Jul 15, 2008
Happy Birthday Kay
Selamat ulang tahun Kayril Arenuma Faiz.
Terima kasih yang tak terhingga dari Baba dan Mama untuk seribu delapan ratus dua puluh enam hari yang dipenuhi dengan peluk, cium, canda, tawa, senyum, tangis, haru, marah dan berbagai keajaiban lain yang tak terhitung jumlahnya.
Baba dan Mama berharap Kay menjadi manusia yang berguna bagi semua, tanpa batasan bangsa, negara dan keyakinan.
Jul 14, 2008
Terima Kasih 2
‘Ba, waktu itu ada kejadian mengharukan, deh,’ kata Mama kemarin.
‘Kenapa, Ma?’
‘Si Kay tiba-tiba nyamperin aku, terus bilang “Kalau sudah dibantu bilang apa, Ma?” Aku tanya lagi: “Bilang apa?” Terus dia bilang gini: “Telima kasih.” Terus…’
‘Terus?’
‘Terus dia ngeliatin aku, dan bilang: “Telima kasih, Ma.” sambil meluk aku.’
Kami berdua tersenyum. Terharu.
‘Lalu aku bilang: “Sama-sama, Nak. Emang Mama udah bantu Kay?” Terus dia jawab: “Udah,” katanya.’
Sama-sama, Nak. Baba dan Mama juga berterima kasih pada Kay. Kay sudah banyak membantu Baba dan Mama dengan cara yang tak terduga.
Jul 9, 2008
Permainan Baru Kay
‘Kok nggak ada sualanya siih?’ tanya Kay sambil memegang kepingan puzzle hewan pertanian. Kepingan puzzle itu bergambar seekor ayam jantan, seekor ayam betina dan dua ekor anak ayam, tepat di tengah-tengahnya ada sebuah kenop yang berfungsi sebagai pegangan.
‘Suara apa, Nak?’ Mama balik bertanya.
‘Suala ayam,’ jawab Kay.
‘Ayam apa? Jantan apa betina?’ tanya Mama lagi.
‘Ayam jantan,’ jawab Kay.
‘Pijit ayamnya dong,’ pinta Mama.
‘Pijit Maaa,’ kata Kay sambil memijit kenop di kepingan puzzle itu.
‘Kukuruyuuuuuk,’ kata Mama menirukan kokok ayam jantan.
‘Oh, oh, oh,’ lirih Kay sambil tergopoh-gopoh menghampiri dan memeluk Mama dengan erat.
Jul 8, 2008
Tugas
‘Apa tugas suster, Kay,’ tanya Ibu Terapis.
Kay memperhatikan gambar suster yang ada di hadapannya, lalu menjawab:
‘Membawa obat.’
Dalam gambar itu si suster memang sedang membawa obat, tetapi bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Ibu Terapis.
‘Bukan, Kay. Kemarin kan sudah diajarkan, tugas suster adalah merawat—?’ kata Ibu Terapis memancing.
‘Olang sakit,’ jawab Kay.
‘Iya, benar.’
‘Sekarang tugas Baba apa?’ tanyanya lagi.
‘Mengantal vishidi,’ jawab Kay mantap.
‘Mengantar VCD?’ Ibu Terapis hampir tak dapat menahan tawanya. ‘Tugas Mama apa?’
‘Pelgi ke Swedia,’ jawab Kay.
‘Oh, gitu. Kalau tugas Kay apa?’
‘Memakai baju.’
Mulai mengarang bebas agaknya si Kay ini.
Akhirnya Ibu Terapis berhasil mengingatkan Kay bahwa tugas Kay adalah belajad dan tugas Baba adalah mencari uang.
‘Untuk apa, Kay?’
‘Untuk jajan,’ jawabnya sambil tersenyum.
Jun 25, 2008
Hai
'Hai, aku Baba,' kata Kay sambil menunjuk dada Baba.
'Hai, aku Mama,' katanya lagi sambil menunjuk Mama.
'Hai, aku Kayril,' jawab Baba dan Mama bersamaan.
Kay tertawa terbahak-bahak lalu memeluk kami berdua.
'Hai, aku Mama,' katanya lagi sambil menunjuk Mama.
'Hai, aku Kayril,' jawab Baba dan Mama bersamaan.
Kay tertawa terbahak-bahak lalu memeluk kami berdua.
Jun 21, 2008
Tidak Boleh Pergi Lagi
‘Claim Open itu maksudnya apa ya, Teh?’ tanya Baba pada Teh Yuyun, salah satu sepupu Mama yang pagi itu menemani Baba dan Kay ke Bandara Soekarno-Hatta.
‘Pilotnya udah minta mendarat ke menara, meureun,’ jawab yang ditanya tak pasti.
Pagi itu, tanggal 15 Juni 2008, Baba, Kay dan Teh Iis sudah tiba di bandara sejak jam 8 pagi. Kami ditemani sepupu Mama dari Bandung, Teh Yuyun dan Teh Neneng dan kedua sepupu Kay, Anya dan Adel.
Kenapa pagi-pagi sekali di hari Minggu yang ditingkahi oleh renyai gerimis kami sudah ada di bandara?
Tepat sekali, Gentles, kami di sana untuk menjemput Mama yang akan pulang dari Swedia.
For good? Baba dengar sebagian dari kalian bertanya-tanya.
Yes. For good. Tak lama lagi kami akan kembali bertiga.
Hooray!
Lama kami menunggu, status penerbangan Mama tidak kunjung berubah. Sementara penerbangan-penerbangan sesudahnya dilaporkan telah mendarat.
Wah,sepertinya laporan yang tertera di LCD display itu tidak dapat diandalkan, pikir Baba. Akhirnya setelah kira-kira setengah jam Baba memutuskan untuk mencuri pandang dari luggage tag orang-orang yang keluar dari pabean.
