‘Kayril?’
‘Ya Baba.’
‘Udah makan belum?’
‘Udah.’
‘Pake apa makannya?’
‘Pake lele.’
‘Nyanyi dong. I’m a little teapot.’
‘Hm-hm, nanana, dudadada. Halo?’
‘Halo Kayril.’
Terdengar suara Teteh Iis memperingatkan Kay bahwa paku bisa menyakitkan kalau menusuk tangan, kemudian menyuruh Kay mandi.
‘Hayu, bilang sama Baba mau mandi!’ perintah Teteh Iis.
‘Baba, mandi dulu ya,’ kata Kay.
‘Iya, Nak,’ jawab Baba.
‘Bilang udah dulu!’ perintah Teteh Iis lagi.
‘Udah dulu yaaa,’ ujar Kay.
‘Iya,’ jawab Baba.
‘Dadaaaaa!’ kata Kay menyudahi pembicaraan.
Nov 27, 2006
Nov 23, 2006
Jempol Kepentok dan Belajar 'baca'
Baba mengintip ke dalam kamar dari jendela depan dan melihat seorang bocah lelaki yang sedang berupaya naik ke tempat tidur ditemani Bibi.
‘Siapa tuh, Kay?’ tanya Bibi sambil menunjuk ke jendela.
Kay mendongak dan tertawa, lalu menghentikan upayanya naik ke tempat tidur dan menghambur keluar kamar.
Tawa riangnya mengantar Baba masuk garasi. Saat membuka sepatu, Baba melihat gagang pintu bergerak-gerak.
‘Sabar,’ suara Teteh Iis terdengar, ‘dibuka dulu kuncinya.’
Klik! Pintu pun terbuka dan seraut wajah berhias senyum lebar muncul. Sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi tangisan saat jempol Kay tertumbuk pintu yang sedang ia buka. Asal-asalan, Kay memukul meja yang ada di dekatnya dengan marah.
‘WAAAAAAAA!!!’
‘Udah nggak apa-apa,’ bujuk Baba sambil mengambil susu yang berada di meja, ‘yuk, minum dulu biar tenang sedikit.’
Kay menyeruput susu itu seteguk, lalu melanjutkan tangisnya.
‘Ini, ini, Baba punya apa?’ kata Baba menyodorkan koin.
Kay meraih koin itu dan memasukkannya ke dalam celengan Piggibeng.
Berdasarkan laporan Teteh Iis, Kay sekarang sedang belajar ‘membaca’.
‘Baca apa?’ tanya Baba.
‘Baca “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis.
‘Lho, bukunya dari mana? Kita kan nggak punya?’ tanya Baba heran.
‘Yaa…kalo belajar baca kan bilangnya “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis polos, ‘tadi dia bilang “ini mobil Kay” sambil nunjuk mobilnya,’ lanjutnya.
Baba tersenyum. Ada ada saja.
Kay sudah tenang dan menghentikan tangisannya setelah Bibi mengoleskan Zam-buk ke jempolnya yang tertumbuk pintu. Sekarang ia sedang bermain.
Lamat-lamat terdengar gumaman Kay:
‘Ini cici Budi,’ katanya sambil menunjuk kemaluannya.
‘Ini cici Budi,’ ulangnya lagi.
Waduh! Siapa pula yang mengajarkan ini???
‘Siapa tuh, Kay?’ tanya Bibi sambil menunjuk ke jendela.
Kay mendongak dan tertawa, lalu menghentikan upayanya naik ke tempat tidur dan menghambur keluar kamar.
Tawa riangnya mengantar Baba masuk garasi. Saat membuka sepatu, Baba melihat gagang pintu bergerak-gerak.
‘Sabar,’ suara Teteh Iis terdengar, ‘dibuka dulu kuncinya.’
Klik! Pintu pun terbuka dan seraut wajah berhias senyum lebar muncul. Sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi tangisan saat jempol Kay tertumbuk pintu yang sedang ia buka. Asal-asalan, Kay memukul meja yang ada di dekatnya dengan marah.
‘WAAAAAAAA!!!’
