Jun 10, 2007

Keisengan Saat Mandi

Di dalam baknya di kamar mandi, Kay tertawa terbahak-bahak. Ia sedang asyik bermain air bersama Teteh Iis sambil mandi. Teteh mengambil segayung air dan menyiramkannya ke dalam bak, sehingga menimbulkan buih-buih dan gelembung udara.

Baba memperhatikan dari pintu kamar mandi dan mendapatkan ide.

‘Begini Kay,’ kata Baba sambil mengambil gayung dan memasukkannya ke dalam bak dalam posisi telungkup hingga udara terperangkap di dalamnya. Lalu Baba memballikkan gayung itu di dalam air. Udara yang terperangkap dalam gayung itu berhamburan keluar dan membentuk gelembung besar. Kay tertawa-tawa.

Tetapi tenyata ia memiliki ide sendiri.

Ia merebut gayung dari tangan Baba, mengisinya dengan air sampai penuh, dan menyiramkan air itu ke arah Baba sambil tertawa jahil.

Ya ampun, jahilnya anak ini…

'Anti Nyamuk'

Kay sedang asyik bermain di depan rumah, tepatnya di pinggir jalan kompleks, bersama Teteh Iis. Terkadang dia duduk di tembok pembatas jalan, terkadang ia berjalan-jalan tak tentu arah—gembelengan.

Selama bermain itu Kay tak henti-hentinya mengoceh. Apa saja ia ocehkan, mulai dari bersenandung, hingga mencari ayam dan kunci mobil.

‘Kunci Engki mana? Nggak ada? Diambil mpus,’ katanya, menceritakan bahwa kunci mobil kakeknya dibawa oleh kucing entah ke mana.

‘Ayam, patok ni,’ katanya lagi sambil menggerakkan boneka ayam di tangannya ke atas dan ke bawah, menirukan gerakan ayam mematuk.

Sementara di dahi, sekitar mata dan di bawah hidungnya bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan.

‘Di pucuk pohon cempaka/bulung kutilang belnyanyi…./me’angguk-anggukkan kepalanya/lililiiiilililililili...’

Tiba-tiba Kay berjongkok. Tangan kecilnya meraih tanaman liar yang tumbuh di pangkal tembok pembatas jalan itu, dan mencabutnya. Kemudian ia meremas tanaman itu dan mengolesnya ke kaki dan betisnya.

‘Kenapa diusap-usap ke kaki, Kay?’ tanya Baba, ‘supaya kenapa diusap-usap?’

‘Anti nyamuk,’ jawab Kay mantap tanpa mengangkat kepala maupun menghentikan kegiatannya mengoleskan remukan daun itu.

Rupanya ia menirukan nenek yang suka mengusapkan lavender ke kulit agar tidak digigiti nyamuk.

Jun 3, 2007

Jalan-jalan Sore

“Kay di mana, Bi?” tanya Baba seusai mandi sore.

“Di tetangga, tuh. Nggak mau pulang!” kata Bibi bersungut-sungut.

Baba pun bertandang ke tetangga.

“Siapa yang mau ikut Baba?”

Kay segera keluar dan menghambur ke pelukan Baba. “Yuk, kita jalan-jalan,” ujar Baba seraya menggendong anak yang senang bertamu itu.

“Pamit dulu sama Mbak.”

“Mbak, Kay pulang dulu ya,” kata Kay berpamitan.

“Iya Kay, makasih ya udah nemenin Mbak,” jawab si Mbak.

“Dadaaaa!” seru Kay melambaikan tangannya.

Baba menggendong Kay masuk rumah. Setibanya di dalam Baba bertanya, “Mau ke mana kita? Ke Senayan apa ke Pondok Indah aja?”

“Pondok Indah aja, Baba,” jawab Kay.

“OK, kalau gitu ayo siap-siap. Cuci kaki, cuci muka dan ganti bajunya. Bau asam kamu.”

Kegiatan bersih-bersih tubuh itu diwarnai oleh sedikit huru-hara karena Kay sudah tidak sabar dan maunya langsung masuk ke dalam mobil.

Setelah berpakaian dan kembali berada dalam gendongan Baba, Kay segera menunjuk ke garasi.

“Ke shitu!” perintahnya.

Baba membawanya ke garasi.

“Terus ke mana, Nak?” tanya Baba.

“Ke shitu!” jawabnya sambil meraih handel pintu mobil.

“Teteh Iis belum siap. Mau nunggu di mobil aja?”

“Iya, Baba.”

Kay pun masuk ke dalam mobil dan segera mengambil boneka ayam kesukaannya.

Tak lama kemudian kami berangkat menuju Pondok Indah.

Sesampainya di sana Kay tampak gembira sekali. Ia membiarkan tangannya digandeng Baba dan Teteh. Sesekali ia melompat-lompat sambil menoleh ke kiri dan ke kanan melihat-lihat apa saja yang bisa ia lihat.

“Beli sandal ya,” kata Baba, “sandal Kay kan sudah kekecilan.”

Sesudah memilih dan menemukan nomor yang pas, sandal itu langsung dipakai oleh Kay. Gaya sekali dia memakai sandal baru berwarna oranye itu!

Setelah membeli sandal, saat melewati kereta dorong untuk bayi, Kay berhenti.

“Adik,” katanya sambil meraih boneka balita yang didudukkan dalam kereta bayi tersebut. Serta-merta Kay memeluk boneka itu.

“Disayang ya dede-nya?” tanya Teteh.

“Coba sini dulu Kay,” panggil Baba, “pilih nih, mau celana yang mana? Yang biru atau yang coklat?”

Kay memperhatikan kedua celana itu, namun tidak memilih. Ia ngeluyur dan matanya tertumbuk pada tumpukan mainan di dekat counter pakaian anak itu. Tiba-tiba—BRUK!! Sebagian tumpukan mainan itu terjatuh karena Kay seenaknya saja mengambil salah satu mainan tanpa berhati-hati.

“Sepaidelmen,” katanya. Ia memegang mainan berbentuk kepala Spiderman.

