: satuu.’

Kay masih diam, napasnya memburu.

‘Duaa.’

‘Tigaa.’

‘Empaat.’

Perlahan-lahan napasnya mulai teratur, tapi Kay masih cemberut.

‘Limaa.’

‘Enaam.’

‘Tujuuh.’

‘Delapaan.’

‘Sembilaan?’

‘Shepuluh,’ lanjut Kay. Mulutnya nyaris tidak terbuka dan suara yang keluar amat lirih, menyerupai bisikan.

Beberapa detik kemudian ia beringsut turun dari gendongan Baba dan kembali bermain-main.

Doakan Baba agar program ini berhasil ya, Gentles.

Jul 22, 2007

Sekuen Menuju Tidur Pagi Ini (sekitar 10:15)

Curi-curi Pandang -- Naif ('Jangan Terlalu' - 1998)

Kay menghampiri Baba dan minta diputarkan lagu 'Culi-culi Pandang' kesayangannya sambil memperhatikan Baba mengetik.


The Wedding Song -- David Bowie ('Black Tie White Noise' - 1993)

Baba sudah selesai mengetik dan sedang bermain Spider Solitaire sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kay bersandar pada Baba sambil sesekali mendorong meja komputer dengan kakinya.

'Jangan didorong-dorong,' kata Baba memperingatkan.


Rubber Band -- David Bowie ('David Bowie' - 1967)

Kay sudah bersandar pada Baba dengan manis, dia tenang mendengarkan Baba bernyanyi-nyanyi kecil. (Entah kenapa komputer memilih lagu-lagu yang tenang*). Baba perhatikan matanya sudah mengecil.


New Angels of Promise -- David Bowie ('Hours...' - 1998)

Lagu yang agak keras tidak membuat Kay mengubah posisinya. Teteh Iis melongok dan berkomentar: 'Laaah, kok ngantuk?'


Falling At Your Feet -- Bono and Daniel Lanois (The Million Dollar Hotel: Music from the Motion Picture - 2000)

Alunan manis soundtrack film The Million Dollar Hotel ini akhirnya mengantarkan Kay ke alam mimpi. Selesai lagu ini Baba menunduk untuk melihat keadaannya, Kay sudah memejamkan mata. Posisinya tidak berubah. Ia masih berdiri, bersandar pada Baba yang duduk di hadapan komputer ini.

Singing lullabies to your kid, no matter what the songs are, is always a great and fun experience.




*Baba selalu mengatur iTunes agar memilih lagu secara acak.

Baris-berbaris

Dari dapur, Kay berjalan menuju kamar. Kakinya diangkat tinggi-tinggi.

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’ goda Baba menirukan aba-aba gerak jalan.

Senyum si bocah melebar, dan gayanya makin menjadi-jadi. Kakinya makin diangkat setinggi mungkin.

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’

Di dalam kamar ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

‘Berhentiiiiiiiii gerak!’ seru Baba, ‘Siaaaaaaaaaaap (tangannya diangkat lurus-lurus di sisi tubuhnya) gerak! (tangannya dihentakkan rapat-rapat ke sisi tubuh)’

‘Hormaaaaaaaaat gerak!’

Kay pun mengangkat tangan kanannya ke dahi.

Wah, benar-benar cucu seorang purnawirawan!

Jul 21, 2007

Pagi Ini, Antara 08:30 Hingga 11:30

Keluar kamar, Kay menuju dapur dan mengambil sebuah gelas takar. Ia membawa gelas itu mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah, sambil sesekali berpura-pura minum darinya. Di antara dua ‘tegukan’ ia berkomentar:

‘Itu bukan minuman, Kay.’

Hahaha, kalau tahu itu bukan minuman kenapa masih ‘diminum’ juga, Nak?

* * *

‘Shalingan! Shalingan! Shalingan!’ seru Kay, sambil menghampiri Teteh Iis yang sedang menyaring teh.

‘Bilang minta, dong,’ kata Baba.

‘Minta shalingan, Teteh,’ kata Kay semanis-manisnya.

Setelah dibilas, Teteh menyerahkan saringan itu pada Kay.

‘Shendok! Shendok!’

‘Bilang apa?’ Baba mengingatkan.

‘Minta shendok, Teteh,’

Setelah sendok teh diserahkan, Kay segera menggosok-gosok sendok teh itu pada saringan di tangannya.

‘Kay sedang apa sih?’ tanya Baba penasaran.

‘Nyaling bubul,’ jawab Kay.

* * *

‘Mau pipish,’ kata Kay.

‘Yuk, pipis,’ ajak Baba, ‘Di mana pipisnya?’

‘Di kamal mandi.’

‘Kamar mandinya di mana?’

‘Di shitu.’

‘Tunjuk, dong.’

‘Di shitu,’ katanya lagi sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

‘Pipisnya sama Baba atau sama Teteh?’

‘Shama Baba.’

‘Sama Teteh aja, deh,’ goda Teteh Iis.

‘Ngngngngng!!! Shamababashamabibiajaikanlumbalumbaaja!’ omel Kay.

Rasanya Baba kenal sekali dengan gaya marah yang merepet itu…

Jul 19, 2007

Menasihati Kura-kura

‘Yuk lihat Bibi aja, yuk,’ ajak Baba mencoba membujuk bocah yang sedang kurang enak badan itu. Baba menggendong Kay mendekati Bibi yang sedang memasak sayur untuk makan siang Kay.

‘Bibi sedang apa, Kay?’ tanya Baba.

‘Mashak,’ jawab Kay lirih. Dia baru saja ngambek karena tidak ada yang menemaninya bermain, masing-masing berkutat dengan kesibukan pagi harinya. Bibi memasak, Teteh Iis mencuci baju, dan Baba bersiap-siap berangkat ke kantor.

Biasanya Kay tidak pernah keberatan dan bisa ditinggal main sendiri—entah di dalam tenda, atau menonton Playhouse Disney di TV, tapi mungkin karena sedang kurang enak badan ia jadi lebih sensitif.

‘Masak apa, Bi?’ tanya Baba.

‘Masak sayur bening oyong dan bayam kesukaan Kay,’ jawab Bibi, ‘mmmm enaaak.’

Kay beringsut turun dari gendongan Baba. Akhirnya Baba “diberi ijin” mandi oleh Kay.

‘Jangan dekat-dekat kompor ya,’ pesan Baba.

Kay berjalan ke tangga di dapur yang menuju tempat menjemur baju. Di salah satu anak tangga itulah terletak sebuah kontainer plastik yang dijadikan kandang untuk sepasang kura-kura brazil yang dibelikan Kakek di Subang.

Kay memandangi kura-kura yang setiap pagi diberi makan dan diganti airnya oleh Teteh Iis dengan penuh perhatian. Di permukaan air kandang kura-kura itu mengambang beberapa butir pellet pakan kura-kura itu.

‘Bau, Kay,’ kata Bibi, ‘makanannya kan dari udang, bau amis.’

Kay masih tetap memperhatikan kedua kura-kura itu.

‘Telan,’ katanya memerintahkan sepasang kura-kura itu menelan makanannya.

‘Telan,’ katanya lagi, ‘bial jadi daging.’

Baba, Bibi dan Teteh Iis tertawa.

‘Kamu yang harusnya telan makanan, jangan ngemut aja,’ kata Bibi di sela tawanya.