‘Udah nggak apa-apa,’ bujuk Baba sambil mengambil susu yang berada di meja, ‘yuk, minum dulu biar tenang sedikit.’
Kay menyeruput susu itu seteguk, lalu melanjutkan tangisnya.
‘Ini, ini, Baba punya apa?’ kata Baba menyodorkan koin.
Kay meraih koin itu dan memasukkannya ke dalam celengan Piggibeng.
Berdasarkan laporan Teteh Iis, Kay sekarang sedang belajar ‘membaca’.
‘Baca apa?’ tanya Baba.
‘Baca “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis.
‘Lho, bukunya dari mana? Kita kan nggak punya?’ tanya Baba heran.
‘Yaa…kalo belajar baca kan bilangnya “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis polos, ‘tadi dia bilang “ini mobil Kay” sambil nunjuk mobilnya,’ lanjutnya.
Baba tersenyum. Ada ada saja.
Kay sudah tenang dan menghentikan tangisannya setelah Bibi mengoleskan Zam-buk ke jempolnya yang tertumbuk pintu. Sekarang ia sedang bermain.
Lamat-lamat terdengar gumaman Kay:
‘Ini cici Budi,’ katanya sambil menunjuk kemaluannya.
‘Ini cici Budi,’ ulangnya lagi.
Waduh! Siapa pula yang mengajarkan ini???
Nov 14, 2006
What Happened Last Night
Baba melangkah ke garasi dan melihat pintu samping terkuak dan sebentuk wajah berhias seringai jenaka melongok, lalu berteriak gembira.
Sedetik kemudian Kay menghambur keluar dan memeluk Baba.
“WAHAHAHAHA!!!” teriaknya.
“Itu buku sampe dilempar begitu denger suara pintu,” kata Bibi.
Kayril lalu mengikuti Baba ke mana pun Baba pergi. Baba ke kamar untuk ganti baju, Kayril ikut; Baba meletakkan baju kotor di keranjang di dapur, Kay ikut; Baba pipis di kamar mandi, Kay menunggu di pintu. Pokoknya dia mengekor Baba terus.
Lalu Baba mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
“Mamam dulu aah…” kata Baba.
“Kay, ini apa?” tanya Baba sambil menunjukkan piring berisi nasi itu pada Kay.
“Mamam,” jawab Kay.
Baba berharap Kay menjawab nasi, untuk melihat apakah ia sudah mengenali nasi atau belum. Baba bertanya lagi, “ini apa?”
“Piling,” jawab Kay.
“Isinya apa?” tanya Baba memancing.
“Nahi,” jawab Kay. Baba tertawa, rupanya dia sudah mengenali nasi.
Kemudian, tanpa diduga sama sekali, Kay menggandeng dan mengajak Baba ke meja makan. Kay berhenti di depan kursi yang biasa diduduki Baba.
“Di hinih,” kata Kay, “Baba duduk di hinih.”
Baba tertawa dan duduk.
“Terus Baba ngapain?” tanya Baba.
“Mamam,” jawab Kay dengan pasti.
“Kay duduk di sini temenin Baba ya…” pinta Baba menunjuk kursi yang lain. Bibi membantu mendudukkan Kay di kursi itu.
“Temenin,” kata Kay. Ia lalu mengambil tutup gelas dan mulai memutar-mutarnya di atas meja makan. Tak lama kemudian tutup gelas itu sudah berada di lantai.
Kay mengusap-usap meja yang basah karena tumpahan air minum, lalu mengelap muka dengan tangannya yang basah. Senyumnya terkembang.
“Ambilin,” pintanya pada Teh Iis sambil menunjuk tutup gelas yang tergeletak di lantai.
Teh Iis mengambil tutup gelas dan memberikannya pada Kay. Kay langsung melempar tutup gelas itu ke lantai.
“Dilem—PAAL!” katanya sambil tertawa.
Selesai makan Baba mengajak Kay berhitung—kata Teh Iis di sekolahnya Kay sudah bisa menghitung sampai 20, Baba mau menguji.
“Satu,” kata Baba memulai.
“Dua,” lanjut Kay.
“Tiga,” sambung Baba.