“Iya, Spiderman,” kata Baba, “taruh lagi ya, kan kita mau beli celana.”

Akhirnya karena Kay tampak tidak bisa menentukan pilihan, Baba memilihkan celana coklat untuknya.

“Makannya jam berapa nih, Teh?’ tanya Baba.

“Sekarang udah jam berapa?” Teteh balik bertanya.

“Jam lima.”

“Wah, ya sekarang lah makannya.”

Kami makan di salah satu restoran Italia yang ada di sana, karena Kay amat menyukai lasagna. Tapi kenyataannya Kay malah menyikat setengah porsi spaghetti bolognaise milik Teteh Iis dan menyeruput lime squash Baba.

“Asam kan?” kata Baba ketika melihat Kay mengernyit.

“Mau es aja,” katanya meminta es batu dalam gelas Baba.

“Habiskan dulu mamamnya,” jawab Baba. Sebentar kemudian Kay sudah lupa akan es batu karena dia asyik bermain dengan sendok kecil yang—seharusnya—digunakan untuk menyendok keju parmesan parut.

Setelah kenyang, Kay bersandar pada punggung kursi dan melongok ke belakang, memperhatikan lampu yang ada di lantai antara punggung kursi dan dinding.

“Ada apa, Kay?” tanya Baba, “lampu ya?”

“Coba hitung ada berapa lampunya,” pinta Baba.

“Satu—dua—tiga—empat—lima,” jawab Kay mantap.

“Lampunya cuma ada dua, Nak,” koreksi Baba.

“Habis makan kita beli roti untuk besok ya,” kata Baba.

Dalam perjalanan menuju pasar swalayan (yang tentunya masih dalam kompleks mal tersebut) kami mampir sebentar ke toko buku yang berada tepat di sebelah pasar swalayan itu.

Di dalam toko buku, sementara Baba mencari-cari buku, Kay keluyuran ke sana-sini melihat ini dan itu.

“Ada seekol Kancil,” suaranya nyaring memenuhi toko buku, “mau menyebelang sungai.

“Di sungai ada Buaya. Baba mana ya?”

“Di sini, Nak,” jawab Baba sambil mencari-cari arah suara Kay.

Senyumnya mengembang ketika melihat Baba. Di tangannya tergenggam sebuah boneka kura-kura. Kay berlari menghampiri Baba dan langsung “minta gendong sama Baba.”

“Yuk,” ajak Baba, “kita taruh kura-kuranya terus beli roti yuk.”

Kay merajuk.

“Lho, kan kura-kura juga mau istirahat dulu. Lagipula kita kan mau beli roti, nanti kalau kura-kuranya ikut rotinya dimamam kura-kura lho,” bujuk Baba.

Kay menangis, tapi kura-kura itu diletakkan juga olehnya di tumpukan boneka kura-kura. Kami pun keluar toko buku dengan iringan tangisan nyaring seorang Kay.

Di pasar swalayan, Kay meminta turun dari gendongan.

“Mau ambil itu,” katanya sambil meraih sekotak strawberry.

“Strawberry-nya sudah habis ya, Teh?”

“Sudah, yogurtnya juga.”

Setelah membeli persediaan strawberry, yogurt, roti dan selai untuk Kay, kami pun pulang.

Dalam perjalanan Kay menghabiskan sekotak susu coklat dan tampak asyik memperhatikan lampu jalan dan lampu reklame gedung-gedung yang kami lewati.

Setibanya di rumah, Kay yang sudah mengantuk langsung cuci kaki, tangan dan muka. Mengganti pakaiannya dengan piyama, menggosok gigi, lalu—sambil membawa mainan bebek dan ayam—masuk ke dalam kamar.

“Teh, Kay mau bobo dulu, ya,” katanya berpamitan pada Teteh Iis.

Curi Curi Pandang

Keluar dari kamar di pagi hari, Baba mendapatkan Kay berdiri di depan monitor komputer.

“Sedang apa Kay?” Tanya Baba. Beberapa minggu ini Kay sedang belajar menggunakan kata ‘sedang apa’ di sekolahnya, dan akhir-akhir ini dia lebih sering menggunakan pertanyaan itu ketimbang kata ‘ngapain’ yang biasa ia katakana sebelumnya.

“Culi-culi Pandang,” jawab Kay. Ia minta dimainkan lagu Curi-curi Pandang dari band Naif.

“Curi-curi Pandang atau Rocker Juga Manusia?” Tanya Baba menggoda. Kay juga suka Rocker Juga Manusia dari Seurieus.

“Culi-culi Pandang aja Baba,”

“OK. Sebentar ya,” pinta Baba seraya menyalakan komputer tersebut. Sejurus kemudian intro lagu permintaan Kay mengalun.

Vjg vjjjjj ‘9pp9psggmmmmggmmmm t xxxxxxxxza

Hehehe…Kay baru saja mengambil alih keyboard dari tangan Baba, saat Mama sedang menelepon.

Back to the topic.

Setelah lagu permintaannya berkumandang, Kay senang sekali.

“Mimi air putih. Pipis,” katanya sambil memeluk lengan Baba erat-erat.

Awalnya Kay menggunakan kata-kata di atas sebagai alasan untuk melepaskan diri dari gelitik Baba, tapi sekarang ia selalu mengatakan dua hal itu ketika sedang over-excited.

Lalu ia mulai bertepuk tangan mengikuti irama dan menari-nari.

Jun 1, 2007

Dongeng

“Ada seekol Kancil...

Mau menyebelang sungai…

Di sungai ada Buaya...

Kakinya digigit Buaya—ADUH!!

‘Sakit, Buaya,’ kata Kancil.”

Demikianlah dongeng a la Kay.

Apr 17, 2007

Kura-kura

Teng! Teng! Teng!

Suara logam beradu terdengar dari dapur. Lagi ngapain sih si Kay ini? Pikir Baba sambil bergegas menuju dapur.

