Feb 11, 2009

Pitak

‘Euleuh, ini kenapa rambut semua?’ suara Bibi terdengar memecah keheningan pagi kemarin. Baba keluar kamar dan mendapatkan Bibi sedang mengibas-ngibaskan tangannya ke bahu dan perut Kay. Potongan rambut Kay bertebaran di mana-mana.

‘Ya ampuun!’ kata Mama ketika melihat kepala Kay pitak.

Ya, dalam waktu singkat antara ia terbangun dan Baba terbangun, kurang lebih 15 menit, Kay berhasil memotong rambutnya sendiri menggunakan gunting yang tergeletak di atas meja.

Kini ia pitak.

Di sisi kanan tiga, dan di sisi kiri satu.

Kami tentu saja menegur Kay yang dengan sembarangan telah main gunting, meskipun kami juga menyadari bahwa kesalahan pun terletak di pundak kami yang meletakkan gunting tidak pada tempatnya.

Yang ditegur cemberut. Mukanya ditekuk duabelas. Wajahnya menantang. Menangis? Oho, tidak. Gengsi. Sesekali ia menghentakkan kakinya atau memukul Mama, tanda protes. Seolah ia ingin berkata, ‘Baba kemarin juga merapikan rambutnya sendiri. Kenapa Kay nggak boleh?’

Yaaa...memang beberapa kali Baba mencukur rambut tidak di tukang cukur, tapi cukup dengan meminjam alat cukur Uwa Ungking di Bintaro dan merapikan sisanya dengan gunting yang ada di rumah. Ketika Baba merapikan rambut sendiri itulah Kay—seperti biasanya—memperhatikan tindakan Baba.

Dan kemarin ia memraktekkannya. Dan sukses membuat rambutnya pitak.

Bagaimanapun juga, peristiwa ini adalah sebuah peristiwa lucu. Seorang anak menirukan tindakan orang dewasa dengan hasil yang tak terduga (atau malah bisa diduga?)

Kami tidak menegur Kay karena ia membuat rambutnya pitak, tapi lebih karena kekhawatiran bahwa ia bisa saja melukai dirinya sendiri pada saat ia menggunting rambutnya. Untung hanya rambut, coba kalau kuping. Hiiii….amit-amit ah!

Singkat cerita hari ini Kay ditanya oleh Pak Ito, terapisnya.

‘Siapa yang potong rambut?’

‘Kay,’ jawab si bocah.

‘Bagus nggak?’ tanya Pak Ito lagi.

‘Bagus! Kay pintel, Pak Ito,’ jawabnya dengan penuh percaya diri.

Dec 20, 2008

Tiga Permintaan

I

Kebiasaan Baba setiba di rumah dari kantor adalah langsung makan malam, kadang kala ditemani oleh Mama.

Akhir-akhir ini jika Baba dan Mama sedang makan malam sambil asyik ngobrol di meja makan, Kay sering menghampiri Baba lalu menempelkan pantatnya di lutut Baba.

‘Mau dipangku sama Baba,’ katanya kemudian sambil menumpangkan kakinya ke paha Baba.

Baba tidak punya pilihan lain selain mengangkat tubuhnya dengan tangan kiri—Baba hampir selalu makan dengan tangan, tanpa sendok-garpu—dan mendudukkan Kay di paha Baba. Dia memintanya dengan sangat manis, sih!

Sudah barang tentu sepanjang Baba dan Mama makan malam Kay duduk manis di paha Baba sambil mendengarkan—dan sesekali membeo—percakapan kami.


II

Setiap hari Minggu, Baba selalu menyempatkan diri mengisi TTS mingguan yang tercetak di salah satu suratkabar terkemuka.

Saat membuka halaman TTS tersebut, suara kertas koran itu pasti akan mengundang seorang anak kecil yang serta-merta memohon:

‘Ba, gambal ayam, Ba!’

Sesi mengisi TTS pun akan diselingi dengan sesi menggambar bebas. Permintaan gambar yang sering diminta Kay antara lain: ikan paus, ayam, ayam biru, ayam hitam, burung, pohon kelapa, kurungan ayam, ubur-ubur, ayam mesin, burung hijau, kandang burung, tempat makan (merujuk ke salah satu restoran favorit Kay), pagar pohon kelapa, pohon daun, dan banyak lagi.

Senyum yang mengembang di bibirnya cukup menjadi imbalan yang paling berharga.