Bukan yang ini . . . ini juga bukan . . . ini nggak kelihatan . . . nah! Ini dia!
Akhirnya Baba menemukan orang yang mendorong kopor dengan luggage tag bertuliskan nomor penerbangan Mama. Ini berarti sebenarnya pesawat yang ditumpangi Mama sudah mendarat.
‘Sini, Kay,’ panggil Baba, ‘sebentar lagi Mama datang, nih.’
Kay segera menghampiri Baba dan mulai berusaha memanjat pagar pembatas, diikuti oleh kedua sepupunya yang selalu menjaga Kay kemanapun dia pergi.
Tak lama kemudian sosok Mama muncul dari balik dinding penyekat.
‘Siapa itu, Kay?’ tanya Baba sambil menunjuk Mama.
Tanpa menjawab Kay langsung menghambur ke arah Mama sambil berteriak:
‘MAMAAAAAA!!’
—dan langsung minta gendong lalu memeluk Mama erat-erat.
‘Ya ampuun!’ kata Mama, ‘kok kurus sih, Nak?’
Yang ditanya asyik memainkan rambut Mama yang dibiarkan panjang.
‘Kurus tapi tinggi, Ma,’ kata Baba, ‘Mamamnya memang lagi jelek sih. Kadang-kadang sarapan tidak habis dan kalau makan akhir-akhir ini selalu diemut.’
Baba mendorong trolley berisi kopor-kopor Mama sementara Mama menggendong anak yang sedang asyik bermanja-manja.
‘Sebentar ya, aku ambil mobil dulu,’ kata Baba sambil berlari menuju lokasi parkir mobil.
Beberapa menit kemudian kami selesai memasukkan semua barang—dan orang—ke dalam mobil dan melaju menuju rumah.
‘Tadi Mama tanya katanya Mama nggak boleh pergi lagi, Ba,’ kata Mama.
‘Oh ya? Mama boleh pergi lagi, Kay?’ tanya Baba.
‘Tidak,’ jawab Kay.
‘Kalau Baba boleh pergi?’ tanya Baba lagi.
‘Tidak.’
‘Jadi Baba sama Mama di sini aja sama Kay?’
‘Iya,’ jawabnya mantap.
‘Pilotnya udah minta mendarat ke menara, meureun,’ jawab yang ditanya tak pasti.
Pagi itu, tanggal 15 Juni 2008, Baba, Kay dan Teh Iis sudah tiba di bandara sejak jam 8 pagi. Kami ditemani sepupu Mama dari Bandung, Teh Yuyun dan Teh Neneng dan kedua sepupu Kay, Anya dan Adel.
Kenapa pagi-pagi sekali di hari Minggu yang ditingkahi oleh renyai gerimis kami sudah ada di bandara?
Tepat sekali, Gentles, kami di sana untuk menjemput Mama yang akan pulang dari Swedia.
For good? Baba dengar sebagian dari kalian bertanya-tanya.
Yes. For good. Tak lama lagi kami akan kembali bertiga.
Hooray!
Lama kami menunggu, status penerbangan Mama tidak kunjung berubah. Sementara penerbangan-penerbangan sesudahnya dilaporkan telah mendarat.
Wah,sepertinya laporan yang tertera di LCD display itu tidak dapat diandalkan, pikir Baba. Akhirnya setelah kira-kira setengah jam Baba memutuskan untuk mencuri pandang dari luggage tag orang-orang yang keluar dari pabean.
Bukan yang ini . . . ini juga bukan . . . ini nggak kelihatan . . . nah! Ini dia!
Akhirnya Baba menemukan orang yang mendorong kopor dengan luggage tag bertuliskan nomor penerbangan Mama. Ini berarti sebenarnya pesawat yang ditumpangi Mama sudah mendarat.
‘Sini, Kay,’ panggil Baba, ‘sebentar lagi Mama datang, nih.’
Kay segera menghampiri Baba dan mulai berusaha memanjat pagar pembatas, diikuti oleh kedua sepupunya yang selalu menjaga Kay kemanapun dia pergi.
Tak lama kemudian sosok Mama muncul dari balik dinding penyekat.
‘Siapa itu, Kay?’ tanya Baba sambil menunjuk Mama.
Tanpa menjawab Kay langsung menghambur ke arah Mama sambil berteriak:
‘MAMAAAAAA!!’
—dan langsung minta gendong lalu memeluk Mama erat-erat.
‘Ya ampuun!’ kata Mama, ‘kok kurus sih, Nak?’
Yang ditanya asyik memainkan rambut Mama yang dibiarkan panjang.
‘Kurus tapi tinggi, Ma,’ kata Baba, ‘Mamamnya memang lagi jelek sih. Kadang-kadang sarapan tidak habis dan kalau makan akhir-akhir ini selalu diemut.’
Baba mendorong trolley berisi kopor-kopor Mama sementara Mama menggendong anak yang sedang asyik bermanja-manja.
‘Sebentar ya, aku ambil mobil dulu,’ kata Baba sambil berlari menuju lokasi parkir mobil.
Beberapa menit kemudian kami selesai memasukkan semua barang—dan orang—ke dalam mobil dan melaju menuju rumah.
‘Tadi Mama tanya katanya Mama nggak boleh pergi lagi, Ba,’ kata Mama.
‘Oh ya? Mama boleh pergi lagi, Kay?’ tanya Baba.
‘Tidak,’ jawab Kay.
‘Kalau Baba boleh pergi?’ tanya Baba lagi.
‘Tidak.’
‘Jadi Baba sama Mama di sini aja sama Kay?’
‘Iya,’ jawabnya mantap.