Di lantai dapur sudah berserak wajan dalam berbagai ukuran. Kay sedang duduk di hadapan yang terbesar, sambil memegang sendok sayur dan mengayunkannya, seolah sedang menggoreng. Teteh Iis sedang mencuci baju dan Bibi terbaring di lantai, istirahat.

‘Sreng, sreng, sreng. Kayril sedang menggoreng. Menggoreng apa Kay?’ goda Baba.

Kay cuek. Konsentrasi penuh pada kegiatannya.

Tiba-tiba wajan itu ditunggingkan, dan ia mengalihkan perhatiannya ke wajan lain yang lebih kecil.

‘Kay, lihat,’ tunjuk Baba, ‘kayak kura-kura ya?’

Kay menoleh sejenak lalu kembali mengarahkan perhatiannya ke wajan yang kecil.

‘Sini, Baba kasih lihat nih,’ kata Baba sambil mengambil sendok sayur dan empat buah centong kayu. Sendok sayur itu Baba selipkan di gagang wajan, sementara keempat centong kayu Baba letakkan di sisi kiri dan kanan wajan. Wajan itu makin mirip kura-kura.

‘Lihat Kay, ada kura-kura!’ seru Baba.

‘Kula-kula,’ kata Kay menghampiri wajan itu. Tanpa ragu ia mengangkangi wajan tersebut dan duduk.

‘Naik kula-kula,’ katanya. Tapi tentu saja badannya terlalu besar.

Akhirnya ia merombak ‘kura-kura’ wajan tersebut dan kembali ‘menggoreng’.

Teng! Teng! Teng!

Kolecer

Akhir-akhir ini anak Baba yang hobi lari-larian bolak-balik dari dapur ke ruang tamu sedang senang sekali bermain di luar dan, seperti sudah diduga, kalau disuruh pulang pasti melalui huru-hara dan tangisan dulu.

Kenapa?

‘Liat kolecel,’ jawabnya.

Kolecer? Makhluk apa pula itu kolecer?

‘Itu, kincir angin,’ jelas Teteh Iis.

Rupanya di kontrakan belakang rumah Pak Ahmad ada yang memasang kincir angin sederhana yang dibuat dari bambu dengan ‘ekor’ pelepah pinang lengkap dengan dedaunan kering yang masih menempel. Kolecer itu akan berbunyi trrrr-trrrr-trrrr jika angin kencang bertiup.

Kay sangat suka akan kincir angin itu, kemarin siang kata pertama yang dia ucapkan pada saat bangun tidur adalah ‘Liat kolecel!’

Tadi pagi pun dia merajuk minta keluar. ‘Mau apa?’ tanya Uwa Abah.

‘Liat kolecel,’ gumam Kay.

‘Apa?’ tanya Uwa Abah ke Baba.

‘Lihat kolecer,’ jelas Baba.

‘Kolecer?’

‘Iya, kincir angin,’

‘Meuni kawas orang Tambak Dahan, Kay!’ seru Uwa Abah sambil tertawa.

Oh iya, sekarang Kay juga sering sekali berkata atau bergumam:

‘Ash, shiga budak!’

Hihihi anak Sunda tulen nih, kayaknya….

Apr 16, 2007

Gambar

‘Gambal pohon!’ perintah Kay sambil menyerahkan sepotong kertas kecil kepada Baba.

Baba menggambar pohon di kertas itu.

‘Gambal bunga!’

Baba menggambar bunga dengan potnya.

‘Gambal ayam!’

Baba menggambar ayam jago.

‘Ku-ku-ku-kuluyuk, begitulah bunyinya, kakinya beltanduk hewan apa namanya,’ Kay bernyanyi, tangannya membentuk paruh ayam dan ia mengayunkan tangan itu ke atas dan ke bawah, menirukan gerakan kepala ayam.

‘Gambal tangan!’

Baba menggambar tangan.

‘Gambal tangan!’ perintahnya lagi sambil menarik tangan Baba, meletakkannya di atas kertas kecil itu, ‘gambal tangan!’ katanya lagi. Ia memerintahkan Baba untuk men-trace tangan Baba.

‘Nggak muat lah nak, kertasnya kekecilan,’ jawab Baba. Kertas itu bahkan lebih kecil dari tangan mungil Kay.

Kay merajuk. Meraih kaki kursi dan mencoba melemparnya.

‘Iya, iya, ini Baba gambarin tangannya,’ Baba berpura-pura men-trace tangan Baba, lalu menunjukkan gambar tangan yang sudah Baba buat kepada Kay.

Kay diam, dia memperhatikan gambar tangan itu, melirik ke tangan Baba, dan akhirnya mengambil kertas itu dan menginspeksi dari dekat. Kok bisa jadi kecil? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Sedetik kemudian kertas itu diletakkan kembali di lantai.

‘Gambal kuku!’

Baba menambahkan kuku-kuku di ujung jemari gambar tangan itu.

‘Gambal ubul-ubul!’

Nah lho! Anak ini tahu ubur-ubur dari mana?

‘Kan banyak di SpongeBob,’ kata Teteh Iis.

Oooo…rupanya dari situ. Wah, bagus juga, berarti dia mulai memperhatikan apa yang dia tonton. On the other hand, Baba harus hati-hati memilih acara kalo dia lagi ada di depan TV nih…

Baba menggambar ubur-ubur.

Selanjutnya dia minta gambarkan kelinci, kodok, kuping, mata, pesawat, mobil dan ikan.

Setelah selesai dan Kay puas, kertas penuh gambar itu dibawa kemanapun ia pergi.

Beberapa saat kemudian Kay, yang sedang duduk di meja depan TV, celingukan. Matanya menyapu ke kanan dan ke kiri. Jelas ia sedang mencari sesuatu, tapi apa?

‘Cari apa, Boy?’ tanya Baba.

Ia tetap celingukan.

Kayaknya ini anak nyari kertas yang tadi digambarin Baba nih, pikir Baba. Kertas itu ada di sebelah Kay, namun letaknya agak di belakangnya, jadi Kay tidak melihat.