III

Kay mempunyai sebuah kuda goyang (terjemahan bebas dari rocking horse) dengan loreng seperti zebra. Kuda itu memiliki pelana busa yang dipasang Engki supaya pantat Kay tidak sakit, dan pelana busa itu dibungkus dengan kain batik oleh Nenek supaya lebih empuk dan terlihat manis.

Kay senang sekali menaiki kuda tersebut, kadang-kadang kudanya diberi ‘minum’ dari gelas plastik.

‘Ba, mau naik kuda, Ba!’ demikian katanya sebelum menaiki kuda itu.

‘Iya,’ jawab Baba, ‘silahkan naik.’

Kay naik dan mulai menggoyangkan si kuda maju mundur.

Lalu ia merentangkan tangannya ke arah Baba dan menggoyang-goyangkan jemarinya mengajak Baba mendekat sambil berkata, ‘Peluk dulu, Babanya.’

Tidak bisa tidak, Baba mendekati si penunggang kuda yang langsung meraih leher dan memeluk erat sambil mengeluarkan suara manja.

Setelah selesai ia akan kembali ‘mengendarai’ kudanya.

Nov 23, 2008

Kayril is What He Eats

‘Halo? Bibi?’


‘Iya, kenapa?’


‘Si Kay lagi ngapain?’


‘Itu lagi main-main,’ kata Bibi di ujung sana, ‘dari tadi nggak bisa diem.’


‘Hahaha,’ Baba tak bisa menahan tawa membayangkan bocah kecil itu berlarian di dalam rumah, ‘Makannya gimana?’


‘Mau,’ jawab Bibi, ‘tadi nambah dua piring.’


‘Hah? Makan pake apaan?’


‘Ya pake itu, bakwan jagung. Bakwannya habis tiga, nasinya dua piring.’


Heran? Iya, kadang-kadang Baba juga heran. Sebagai seorang anak berusia lima tahun Kay hampir tidak memiliki kesulitan makan—memang seringkali makannyadikulum alias diemut, tapi jarang sekali dia menolak makanan.


Sayur-mayur dia suka, terutama sayur bening oyong dan bakwan (atau ‘bawkan’—seperti biasa dia sebut). Wortel dia sangat suka, terutama apabila Mama membuatkan kue wortel (ini sih semua juga suka, hehehe).


Ikan? Jangan ditanya. Mulai dari yang mentah, hingga yang matang. Mulai dari sushi, hingga lele goreng. Telur salmon dalam sushi? Dilahap dengan tidak sabar. Salmon asap? Dipakai makan nasi berbarengan dengan bakwan dan sayur bening. Ikan kembung goreng? Nggak masalah. Ikan mas pepes? Disikat. Ikan pindang? Dilahap. Singkatnya, semua hidangan ikan, asalkan tidak pedas, dia suka. Bahkan kami sering menghalangi dia menambul ikan goreng di meja makan. Bukan apa-apa, karena kami takut dia kekenyangan dan sakit perut. Makan berlebihan juga tidak baik, bukan?


Yang agak sulit adalah ayam dan daging. Bukan karena ia tidak suka, tapi untuk kedua jenis makanan ini Kay harus mendapatkan yang lembut, karena yang keras dan liat sulit dikunyah dan akhirnya diemut.


Bagaimana caranya kami mendidik Kay agar menyukai segala macam jenis makanan ini? Mungkin Mama bisa menjelaskannya dengan lebih baik dari Baba. Take it away, Ma!


Dulu, waktu Kay masih di dalam kandungan, dan Mama lagi senang-senangnya menimba ilmu kanan-kiri soal parenting, ada seorang dokter anak yang membagi tips jitu cara membuat anak menyukai sayuran (dan semua jenis makanan bergizi lainnya). Caranya gampang, kenalkan rasa asli sayuran yang memang punya ‘acquired taste’ tanpa dicampur apapun ketika anak berusia dini (usia mengenal makanan lembut bertekstur). Misalnya alih-alih mencampur semua sayuran dan lauk ke dalam bubur saring, buat bubur saring ikan dengan sayur bayam yang terpisah. Atau buat pure kacang polong atau labu kuning. Wah, kombinasinya bisa seru!


Hasilnya Kay tidak pernah menolak sayuran dan ikan. Kecuali sayur pare dan daun melinjo yang mungkin alpa Mama kenalkan.


Nah, kenapa Kay tidak begitu suka ayam dan daging?