Jul 15, 2007

Sebelum Tidur Malam Ini

‘”Waah, besar sekali telur ini” kata induk bebek memandangi telur terakhir di sarangnya, lalu ia—’

‘Beshal,’ kata Kay. Kami sudah berada di atas tempat tidur, Kay sudah bersiap dengan piyamanya, matanya tampak lelah, tapi ia masih berusaha menahan kantuk dengan bermain-main dengan buku A Treasury For 3 Year Olds. Baba sedang membacakan dongeng The Ugly Duckling yang ada di dalam buku itu.

‘Gede,’ katanya lagi.

‘Iya,’ kata Baba, ‘besar itu sama dengan gede.’

‘Hitam,’ kata Kay lagi.

‘Apa yang hitam?’ tanya Baba, kali ini benar-benar heran.

‘Gogok,’ katanya. Rupanya ia mengasosiasikan kata-kata besar, gede,dan hitam dengan anjing Rottweiler milik Pakde Riza.

Kay celingukan, matanya mencari-cari sesuatu.

‘Cari apa?’ tanya Baba.

‘Cali buku. Ketemu,’ katanya sambil tersenyum dan meraih buku dibalik tubuh Baba. Ia langsung membolak-balik halaman buku itu.

‘Ini apa, Kay?’

‘Buaya,’ jawabnya.

‘Kalau yang ini apa?’ tanya Baba menunjuk gambar macan tutul.

‘Kucing.’

‘Ini anak macan tutul,’ kata Baba meralat.

‘Kucing hitam. Hiiii! Ada kucing hitam, hiii!’ katanya. Bibi Eni sering berkata demikian jika seekor kucing hitam masuk ke dalam garasi.

‘Kalau ada kucing hitam, usir aja,’ kata Baba, ‘gimana ngusirnya?’

‘Husss! Shana kucing!’ katanya dengan raut wajah serius.

‘Udah, kucingnya udah pergi,’ kata Baba. Baba tidak mau Kay tumbuh jadi anak penakut.

‘Sudah yuk,’ ajak Baba, ‘sudah malam. Bobo yuk.’

Setelah berdoa, Kay memeluk leher Baba dan memejamkan mata.

‘Duuuh! Sayangnyaa!’ katanya.

Yang Makan Rumput Dan Daun Pisang

‘Makan lumput,’ kata Kay.

‘Makan daun pishang,’ lanjutnya lagi.

‘Apa yang makan rumput dan daun pisang, Kay?’ tanya Baba.

‘Kambing,’ jawabnya dengan nada memberitahu.

Mengingat Pelajaran Sekolah

‘Pegang tiga!’ seru Kay sambil menempelkan tangannya pada halaman buku yang bergambar angka tiga, ‘Shiapa namamu?’

Ia rupanya sedang mengingat-ingat pelajaran di sekolahnya. Baba membantu Kay dan bertanya.

‘Siapa namamu?’

‘Kay.’

‘Kay apa?’

Kelil Alenuma Pa’ish*.’

‘Berapa umurmu?’

‘Empat tahun.’

‘Di mana rumahmu?’

‘Di Pondok Gede.’

‘Siapa ayahmu?’

‘Ayah Pa’ish,’ katanya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Bapak Pa’ish.’

‘Siapa ibumu?’

‘Mama Wiwi.’

*maksudnya: Kayril Arenuma Faiz.

Ulang Tahun

Hari ini Kay berulangtahun yang keempat.

Sore tadi, sepulang dari kondangan Baba memberikan hadiah kepada Kay. Ia tampak senang menerimanya. Ia langsung berusaha membuka kertas hias pembungkus hadiah itu.

Bret! Bret! Bret!

Akhirnya kertas pembungkus itu berhasil Kay lepaskan dari hadiahnya.

‘Bukain,’ pintanya pada Baba.

Baba pun membantu Kay membuka kardus mainan barunya: sebuah mobil patroli polisi Lego Duplo. Lengkap dengan sirine yang dapat berbunyi dan menyala.

‘Pak Polisi ini temannya Pak Item, Kay,’ kata Baba menjelaskan. Pak Item adalah petugas pemadam kebakaran Lego Duplo milik Kay.

Kay acuh, ia asyik memencet sirine yang suara dan lampunya jauh lebih menarik dari penjelasan Baba. Setelah itu ia asyik mendudukkan Pak Polisi di dalam mobil dan menjalankan mobil patrol itu ke garasi.

Pagi tadi Kakak menelepon Kay untuk mengucapkan selamat. Setelah mendengarkan ucapan dan berkata terima kasih, Kay segera meloloskan diri dari pangkuan Baba dan berlarian ke dapur untuk mengganggu Teteh Iis.

‘Tanyain dia mau apa,’ kata Kakak.

‘Kay,’ panggil Baba, ‘Kay mau hadiah apa dari Kakak?’

‘Tanyain dia mau baju, sepatu atau mainan?’

‘Wah, sepatu kan dia masih ada yang dari Mamanya kemarin, dan dia juga baru saja aku belikan sandal sepatu,’ kata Baba.

‘Tanyain aja dulu,’ desak Kakak.

‘Kay mau baju, sepatu, atau mainan?’

Diluar dugaan Baba Kay menjawab: ‘Sepatu.’

‘Mau sepatu katanya, Kak,’

Di ujung sana Kakak tertawa, ‘Kayak Mas Robba, maunya sepatu.’

‘Ini si Mon-Mon mau ngucapin selamat katanya,’ kata Kakak lagi.

‘Kay, ini Paman Mon-Mon mau ngomong nih,’ panggil Baba.

‘Paman Mon-Mon!’ seru Kay sambil berlari menghampiri.

‘Mon-Mon!’ katanya setelah handset telepon menempel di pipi kanannya.

Terdengar suara Paman Mon-Mon mengucapkan selamat pada Kay.

‘Hayo bilang terima—?’

‘Telima kashih,’ kata Kay.

Sorenya, Mama menelepon Kay dari Swedia.

‘Selamat ulang tahun, Kay,’ kata Mama.

Setelah ber-telima kashih, Kay langsung merosot dari pangkuan Baba dan berlarian ke sana kemari. Gelak tawanya membahana terdengar hingga Swedia.

‘Ngapain dia, Ba?’ tanya Mama.

‘Nggangguin Teteh Iisnya. Si Teteh mau masuk kamar mandi sama dia ditarik keluar lagi sambil ketawa-tawa nggak keruan,’ jawab Baba.

Jul 1, 2007

Kambing

Suara nada sambung menyambut telinga Baba. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

‘Halo?’ terdengar suara Teteh Iis di ujung sana. Di Subang.

Sejak Jumat kemarin, Kay dibawa Kakek dan Nenek berlibur di Subang. Hari Rabu besok akan ada perayaan khitanan khas Subang yang dimeriahkan dengan sisingaan. Dalam arak-arakan sisingaan ini anak yang dikhitan didudukkan di atas sebuah singa-singaan yang diusung oleh beberapa orang.

‘Sedang apa si Kay?’ tanya Baba. Gelak tawa Kay terdengar samar-samar.

‘Tuh, udah mandi bau kambing lagi,’ jawab Teteh.

‘Bau kambing?’ tanya Baba heran.

‘Iya, dia lagi main kambing,’ jelas Teteh.

‘Kambing siapa?’

‘Kambing yang akan disembelih untuk pesta Rabu besok,’ Teteh menjelaskan, ‘kan ditaruhnya di sini, jadi dimainin sama si Kay.’

‘Berani dia sama kambing?’

‘Ya gitu lah, dideketin, tapi kalo kambingnya bunyi Kay-nya kabur,’ jawab Teteh. Embikan kambing yang ditingkahi oleh lengkingan tawa seorang anak kecil terdengar. ‘Kambingnya mau dinaikin sama dia,’ kata Teteh lagi.