Akhirnya Kay menoleh agak ke belakang dan menemukan yang ia cari. Ia langsung mengambil kertas penuh gambar itu sambil turun dari meja dan berlari ke depan rumah…

* * *

Malam. Kay sudah siap dengan piyama dan menggandeng tangan Baba menuju kamar tidur.

‘Ini dibawa nggak?’ tanya Teteh Iis.

Kay meraih tanpa berkomentar. Lalu masuk ke kamar, naik ke tempat tidur, berdoa dan berguling mengambil posisi favoritnya: tengkurap dengan satu kaki dilipat mendekati perut dan satu tangan terangkat ke atas kepala. Posisi ini membuat ia terlihat seperti sedang berusaha memanjat tembok.

Di tangan kanannya—yang terangkat di atas kepala—tergenggam sepotong kertas kecil penuh gambar…

Mar 14, 2007

Warna

“Lompat-lompat!!” seru bocah cilik yang baru saja mandi dan masih telanjang bulat di hadapan Baba. Tanpa menunggu lagi ia langsung berlompatan tidak karuan.

“Menari dulu dong,” pinta Baba. Kay langsung menggoyang-goyangkan tangan dan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

“PATO!!” serunya menirukan pembuka program anak-anak Pocoyo yang sering ia tonton.

“Sini pake baju dulu!” panggil Bibi.

“Kuning,” kata Kay setelah memakai baju. Kaus yang dipakainya memang berwarna kuning. Pemberian Uwa Mia dari Lombok.

“Pegang melah!” katanya lagi sambil memegang keranjang mainannya yang berwarna merah.

“Pegang kuning!” katanya sambil meraih bebek mainan berwarna kuning. Kay sedang menirukan terapisnya.

“Pegang biru!” perintah Baba. Kay menoleh ke kanan dan tanpa ragu lagi memegang donat plastik berwarna biru.

“Pegang hijau!” perintah Baba lagi. Di hadapan Kay, agak tersembunyi, tergeletak sebuah topi hijau. Kay celingukan, mencari-cari benda berwarna hijau.

“Nggak ada ya?” kata Bibi, “ada nggak yang hijau?”

“Pegang hijau!” seru Kay sambil menyentuh sebuah kartu pos yang berwarna dominan hijau.

Kay pintar! Dia sudah bisa membedakan warna sekarang. Baba senang sekali melihatnya.

Terbangun di Malam Hari

Ce-klek, Baba mendengar suara pintu kamar terbuka. Baba bergegas menuju kamar. Pasti anak ini bangun, pikir Baba. Di ambang pintu Kay sudah berdiri dengan mata setengah terpejam.

“Mimi,” katanya.

Baba mendekat dan segera menggendongnya. “Mimi apa nak?” tanya Baba.

“Mimi ail putih.”

“Okay. Sebentar ya, pintunya ditutup dulu supaya nggak ada nyamuk masuk,” kata Baba seraya menutup pintu.

Kami berdua ke dapur, Kay dalam gendongan Baba. Berat juga ini anak ya, pikir Baba.

Setelah minum tiga teguk Kay menunjuk pintu kamar, “Ke shitu,” katanya. Baba pun menggendongnya ke arah kamar.

Di depan kamar Baba berhenti sejenak dan bertanya, “Mau langsung bobo apa mau pipis dulu?”

Kay diam.

“Pipis dulu ya,” kata Baba.

“Tutup pintu dulu,” ujar Kay, tangannya meraih gagang pintu dan ia menutup pintu yang baru saja Baba buka.

“Pipis di mana?”

“Di shitu, kamal mandi.”

Setelah pipis kami kembali ke kamar dan di atas tempat tidur Kay menunjukkan perangai yang amat manja. Ia berkali-kali meminta Baba tidur menyamping agar ia bisa memeluk leher Baba. Iseng, Baba menepuk-nepuk pantatnya dengan agak keras dan berirama. Kay nyengir lebar.

“Tepuk-tepuk,” katanya meminta. Baba kembali menepuk-nepuk pantatnya, dan sejenak kemudian Kay tertidur.

* * *

Sudah jam dua belas malam, waktunya tidur, pikir Baba. Setelah mematikan televisi dan lampu Baba menuju kamar dan membuka pintu. Dan daun pintu menumbuk jempol kaki Kay. Air muka anak kecil itu serta-merta berubah, marah, kesal, sakit dan kantuk berpadu di wajahnya. Ia memukul kepalanya, kebiasaan buruk yang dilakukan kalau ia sedang marah.

Sebelum menangis, Baba segera menggendong Kay. Ia memukul punggung Baba sekali.

“Iya,” kata Baba, “maafkan Baba ya. Baba kan nggak tau kalau Kay ada di situ.”

Kay memeluk Baba. Tangisnya tidak jadi keluar, meskipun ia masih cemberut.

“Maafin Baba ya, Nak,” kata Baba lagi sambil meletakkan Kay di tempat tidur. Matanya segera terpejam.

“Kenapa sih Kay malam ini tidurnya gelisah sekali? Ingat Mama ya?” bisik Baba, “Udah, nggak apa-apa, Mama baik-baik aja kok di sana. Kay juga baik-baik aja di sini, Ma.”

Pipi gembil kemerahan itu mendapat ciuman lembut dari Baba.

Mar 13, 2007

"Baba mamam pake shoto!"

“Putelin,” kata Kay sambil mengacungkan gasingnya ke arah Baba.

“Nanti ya,” jawab Baba, “Baba mau mamam dulu.”

“Baba mamamnya di mana nak?” tanya Baba.

Kay menghampiri salah satu kursi di meja makan, “Di shini,” katanya sambil menyentuh kursi yang biasa Baba duduki.

Baba duduk di kursi itu dan mulai makan. Lauk hari ini tumis kailan.

“Baba mamam pake shoto,” kata Kay.

“Pake soto?” tanya Baba sambil tertawa, “soto apa?”

“Shoto ayam. Ayam jago.”