Mungkin selain teksturnya yang kurang dia sukai, karena Baba dan Mama yang waktu Kay masih bayi seringkali tongpes (waduh, rahasia keluarga nih hehehe –Baba). Sehingga perlu dibuat prioritas makanan apa yang harus dibeli dan tidak harus, daripada mengorbankan imunisasi yang tidak di-cover asuransi kantor, hehehe. Nah, kami pikir, ayam kan banyak yang diternakkan dengan menggunakan segala macam hormon penggemuk atau antibiotik, atau daging yang diberi formalin. Dengan protein yang sama bisa didapat dari daging ikan. Di belakang rumah, ada Pak Haji peternak lele dan belut yang masih natural, yang jadi langganan kita. Sementara sumber zat besi dari daging bisa diganti sayuran, kan?


Semuanya ada trade-off-nya. Dan kita sekarang cukup bahagia melihat mata Kay yang berbinar-binar setiap kali melihat tempe yang baru digoreng. Knowing that, banyak protein yang terkandung di dalamnya yang bisa membuat dia tumbuh sehat. Atau, melihat dia melahap sayur sawi berikut batangnya dan toge rebus di bakmi ayam bangka yang kadang-kadang suka kita belikan (yang ini agak nggak sehat, memang).


Kembali ke cerita Baba.


Thanks a lot, Mama. Nah, gitu ceritanya. Repot? Memang, tapi bukankah itu serunya merawat anak? Dan percaya deh, begitu melihat mata yang berbinar, semua kerepotan dan kelelahan akan sirna seketika. Percayalah.


Oh, ya. Ada makanan yang Kay tidak doyan meskipun kemasannya sangat menarik, yaitu: fast food.

Nov 6, 2008

'Duuh Ashemnyaaaa!'

Petikan percakapan di telepon kemarin:

Baba : Lagi ngapain si Kay?

Mama : Itu, lagi lari-larian.

Suara teriakan dan tawa terdengar melatari jawaban Mama. Suara-suara itu mendekat.

Kay : Aaaaahhh (suaranya lirih, manja, suara yang biasa ia keluarkan bila memeluk)

Mama : Aduh, aduuuh, Mamanya dipelukin.

Terdengar suara mulut mencium pipi berkali-kali, sepertinya Kay sedang menghunjami Mama dengan puluhan ciuman.

Kay : Adddduuuh ashemnyaaaaa!!!

Mama : Heh! Masa Mama dibilang asem??

Terdengar suara gelak tawa Kay yang kegelian dikelitiki Mama.

Oct 8, 2008

Menghapal

Di suatu Selasa, Baba mendapatkan Kay sedang duduk di salah satu sudut rumah. Telunjuk kanannya sedang menyentuh-nyentuh jemari tangan kirinya, sementara mulutnya terlihat berkomat-kamit.

‘Sedang apa, Kay?’ tanya Baba.

Kay tidak mengindahkan pertanyaan Baba dan terus menyentuh jemarinya sambil komat-kamit, tetapi kali ini ia melakukannya sambil beranjak pergi.

Baba dan Mama yang penasaran menghampiri Kay yang masih asyik dengan kegiatan misteriusnya itu.

‘—pel, semangka, jeluk, mangga, pisang. Itu telmasuk kelompok buah-buahan,’ gumam Kay sambil menyentuh jemarinya setiap menyebut nama-nama buah tersebut.

‘Ayam, unta, kucing, gogok, bebek. Itu telmasuk kelompok binatang,’ gumamnya lagi sambil menjauh dari Mama dan Baba.

Oalah, Naaak, rupanya sedang menghapal pelajaran untuk hari Rabu besok ya? Memangnya ada ujian?

Aug 20, 2008

Mengeja

‘Yuu—Emm—Bii—Arr—Ii—Eel—Eel—Eii!’ seru Kay sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

‘Bacanya apa?’ tanya Baba.

‘Umbrella!’ teriaknya.

‘Artinya apa?’

‘Payuuung!’

Berkat komputer mainan yang dibelikan Mama, Kay kini sudah bisa mengeja beberapa kata dalam Bahasa Inggris. Memang masih menghapal, tapi ini sangat membantunya mengingat huruf-huruf yang sudah ia kenal dan memudahkannya pada sesi terapi okupasi.

‘Kalau pesawat ejaannya gimana?’ tanya Mama.

‘Eii—Aii—Arr—Pii—Eel—Eii—Een—Ii!’ jawabnya mantap.

‘Bacanya apa?’

‘Airplane!’

Lucunya, ia juga mengekspresikan marahnya dengan mengeja. Sebelum ini, ia mengekspresikan marahnya dengan mengeluarkan suara-suara tak menentu yang terdengar seperti percakapan meskipun tidak memiliki arti. Tapi sekarang ia mengeja bila marah.