“Ompat.”
“Lima.”
“Onam.”
“Tujuh.”
“Dolapan.”
“Sembilan.”
“Hopuluh. Hobolas,” kata Kay sekaligus.
“Duabelas,” lanjut Baba.
“Tigabolas.”
“Empatbelas.”
“Limabolas.”
“Enambelas.”
“Tujuhbolas.”
“Delapanbelas,” kata Baba.
“Tigabolas!” sambung Kay dengan keyakinan penuh.
“Hahahahaha! Salah, Nak,” kata Baba, “habis delapanbelas sembilan—?”
Kayril tampak ragu.
“Sembilan—?” tanya Baba memancing.
“Hopuluh, hobolas,” jawab Kay.
“Lhooo, kok ngulang lagi?” kata Baba tertawa.
Kay nyengir dan kabur ke dapur sambil melompat-lompat…
Sedetik kemudian Kay menghambur keluar dan memeluk Baba.
“WAHAHAHAHA!!!” teriaknya.
“Itu buku sampe dilempar begitu denger suara pintu,” kata Bibi.
Kayril lalu mengikuti Baba ke mana pun Baba pergi. Baba ke kamar untuk ganti baju, Kayril ikut; Baba meletakkan baju kotor di keranjang di dapur, Kay ikut; Baba pipis di kamar mandi, Kay menunggu di pintu. Pokoknya dia mengekor Baba terus.
Lalu Baba mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
“Mamam dulu aah…” kata Baba.
“Kay, ini apa?” tanya Baba sambil menunjukkan piring berisi nasi itu pada Kay.
“Mamam,” jawab Kay.
Baba berharap Kay menjawab nasi, untuk melihat apakah ia sudah mengenali nasi atau belum. Baba bertanya lagi, “ini apa?”
“Piling,” jawab Kay.
“Isinya apa?” tanya Baba memancing.
“Nahi,” jawab Kay. Baba tertawa, rupanya dia sudah mengenali nasi.
Kemudian, tanpa diduga sama sekali, Kay menggandeng dan mengajak Baba ke meja makan. Kay berhenti di depan kursi yang biasa diduduki Baba.
“Di hinih,” kata Kay, “Baba duduk di hinih.”
Baba tertawa dan duduk.
“Terus Baba ngapain?” tanya Baba.
“Mamam,” jawab Kay dengan pasti.
“Kay duduk di sini temenin Baba ya…” pinta Baba menunjuk kursi yang lain. Bibi membantu mendudukkan Kay di kursi itu.
“Temenin,” kata Kay. Ia lalu mengambil tutup gelas dan mulai memutar-mutarnya di atas meja makan. Tak lama kemudian tutup gelas itu sudah berada di lantai.
Kay mengusap-usap meja yang basah karena tumpahan air minum, lalu mengelap muka dengan tangannya yang basah. Senyumnya terkembang.
“Ambilin,” pintanya pada Teh Iis sambil menunjuk tutup gelas yang tergeletak di lantai.
Teh Iis mengambil tutup gelas dan memberikannya pada Kay. Kay langsung melempar tutup gelas itu ke lantai.
“Dilem—PAAL!” katanya sambil tertawa.
Selesai makan Baba mengajak Kay berhitung—kata Teh Iis di sekolahnya Kay sudah bisa menghitung sampai 20, Baba mau menguji.
“Satu,” kata Baba memulai.
“Dua,” lanjut Kay.
“Tiga,” sambung Baba.
“Ompat.”
“Lima.”
“Onam.”
“Tujuh.”
“Dolapan.”
“Sembilan.”
“Hopuluh. Hobolas,” kata Kay sekaligus.
“Duabelas,” lanjut Baba.
“Tigabolas.”
“Empatbelas.”
“Limabolas.”
“Enambelas.”
“Tujuhbolas.”
“Delapanbelas,” kata Baba.
“Tigabolas!” sambung Kay dengan keyakinan penuh.
“Hahahahaha! Salah, Nak,” kata Baba, “habis delapanbelas sembilan—?”
Kayril tampak ragu.
“Sembilan—?” tanya Baba memancing.