Jun 4, 2008
Improvisasi
Tuk tuk tuk ada s’patu
S’patuku kulit lembu
Kudapat dari Ibu
Karena rajin membantu
Kring kring kring ada s’peda
S’pedaku roda dua
Kudapat dari Ayah
Karena rajin bekerja
‘Ayo, Kay nyanyi!’ ajak Baba seusai menyanyikan lagu anak-anak di atas.
Yang diajak segera bersiap-siap dengan bertepuk tangan dan menggoyang badannya ke kiri dan ke kanan.
Lalu menyanyikan ini:
Meyong meyong ada kucing
Kucingku belang tiga
Kudapat dali Engki
Kalena lajin—
‘—suala kucing, Babaaa!’ katanya sambil memeluk Baba, meminta Baba menirukan suara kucing.
‘Meong,’ kata Baba.
‘Ah, ah, ah,’ Kay mengeluarkan suara manja sambil mempererat pelukannya.
Duuh, anak Baba ini pandai sekali mengalihkan perhatian orang tuanya…
S’patuku kulit lembu
Kudapat dari Ibu
Karena rajin membantu
S’pedaku roda dua
Kudapat dari Ayah
Karena rajin bekerja
Kucingku belang tiga
Kudapat dali Engki
Kalena lajin—
‘Meong,’ kata Baba.
Jun 2, 2008
Kerja yang Bagus
'Kelja yang bagus, Semuanya!' kata Kay.
'Kelja yang bagus, Ba!' katanya lagi sambil menghadap Baba.
'Kerja yang bagus? Kalau begitu tepuk tangan dong,' pinta Baba.
Plok! Plok! Plok!
Kay bertepuk tangan tiga kali, berbalik memunggungi Baba dan langsung terlelap.
'Kelja yang bagus, Ba!' katanya lagi sambil menghadap Baba.
'Kerja yang bagus? Kalau begitu tepuk tangan dong,' pinta Baba.
Plok! Plok! Plok!
Kay bertepuk tangan tiga kali, berbalik memunggungi Baba dan langsung terlelap.
May 28, 2008
Jatuh
May 26, 2008
Ayam Colkat
‘Gambal ayam colkat, Ba!’ seru Kay sambil menyorongkan tubuhnya di antara Baba dan sebuah surat kabar yang TTS mingguannya sedang Baba isi.
‘Gambar ayam apa?’ tanya Baba.
‘Ayam colkat.’
‘Ayam cokelat?’
‘Iya.’
‘Ayam apa?’
‘Colkat.’
‘Cokelat,’ kata Baba membenarkan.
‘Iya.’
‘Ayam apa?’ tanya Baba lagi.
‘Colkat,’ jawab Kay.
‘Cokelat. Apa?’
‘Iyaa,’ kata Kay.
‘Ayam apa?’
‘Colkat.’
‘Ayam cokelat,’ kata Baba lagi, senyum iseng Baba mengembang.
‘Iyaa,’ kata Kay sambil senyum, seolah-olah dia memang sengaja menghindari kata itu.
‘Gambar di mana?’ tanya Baba.
‘Di sini. Yang beshaaaaaaaaal!’ teriaknya melengking sambil menunjuk surat kabar yang terbentang di lantai.
Baba pun segera menggambar seekor ayam cokelat dengan pena hitam di tangan Baba.
‘Nih, udah,’ kata Baba. Kay tersenyum puas.
‘Gambal ayam putih, Ba,’ pintanya lagi.
May 16, 2008
Let's Go, Kay!
‘Let’s go, Kay!’ kata Baba. Kami baru saja keluar dari pom bensin dekat rumah, hendak menuju sekolah Kay.
‘Let’s go, Kay!’ kata Kay menjawab ajakan Baba.
‘Lho, kok?’ protes Teteh, ‘jawabnya “let’s go, Ba!”, gitu.’
‘Let’s go, Ba!’ kata Kay memperbaiki ucapannya.
‘Ke mana kita?’ tanya Baba.
‘Ke Giant,’ katanya.
‘Nggak ke Marvin?’ tanya Baba lagi.
‘Iya. Aku mau ke Giant, jadi ingat susu,’ dendang Kay.
‘Let’s go, Kay!’ kata Kay menjawab ajakan Baba.
‘Lho, kok?’ protes Teteh, ‘jawabnya “let’s go, Ba!”, gitu.’
‘Let’s go, Ba!’ kata Kay memperbaiki ucapannya.
‘Ke mana kita?’ tanya Baba.
‘Ke Giant,’ katanya.
‘Nggak ke Marvin?’ tanya Baba lagi.
‘Iya. Aku mau ke Giant, jadi ingat susu,’ dendang Kay.
Apr 15, 2008
Telur Asin
‘Eeh, jangan mainin pintu kulkas,’ suara Teteh terdengar, ditingkahi langkah-langkah kaki yang makin mendekati Baba yang sedang bersantai di hari Minggu sambil membaca buku di teras depan rumah.
‘Baba, telol ashin, Baba,’ kata Kay sambil mengacungkan sebutir telur asin ke wajah Baba.
Sebelum Baba berhasil memberi komentar ia sudah melaju ke arah dapur.
‘TELOL ASHIN, TETEEEH!’ seruannya terdengar melengking.
‘Mau makan pake telor asin?’ tanya Teteh.
‘Mau mamam pake telol ashin,’ jawabnya mengekor.
Teteh Iis mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi, membelah telur asin itu menjadi dua, lalu menyuapi bocah yang menyambut makanan sederhana itu dengan lahap.
‘Itu telor dia ambil sendiri?’ tanya Baba.
‘Iya, tadi buka kulkas, terus ambil telor, minta makan deh,’ jawab Teteh.