‘Ya ampun. Itu kambing nggak marah?’ tanya Baba lagi.

‘Nggak. Didorong-dorong pantatnya. Tapi kalo kambingnya nengok dia langsung kabur.’

Ada-ada saja tingkah anak ini. Tapi itulah salah satu kelebihan Kay, ia tidak pernah takut pada binatang. Paling tidak sampai saat ini belum ada binatang yang ditakuti olehnya.

‘Kemaren dia digigit ikan,’ kata Teteh.

‘Hah? Ikan apaan? Di mana?’

Kemudian Teteh menjelaskan bahwa saat sedang berkunjung ke rumah salah satu kerabat, Kay bermain-main dengan ikan di kolam. Salah satu ikan tersebut menyambar tangan Kay, mungkin saat itu si ikan merasa terganggu, atau mungkin juga sekadar hendak berkenalan. Yang pasti Kay kaget dan langsung menghampiri Nenek dan minta pulang.

Namun tidak berarti dia merajuk dan minta pulang sambil menangis. Tidak. Kay minta pulang sambil cengar-cengir.

‘Ya sudah, nanti kalo bau kambing mandikan saja lagi anaknya,’ jawab Baba.

Gelak tawa Kay dan suara embikan kambing masih terdengar sama nyaringnya.

Oh iya, hampir lupa.

Kakek juga membelikan Kay kura-kura brazil.

Jun 24, 2007

Kalles™ Kaviar

Kalles™ Kaviar, begitulah yang tertulis di salah satu sisi tube bergambarkan wajah seorang anak lelaki berambut jagung yang sedang tersenyum lebar. Dua kata tersebut berarti ‘kaviarnya Kalle’, dan Kalle adalah anak lelaki dengan senyum lebar itu.

Tube itu berisi pasta yang terbuat dari telur ikan kod yang diasap dengan bumbu-bumbu lainnya. Sandwich terbuka dengan isi telur rebus iris yang diolesi Kalles™ Kaviar ini adalah makanan ringan favorit orang Swedia, dan segera pula menjadi favorit Mama Kay. Mama juga menitipkan Kalles™ Kaviar dan sebungkus knackerbrod, biskuit gandum khas Swedia.

Baba sarapan pagi ini dengan tiga buah knackerbrod yang diolesi Kalles™Kaviar. Saat Baba sedang menyuapkan sandwich sederhana itu ke mulut, Kay mendekatkan wajahnya.

‘Mau?’ tanya Baba sambil menyodorkan biskuit itu.

Kay membuka mulutnya dan mencicip ujung biskuit.

‘Gigit,’ perintah Baba. Ia menggigit ujung biskuit itu. Kecil saja. Mengunyahnya, lalu menelan. Lalu ia mendekatkan wajahnya lagi.

‘Mau lagi,’ katanya.

Baba menyodorkan biskuit itu lagi. Kali ini ia membuka mulutnya lebar-lebar.

Dan mengulum biskuit itu sedetik, seperti mengulum es krim, lalu menarik mulutnya dari knackerbrod itu.

‘Gigit dong!’ kata Baba.

Kay tidak mau. Ia memilih menjilat dan mengulum Kalles™ Kaviar yang melapisi biskuit itu.

Setelah beberapa kali mengulangi tindakan itu, akhirnya Baba meminta Teteh Iis untuk menempatkan sedikit Kalles™ Kaviar di sebuah piring kecil agar bisa langsung disuap oleh Kay.

Ia minta tambah tiga atau empat kali sebelum akhirnya puas.

‘Wah, kayaknya nama Kay harus diganti jadi Kalle, nih,’ usul Mama setelah Baba bercerita pada Mama lewat telepon siang tadi.

Tenda

Sekarang Kay memiliki sebuah mainan baru: tenda. Tenda ini dititipkan Mama kepada Yangti dan Kakak yang baru saja menjenguk Mama di Swedia.

Pada saat pemasangannya Kay memandangi Baba (yang bersusah payah mendirikan tenda itu) dengan tekun. Saking tekunnya, Baba harus berhati-hati sekali agar tiang-tiang tenda itu tidak menyodok Kay yang enggan beranjak dari tempat ia meletakkan pantatnya. Ketika tiga ujung tiang terpancang pada tempatnya, Kay langsung masuk ke dalam tenda itu. Ini tentu saja membuat pemancangan ujung keempat menjadi lebih sulit.

Setelah selesai terpasang, tenda itu langsung menjadi rumah kedua Kay. Ia langsung memasukkan beberapa mainan favoritnya, seekor ayam plastik dan sepasang angsa plastik, sebuah lonceng bundar dari plastik yang dulunya merupakan bagian dari sebuah rebana mainan, dan sebuah buku berjudul ‘Jika Aku Jadi Penguin’. Teteh Iis membekalinya dengan sebuah handuk kecil.

Ia makan siang di dalam tenda, dan bahkan memaksa untuk tidur siang di dalamnya.

‘Bobo di tenda aja!’ rengeknya ketika Baba menggendongnya masuk ke kamar, ‘Shama Bibi aja!’ lanjutnya sambil menghempaskan tubuhnya ke belakang, membuat kepalanya nyaris terbentur kusen pintu.

Akhirnya Baba dan Bibi mengalah. Bibi pun memaksa dirinya masuk ke dalam tenda menemani Kay tidur siang.

Jika dipandang dari samping, kita bisa melihat dua pasang kaki menyembul dari pintu tenda itu. Sepasang menyembul sebatas betis, dan sepasang lagi—kaki Bibi—menyembul sebatas paha.

Lima menit setelah Kay tertidur dalam tenda itu, ia segera dilapisi oleh keringat sebesar bulir-bulir jagung. Upaya memindahkannya ke dalam kamar berbuah tangisan, dan Bibi menyerah.

‘Nanti saja, setengah jam lagi, tunggu dia pulas,’ kata Baba.

Satu jam kemudian Baba menggendong keluar dari tenda, seorang anak yang meronta-ronta dengan hebat. Memukul-mukul dan menendang-nendang hingga kakinya menumbuk salah satu tiang tenda dan ia merengek:

‘Shakiiit, pake Minyak Tawon aja!’

Baba mengoleskan Minyak Tawon pada bagian kaki yang ditunjuk Kay.

‘Gendong shama Baba aja,’ rengeknya lagi.

Baba menggendong Kay, dan menenangkannya di luar tenda. Setelah itu menggendongnya masuk ke kamar. Di kamar Kay meneruskan tidurnya yang terganggu.

Untungnya pada malam hari Kay tida memaksa tidur di dalam tenda.

Jun 17, 2007

Wajan

Sore. Di rumah.

BREENGGG!!!!

Kay mengambil sebuah penggorengan kecil dan membantingnya. Lalu ia mula menelungkupkan penggorengn itu.

‘Kula-kula,’ katanya.

‘Di sini aja mainnya,’ kata Baba sambil mengajak Kay bermain di ruang tengah.

Lalu Kay asyik menonton Playhouse Disney Channel.

Baba menggunakan waktu ini untuk beristirahat sejenak. Dan karena sore itu cukup panas, Baba merebahkan diri di lantai, dengan wajan kecil yang tertelungkup sebagai alas kepala.

Kay langsung ikut merebahkan diri di lantai dengan perut Baba sebagai alas kepala. Ia menyilangkan kakinya. Kami berdua menonton Little Einsteins.