Dan Kay mulai bernyanyi, “Ayam jago ari kong-kong-kongkorongoooook!”

Lalu Kay keluyuran ke dapur sambil berpura-pura menelepon, “Halo? Aya naon?” katanya. Sejurus kemudian ia menjawab sendiri pertanyaan itu: “Euweuh nanaon.”

Hehehehe, aya budak Sunda euy!

Feb 7, 2007

Ngeluyur

Baba dan Nenek sedang sarapan ketika Kay terlihat ngeluyur ke ruang tamu.

“Papa di mana?” tanya Baba ke Nenek.

“Nggak tahu,” jawabnya.

“Nggak di depan?” tanya Baba lagi.

“Nggak.”

Baba langsung bangkit dari meja makan dan menyusul Kay ke ruang tamu. Tidak terlihat bayangannya. Baba berlari ke teras, batang hidung si anak kecil itu masih belum tampak. Gerbang teras tertutup, namun Baba melihat sinar matahari masuk ke dalam garasi. Ini berarti pintu garasi terbuka!

Baba melesat ke garasi. Anak itu masih belum tampak. Baba berlari keluar, menoleh ke kiri—kosong—lalu ke kanan dan melihat sosok setinggi satu meter menghampiri tukang sayur di depan rumah Bu Ahmad.

“Kayril!” panggil Baba, dia cuek.

Baba menghampiri, mengelak dari tabrakan anjing kecil Pak Yance.

“Gogok!” kata Kay.

“Kenapa langsung ngeluyur aja sih?” tegur Baba, “Hayu pulang.”

“Mau jalan-jalan ya?” tanya Bu Ahmad.

“Iya, pulang aja,” kata tukang sayur, “itu ada ondel-ondel lho!” lanjutnya berusaha menakut-nakuti Kay—tentu saja tidak berhasil, Kay malah celingukan mencari ondel-ondel.

“Wah dia nggak takut sama ondel-ondel,” kata Baba menjelaskan, “semalam mati lampu aja dia kegirangan.”

Tukang sayur itu menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.

***

Setelah Baba mandi, Baba mengajak Kay ke kamar.

“Kayril, lihat Baba!” perintah Baba sambil memegang kedua tangannya. Ia memandang Baba.

“Kalo pintu terbuka, Kay jangan suka langsung ngeluyur keluar, kalo nanti ada motor atau mobil dan Kay ketabrak gimana? Kalau mau jalan-jalan—”

Kay melengos dan melepaskan diri dari pegangan Baba lalu bermain dengan celana panjang Baba.

“—bilang, biar nanti diajak sama Teteh atau Nenek, ya?” pinta Baba sambil kembali menarik Kay dan memegang tangannya. Ia memeluk Baba, “Aduh-aduuh,” katanya.

“Ya? OK?” tanya Baba sekali lagi.

“Iya,” jawab Kay, “OK.”

Feb 5, 2007

Sail to the Moon*

maybe you'll be president
but know right from wrong
or in the flood you'll build an ark
and sail us to the moon
sail us to the moon
sail us to the moon*


Dear son,

know that Baba and Mama will never give up on you no matter what.



*(c) 2003 by Radiohead.

Jan 23, 2007

Mamagulugulu, ya

‘Kay, Baba minta susunya ya?’
‘Mamagulugulu, ya.’
‘Engki minta mamamnya dong.’
‘Mamagulugulu, ya.’
‘Alpukatnya buat Baba aja ya?’
‘Mamagulugulu, ya.’
‘Mainannya disimpen dulu ya?’
‘Mamagulugulu, ya.’

Mamagulugulu adalah ungkapan yang selalu Kay ucapkan jika ia tidak setuju akan permintaan orang disekitarnya. Apa artinya? Nggak tahu, dan mungkin hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang jelas ungkapan itu baru muncul setelah Mama berangkat sekolah ke Swedia.

Pertama kali ungkapan itu muncul ia mengucapkannya dengan membentak marah ‘Mamagulugulu!!’, tapi sekarang sudah tidak lagi dan ungkapan itu ia ‘perhalus’ dengan membubuhkan ‘ya’ di belakangnya.

Modifikasi

Hali Minggu, hali Minggu
Ke pahal tempe
Dengan Ayah, dengan Ibu behelta Paman
Kulihat tempe…

Dia berhenti sedetik, lalu melanjutkan:

…Ikan belenang-lenang
(gumaman tidak jelas)
Belenang-lenang
Membeli salam

Modifikasi lagu Ke Pasar Ikan ini dilakukan Kay beberapa hari yang lalu, dan selama sedetik ia ragu dan menggantikan 'tempe' kembali menjadi 'ikan' mungkin saja karena nalarnya mengatakan tempe tidak mungkin berenang-renang memberi salam.

Beberapa saat kemudian Baba memancingnya bernyanyi lagu yang sama, tapi ketika sampai pada baris 'Dengan Ayah, dengan Ibu beserta Paman', Kay segera memotong nyanyian Baba dengan ucapan nyaring:

'Paman Mon-Mon! Paman Mon-Mon!'

Dec 27, 2006

Confessions of a Therapist

‘Nggak mau. Bahaya,’ kata Kay ketika Pak Ito memintanya melompat dari balok ke matras.

Pak Ito pun naik ke atas balok dan melompat. ‘Lihat,’ katanya, ‘Pak Ito nggak apa-apa. Nggak luka. Nggak berdarah. Berarti nggak bahaya kan?’

‘Iya,’ jawab Kay sambil senyum. Ia lalu tidak menolak untuk meloncat, meskipun masih takut dan dibantu dalam meloncat dari balok itu.

Di lain waktu Kay mogok melakukan perintah Pak Ito dan saat diminta dengan agak keras untuk menurut ia menangis. Seperti biasanya ketika menangis, Kay berteriak keras. Pak Ito membiarkan Kay menangis dan berkata, ‘Ya udah, kalau begitu hari ini nggak belajar.’