Baba kembali melanjutkan bacaan. Kay masuk ke dalam, Teteh mengikuti. Sejurus kemudian lagu dari komputer mainan Kay terdengar.
‘Tigaa, duaa, entel!’ suara Kay terdengar sayup-sayup. Kode 32 adalah kode untuk musik, biasanya ia akan memilih musik yang diiringi dengan gambar seekor paus menari di layar.
‘Ikan, Teteh. Ikan paus!’
Betul,kan ?
Kurang lebih 45 menit berlalu. Kay kembali ke teras dan memilih beberapa buku bergambar yang menjadi favoritnya.
‘Ayam, Teteh. Ayam, Baba,’ katanya sambil menunjuk gambar ayam di bukunya.
‘Belum selesai makannya?’ tanya Baba.
‘Wah,’ kata Teteh, ‘ini udah nambah. Yang tadi mah udah habis.’
‘Nambah?’ tanya Baba heran, ‘Cuma sama telor asin aja makannya nambah?’
‘Iya, diakan memang doyan telor asin.’
Kay memang suka telur asin, tapi baru kali ini Baba melihat dia makan dengan telur asin sampai nambah.
‘Baba, telol ashin, Baba,’ kata Kay sambil mengacungkan sebutir telur asin ke wajah Baba.
Sebelum Baba berhasil memberi komentar ia sudah melaju ke arah dapur.
‘TELOL ASHIN, TETEEEH!’ seruannya terdengar melengking.
‘Mau makan pake telor asin?’ tanya Teteh.
‘Mau mamam pake telol ashin,’ jawabnya mengekor.
Teteh Iis mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi, membelah telur asin itu menjadi dua, lalu menyuapi bocah yang menyambut makanan sederhana itu dengan lahap.
‘Itu telor dia ambil sendiri?’ tanya Baba.
‘Iya, tadi buka kulkas, terus ambil telor, minta makan deh,’ jawab Teteh.
Baba kembali melanjutkan bacaan. Kay masuk ke dalam, Teteh mengikuti. Sejurus kemudian lagu dari komputer mainan Kay terdengar.
‘Tigaa, duaa, entel!’ suara Kay terdengar sayup-sayup. Kode 32 adalah kode untuk musik, biasanya ia akan memilih musik yang diiringi dengan gambar seekor paus menari di layar.
‘Ikan, Teteh. Ikan paus!’
Betul,
Kurang lebih 45 menit berlalu. Kay kembali ke teras dan memilih beberapa buku bergambar yang menjadi favoritnya.
‘Ayam, Teteh. Ayam, Baba,’ katanya sambil menunjuk gambar ayam di bukunya.
‘Belum selesai makannya?’ tanya Baba.
‘Wah,’ kata Teteh, ‘ini udah nambah. Yang tadi mah udah habis.’
‘Nambah?’ tanya Baba heran, ‘Cuma sama telor asin aja makannya nambah?’
‘Iya, dia
Kay memang suka telur asin, tapi baru kali ini Baba melihat dia makan dengan telur asin sampai nambah.
Apr 2, 2008
Kangen
‘Bobo siang sampai jam 4 sore,’ kata Teteh Iis sambil menutup pintu kamar. Ia baru saja melongok Kay yang sedang dikeloni oleh Nenek.
‘Udah tidur?’ tanya Baba. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Baba baru tiba di rumah dan hendak menyantap makan malam.
‘Belum,’ jawab Teteh, ‘tidur sampai sore, bisa-bisa tidur jam sebelas.’
Selesai makan malam, tiba-tiba tangisan Kay terdengar dari kamar. Baba segera mencuci tangan dan masuk ke kamar.
Kay sedang berbaring di atas tubuh Nenek, menangis tersedu-sedu. Nenek berusaha membujuknya.
‘Kenapa, Nak?’ tanya Baba.
‘Nenek salah ngomong,’ jelas Nenek, ‘maunya bilang “bobo sama Nenek?” eh keluarnya malah “bobo sama Mama?”. Terus langsung nangis.’
‘Ooh, sayang,’ kata Baba sambil menggendong Kay. Yang digendong segera meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sedu-sedannya masih berlanjut.
‘Kenapa?’ tanya Teteh Iis yang melongokkan kepalanya di pintu kamar.
Sebelum sempat menjawab Kay sudah mendengus mengeluarkan ingusnya. ‘Aduh, aduh, ingus,’ kata Teteh sambil meraih handuk, ‘sini dilap dulu ingusnya.’
Setelah dilap ingusnya tangisan Kay berhenti, namun ia masih terisak.
‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba.
‘Shama Baba,’ jawabnya lirih.
‘Bilang dulu sama Nenek.’
‘Nek, Kay mau bobo dulu, ya,’ bisiknya.
‘Iya,’ jawab Nenek, ‘tidur yang nyenyak, ya.’
‘Kiss dulu Neneknya,’ kata Baba.
Kay menyorongkan tubuhnya dan Nenek mencium pipi tembam Kay.
‘Udah, bobo, ya,’ kata Nenek, ‘ Nenek keluar, ya.’
Di tempat tidur, Kay segera memeluk Baba dengan erat.
‘Kenapa Kay tiba-tiba nangis, Sayang?’ tanya Baba.
Pelukannya makin erat.
‘Kay kangen sama Mama?’
‘Iya,’ jawabnya lirih.
‘Sabar, ya. Sebentar lagi Mama pulang, kok,’ kata Baba.
‘Iya,’ jawab Kay sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baba dan mempererat pelukannya.
‘Udah, bobo, ya.’
‘Iya.’
‘Udah tidur?’ tanya Baba. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Baba baru tiba di rumah dan hendak menyantap makan malam.