‘Bangun dulu,’ kata Baba setelah acara itu selesai, ‘Baba mau minum.’

Kay bangun dan mengambil wajan kecil alas kepala Baba. Ia mengangkat wajan itu dan menempelkannya di antara tengkuk dan punggung.

Jangan-jangan anak ini mau meniru Baba memakai wajan sebagai alas kepala, nih, pikir Baba agak was-was. Sementara itu Kay masih sibuk berusaha meletakkan wajan pada posisi yang pas.

Tapi kok bukan bagian cembung yang ditempelkan ke tengkuk? Lagipula kok terlalu ke bawah nih, posisinya, pikir Baba lagi. Kay memang menempelkan bagian cekung wajan itu ke bawah tengkuk, lebih dekat ke punggung.

Akhirnya Baba menghampiri Kay dan bertanya, ‘Mau diapakan penggorengannya, Nak?’

Sambil masih memegang wajan tersebut di punggung, Kay menjawab mantap:

‘Kayak kula-kula.’

Tawa Baba pun meledak. Kay mengira Baba sedang menertawakannya. Dengan kesal ia melempar wajan itu.

‘Jangan marah, Nak,’ kata Baba menjelaskan, ‘Baba senang sekali Kay sudah bisa begitu. Baba bangga sekali, Nak.’

Senyum Kay terkembang, marahnya hilang. Ia melompat-lompat kegirangan di paha Baba.

Sakitnya bukan kepalang.

Sentul--Bertingkah Dengan Mike--Pinsil Warna--Duet--'Ada gogok. Beshal.'

Hari ini Kay dan Teteh ikut menemani Baba ke rumah Mas Riza, ada perhelatan kecil di rumahnya, di kawasan Sentul, Bogor.

Seperti biasa, ia menyalami semua orang dengan ramah, meskipun tidak mau turun dari gendongan Baba hingga kami sampai di teras belakang rumah.

‘Lihat ikan,’ kata Kay.

Teras belakang rumah Mas Riza memang dibatasi oleh kolam ikan berisi sekawanan ikan patin, dan beberapa jenis ikan kecil lainnya.

Turun dari gendongan Baba, Kay langsung berjongkok di tepi kolam. Sesekali ia memperhatikan Quenda, si Rottweiler betina melonjak-lonjak dalam kandang. Ia tampak ingin bermain dengan Kay.

‘Memang begitu,’ jelas Mbak Risa, ‘dia senang sama anak-anak, biasa main sama Rian.’

Kay tampak acuh tak acuh memperhatikan polah Quenda. Ia lebih berkonsentrasi pada ikan.

Sejenak kemudian, ia kembali minta gendong. Tepat saat Mas Riza meminta Baba untuk menyanyi. Jadilah Baba menyanyi sambil memangku Kay.

Mula-mula Kay masih belum sadar apa yang Baba lakukan, ia masih asyik memandangi ikan dari balik punggung Baba, tapi pada lagu kedua Kay tahu apa yang sedang terjadi dan meraih mikrofon dan mendekatkannya ke mulut.

‘Yeeeeeee!’ serunya membahana, memancing tawa tetamu.

‘Ashalamualaikum,’ katanya lagi.

Lalu ia terkekeh-kekeh mendengar suaranya sendiri keluar dari loudspeaker.

‘Shatu, shatu aku shayang ibu,’ ia mulai menyanyi.

‘Terus?’ ujar Baba meminta Kay melanjutkan.

‘Yeeeeeee!!!’ serunya.

Lalu ia bersenandung tidak jelas.

Setelah menghabiskan semangkuk mie hijau dengan keju yang diambil dari roti, Kay kembali memamerkan sisi manjanya.

‘Minta gendong shama Baba,’ katanya sambil mengangkat kedua tangan.

Lalu lebih banyak tamu datang. Kay menyalami semua, meskipun ia tidak mau pisah dari gendongan Baba sama sekali. Ia bahkan cenderung marah bila ada yang menawarkan untuk menggendong.

Ternyata ia mengantuk. Setelah bertingkah dengan mike, makan semangkuk mie dan keju, maka Kay pun tertidur di gendongan Baba. Mas Riza mengusulkan agar Kay diletakkan di salah satu kamar di lantai atas agar tidak terganggu bisingnya suara tetamu yang mulai asyik berkaraoke.

Ketika ia bangun, suasana hatinya kurang enak, mungkin karena tidurnya terganggu. Kay menjadi rewel, apalagi ditambah dengan gangguan tak henti-hentinya dari Oom Murat. Padahal Oom Murat hanya ingin mengajak Kay bermain, dan akhirnya berhasil merebut perhatian Kay dengan gantungan kunci dan sekotak pinsil warna bergambar dua ekor burung.

‘Pegang biru!’ perintah Baba.

‘Biru!’ kata Kay sambil memegang pinsil warna biru.

‘Pegang kuning!’

‘Kuning!’ ia menyentuh pinsil warna kuning.

‘Pegang hijau!’

‘Hijau!’ katanya menyentuh pinsil warna hijau.

‘Pegang merah!’

‘Melah!’ katanya tanpa ragu memegang kotak pinsil warna tersebut yang memang berwarna merah.

Tante Sacha dan Oom Murat tertawa.

‘Hebat kamu!’ kata Oom Murat, ‘nggak kepikiran kan kalo dia akan megang kotaknya,’ katanya kepada Tante Sacha.

Kemudian Kay berhasil dibujuk Teteh untuk turun dari gendongan Baba. Kalau tidak salah bujukan itu dalam bentuk sekotak susu cokelat kegemarannya.

Baba menggunakan kesempatan ini untuk mengistirahatkan lengan yang mulai pegal menggendong anak seberat hampir 18 kg itu. Baba ke garasi, bercengkerama dengan beberapa rekan sekantor.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari dalam. Penasaran, Baba melongok dan melihat Mas Riza sedang bernyanyi. Di sebelahnya berdiri seorang lelaki kecil berkaus oranye yang juga memegang mike sambil sesekali bersenandung.

Yes, Gentles, Kay sedang berduet dengan Mas Riza.

‘Hmm-hmm-hmm,’ senandungnya.

‘Aaaaaaaaa,’ katanya.

‘Yeeeeee!!’ serunya.

‘Oo, A, O, O, A!’ katanya mengulangi ritme yang sering disuarakannya sejak bayi.

Baba menghampiri dan berbisik, ‘Bilang selamat siang.’

‘Shelamat shiang,’ kata Kay.

‘Shelamat shiang,’ ulangnya. Para tamu tertawa.

‘Shelamat shole,’ katanya lagi.

Pokoknya hari ini Kay puas bermain-main dengan mikrofon itu.

Tak lama kemudian kami pun berpamitan.

‘Pakde Liza, Kay pulang dulu,’ kata Kay berpamitan dengan Mas Riza.

‘Tante, Kay mau pulang dulu,’ katanya pada Mbak Risa.

‘Hayo bilang apa? Kay sudah makan, sudah main, dan sudah bobo di sini,’ kata Baba.

‘Telimakashih,’ kata Kay.

‘Sekarang mau pulang bilang apa?’

‘Ashalamualaikum,’

Lalu kami masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Mas Riza.

Di perjalanan Kay tak henti-hentinya berkata:

‘Ada gogok. Beshal.’

Jun 16, 2007

Mandi

Seperti biasa Kay selalu sulit dibujuk untuk menyudahi mandinya. Akhirnya Baba menghampiri Kay yang sedang berendam di bak mandi, mengambil gayung dan mulai mengosongkan bak mandi itu agar ada alasan kuat untuk menghentikan mandi Kay.