Misalnya, ketika ia mengekspresikan keengganannya untuk membereskan mainannya ia akan merepet:

‘Di-O-Ji! Di-O-Ji!’

Atau

‘I-Wai-I! I-Wai-I!’

Atau bahkan berseru dengan cepat ejaan berikut:

‘Yu-Em-Bi-Ar-I-El-El-Ei!!’

Sedemikian cepatnya sehingga kadang-kadang Baba maupun Mama kesulitan menangkap maksudnya.

Di sekolahnya pun Kay sudah bisa mengeja, dan seringkali Baba atau Mama mengujinya kembali di rumah sambil menambahkan kosa kata ejaan Kay.

Berikut adalah cuplikan menjelang tidur beberapa hari yang lalu:

‘B-A?’ tanya Baba.

‘Baa!’ jawab Kay.

‘J-U?’

‘Juu!’

‘Bacanya?’ tanya Baba.

‘Baaaajuuuu!!’ jawab Kay sambil cengar-cengir.

‘L-A?’ tanya Baba memulai kata yang lain.

‘Laaa!’

‘C-I?’

‘Ciii!!’

‘Bacanya?’

‘Laaaciii!’ tingkahnya makin menjadi-jadi. Ia ajrut-ajrutan di tempat tidur.

‘B-A?’

‘Baa!’

‘B-A?’

‘Baa!!’

‘Bacanya?’

‘BABA!!!’ teriaknya sambil memeluk Baba erat sekali.

‘M-A?’

‘Maa!’

‘M-A?’

‘Maa!’

‘Bacanya?’

‘Mamaa! Mama di lual,’ katanya, Mama memang ada di luar kamar. Kalau kami berdua berada di dalam kamar mengeloni Kay, dia akan menahan tidur sedapat mungkin agar bisa lebih lama bermain-main dan bermanja-manja. Akibatnya bangun selalu kesiangan.

‘K-A?’ tanya Baba, dengan maksud mengeja nama Kay.

‘Y!’ lanjut Kay. Kok nggak dijawab dengan Ka?

‘K-A?’ tanya Baba mencoba lagi.

‘Y!’ jawab Kay lagi.

‘Ya udah,’ kata Baba menyerah, ‘bacanya apa?’

‘BAJAAAAY!!!!’ teriaknya dengan penuh keyakinan.

Aug 19, 2008

Kunci

‘Lho? Kok kunci lemari nggak ada?’ tanya Mama keheranan. Kami baru saja pulang dari rumah Yangti di Bintaro malam Minggu kemarin. Baba menghambur ke kamar dan menemukan bahwa salah satu pintu lemari pakaian kami—tepat di bagian kami menyimpan pakaian sehari-hari—terkunci dan anak kunci yang biasanya tergantung di lubangnya tidak ada.

‘Wah, iya. Pasti tadi dimainin sama Kay,’ kata Baba. Bukan menuduh, tapi ini bukan kejadian pertama. Untungnya pada kedua peristiwa terdahulu, anak kunci selalu berhasil ditemukan.

Setengah mengantuk dan lelah, Baba berkeliling rumah mencari anak kunci itu sambil berusaha mengingat-ingat ke mana saja Kay bermain sebelum kami berangkat ke rumah Yangti siang tadi. Di teras rumah? Tidak ada. Di dapur? Tidak ada. Di garasi? Tidak ada juga. Di ruang tengah? Tidak ada. Di ruang tamu? Tidak ada. Mungkin terselip di bagian lemari yang lain? Tidak ada juga.

‘Wah, terpaksa pakai baju yang ada di luar lemari aja nih,’ kata Baba sambil mengenakan kaus singlet. Tidak mungkin kan Baba tidur dengan kemeja kerja? Pasti nggak enak banget rasanya.

Keesokan harinya kami bertanya kepada Kay, di mana anak kunci lemari itu?

‘Dishimpen,’ kata Kay.

‘Disimpen di mana?’

‘Di shitu.’

‘Di situ di mana, Kay?’ tanya Baba agak mendesak.

Hening.

‘Ilang ya?’ tanya Kay polos.

Baba hampir tertawa terbahak-bahak. Aduuh anak ini, komentarnya ada-ada aja!

Setengah hari kami mencari lagi anak kunci itu tanpa hasil.

‘Congkel aja pakai obeng,’ usul Bibi.

Baba mencoba mencongkel. Gagal. Mendobrak pun gagal.

‘Bisa, Ba?’ tanya Mama.

‘Nggak. Kuncinya kuat. Sulit didobrak. Mungkin kalau kita punya…’ Baba bergegas ke garasi.