‘Belum,’ jawab Teteh, ‘tidur sampai sore, bisa-bisa tidur jam sebelas.’
Selesai makan malam, tiba-tiba tangisan Kay terdengar dari kamar. Baba segera mencuci tangan dan masuk ke kamar.
Kay sedang berbaring di atas tubuh Nenek, menangis tersedu-sedu. Nenek berusaha membujuknya.
‘Kenapa, Nak?’ tanya Baba.
‘Nenek salah ngomong,’ jelas Nenek, ‘maunya bilang “bobo sama Nenek?” eh keluarnya malah “bobo sama Mama?”. Terus langsung nangis.’
‘Ooh, sayang,’ kata Baba sambil menggendong Kay. Yang digendong segera meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sedu-sedannya masih berlanjut.
‘Kenapa?’ tanya Teteh Iis yang melongokkan kepalanya di pintu kamar.
Sebelum sempat menjawab Kay sudah mendengus mengeluarkan ingusnya. ‘Aduh, aduh, ingus,’ kata Teteh sambil meraih handuk, ‘sini dilap dulu ingusnya.’
Setelah dilap ingusnya tangisan Kay berhenti, namun ia masih terisak.
‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba.
‘Shama Baba,’ jawabnya lirih.
‘Bilang dulu sama Nenek.’
‘Nek, Kay mau bobo dulu, ya,’ bisiknya.
‘Iya,’ jawab Nenek, ‘tidur yang nyenyak, ya.’
‘Kiss dulu Neneknya,’ kata Baba.
Kay menyorongkan tubuhnya dan Nenek mencium pipi tembam Kay.
‘Udah, bobo, ya,’ kata Nenek, ‘ Nenek keluar, ya.’
Di tempat tidur, Kay segera memeluk Baba dengan erat.
‘Kenapa Kay tiba-tiba nangis, Sayang?’ tanya Baba.
Pelukannya makin erat.
‘Kay kangen sama Mama?’
‘Iya,’ jawabnya lirih.
‘Sabar, ya. Sebentar lagi Mama pulang, kok,’ kata Baba.
‘Iya,’ jawab Kay sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baba dan mempererat pelukannya.
‘Udah, bobo, ya.’
‘Iya.’
Mar 31, 2008
Pamitan Untuk Main & Bujukan Untuk Pulang
‘BABAAAAAA!!!’ teriaknya dari garasi.
‘Eh, jangan teriak-teriak,’ susul suara Teteh Iis sedetik kemudian, ‘bilangnya dari dekat.’
‘BABAAAA!!’ teriak Kay lagi. Suaranya makin mendekat.
‘Hey,’ kata Baba, ‘Kenapa? Sini bilangnya.’ Beberapa detik kemudian sosoknya muncul di ambang pintu.
‘Baba,’ kata anak yang masih memakai piyama itu melangkah masuk dari garasi, ‘Kay mau ke lumah desweidesweideswei yaaaa…’ lanjutnya tidak jelas karena ia langsung lari keluar takut ditinggal oleh Teteh.
Kay memang belakangan ini sedang sangat suka sekali bermain di luar rumah. Ia biasanya bermain sambil sarapan atau makan sore di rumah salah seorang tetangga sambil memperhatikan ikan atau burung yang menjadi peliharaan mereka. Kalau sudah begini biasanya ia sulit diajak pulang. Harus dengan ekstra bujukan yang dilakukan dengan ekstra sabar. Biasanya, kalau waktu sarapan, Baba yang sudah bersiap berangkat ke kantor harus kembali ke rumah sambil menggendong seorang anak yang menangis sedih.
‘Eeh, kan ada waktunya main dan ada waktunya pulang, ingat Bing & Bong juga pulang kalau sudah waktunya pulang kan ?’ kata Baba membujuk sambil menyebut salah satu filler Playhouse Disney yang menjadi kesukaan Kay. Kedua tokoh utama dalam serial itu memang selalu pulang bila alarm sudah memanggil mereka.
‘Huhuhuhuu,’ isak Kay, lalu ia akan mendengus, ‘Ingush, minta handuk,’ katanya. Setelah handuk diberikan ia akan mengusap air mata dan ingusnya sendiri.
Biasanya setelah ia tiba di rumah, Kay sudah lupa akan marahnya dan kembali melompat-lompat kegirangan menuju bak mandi…
‘Eh, jangan teriak-teriak,’ susul suara Teteh Iis sedetik kemudian, ‘bilangnya dari dekat.’
‘BABAAAA!!’ teriak Kay lagi. Suaranya makin mendekat.
‘Hey,’ kata Baba, ‘Kenapa? Sini bilangnya.’ Beberapa detik kemudian sosoknya muncul di ambang pintu.
‘Baba,’ kata anak yang masih memakai piyama itu melangkah masuk dari garasi, ‘Kay mau ke lumah desweidesweideswei yaaaa…’ lanjutnya tidak jelas karena ia langsung lari keluar takut ditinggal oleh Teteh.
Mar 17, 2008
Pagi Ini
“Baba lagi nyemil shepatu dulu, ya,” kata Kay sambil menghampiri Baba, lalu ia duduk di belakang Baba.
“Iya, Baba sedang menyemir sepatu.”
“Shedang menyemil shepatu,” katanya mengikuti.
“Sepatu siapa?”
“Shepatu Baba.”
“Kay sedang apa?”
“Shedang duduk.”
“Sambil?” tanya Baba, mengharapkan ia menjawab bahwa ia sedang melihat Baba menyemir.
“Mamam.”
“Mamam apa?”
“Nashi.”
“Nasi apa?”
“Nashi liwet.”
Hehe, padahal dia makan nasi tim tahu dan ceker ayam.
“Baba mau berangkat ke?” tanya Baba setelah siap berangkat.