Baba mulai menciduk air hangat itu.

‘Shama Kelil aja, Ba,’ pinta Kay sambil meraih gayung di tangan Baba. Maksudnya biar dia saja yang menciduk.

Kay lalu meletakkan gayung itu di lantai, dan dengan gelas kecil di tangannya ia mulai menciduk air dan menuangkannya ke dalam gayung.

‘Shatuu,’ katanya menghitung.

‘Duaa,’

‘Tigaa,’

‘Empaat,’

‘Limaa,’

‘Enaam,’

‘Tujuuh,’

‘Delapaan,’

‘Shembilaan,’

‘Shepuluuh,’

‘Shebelaas,’

‘Duabelaas,’

‘Tigabelaas,’

‘Empatbelaas,’

‘Tigabelaas,’ suaranya mengecil, Kay tampak ragu menghitung. Ia lupa setelah empatbelas harusnya limabelas.

‘Empatbelaas,’ suaranya mengeras lagi.

‘Tujuhbelaas,’ katanya yakin.

Jun 12, 2007

'Agel!'

Renyai tawa seorang anak kecil terdengar dari halaman depan rumah. Baba segera ke depan untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kay.

‘Gini pegangnya,’ terdengar suara Kakek memberi arahan pada Kay. Sosok Nenek baru saja terlihat keluar dari garasi. Suara air mengucur terdengar.

‘Gini aja ya, pegangnya, jangan digitukan,’ kata Kakek lagi. Rupanya ia sedang mengajarkan Kay memegang slang untuk menyiram tanaman.

Tapi dasar anak iseng, Kay tetap saja sesekali menutup ujung slang, sehingga air muncrat ke mana-mana, membasahi baju dan celananya. Ia tertawa lagi.

Seorang pedagang keliling mendekati kami.

‘Bu, mau beli agar?’ tanyanya pada Nenek.

Sekonyong-konyong Kay melepaskan slang di tangannya. Ia langsung meninggalkan kegiatannya dan menghambur ke si pedagang.

‘Agel!’ serunya.

* * *

‘Lalala-nanana-hmhmhm,’ senandung Kay saat ia melangkah masuk rumah digandeng oleh Nenek.

Di dalam rumah, ia langsung menuju meja makan. Bibi telah menanti dengan segelas teh yang diberi madu sebagai pemanisnya.

‘Ayo minum teh manis dulu,’ kata Bibi.

‘Iya. Belum isi apa-apa udah main air, nanti masuk angin lho,’ tambah Baba.

‘Agel!’ jawab Kay.

Bibi mendudukkan Kay di kursi makan dan menyuapi teh hangat itu. Kay menyeruputnya dengan nikmat, lalu mengambil sendok makan di tangan Bibi.

‘Agel!’ katanya lagi sambil menyendok agar itu dan menyuapkannya ke dalam mulut.

Nenek tersenyum melihat tingkah Kay.

‘Ya ampun,’ kata Baba, ‘pinter amat makan agarnya. Pakai sendok kecil ini aja, ya.’

Beberapa menit kemudian agar-agar itu habis dilalap Kay. Setelah itu Kay menghambur ke kotak mainannya dan mulai bermain-main.

Jun 10, 2007

Keisengan Saat Mandi

Di dalam baknya di kamar mandi, Kay tertawa terbahak-bahak. Ia sedang asyik bermain air bersama Teteh Iis sambil mandi. Teteh mengambil segayung air dan menyiramkannya ke dalam bak, sehingga menimbulkan buih-buih dan gelembung udara.

Baba memperhatikan dari pintu kamar mandi dan mendapatkan ide.

‘Begini Kay,’ kata Baba sambil mengambil gayung dan memasukkannya ke dalam bak dalam posisi telungkup hingga udara terperangkap di dalamnya. Lalu Baba memballikkan gayung itu di dalam air. Udara yang terperangkap dalam gayung itu berhamburan keluar dan membentuk gelembung besar. Kay tertawa-tawa.

Tetapi tenyata ia memiliki ide sendiri.

Ia merebut gayung dari tangan Baba, mengisinya dengan air sampai penuh, dan menyiramkan air itu ke arah Baba sambil tertawa jahil.

Ya ampun, jahilnya anak ini…

'Anti Nyamuk'

Kay sedang asyik bermain di depan rumah, tepatnya di pinggir jalan kompleks, bersama Teteh Iis. Terkadang dia duduk di tembok pembatas jalan, terkadang ia berjalan-jalan tak tentu arah—gembelengan.

Selama bermain itu Kay tak henti-hentinya mengoceh. Apa saja ia ocehkan, mulai dari bersenandung, hingga mencari ayam dan kunci mobil.

‘Kunci Engki mana? Nggak ada? Diambil mpus,’ katanya, menceritakan bahwa kunci mobil kakeknya dibawa oleh kucing entah ke mana.

‘Ayam, patok ni,’ katanya lagi sambil menggerakkan boneka ayam di tangannya ke atas dan ke bawah, menirukan gerakan ayam mematuk.

Sementara di dahi, sekitar mata dan di bawah hidungnya bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan.

‘Di pucuk pohon cempaka/bulung kutilang belnyanyi…./me’angguk-anggukkan kepalanya/lililiiiilililililili...’

Tiba-tiba Kay berjongkok. Tangan kecilnya meraih tanaman liar yang tumbuh di pangkal tembok pembatas jalan itu, dan mencabutnya. Kemudian ia meremas tanaman itu dan mengolesnya ke kaki dan betisnya.

‘Kenapa diusap-usap ke kaki, Kay?’ tanya Baba, ‘supaya kenapa diusap-usap?’

‘Anti nyamuk,’ jawab Kay mantap tanpa mengangkat kepala maupun menghentikan kegiatannya mengoleskan remukan daun itu.

Rupanya ia menirukan nenek yang suka mengusapkan lavender ke kulit agar tidak digigiti nyamuk.

Jun 3, 2007

Jalan-jalan Sore

“Kay di mana, Bi?” tanya Baba seusai mandi sore.

“Di tetangga, tuh. Nggak mau pulang!” kata Bibi bersungut-sungut.

Baba pun bertandang ke tetangga.

“Siapa yang mau ikut Baba?”

Kay segera keluar dan menghambur ke pelukan Baba. “Yuk, kita jalan-jalan,” ujar Baba seraya menggendong anak yang senang bertamu itu.

“Pamit dulu sama Mbak.”

“Mbak, Kay pulang dulu ya,” kata Kay berpamitan.

“Iya Kay, makasih ya udah nemenin Mbak,” jawab si Mbak.

“Dadaaaa!” seru Kay melambaikan tangannya.

Baba menggendong Kay masuk rumah. Setibanya di dalam Baba bertanya, “Mau ke mana kita? Ke Senayan apa ke Pondok Indah aja?”

“Pondok Indah aja, Baba,” jawab Kay.

“OK, kalau gitu ayo siap-siap. Cuci kaki, cuci muka dan ganti bajunya. Bau asam kamu.”

Kegiatan bersih-bersih tubuh itu diwarnai oleh sedikit huru-hara karena Kay sudah tidak sabar dan maunya langsung masuk ke dalam mobil.

Setelah berpakaian dan kembali berada dalam gendongan Baba, Kay segera menunjuk ke garasi.

“Ke shitu!” perintahnya.

Baba membawanya ke garasi.

“Terus ke mana, Nak?” tanya Baba.

“Ke shitu!” jawabnya sambil meraih handel pintu mobil.