‘Cari apa, Ba?’ tanya Mama.

‘Gergaji besi,’ jawab Baba sambil mencari-cari di dalam laci perkakas di garasi.

Untung ada. Baba kembali masuk ke rumah sambil menunjukkan gergaji besi pada Mama.

‘Buatan Swedia nih,’ kata Baba sambil menunjukkan kalimat made in Sweden. Kami berdua tertawa.

Baba mulai menggergaji grendel kunci lemari diiringi tatapan penasaran dari seorang bocah berusia lima tahun.

Tiba-tiba Kay bergegas keluar kamar dan masuk kembali beberapa detik berikutnya sambil memegang sendok makan.

‘Bocok, Ma! Bocok!’ katanya sambil memukul-mukul tembok dan—tentu saja—membuat cat tembok kamar somplak di mana-mana. Rupanya melihat Baba sibuk ia berpendapat bahwa ia juga harus ikut sibuk.

‘Lhoo,’ kata Mama sambil mengambil sendok dari tangan Kay, ‘jangan dipukulin ke tembok dong, nanti rusak temboknya.’

‘Bocok Ma!’ katanya seru sekali.

Lima menit kemudian Baba berhasil memotong grendel kunci lemari itu. Akhirnya kami punya akses atas pakaian sehari-hari kami.

‘Kay nanti jangan suka mainin kunci lemari lagi ya,’ nasihat Mama.

‘Iya,’ jawab Kay.

‘Janji?’

‘Jangji.’

‘Aku udah pisahin kunci-kunci yang lain, jadi kalau hilang masih ada serep. Yang udah rusak, ya sudahlah, mau bilang apa lagi? Paling nanti kita ganti kunci baru aja,’ kata Baba.

Malamnya, anak kunci dari pintu yang siang tadi Baba rusak ditemukan di sela-sela baju di bagian lain dari lemari yang sama . . .

Jul 15, 2008

Happy Birthday Kay

Selamat ulang tahun Kayril Arenuma Faiz.

Terima kasih yang tak terhingga dari Baba dan Mama untuk seribu delapan ratus dua puluh enam hari yang dipenuhi dengan peluk, cium, canda, tawa, senyum, tangis, haru, marah dan berbagai keajaiban lain yang tak terhitung jumlahnya.

Baba dan Mama berharap Kay menjadi manusia yang berguna bagi semua, tanpa batasan bangsa, negara dan keyakinan.

Jul 14, 2008

Terima Kasih 2

‘Ba, waktu itu ada kejadian mengharukan, deh,’ kata Mama kemarin.

‘Kenapa, Ma?’

‘Si Kay tiba-tiba nyamperin aku, terus bilang “Kalau sudah dibantu bilang apa, Ma?” Aku tanya lagi: “Bilang apa?” Terus dia bilang gini: “Telima kasih.” Terus…’

‘Terus?’

‘Terus dia ngeliatin aku, dan bilang: “Telima kasih, Ma.” sambil meluk aku.’

Kami berdua tersenyum. Terharu.

‘Lalu aku bilang: “Sama-sama, Nak. Emang Mama udah bantu Kay?” Terus dia jawab: “Udah,” katanya.’

Sama-sama, Nak. Baba dan Mama juga berterima kasih pada Kay. Kay sudah banyak membantu Baba dan Mama dengan cara yang tak terduga.

Jul 9, 2008

Permainan Baru Kay

‘Kok nggak ada sualanya siih?’ tanya Kay sambil memegang kepingan puzzle hewan pertanian. Kepingan puzzle itu bergambar seekor ayam jantan, seekor ayam betina dan dua ekor anak ayam, tepat di tengah-tengahnya ada sebuah kenop yang berfungsi sebagai pegangan.

‘Suara apa, Nak?’ Mama balik bertanya.

‘Suala ayam,’ jawab Kay.

‘Ayam apa? Jantan apa betina?’ tanya Mama lagi.

‘Ayam jantan,’ jawab Kay.

‘Pijit ayamnya dong,’ pinta Mama.

‘Pijit Maaa,’ kata Kay sambil memijit kenop di kepingan puzzle itu.

‘Kukuruyuuuuuk,’ kata Mama menirukan kokok ayam jantan.

‘Oh, oh, oh,’ lirih Kay sambil tergopoh-gopoh menghampiri dan memeluk Mama dengan erat.

Jul 8, 2008

Tugas

‘Apa tugas suster, Kay,’ tanya Ibu Terapis.

Kay memperhatikan gambar suster yang ada di hadapannya, lalu menjawab:

‘Membawa obat.’