“Ke kantol.”
“Kay di?”
“Di lumah.”
“Sama?”
“Shama Bibi.”
“Sama siapa lagi?”
“Shama Teteh.”
“Baik-baik di rumah, ya. Nurut sama Bibi dan Teteh.”
“Iya.”
“Mamam yang banyak, ya.”
“Iya.”
“Mimi yang banyak, ya.”
Diam.
“Ok?”
Diam.
“Okie?”
“Dokie.”
“Supaya?” tanya Baba mengharap ia menjawab ‘supaya sembuh.’
“Nggak cekukan,” jawabnya di luar dugaan.
“Kemalen di Bandung naik kuda,” katanya lagi.
“Iya. Kay mau naik kuda lagi?”
“Mau.”
“Oke. Sembuh dulu, ya. Baba berangkat ya. Dadaaa,” kata Baba melambaikan tangan.
“Dadaaaaaaa,” Kay membalas lambaian Baba.
“Shedang menyemil shepatu,” katanya mengikuti.
Feb 28, 2008
Pengenalan Profesi 2
'Kay, apakah tugas dokter?' tanya Baba.
'Memeliksha olang shakit!' jawab Kay sambil nyengir.
'Apakah tugas suster?'
'Membawa obat!'
'Apakah tugas guru?'
'Mengajal mulid-mulid!'
'Apakah tugas polisi?'
'Menangkap olang jahat!'
'Horeeee!!! Kay pintar!' Baba bertepuk tangan di hadapan bocah yang cengar-cengir dengan penuh kebanggaan.
'Lagi! apakah tugash dokteeeel?' pintanya...
'Memeliksha olang shakit!' jawab Kay sambil nyengir.
'Apakah tugas suster?'
'Membawa obat!'
'Apakah tugas guru?'
'Mengajal mulid-mulid!'
'Apakah tugas polisi?'
'Menangkap olang jahat!'
'Horeeee!!! Kay pintar!' Baba bertepuk tangan di hadapan bocah yang cengar-cengir dengan penuh kebanggaan.
'Lagi! apakah tugash dokteeeel?' pintanya...
Mengantar Mama
‘Kita mau ke mana, Kay?’ tanya Mama.
‘Ke bandala,’ jawab Kay.
‘Ke bandara mau lihat apa?’
‘Liyat peshawat.’
Percakapan tersebut terjadi saat kami sekeluarga (plus Engki, Nenek, Uwa, dan tentu saja Teteh) terjebak macet di jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu. Liburan musim dingin Mama sudah selesai dan ia harus kembali meneruskan studinya di Swedia.
Kay, yang selama seminggu terakhir ini menjadi sangat kolokan dan manja pada Mama, sudah mengijinkan Mama berangkat kembali ke Swedia.
‘Mama boleh pergi ke Swedia lagi, Kay?’ tanya Mama.
‘Boleh.’
‘Teteh Iis boleh pulang ke Garut nggak?’ tanya Mama lagi.
‘Jangan!’ jawab Kay merajuk.
Mama nggak ada kok Teteh mau pulang ke Garut? Nanti aku sama siapa? Mungkin itu yang ada dalam benak Kay.
Di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa, Kay berlarian tidak keruan. Meskipun demikian ia tidak mau lepas jauh-jauh dari Mama.Setiap beberapa menit berlarian ia pasti akan menghampiri dan memeluk Mama.
Waktu Mama sedang check-in dan membayar airport tax, ia agak kesal dan mencari-cari Mamanya.
‘Mau shama Mama aja!’ teriaknya sambil memukul-mukul kursi dengan marah.Untung saja ia mudah dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain.
‘Cepot, Baba!’ katanya sambil berusaha meraih wayang golek Cepot yang berada di etalase di dekat kami duduk. Baba segera mencegahnya sebelum ia sempat menyambar golek itu.
‘Iya, Cepot,’ kata Baba, ‘warnanya apa?’
‘Melah.’
Akhirnya waktu untuk boarding tiba.
‘Kay,’ kata Mama, ‘Mama berangkat sekolah lagi ya. Kay harus nurut sama Baba, sama Nenek, sama Kakek, sama Bibi dan sama Teteh ya?’
Kay diam.
‘OK?’ kata Mama lagi.
Kay masih diam.
‘Okie?’ kata Mama lagi.
‘Dokie,’ jawab Kay, lalu ia memeluk dan mencium Mama.
‘Jaga dia ya, Ba,’ bisik Mama ke Baba.
‘Pasti. Jangan kuatir,’ jawab Baba tersenyum.
Kemudian Mama berangkat.
Cepat selesaikan sekolah lalu pulang, ya Ma, supaya kita bisa jalan-jalan bertiga lagi.
Hugs and kisses dari Kay.
‘Ke bandala,’ jawab Kay.
‘Ke bandara mau lihat apa?’
‘Liyat peshawat.’
Percakapan tersebut terjadi saat kami sekeluarga (plus Engki, Nenek, Uwa, dan tentu saja Teteh) terjebak macet di jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu. Liburan musim dingin Mama sudah selesai dan ia harus kembali meneruskan studinya di Swedia.
Kay, yang selama seminggu terakhir ini menjadi sangat kolokan dan manja pada Mama, sudah mengijinkan Mama berangkat kembali ke Swedia.
‘Mama boleh pergi ke Swedia lagi, Kay?’ tanya Mama.
‘Boleh.’
‘Teteh Iis boleh pulang ke Garut nggak?’ tanya Mama lagi.
‘Jangan!’ jawab Kay merajuk.
Mama nggak ada kok Teteh mau pulang ke Garut? Nanti aku sama siapa? Mungkin itu yang ada dalam benak Kay.