Lalu Pak Ito melakukan kegiatan lain yang ia tahu akan menarik perhatian Kay. Tak berapa lama kemudian tangisan Kay berhenti. Ia memperhatikan Pak Ito.

‘Pak Ito,’ kata Kay. Pak Ito masih diam.

‘Pak Ito,’ kata Kay lagi.

‘Apa?’ tanya Pak Ito.

‘Belajal,’ jawab Kay.

‘Nggak,’ kata Pak Ito, masih berpura-pura ngambek, ‘hari ini nggak usah belajar.’

Kay memukul lantai dengan marah. Pak Ito masih diam, mengacuhkan Kay.

Kay mendekat, memeluk Pak Ito.

‘Mau belajar?’ tanya Pak Ito.

‘Mau,’ jawab Kay.

‘Kalau mau, ambil bola itu,’ perintah Pak Ito.

Kay bangun dan melaksanakan perintah gurunya.


* * *

‘Itu sering kejadian, Pak,’ jelas Pak Ito pada Baba, ‘dulu saya pernah melakukan kesalahan dengan tertawa saat Kay bertingkah lucu waktu diperintah—dan anak itu kan memang lucu sekali, ya—akhirnya malah ia menggunakan tingkah lakunya sebagai senjata, ia malah jadi sering melucu untuk mengalihkan perhatian saya dari pelajaran. Akhirnya saya acuhkan saja dan menunjukkan muka marah—dan berusaha untuk tidak tertawa—bila ia mulai seperti itu. Kadang-kadang saya sampai harus menghadap tembok, supaya tidak terlihat kalau saya menahan tawa. Kay kan memang lucu anaknya, apalagi waktu itu dia suka menyanyi lagu Sunda yang aki-aki peyot itu.

‘Kalau dia melihat saya sudah menulis, lain lagi ceritanya.’


* * *

Pak Ito menuliskan laporan harian Kay dalam buku penghubung. Kay langsung duduk diam meninggalkan permainannya dan memperhatikan Pak Ito.

‘Udah, main aja,’ perintah Pak Ito.

Kay tetap memperhatikan terapisnya. Lalu ia mendekat, ‘Nulis,’ katanya.

‘Kay mau nulis?’ tanya Pak Ito sambil menyerahkan buku dan pena pada Kay.

‘Nggak,’ kata Kay, tangannya meraih tangan Pak Ito dan mengarahkannya ke buku dan pena, ‘Pak Ito aja.’


* * *

‘Sepertinya Kay heran, karena biasanya kan dia melihat tulisan saya patah patah, karena menunjukkan dia bentuk dan garis. Kok sekarang nyambung dan gerakannya mengalun,’ kata Pak Ito tertawa.

Dec 19, 2006

Kegiatan Sebelum Tidur

‘Kalau Kay haus tandanya mau?’

‘Minum.’

‘Kalau Kay lapar tandanya mau?’

‘Mamam,’ jawabnya, lalu menyodorkan tangan kecilnya ke mulut Baba, ‘Am!’

‘Kalau Kay mengantuk tandanya mau?’

‘Bobo.’

Lalu ia bergulingan di tempat tidur, meraih sebuah buku, membukanya, membaliknya, berupaya meratakan punggung buku itu dengan tangan-tangan kecilnya, dan merebahkan tubuhnya di atas buku itu. Untungnya buku yang dipilih adalah sebuah TV Guide.

Sejurus kemudian Kay bangun dan turun, berjalan menuju tape compo dan mencari-cari novel yang terkadang Baba letakkan di atasnya.

‘Mana ya? Mana ya?’ gumamnya sambil meraih dan meraba-raba bagian atas tape compo itu.

‘Udah, buku ini aja,’ kata Baba sambil mengangkatnya kembali ke tempat tidur.

‘Mau yang mana?’ tanya Baba. Kay duduk menghadap dua buku: A Treasury for Three Years dan TV Guide.

‘Yang ini aja,’ katanya meraih TV Guide itu dan kembali membuka, membalik, dan merebahkan tubuhnya di atas buku tersebut.

‘Kay, nyanyi dong, sambil tepuk tangan,’ pinta Baba.

Ia menyanyikan bagian pertama lagu Hai Teman-Teman sambil bertepuk tangan, lalu menggosok-gosok tangan kecilnya. Setelah itu, ia menggosok-gosok badannya.

‘Sabunan ya?’ tanya Baba, ‘tangannya sekarang.’

Ia menggosok kedua lengannya.

‘Mukanya?’

Tangan kecil itu menggosok-gosok wajah berhias cengiran.

‘Kalau sudah, dibilas ya,’ ucap Baba, ‘Gimana bilasnya?’

Kay tampak ragu. Ia biasanya dibilas dengan mencebur ke dalam bak plastik. Ia hanya menggosok badannya.

‘Gini caranya,’ Baba meraih tangan Kay dan mengepalkan jemarinya, berpura-pura memegang gayung, dan mengayunkan tangannya ke kepala Kay.

Kay tampak senang. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali.

Pintu kamar terkuak dan Bibi melongok, ‘Bibi pulang ya.’

‘Bibi mau pulang Kay,’ kata Baba, ‘Kay harus bilang apa?’

‘Bi, Kay bobo dulu ya,’ kata Kay.

‘Apa lagi yang harus dibilang sebelum Bibi pulang?’ tanya Baba lagi.

‘Bi, Kay pulang dulu ya,’ kata Kay.

‘Bukan itu, Nak,’ ucap Baba berusaha menjelaskan, ‘Bibi udah bantu dan temani Kay hari ini, makanya Kay harus bilang?’

Kay tampak bingung. Ia diam saja.

‘Terima?’ Baba memancing.

‘Kahih, Bi,’ sambung Kay akhirnya.

‘Iya, Nak. Bibi pulang ya,’ pamit Bibi, ‘Dadah dulu.’

Kay melambaikan tangannya, ‘Dadaaaaaaah.’

‘Kiss-bye-nya mana?’ tanya Bibi.