Dalam gambar itu si suster memang sedang membawa obat, tetapi bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Ibu Terapis.

‘Bukan, Kay. Kemarin kan sudah diajarkan, tugas suster adalah merawat—?’ kata Ibu Terapis memancing.

‘Olang sakit,’ jawab Kay.

‘Iya, benar.’

‘Sekarang tugas Baba apa?’ tanyanya lagi.

‘Mengantal vishidi,’ jawab Kay mantap.

‘Mengantar VCD?’ Ibu Terapis hampir tak dapat menahan tawanya. ‘Tugas Mama apa?’

‘Pelgi ke Swedia,’ jawab Kay.

‘Oh, gitu. Kalau tugas Kay apa?’

‘Memakai baju.’

Mulai mengarang bebas agaknya si Kay ini.

Akhirnya Ibu Terapis berhasil mengingatkan Kay bahwa tugas Kay adalah belajad dan tugas Baba adalah mencari uang.

‘Untuk apa, Kay?’

‘Untuk jajan,’ jawabnya sambil tersenyum.

Jun 25, 2008

Hai

'Hai, aku Baba,' kata Kay sambil menunjuk dada Baba.

'Hai, aku Mama,' katanya lagi sambil menunjuk Mama.

'Hai, aku Kayril,' jawab Baba dan Mama bersamaan.

Kay tertawa terbahak-bahak lalu memeluk kami berdua.

Jun 21, 2008

Tidak Boleh Pergi Lagi

‘Claim Open itu maksudnya apa ya, Teh?’ tanya Baba pada Teh Yuyun, salah satu sepupu Mama yang pagi itu menemani Baba dan Kay ke Bandara Soekarno-Hatta.

‘Pilotnya udah minta mendarat ke menara, meureun,’ jawab yang ditanya tak pasti.

Pagi itu, tanggal 15 Juni 2008, Baba, Kay dan Teh Iis sudah tiba di bandara sejak jam 8 pagi. Kami ditemani sepupu Mama dari Bandung, Teh Yuyun dan Teh Neneng dan kedua sepupu Kay, Anya dan Adel.

Kenapa pagi-pagi sekali di hari Minggu yang ditingkahi oleh renyai gerimis kami sudah ada di bandara?

Tepat sekali, Gentles, kami di sana untuk menjemput Mama yang akan pulang dari Swedia.

For good? Baba dengar sebagian dari kalian bertanya-tanya.

Yes. For good. Tak lama lagi kami akan kembali bertiga.

Hooray!

Lama kami menunggu, status penerbangan Mama tidak kunjung berubah. Sementara penerbangan-penerbangan sesudahnya dilaporkan telah mendarat.

Wah,sepertinya laporan yang tertera di LCD display itu tidak dapat diandalkan, pikir Baba. Akhirnya setelah kira-kira setengah jam Baba memutuskan untuk mencuri pandang dari luggage tag orang-orang yang keluar dari pabean.

Bukan yang ini . . . ini juga bukan . . . ini nggak kelihatan . . . nah! Ini dia!

Akhirnya Baba menemukan orang yang mendorong kopor dengan luggage tag bertuliskan nomor penerbangan Mama. Ini berarti sebenarnya pesawat yang ditumpangi Mama sudah mendarat.

‘Sini, Kay,’ panggil Baba, ‘sebentar lagi Mama datang, nih.’

Kay segera menghampiri Baba dan mulai berusaha memanjat pagar pembatas, diikuti oleh kedua sepupunya yang selalu menjaga Kay kemanapun dia pergi.

Tak lama kemudian sosok Mama muncul dari balik dinding penyekat.

‘Siapa itu, Kay?’ tanya Baba sambil menunjuk Mama.

Tanpa menjawab Kay langsung menghambur ke arah Mama sambil berteriak:

‘MAMAAAAAA!!’

—dan langsung minta gendong lalu memeluk Mama erat-erat.

‘Ya ampuun!’ kata Mama, ‘kok kurus sih, Nak?’

Yang ditanya asyik memainkan rambut Mama yang dibiarkan panjang.

‘Kurus tapi tinggi, Ma,’ kata Baba, ‘Mamamnya memang lagi jelek sih. Kadang-kadang sarapan tidak habis dan kalau makan akhir-akhir ini selalu diemut.’

Baba mendorong trolley berisi kopor-kopor Mama sementara Mama menggendong anak yang sedang asyik bermanja-manja.

‘Sebentar ya, aku ambil mobil dulu,’ kata Baba sambil berlari menuju lokasi parkir mobil.