Di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa, Kay berlarian tidak keruan. Meskipun demikian ia tidak mau lepas jauh-jauh dari Mama.Setiap beberapa menit berlarian ia pasti akan menghampiri dan memeluk Mama.
Waktu Mama sedang check-in dan membayar airport tax, ia agak kesal dan mencari-cari Mamanya.
‘Mau shama Mama aja!’ teriaknya sambil memukul-mukul kursi dengan marah.Untung saja ia mudah dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain.
‘Cepot, Baba!’ katanya sambil berusaha meraih wayang golek Cepot yang berada di etalase di dekat kami duduk. Baba segera mencegahnya sebelum ia sempat menyambar golek itu.
‘Iya, Cepot,’ kata Baba, ‘warnanya apa?’
‘Melah.’
Akhirnya waktu untuk boarding tiba.
‘Kay,’ kata Mama, ‘Mama berangkat sekolah lagi ya. Kay harus nurut sama Baba, sama Nenek, sama Kakek, sama Bibi dan sama Teteh ya?’
Kay diam.
‘OK?’ kata Mama lagi.
Kay masih diam.
‘Okie?’ kata Mama lagi.
‘Dokie,’ jawab Kay, lalu ia memeluk dan mencium Mama.
‘Jaga dia ya, Ba,’ bisik Mama ke Baba.
‘Pasti. Jangan kuatir,’ jawab Baba tersenyum.
Kemudian Mama berangkat.
Cepat selesaikan sekolah lalu pulang, ya Ma, supaya kita bisa jalan-jalan bertiga lagi.
Hugs and kisses dari Kay.
Feb 19, 2008
'Telima Kashih'
Waktu menunjukkan pukul 17:30 di hari Sabtu minggu lalu. Mama dan Baba sedang bersiap-siap berangkat ke sebuah acara makan malam di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ketika pintu terkuak dan Kay dengan santai masuk ke dalam kamar.
Ia langsung mendekati dan memeluk kaki Mama.
‘Telima kashih ya, Ma,’ katanya tiba-tiba. Mama segera berbalik dan memeluk anak manis itu, matanya berkaca-kaca.
‘Iya, Sayang,’ kata Mama, ‘terima kasih kembali.’
Kay melepaskan diri dari pelukan Mama, lalu memeluk kaki Baba yang sedang memperhatikan pemandangan mengharukan itu.
‘Telima kashih ya, Ba,’ katanya sambil tersenyum lebar, kepalanya menengadah menatap wajah Baba.
‘Iya, sama-sama,’ kata Baba sambil membalas pelukan Kay.
Ia langsung mendekati dan memeluk kaki Mama.
‘Telima kashih ya, Ma,’ katanya tiba-tiba. Mama segera berbalik dan memeluk anak manis itu, matanya berkaca-kaca.
‘Iya, Sayang,’ kata Mama, ‘terima kasih kembali.’
Kay melepaskan diri dari pelukan Mama, lalu memeluk kaki Baba yang sedang memperhatikan pemandangan mengharukan itu.
‘Telima kashih ya, Ba,’ katanya sambil tersenyum lebar, kepalanya menengadah menatap wajah Baba.
‘Iya, sama-sama,’ kata Baba sambil membalas pelukan Kay.
Jan 14, 2008
Pengenalan Profesi
‘Kay, ini pekerjaan apa?’ tanya sang terapis sambil menunjukkan gambar seorang polisi.
‘Polishi,’ jawab Kay pasti.
Dalam salah satu sesi terapi Kay dia memang diajarkan untuk mengenal benda-benda dan profesi yang ada di sekelilingnya.
‘Kalau ini apa?’
‘Pemadam kebakalan.’
‘Yang ini?’ sang terapis menunjukkan seorang yang mengenakan jas medis.
‘Doktel.’
‘Kalau yang ini apa, Kay?’ tanya Sang Terapis lagi sambil menunjukkan gambar seorang lelaki bertubuh tegap berseragam loreng dan memegang senjata.
Kay memperhatikan sejenak gambar yang baru pertama kali ia lihat itu.
Kemudian tanpa keraguan sedikitpun ia menjawab:
‘Pengamen.’
Sambil menahan tawa Sang Terapis mengoreksi jawaban Kay.
‘Ini bukan pengamen, Kay. Ini tentara.’
‘Telima kashih, Bu,’ kata Kay melanjutkan sambil membungkukkan badannya menirukan pengamen yang baru saja diberi uang.
Beberapa minggu kemudian saat Baba dan Mama sedang mengantarkan Kay sekolah, Ibu Widya, sang terapis bercerita tentang sesi terapi yang baru saja selesai.
‘Sekarang Kay sudah tahu tentara. Tadi begitu saya tunjukkan gambar tentara ia bisa mengenalinya dengan tepat.’
‘Sudah tidak dibilang pengamen lagi ya,’ kata Baba.
‘Tidak. Tapi ketika saya tanya “tentara bawa apa, Kay?” ia menjawab, “Bawa gitar.” Rupanya senjata yang dibawa tentara itu dikira gitar oleh Kay,’ kata Ibu Widya sambil tertawa.
Kay memang anak yang tidak mengenal senjata karena Baba dan Mama memang tidak pernah membelikan senjata mainan dan tidak pula mengijinkan Kay menonton acara-acara (sekalipun dikatakan sebagai acara anak-anak) yang tokoh-tokohnya memiliki senjata. Akibatnya memang ia mengira senjata yang dipegang oleh tentara dalam gambar itu adalah gitar.
Sebelum berangkat sekolah pagi itu, saat Mama sedang menonton BBC World yang menampilkan kebakaran karena kerusuhan di salah satukota di dunia, Kay berkomentar dengan mantap:
‘Ada kembang api banyak, Mama.’