Kay mencium telapak tangannya lalu melambaikannya ke arah Bibi, ‘Mmmmmmah!!’

Setelah Bibi pulang dan membaca doa, Kay berbaring telungkup dan segera tertidur.

Dec 18, 2006

Musical Aptitude?

Akhir minggu kemarin di rumah Yangti Baba menemukan satu hal yang unik dari Kay.

Di kamar Yangti, Kay bernyanyi jingle iklan salah satu pasta gigi anak yang selalu kami gunakan untuk mengajaknya menggosok gigi. Jingle itu dimulai dengan baris-baris:

Hai teman-teman
Jagalah kesehatan
Jangan lupa gosok gigi
Dst.

Bahwa Kay sudah bisa bernyanyi, itu bukan sesuatu yang mengherankan Baba. Tokh Mama dan Baba selalu mendendangkan lagu-lagu pengantar tidur sejak ia masih bayi. Yang membuat Baba takjub adalah Kay bernyanyi sambil bertepuk tangan mengikuti irama dan ketukan jingle tersebut. Dan sepanjang pendengaran Baba, ketukannya tidak meleset.

Selama ini Kay memang tidak terlalu sulit dalam mempelajari lagu, meskipun ia mungkin belum bisa mengucapkan kata-katanya (terutama lagu berbahasa asing), ia biasanya bisa mengikuti nada lagu itu setelah tiga sampai lima kali mendengarkan. Tapi kali ini ia menunjukkan peningkatan dengan bernyanyi sambil bertepuk tangan seiring dengan ketukan dan irama lagu itu.

Hmm…mungkin kita harus menggali lebih dalam kemampuan ini, Ma…

Dec 8, 2006

Nakal atau Kolokan??

Akhir-akhir ini Kay mulai menunjukkan kenakalan yang lebih dari biasanya. Ia sering menolak perintah, menahan kantuk hingga larut malam, sengaja mengompol, dan ia mendapat hukuman di sekolahnya. Dua kali.

Di kelas Kay menolak perintah yang diberikan gurunya dan Ibu Rissa, sang guru, memerintah Kay untuk berdiri di atas meja sebagai hukuman. Hari pertama mendapat hukuman itu Kay langsung menjadi anak yang kooperatif, namun di hari berikutnya ia kembali mendapat hukuman itu dan reaksinya sangat berbeda dengan saat pertama ia dihukum: kali ini Kay hanya cengar-cengir seolah ia menikmati hukuman itu.

Saat ditanya apakah ia mau belajar, Kay dengan lantang menjawab, ‘Nggak! Gak mau belajal!’, tapi waktu ada yang bertanya apakah ia mau belajar dan Ibu Rissa menjawab bahwa Kay tidak mau belajar, dengan sama lantangnya ia berkata, 'Mau!!'

Ia bahkan menangis saat melewati ruangan Bapak Ito, salah seorang gurunya.

Di rumah, ia berusaha keras menahan kantuk dengan berbagai cara, mulai dari berteriak-teriak, menghentakkan kakinya ke dinding kamar berkali-kali, hingga berusaha memancing Teteh Iis untuk bermain kejar-kejaran dengannya. Pada jam sepuluh malam, dengan mata setengah tertutup dan langkah yang sudah tak teratur karena kantuk.

Biasanya ini berakhir dengan tiga pasang celana basah karena ia tidak mau bilang kapan ia mau pipis meskipun ia sudah bisa bilang. Ia akan tersenyum, memegang selangkangannya yang sudah basah, sambil berkata, ‘Pipis,’ atau keluyuran dengan celana basah sambil berkata, ‘Ngompol. Nggak bilang.’ And the silly grin never disappears from his face!

Kadang-kadang kebiasaannya ini juga menyebabkan kasur basah.

Sudah kurang lebih empat malam ini Baba tidak tahu kapan Kay benar-benar tidur karena Baba selalu tertidur lebih dulu karena lelah.

Kay biasanya langsung mengajak Baba masuk ke kamar segera setelah Baba tiba di rumah. ‘Teteeeh, Kay bobo dulu ya…’ begitu katanya, pamit bobo pada Teteh Iis lalu menggamit lengan Baba sambil menunjuk pintu kamar, ‘Ke hitu,’ katanya.

Begitu di kamar ia akan memanjat naik tempat tidur, Baba menyuruhnya berdoa—kadang agak sulit, tetapi bila Baba menyuruhnya mendoakan Mama ia segera berdoa tanpa komando.

Kemudian ia mulai nyengir.

Dan mulai bermain-main di tempat tidur. Melenting-lentingkan tubuhnya, menendang-nendang dinding, mengintip ke luar jendela—‘Gak ada olang!’—bergulingan nggak keruan, nungging, duduk, dan berusaha memanjat tumpukan bantal yang dimaksudkan untuk menjaganya agar tidak jatuh dari tempat tidur (Kay tidurnya lasak). Singkatnya, ia berusaha semampunya untuk menahan kantuk. Dan peristiwa ini selalu diakhiri dengan sepasang—atau dua pasang—celana basah dan seorang ayah yang menggantikan celana anaknya dalam keadaan setengah tertidur sambil ngedumel.

Semua peristiwa ini menyebabkan Kay tidur larut malam, bangun terlambat, rewel di sekolah dan akhirnya dihukum.

Semalam, mumpung hari ini ia nggak sekolah, Baba membiarkan Kay bermain-main lagi di ruang tengah setelah kurang lebih satu jam—dan dua pasang celana basah—melawan kantuk di dalam kamar.

Kay keluyuran ke seluruh penjuru ruang tengah memilah dan memilih mainan yang ia suka (in this case sebuah Tupperware bundar yang biasa dipakai untuk membawa bekalnya) dan memainkannya sambil sesekali rebahan di lantai.

Setengah jam kemudian ia bangun dan terhuyung-huyung menghampiri Baba yang sedang berbaring menonton tv. Wajahnya sudah menunjukkan rasa kantuk yang tak tertahankan lagi.

‘Hama Baba,’ katanya.