Beberapa menit kemudian kami selesai memasukkan semua barang—dan orang—ke dalam mobil dan melaju menuju rumah.

‘Tadi Mama tanya katanya Mama nggak boleh pergi lagi, Ba,’ kata Mama.

‘Oh ya? Mama boleh pergi lagi, Kay?’ tanya Baba.

‘Tidak,’ jawab Kay.

‘Kalau Baba boleh pergi?’ tanya Baba lagi.

‘Tidak.’

‘Jadi Baba sama Mama di sini aja sama Kay?’

‘Iya,’ jawabnya mantap.

Jun 4, 2008

Improvisasi

Tuk tuk tuk ada s’patu
S’patuku kulit lembu
Kudapat dari Ibu
Karena rajin membantu

Kring kring kring ada s’peda
S’pedaku roda dua
Kudapat dari Ayah
Karena rajin bekerja

‘Ayo, Kay nyanyi!’ ajak Baba seusai menyanyikan lagu anak-anak di atas.

Yang diajak segera bersiap-siap dengan bertepuk tangan dan menggoyang badannya ke kiri dan ke kanan.

Lalu menyanyikan ini:

Meyong meyong ada kucing
Kucingku belang tiga
Kudapat dali Engki
Kalena lajin—

‘—suala kucing, Babaaa!’ katanya sambil memeluk Baba, meminta Baba menirukan suara kucing.

‘Meong,’ kata Baba.

‘Ah, ah, ah,’ Kay mengeluarkan suara manja sambil mempererat pelukannya.

Duuh, anak Baba ini pandai sekali mengalihkan perhatian orang tuanya…

Jun 2, 2008

Kerja yang Bagus

'Kelja yang bagus, Semuanya!' kata Kay.

'Kelja yang bagus, Ba!' katanya lagi sambil menghadap Baba.

'Kerja yang bagus? Kalau begitu tepuk tangan dong,' pinta Baba.

Plok! Plok! Plok!

Kay bertepuk tangan tiga kali, berbalik memunggungi Baba dan langsung terlelap.

May 28, 2008

Jatuh


‘Kay jatuh?’

‘Iya.’

'Di mana?’

‘Di lumah Bu Laban. Liyat layang-layang.’

‘Nangis nggak?'

'Nangis.’

‘Gimana nangisnya?’

‘Aaaaa!’

May 26, 2008

Ayam Colkat

‘Gambal ayam colkat, Ba!’ seru Kay sambil menyorongkan tubuhnya di antara Baba dan sebuah surat kabar yang TTS mingguannya sedang Baba isi.

‘Gambar ayam apa?’ tanya Baba.

‘Ayam colkat.’

‘Ayam cokelat?’

‘Iya.’

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Cokelat,’ kata Baba membenarkan.

‘Iya.’

‘Ayam apa?’ tanya Baba lagi.

‘Colkat,’ jawab Kay.

‘Cokelat. Apa?’

‘Iyaa,’ kata Kay.

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Ayam cokelat,’ kata Baba lagi, senyum iseng Baba mengembang.

‘Iyaa,’ kata Kay sambil senyum, seolah-olah dia memang sengaja menghindari kata itu.

‘Gambar di mana?’ tanya Baba.

‘Di sini. Yang beshaaaaaaaaal!’ teriaknya melengking sambil menunjuk surat kabar yang terbentang di lantai.

Baba pun segera menggambar seekor ayam cokelat dengan pena hitam di tangan Baba.

‘Nih, udah,’ kata Baba. Kay tersenyum puas.

‘Gambal ayam putih, Ba,’ pintanya lagi.

May 16, 2008

Let's Go, Kay!

‘Let’s go, Kay!’ kata Baba. Kami baru saja keluar dari pom bensin dekat rumah, hendak menuju sekolah Kay.

‘Let’s go, Kay!’ kata Kay menjawab ajakan Baba.

‘Lho, kok?’ protes Teteh, ‘jawabnya “let’s go, Ba!”, gitu.’

‘Let’s go, Ba!’ kata Kay memperbaiki ucapannya.

‘Ke mana kita?’ tanya Baba.

‘Ke Giant,’ katanya.

‘Nggak ke Marvin?’ tanya Baba lagi.

‘Iya. Aku mau ke Giant, jadi ingat susu,’ dendang Kay.

Apr 15, 2008

Telur Asin

‘Eeh, jangan mainin pintu kulkas,’ suara Teteh terdengar, ditingkahi langkah-langkah kaki yang makin mendekati Baba yang sedang bersantai di hari Minggu sambil membaca buku di teras depan rumah.