“Teteh Iis belum siap. Mau nunggu di mobil aja?”

“Iya, Baba.”

Kay pun masuk ke dalam mobil dan segera mengambil boneka ayam kesukaannya.

Tak lama kemudian kami berangkat menuju Pondok Indah.

Sesampainya di sana Kay tampak gembira sekali. Ia membiarkan tangannya digandeng Baba dan Teteh. Sesekali ia melompat-lompat sambil menoleh ke kiri dan ke kanan melihat-lihat apa saja yang bisa ia lihat.

“Beli sandal ya,” kata Baba, “sandal Kay kan sudah kekecilan.”

Sesudah memilih dan menemukan nomor yang pas, sandal itu langsung dipakai oleh Kay. Gaya sekali dia memakai sandal baru berwarna oranye itu!

Setelah membeli sandal, saat melewati kereta dorong untuk bayi, Kay berhenti.

“Adik,” katanya sambil meraih boneka balita yang didudukkan dalam kereta bayi tersebut. Serta-merta Kay memeluk boneka itu.

“Disayang ya dede-nya?” tanya Teteh.

“Coba sini dulu Kay,” panggil Baba, “pilih nih, mau celana yang mana? Yang biru atau yang coklat?”

Kay memperhatikan kedua celana itu, namun tidak memilih. Ia ngeluyur dan matanya tertumbuk pada tumpukan mainan di dekat counter pakaian anak itu. Tiba-tiba—BRUK!! Sebagian tumpukan mainan itu terjatuh karena Kay seenaknya saja mengambil salah satu mainan tanpa berhati-hati.

“Sepaidelmen,” katanya. Ia memegang mainan berbentuk kepala Spiderman.

“Iya, Spiderman,” kata Baba, “taruh lagi ya, kan kita mau beli celana.”

Akhirnya karena Kay tampak tidak bisa menentukan pilihan, Baba memilihkan celana coklat untuknya.

“Makannya jam berapa nih, Teh?’ tanya Baba.

“Sekarang udah jam berapa?” Teteh balik bertanya.

“Jam lima.”

“Wah, ya sekarang lah makannya.”

Kami makan di salah satu restoran Italia yang ada di sana, karena Kay amat menyukai lasagna. Tapi kenyataannya Kay malah menyikat setengah porsi spaghetti bolognaise milik Teteh Iis dan menyeruput lime squash Baba.

“Asam kan?” kata Baba ketika melihat Kay mengernyit.

“Mau es aja,” katanya meminta es batu dalam gelas Baba.

“Habiskan dulu mamamnya,” jawab Baba. Sebentar kemudian Kay sudah lupa akan es batu karena dia asyik bermain dengan sendok kecil yang—seharusnya—digunakan untuk menyendok keju parmesan parut.

Setelah kenyang, Kay bersandar pada punggung kursi dan melongok ke belakang, memperhatikan lampu yang ada di lantai antara punggung kursi dan dinding.

“Ada apa, Kay?” tanya Baba, “lampu ya?”

“Coba hitung ada berapa lampunya,” pinta Baba.

“Satu—dua—tiga—empat—lima,” jawab Kay mantap.

“Lampunya cuma ada dua, Nak,” koreksi Baba.

“Habis makan kita beli roti untuk besok ya,” kata Baba.

Dalam perjalanan menuju pasar swalayan (yang tentunya masih dalam kompleks mal tersebut) kami mampir sebentar ke toko buku yang berada tepat di sebelah pasar swalayan itu.

Di dalam toko buku, sementara Baba mencari-cari buku, Kay keluyuran ke sana-sini melihat ini dan itu.

“Ada seekol Kancil,” suaranya nyaring memenuhi toko buku, “mau menyebelang sungai.

“Di sungai ada Buaya. Baba mana ya?”

“Di sini, Nak,” jawab Baba sambil mencari-cari arah suara Kay.

Senyumnya mengembang ketika melihat Baba. Di tangannya tergenggam sebuah boneka kura-kura. Kay berlari menghampiri Baba dan langsung “minta gendong sama Baba.”

“Yuk,” ajak Baba, “kita taruh kura-kuranya terus beli roti yuk.”

Kay merajuk.

“Lho, kan kura-kura juga mau istirahat dulu. Lagipula kita kan mau beli roti, nanti kalau kura-kuranya ikut rotinya dimamam kura-kura lho,” bujuk Baba.

Kay menangis, tapi kura-kura itu diletakkan juga olehnya di tumpukan boneka kura-kura. Kami pun keluar toko buku dengan iringan tangisan nyaring seorang Kay.

Di pasar swalayan, Kay meminta turun dari gendongan.

“Mau ambil itu,” katanya sambil meraih sekotak strawberry.

“Strawberry-nya sudah habis ya, Teh?”

“Sudah, yogurtnya juga.”

Setelah membeli persediaan strawberry, yogurt, roti dan selai untuk Kay, kami pun pulang.

Dalam perjalanan Kay menghabiskan sekotak susu coklat dan tampak asyik memperhatikan lampu jalan dan lampu reklame gedung-gedung yang kami lewati.

Setibanya di rumah, Kay yang sudah mengantuk langsung cuci kaki, tangan dan muka. Mengganti pakaiannya dengan piyama, menggosok gigi, lalu—sambil membawa mainan bebek dan ayam—masuk ke dalam kamar.

“Teh, Kay mau bobo dulu, ya,” katanya berpamitan pada Teteh Iis.

Curi Curi Pandang

Keluar dari kamar di pagi hari, Baba mendapatkan Kay berdiri di depan monitor komputer.

“Sedang apa Kay?” Tanya Baba. Beberapa minggu ini Kay sedang belajar menggunakan kata ‘sedang apa’ di sekolahnya, dan akhir-akhir ini dia lebih sering menggunakan pertanyaan itu ketimbang kata ‘ngapain’ yang biasa ia katakana sebelumnya.

“Culi-culi Pandang,” jawab Kay. Ia minta dimainkan lagu Curi-curi Pandang dari band Naif.

Curi-curi Pandang atau Rocker Juga Manusia?” Tanya Baba menggoda. Kay juga suka Rocker Juga Manusia dari Seurieus.

“Culi-culi Pandang aja Baba,”

“OK. Sebentar ya,” pinta Baba seraya menyalakan komputer tersebut. Sejurus kemudian intro lagu permintaan Kay mengalun.

Vjg vjjjjj ‘9pp9psggmmmmggmmmm t xxxxxxxxza

Hehehe…Kay baru saja mengambil alih keyboard dari tangan Baba, saat Mama sedang menelepon.

Back to the topic.

Setelah lagu permintaannya berkumandang, Kay senang sekali.

“Mimi air putih. Pipis,” katanya sambil memeluk lengan Baba erat-erat.

Awalnya Kay menggunakan kata-kata di atas sebagai alasan untuk melepaskan diri dari gelitik Baba, tapi sekarang ia selalu mengatakan dua hal itu ketika sedang over-excited.

Lalu ia mulai bertepuk tangan mengikuti irama dan menari-nari.

Jun 1, 2007

Dongeng

“Ada seekol Kancil...

Mau menyebelang sungai…

Di sungai ada Buaya...

Kakinya digigit Buaya—ADUH!!

‘Sakit, Buaya,’ kata Kancil.”

Demikianlah dongeng a la Kay.

Apr 17, 2007

Kura-kura

Teng! Teng! Teng!

Suara logam beradu terdengar dari dapur. Lagi ngapain sih si Kay ini? Pikir Baba sambil bergegas menuju dapur.