‘Minta apa?’ tanya Baba.

‘Minta geddong hama Baba.’

Baba menggendong bocah yang matanya setengah terpejam itu.

‘Pipis dulu nggak?’ tanya Baba.

‘Pipis dulu,’ jawabnya.

‘Di mana?’

‘Di hitu,’ jawabnya menunjuk ke arah kamar mandi.

Baba mengantar Kay pipis, lalu menggiringnya ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, Kay memungut sebuah mainannya (orang-orangan Lego Duplo yang biasa kami sebut ‘Pak Item’) dan membawanya ke kamar.

Di atas tempat tidur, Kay segera terlelap sambil memegang Pak Item erat-erat.



Note:

Pada suatu hari Teteh Iis pernah memergoki Kay membuka lemari pakaian dan mengeluarkan baju Mama. Saat diminta menyimpan kembali pakaian itu Kay menolak dan bahkan melarang Teteh Iis menyimpannya.

'Kenapa?' tanya Teteh Iis, 'Kangen?'

'Kangen,' kata Kay, 'MAMAAAA!!!!'

Dec 4, 2006

Weekend at Yangti's

Baba : Ayo bilang dulu sama Paman Mon-mon. Selamat…?

Kay : Hiang!

Baba : Lho, bukan selamat siang. Selamat…?

Kay : Helamat ulang tahun…


* * *


Yangti : Dwi mana?

Kay : Hwedia.

Yangti : Ngapain di Swedia?

Kay : Hokolah.

Yangti : (Dengan nada bercanda) Ngapain sekolah jauh-jauh?

Kay : Kangen.

Yangti : Kangen?

Kay : Banget.


* * *


Baba meraih tangan Kay dan menyuruhnya berpijak pada kaki Baba. “Robot-siap-berangkat,” kata Baba menirukan suara mekanis sebuah robot.

Kay melepaskan tangan Baba dan sambil duduk menjawab, dengan suara mekanis sebuah robot juga, “Duduk-aja.”


* * *


Samples of inane mumblings (and yells) heard in Paman Mon-mon’s room while Kay is playing with Baba:

1. ‘Awas ada motol!’
2. ‘Wang wing!’ (menirukan teriakan burung beo.)
3. ‘B-I-N-G-O! B-I-N-G-O!’
4. ‘Bulung! Ayam! Bebek!’ (sambil memegang topi ayam Paman Mon-mon.)
5. ‘Hehat ya bu ya..!’


* * *


Kay menghambur keluar kamar Paman Mon-mon langsung ke teras tempat jemur pakaian. Belum sampai ke ujung teras ia segera berbalik dan berjalan pelan-pelan sambil berjingkat.

“Panas,” katanya, “panas,”

“Siapa suruh kamu ke situ?” tanya Baba sambil senyum.

Kay menghambur masuk ke kamar lagi.


* * *


“Hayo bilang sama Engkong,” kata Baba.

“Kong, Kay pulang dulu,” kata Kay.

“Eeh, bukan pulang!” sergah Baba.

“Kong, bobo—Kay bobo dulu ya,” ulang Kay.

Kami keluar dari ruang kerja Engkong dan masuk ke kamar Yangti. Lalu Baba merebahkan Kay di tempat tidur, tapi Kay langsung melompat bangun.

“Minta geddong hama Teteh!” katanya.

“Lho, sama siapa?” tanya Baba.

“Minta geddong hama Baba!”

Baba menggendong Kay yang langsung meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sudah ngantuk dia.

“Mau ke mana?” tanya Baba.

“Ke hitu,” jawab Kay sambil menunjuk pintu.

“Bobo di sini aja ya?” tanya Baba sambil menunjuk tempat tidur.

“Ke hana aja!” bentak Kay sambil menunjuk pintu.

Baba keluar merebahkan dan mengeloni Kay di sofa. Saat Kay sudah setengah tertidur Baba memindahkan Kay kembali ke kamar Yangti dan merebahkan dia di tempat tidur.

“HAMA BABA AJAAAA!” tangis Kay tiba-tiba. Manja sekali anak ini, hanya mau dikeloni Baba.


* * *


Baba : Kay udah sekolah belum?

Kay : Udah.

Baba : Belajar apa di sekolah?

Kay : …

Yangti : Belajar apa Nak?

Kay : Pak Ito.

Baba : Pak Ito ngajarin apa?

Kay : Lompat.

Baba : Ibu Qori ngajarin apa?

Kay : Lonce.


* * *



“Tuh, Baba udah nyiapin mobil tuh!” kata Yangti. Sekejap kemudian terdengar suara langkah anak kecil berlari ke teras depan rumah, “IKUT! IKUT! IKUT!”

Baba masuk ke dalam rumah dan mendapati Kay sudah melintas ruang tamu. Baba memutar badannya kembali masuk, “Hayo, pamit dulu!”

“Yangti! Kay pulang dulu ya,” teriaknya, girang sekali.
“Sama Engkong!” perintah Baba.

“Kong, Kay pulang dulu,” ucapnya.

“Bude?”

“Bude, pulang dulu yaaaaa,”

“Iya Nak,” kata Bude sambil mencium Kay, yang berada di gendongan Baba, “pamit sama Kakak.”

“Kakak, Kay pulang dulu,”

“Peluk dulu dong!” kata Kakak.

“Gak boleh,” jawab Kay berkelit.

“Aah, boleh dong!” kata Kakak sambil memaksa mencium Kay yang membuang muka sambil terkekeh-kekeh.

“Oh, emang dasar anak ngaco,” kata Bude menggoda.

“Ngaco,” kata Kay.

“Mau pulang ke Pondok—?” tanya Baba.

“Gede!” jawab Kay sambil nyengir.

Di dalam mobil Kay berteriak-teriak, “DADAAAAA!!!!” katanya dengan penuh semangat sambil melambai-lambaikan tangannya dengan sekuat tenaga.

“Itu anak girang banget mau pulang!” kata Yangti, “Dada, Nak! Hati-hati ya…”