‘Baba, telol ashin, Baba,’ kata Kay sambil mengacungkan sebutir telur asin ke wajah Baba.

Sebelum Baba berhasil memberi komentar ia sudah melaju ke arah dapur.

‘TELOL ASHIN, TETEEEH!’ seruannya terdengar melengking.

‘Mau makan pake telor asin?’ tanya Teteh.

‘Mau mamam pake telol ashin,’ jawabnya mengekor.

Teteh Iis mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi, membelah telur asin itu menjadi dua, lalu menyuapi bocah yang menyambut makanan sederhana itu dengan lahap.

‘Itu telor dia ambil sendiri?’ tanya Baba.

‘Iya, tadi buka kulkas, terus ambil telor, minta makan deh,’ jawab Teteh.

Baba kembali melanjutkan bacaan. Kay masuk ke dalam, Teteh mengikuti. Sejurus kemudian lagu dari komputer mainan Kay terdengar.

‘Tigaa, duaa, entel!’ suara Kay terdengar sayup-sayup. Kode 32 adalah kode untuk musik, biasanya ia akan memilih musik yang diiringi dengan gambar seekor paus menari di layar.

‘Ikan, Teteh. Ikan paus!’

Betul, kan?

Kurang lebih 45 menit berlalu. Kay kembali ke teras dan memilih beberapa buku bergambar yang menjadi favoritnya.

‘Ayam, Teteh. Ayam, Baba,’ katanya sambil menunjuk gambar ayam di bukunya.

‘Belum selesai makannya?’ tanya Baba.

‘Wah,’ kata Teteh, ‘ini udah nambah. Yang tadi mah udah habis.’

‘Nambah?’ tanya Baba heran, ‘Cuma sama telor asin aja makannya nambah?’

‘Iya, dia kan memang doyan telor asin.’

Kay memang suka telur asin, tapi baru kali ini Baba melihat dia makan dengan telur asin sampai nambah.

Apr 2, 2008

Kangen

‘Bobo siang sampai jam 4 sore,’ kata Teteh Iis sambil menutup pintu kamar. Ia baru saja melongok Kay yang sedang dikeloni oleh Nenek.

‘Udah tidur?’ tanya Baba. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Baba baru tiba di rumah dan hendak menyantap makan malam.

‘Belum,’ jawab Teteh, ‘tidur sampai sore, bisa-bisa tidur jam sebelas.’

Selesai makan malam, tiba-tiba tangisan Kay terdengar dari kamar. Baba segera mencuci tangan dan masuk ke kamar.

Kay sedang berbaring di atas tubuh Nenek, menangis tersedu-sedu. Nenek berusaha membujuknya.

‘Kenapa, Nak?’ tanya Baba.

‘Nenek salah ngomong,’ jelas Nenek, ‘maunya bilang “bobo sama Nenek?” eh keluarnya malah “bobo sama Mama?”. Terus langsung nangis.’

‘Ooh, sayang,’ kata Baba sambil menggendong Kay. Yang digendong segera meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sedu-sedannya masih berlanjut.

‘Kenapa?’ tanya Teteh Iis yang melongokkan kepalanya di pintu kamar.

Sebelum sempat menjawab Kay sudah mendengus mengeluarkan ingusnya. ‘Aduh, aduh, ingus,’ kata Teteh sambil meraih handuk, ‘sini dilap dulu ingusnya.’

Setelah dilap ingusnya tangisan Kay berhenti, namun ia masih terisak.

‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba.

‘Shama Baba,’ jawabnya lirih.

‘Bilang dulu sama Nenek.’

‘Nek, Kay mau bobo dulu, ya,’ bisiknya.

‘Iya,’ jawab Nenek, ‘tidur yang nyenyak, ya.’

‘Kiss dulu Neneknya,’ kata Baba.

Kay menyorongkan tubuhnya dan Nenek mencium pipi tembam Kay.

‘Udah, bobo, ya,’ kata Nenek, ‘ Nenek keluar, ya.’

Di tempat tidur, Kay segera memeluk Baba dengan erat.

‘Kenapa Kay tiba-tiba nangis, Sayang?’ tanya Baba.

Pelukannya makin erat.

‘Kay kangen sama Mama?’

‘Iya,’ jawabnya lirih.

‘Sabar, ya. Sebentar lagi Mama pulang, kok,’ kata Baba.

‘Iya,’ jawab Kay sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baba dan mempererat pelukannya.

‘Udah, bobo, ya.’

‘Iya.’