Di lantai dapur sudah berserak wajan dalam berbagai ukuran. Kay sedang duduk di hadapan yang terbesar, sambil memegang sendok sayur dan mengayunkannya, seolah sedang menggoreng. Teteh Iis sedang mencuci baju dan Bibi terbaring di lantai, istirahat.

‘Sreng, sreng, sreng. Kayril sedang menggoreng. Menggoreng apa Kay?’ goda Baba.

Kay cuek. Konsentrasi penuh pada kegiatannya.

Tiba-tiba wajan itu ditunggingkan, dan ia mengalihkan perhatiannya ke wajan lain yang lebih kecil.

‘Kay, lihat,’ tunjuk Baba, ‘kayak kura-kura ya?’

Kay menoleh sejenak lalu kembali mengarahkan perhatiannya ke wajan yang kecil.

‘Sini, Baba kasih lihat nih,’ kata Baba sambil mengambil sendok sayur dan empat buah centong kayu. Sendok sayur itu Baba selipkan di gagang wajan, sementara keempat centong kayu Baba letakkan di sisi kiri dan kanan wajan. Wajan itu makin mirip kura-kura.

‘Lihat Kay, ada kura-kura!’ seru Baba.

‘Kula-kula,’ kata Kay menghampiri wajan itu. Tanpa ragu ia mengangkangi wajan tersebut dan duduk.

‘Naik kula-kula,’ katanya. Tapi tentu saja badannya terlalu besar.

Akhirnya ia merombak ‘kura-kura’ wajan tersebut dan kembali ‘menggoreng’.

Teng! Teng! Teng!

Kolecer

Akhir-akhir ini anak Baba yang hobi lari-larian bolak-balik dari dapur ke ruang tamu sedang senang sekali bermain di luar dan, seperti sudah diduga, kalau disuruh pulang pasti melalui huru-hara dan tangisan dulu.

Kenapa?

‘Liat kolecel,’ jawabnya.

Kolecer? Makhluk apa pula itu kolecer?

‘Itu, kincir angin,’ jelas Teteh Iis.

Rupanya di kontrakan belakang rumah Pak Ahmad ada yang memasang kincir angin sederhana yang dibuat dari bambu dengan ‘ekor’ pelepah pinang lengkap dengan dedaunan kering yang masih menempel. Kolecer itu akan berbunyi trrrr-trrrr-trrrr jika angin kencang bertiup.

Kay sangat suka akan kincir angin itu, kemarin siang kata pertama yang dia ucapkan pada saat bangun tidur adalah ‘Liat kolecel!’

Tadi pagi pun dia merajuk minta keluar. ‘Mau apa?’ tanya Uwa Abah.

‘Liat kolecel,’ gumam Kay.

‘Apa?’ tanya Uwa Abah ke Baba.

‘Lihat kolecer,’ jelas Baba.

Kolecer?’

‘Iya, kincir angin,’

Meuni kawas orang Tambak Dahan, Kay!’ seru Uwa Abah sambil tertawa.

Oh iya, sekarang Kay juga sering sekali berkata atau bergumam:

‘Ash, shiga budak!’

Hihihi anak Sunda tulen nih, kayaknya….

Apr 16, 2007

Gambar

‘Gambal pohon!’ perintah Kay sambil menyerahkan sepotong kertas kecil kepada Baba.

Baba menggambar pohon di kertas itu.

‘Gambal bunga!’

Baba menggambar bunga dengan potnya.

‘Gambal ayam!’

Baba menggambar ayam jago.

‘Ku-ku-ku-kuluyuk, begitulah bunyinya, kakinya beltanduk hewan apa namanya,’ Kay bernyanyi, tangannya membentuk paruh ayam dan ia mengayunkan tangan itu ke atas dan ke bawah, menirukan gerakan kepala ayam.

‘Gambal tangan!’

Baba menggambar tangan.

‘Gambal tangan!’ perintahnya lagi sambil menarik tangan Baba, meletakkannya di atas kertas kecil itu, ‘gambal tangan!’ katanya lagi. Ia memerintahkan Baba untuk men-trace tangan Baba.

‘Nggak muat lah nak, kertasnya kekecilan,’ jawab Baba. Kertas itu bahkan lebih kecil dari tangan mungil Kay.

Kay merajuk. Meraih kaki kursi dan mencoba melemparnya.

‘Iya, iya, ini Baba gambarin tangannya,’ Baba berpura-pura men-trace tangan Baba, lalu menunjukkan gambar tangan yang sudah Baba buat kepada Kay.

Kay diam, dia memperhatikan gambar tangan itu, melirik ke tangan Baba, dan akhirnya mengambil kertas itu dan menginspeksi dari dekat. Kok bisa jadi kecil? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Sedetik kemudian kertas itu diletakkan kembali di lantai.

‘Gambal kuku!’

Baba menambahkan kuku-kuku di ujung jemari gambar tangan itu.

‘Gambal ubul-ubul!’

Nah lho! Anak ini tahu ubur-ubur dari mana?

Kan banyak di SpongeBob,’ kata Teteh Iis.

Oooo…rupanya dari situ. Wah, bagus juga, berarti dia mulai memperhatikan apa yang dia tonton. On the other hand, Baba harus hati-hati memilih acara kalo dia lagi ada di depan TV nih…

Baba menggambar ubur-ubur.

Selanjutnya dia minta gambarkan kelinci, kodok, kuping, mata, pesawat, mobil dan ikan.

Setelah selesai dan Kay puas, kertas penuh gambar itu dibawa kemanapun ia pergi.

Beberapa saat kemudian Kay, yang sedang duduk di meja depan TV, celingukan. Matanya menyapu ke kanan dan ke kiri. Jelas ia sedang mencari sesuatu, tapi apa?

‘Cari apa, Boy?’ tanya Baba.

Ia tetap celingukan.

Kayaknya ini anak nyari kertas yang tadi digambarin Baba nih, pikir Baba. Kertas itu ada di sebelah Kay, namun letaknya agak di belakangnya, jadi Kay tidak melihat.

Akhirnya Kay menoleh agak ke belakang dan menemukan yang ia cari. Ia langsung mengambil kertas penuh gambar itu sambil turun dari meja dan berlari ke depan rumah…

* * *

Malam. Kay sudah siap dengan piyama dan menggandeng tangan Baba menuju kamar tidur.

‘Ini dibawa nggak?’ tanya Teteh Iis.

Kay meraih tanpa berkomentar. Lalu masuk ke kamar, naik ke tempat tidur, berdoa dan berguling mengambil posisi favoritnya: tengkurap dengan satu kaki dilipat mendekati perut dan satu tangan terangkat ke atas kepala. Posisi ini membuat ia terlihat seperti sedang berusaha memanjat tembok.

Di tangan kanannya—yang terangkat di atas kepala—tergenggam sepotong kertas kecil penuh gambar…

Mar 14, 2007

Warna

“Lompat-lompat!!” seru bocah cilik yang baru saja mandi dan masih telanjang bulat di hadapan Baba. Tanpa menunggu lagi ia langsung berlompatan tidak karuan.

“Menari dulu dong,” pinta Baba. Kay langsung menggoyang-goyangkan tangan dan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

“PATO!!” serunya menirukan pembuka program anak-anak Pocoyo yang sering ia tonton.

“Sini pake baju dulu!” panggil Bibi.

“Kuning,” kata Kay setelah memakai baju. Kaus yang dipakainya memang berwarna kuning. Pemberian Uwa Mia dari Lombok.