‘Polishi,’ jawab Kay pasti.
Dalam salah satu sesi terapi Kay dia memang diajarkan untuk mengenal benda-benda dan profesi yang ada di sekelilingnya.
‘Kalau ini apa?’
‘Pemadam kebakalan.’
‘Yang ini?’ sang terapis menunjukkan seorang yang mengenakan jas medis.
‘Doktel.’
‘Kalau yang ini apa, Kay?’ tanya Sang Terapis lagi sambil menunjukkan gambar seorang lelaki bertubuh tegap berseragam loreng dan memegang senjata.
Kay memperhatikan sejenak gambar yang baru pertama kali ia lihat itu.
Kemudian tanpa keraguan sedikitpun ia menjawab:
‘Pengamen.’
Sambil menahan tawa Sang Terapis mengoreksi jawaban Kay.
‘Ini bukan pengamen, Kay. Ini tentara.’
‘Telima kashih, Bu,’ kata Kay melanjutkan sambil membungkukkan badannya menirukan pengamen yang baru saja diberi uang.
Beberapa minggu kemudian saat Baba dan Mama sedang mengantarkan Kay sekolah, Ibu Widya, sang terapis bercerita tentang sesi terapi yang baru saja selesai.
‘Sekarang Kay sudah tahu tentara. Tadi begitu saya tunjukkan gambar tentara ia bisa mengenalinya dengan tepat.’
‘Sudah tidak dibilang pengamen lagi ya,’ kata Baba.
‘Tidak. Tapi ketika saya tanya “tentara bawa apa, Kay?” ia menjawab, “Bawa gitar.” Rupanya senjata yang dibawa tentara itu dikira gitar oleh Kay,’ kata Ibu Widya sambil tertawa.
Kay memang anak yang tidak mengenal senjata karena Baba dan Mama memang tidak pernah membelikan senjata mainan dan tidak pula mengijinkan Kay menonton acara-acara (sekalipun dikatakan sebagai acara anak-anak) yang tokoh-tokohnya memiliki senjata. Akibatnya memang ia mengira senjata yang dipegang oleh tentara dalam gambar itu adalah gitar.
Sebelum berangkat sekolah pagi itu, saat Mama sedang menonton BBC World yang menampilkan kebakaran karena kerusuhan di salah satu
‘
Jan 11, 2008
Mama Datang!
Hai, Gentles, Kay dan para pendukungnya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008!
Iya, iya, sekarang sudah tanggal 11, sudah lumayan terlambat untuk mengucapkan selamat, tapi nggak apa-apa tokh? Soalnya Baba punya alasan yang sangat bagus:
Mama lagi di Jakarta .
Nah, bagus kan alasannya? Makanya agak lama nggak ada update di halaman-halaman buku harian Baba dan Kay. Kami sedang asyik bermain-main bertiga.
Apa? Kapan Mama datang? Tanggal 25 Desember yang lalu.
Tentu saja peristiwa ini membuat Kay menjadi luar biasa gembira dan bahagia.
Waktu Mama keluar dari imigrasi di bandara Soekarno-Hatta, Kay masih malu-malu.
‘Mau sama Mama nggak?’ tanya Mama sambil menawarkan diri untuk menggendong Kay.
Yang ditanya membuang muka, tapi senyumnya lebar sekali.
Mama mengulangi pertanyaan yang sama hingga tiga kali, barulah Kay mau pindah dari gendongan Baba ke pelukan Mama.
Menuju mobil, Mama bertanya lagi pada Kay:
‘Mau digendong Baba?’
‘Shama Mama aja,’ jawab Kay, ‘Biola,’ katanya lagi sambil menunjuk sebuah poster bergambar biola.
‘Sama Teteh mau?’ goda Mama lagi.
‘Ng! Shama Mama aja! Ng!’ jawabnya setengah marah.
‘Ok, ok,’ kata Baba, ‘wah, nggak laku lagi nih.’
‘Duuh, shayangnya,’ kata Kay sambil memeluk Mama dengan erat. Di dalam mobil ia tidak mau beranjak dari pangkuan Mama. Sepanjang perjalanan mungkin ada sekitar empat puluh kali Kay menyatakan ia sayang Mama.
Di rumah, Bibi menyambut dengan membuka pintu mobil yang baru saja Baba parker di garasi. Ia langsung disambut oleh tangan Kay yang melambai-lambai.
‘Dadaaaaa!!’ kata Kay sambil melambai. Artinya ia ingin Bibi pergi dari situ. Wah, Bibi juga nggak laku. Semua dikalahkan oleh Mama.
Esok harinya, ketika sedang bermain-main, Kay selalu menyempatkan diri untuk memeluk Mama sambil bergumam ‘Duuh shayangnya.’
Selain itu ia juga sering menghentikan permainannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mama. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Mama ia akan menunjuk bahu atau dada Mama sambil berkata:
‘Mama!’
Seolah-olah ia tidak percaya Mama yang sekarang ada di hadapannya adalah yang asli dan bukan foto.
Yah, begitulah, sejak tanggal 25 Desember hingga sekarang hari-hari kami lalui bertiga lagi. Ke rumah Nenek di Subang, ke rumah Uyut hingga kondangan ke Nagreg yang menyebabkan Kay dihukum oleh Baba. Tapi itu kisah yang lain lagi.
Iya, iya, sekarang sudah tanggal 11, sudah lumayan terlambat untuk mengucapkan selamat, tapi nggak apa-apa tokh? Soalnya Baba punya alasan yang sangat bagus:
Esok harinya, ketika sedang bermain-main, Kay selalu menyempatkan diri untuk memeluk Mama sambil bergumam ‘Duuh shayangnya.’
Subscribe to:
Posts (Atom)