“Pegang melah!” katanya lagi sambil memegang keranjang mainannya yang berwarna merah.

“Pegang kuning!” katanya sambil meraih bebek mainan berwarna kuning. Kay sedang menirukan terapisnya.

“Pegang biru!” perintah Baba. Kay menoleh ke kanan dan tanpa ragu lagi memegang donat plastik berwarna biru.

“Pegang hijau!” perintah Baba lagi. Di hadapan Kay, agak tersembunyi, tergeletak sebuah topi hijau. Kay celingukan, mencari-cari benda berwarna hijau.

“Nggak ada ya?” kata Bibi, “ada nggak yang hijau?”

“Pegang hijau!” seru Kay sambil menyentuh sebuah kartu pos yang berwarna dominan hijau.

Kay pintar! Dia sudah bisa membedakan warna sekarang. Baba senang sekali melihatnya.

Terbangun di Malam Hari

Ce-klek, Baba mendengar suara pintu kamar terbuka. Baba bergegas menuju kamar. Pasti anak ini bangun, pikir Baba. Di ambang pintu Kay sudah berdiri dengan mata setengah terpejam.

“Mimi,” katanya.

Baba mendekat dan segera menggendongnya. “Mimi apa nak?” tanya Baba.

“Mimi ail putih.”

“Okay. Sebentar ya, pintunya ditutup dulu supaya nggak ada nyamuk masuk,” kata Baba seraya menutup pintu.

Kami berdua ke dapur, Kay dalam gendongan Baba. Berat juga ini anak ya, pikir Baba.

Setelah minum tiga teguk Kay menunjuk pintu kamar, “Ke shitu,” katanya. Baba pun menggendongnya ke arah kamar.

Di depan kamar Baba berhenti sejenak dan bertanya, “Mau langsung bobo apa mau pipis dulu?”

Kay diam.

“Pipis dulu ya,” kata Baba.

“Tutup pintu dulu,” ujar Kay, tangannya meraih gagang pintu dan ia menutup pintu yang baru saja Baba buka.

“Pipis di mana?”

“Di shitu, kamal mandi.”

Setelah pipis kami kembali ke kamar dan di atas tempat tidur Kay menunjukkan perangai yang amat manja. Ia berkali-kali meminta Baba tidur menyamping agar ia bisa memeluk leher Baba. Iseng, Baba menepuk-nepuk pantatnya dengan agak keras dan berirama. Kay nyengir lebar.

“Tepuk-tepuk,” katanya meminta. Baba kembali menepuk-nepuk pantatnya, dan sejenak kemudian Kay tertidur.

* * *

Sudah jam dua belas malam, waktunya tidur, pikir Baba. Setelah mematikan televisi dan lampu Baba menuju kamar dan membuka pintu. Dan daun pintu menumbuk jempol kaki Kay. Air muka anak kecil itu serta-merta berubah, marah, kesal, sakit dan kantuk berpadu di wajahnya. Ia memukul kepalanya, kebiasaan buruk yang dilakukan kalau ia sedang marah.

Sebelum menangis, Baba segera menggendong Kay. Ia memukul punggung Baba sekali.

“Iya,” kata Baba, “maafkan Baba ya. Baba kan nggak tau kalau Kay ada di situ.”

Kay memeluk Baba. Tangisnya tidak jadi keluar, meskipun ia masih cemberut.

“Maafin Baba ya, Nak,” kata Baba lagi sambil meletakkan Kay di tempat tidur. Matanya segera terpejam.

“Kenapa sih Kay malam ini tidurnya gelisah sekali? Ingat Mama ya?” bisik Baba, “Udah, nggak apa-apa, Mama baik-baik aja kok di sana. Kay juga baik-baik aja di sini, Ma.”

Pipi gembil kemerahan itu mendapat ciuman lembut dari Baba.

Mar 13, 2007

"Baba mamam pake shoto!"

“Putelin,” kata Kay sambil mengacungkan gasingnya ke arah Baba.

“Nanti ya,” jawab Baba, “Baba mau mamam dulu.”

“Baba mamamnya di mana nak?” tanya Baba.

Kay menghampiri salah satu kursi di meja makan, “Di shini,” katanya sambil menyentuh kursi yang biasa Baba duduki.

Baba duduk di kursi itu dan mulai makan. Lauk hari ini tumis kailan.

“Baba mamam pake shoto,” kata Kay.

“Pake soto?” tanya Baba sambil tertawa, “soto apa?”

“Shoto ayam. Ayam jago.”

Dan Kay mulai bernyanyi, “Ayam jago ari kong-kong-kongkorongoooook!”

Lalu Kay keluyuran ke dapur sambil berpura-pura menelepon, “Halo? Aya naon?” katanya. Sejurus kemudian ia menjawab sendiri pertanyaan itu: “Euweuh nanaon.”

Hehehehe, aya budak Sunda euy!

Feb 7, 2007

Ngeluyur

Baba dan Nenek sedang sarapan ketika Kay terlihat ngeluyur ke ruang tamu.

“Papa di mana?” tanya Baba ke Nenek.

“Nggak tahu,” jawabnya.

“Nggak di depan?” tanya Baba lagi.

“Nggak.”

Baba langsung bangkit dari meja makan dan menyusul Kay ke ruang tamu. Tidak terlihat bayangannya. Baba berlari ke teras, batang hidung si anak kecil itu masih belum tampak. Gerbang teras tertutup, namun Baba melihat sinar matahari masuk ke dalam garasi. Ini berarti pintu garasi terbuka!

Baba melesat ke garasi. Anak itu masih belum tampak. Baba berlari keluar, menoleh ke kiri—kosong—lalu ke kanan dan melihat sosok setinggi satu meter menghampiri tukang sayur di depan rumah Bu Ahmad.

“Kayril!” panggil Baba, dia cuek.

Baba menghampiri, mengelak dari tabrakan anjing kecil Pak Yance.

“Gogok!” kata Kay.

“Kenapa langsung ngeluyur aja sih?” tegur Baba, “Hayu pulang.”

“Mau jalan-jalan ya?” tanya Bu Ahmad.

“Iya, pulang aja,” kata tukang sayur, “itu ada ondel-ondel lho!” lanjutnya berusaha menakut-nakuti Kay—tentu saja tidak berhasil, Kay malah celingukan mencari ondel-ondel.

“Wah dia nggak takut sama ondel-ondel,” kata Baba menjelaskan, “semalam mati lampu aja dia kegirangan.”

Tukang sayur itu menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.

***

Setelah Baba mandi, Baba mengajak Kay ke kamar.

“Kayril, lihat Baba!” perintah Baba sambil memegang kedua tangannya. Ia memandang Baba.

“Kalo pintu terbuka, Kay jangan suka langsung ngeluyur keluar, kalo nanti ada motor atau mobil dan Kay ketabrak gimana? Kalau mau jalan-jalan—”

Kay melengos dan melepaskan diri dari pegangan Baba lalu bermain dengan celana panjang Baba.

“—bilang, biar nanti diajak sama Teteh atau Nenek, ya?” pinta Baba sambil kembali menarik Kay dan memegang tangannya. Ia memeluk Baba, “Aduh-aduuh,” katanya.

“Ya? OK?” tanya Baba sekali lagi.

“Iya,” jawab Kay, “OK.”

Feb 5, 2007

Sail to the Moon*

maybe you'll be president
but know right from wrong
or in the flood you'll build an ark
and sail us to the moon
sail us to the moon
sail us to the moon*


Dear son,

know that Baba and Mama will never give up on you no matter what.



*(c) 2003 by Radiohead.