“Hopuluh, hobolas,” jawab Kay.
“Lhooo, kok ngulang lagi?” kata Baba tertawa.
Kay nyengir dan kabur ke dapur sambil melompat-lompat…
Nov 13, 2006
Sabtu yang Menyenangkan
Akhir minggu bersama Kay selalu menyenangkan. Pada saat itulah Baba mengalami hal-hal baru yang dilakukan Kay.
Sabtu kemarin, pada pagi hari, Baba dan Kay menghirup udara segar pagi hari di beranda depan rumah.
“Istirahat aah,” kata Baba.
“Istilahat,” ulang Kay membeo, “istilahat.”
Senyumnya mengembang saat ia mengulang-ulang kembali kata yang baru didengarnya itu.
“Enak ya, istirahat,” ujar Baba.
“Mmm enaaak!” jawabnya. Tak lama kemudian dia sudah sibuk mengorek-ngorek lubang gerendel pintu di tanah.
“Lho, jangan dong,” kata Baba, “kotor kan?”
Kay menginspeksi telunjuknya dengan seksama.
“Tuh, kotor kan? Ada pasirnya,” kata Baba.
“Pahil,” ulang Kay, “pahil.”
“Sudah, istirahat lagi,” kata Baba.
Kay duduk kembali.
“Baba duduk!” perintahnya.
“Duduk di mana?” tanya Baba.
“Di hitu,” katanya sambil menepuk lantai persis di sebelahnya, “istilahat.”
Baba tertawa dan duduk di sisi Kay.
“Kotawa,” katanya, “Ha-ha-ha.”
Sabtu kemarin, pada pagi hari, Baba dan Kay menghirup udara segar pagi hari di beranda depan rumah.
“Istirahat aah,” kata Baba.
“Istilahat,” ulang Kay membeo, “istilahat.”
Senyumnya mengembang saat ia mengulang-ulang kembali kata yang baru didengarnya itu.
“Enak ya, istirahat,” ujar Baba.
“Mmm enaaak!” jawabnya. Tak lama kemudian dia sudah sibuk mengorek-ngorek lubang gerendel pintu di tanah.
“Lho, jangan dong,” kata Baba, “kotor kan?”
Kay menginspeksi telunjuknya dengan seksama.
“Tuh, kotor kan? Ada pasirnya,” kata Baba.
“Pahil,” ulang Kay, “pahil.”
“Sudah, istirahat lagi,” kata Baba.
Kay duduk kembali.
“Baba duduk!” perintahnya.
“Duduk di mana?” tanya Baba.
“Di hitu,” katanya sambil menepuk lantai persis di sebelahnya, “istilahat.”
Baba tertawa dan duduk di sisi Kay.
“Kotawa,” katanya, “Ha-ha-ha.”
* * *
Menjelang bobo siang, saat sudah berada di tempat tidur dan mengucapkan doa, Kay bangkit dan memegang teralis jendela. Kemudian ia mulai melompat-lompat.
Beberapa menit kemudian Kay berhenti melompat.
“Cape,” katanya terengah-engah. Kemudian ia mulai melompat-lompat lagi selama beberapa menit, lalu ia tertidur.
Setengah jam kemudian ia terbangun karena ngompol dan menolak untuk tidur kembali.
* * *
“Mama, bobo dulu yaaaa!” ucap Kay lantang ke gagang telepon, lalu memberikan telepon itu ke Baba. Ia sudah mengenakan piyama dan bersiap untuk bobo.
“Sebelum bobo kita ber--?” terdengar suara Mama bertanya.
“Sudah kabur anaknya,” jawab Baba.
“Lucu sekali sih, suaranya,” kata Mama di ujung sana.
“Heheh, cempreng ya?” kata Baba, “udah dulu ya, Ma. Aku mau kelonin dia dulu.”
Kay sudah membuka pintu kamar dan melangkah masuk saat Baba menutup telepon. Baba menyusul masuk dan mengangkat Kay untuk membantunya naik ke tempat tidur yang masih terlalu tinggi untuk dia panjat.
“Mau dilempar?” tanya Baba. Kay tersenyum lebar.
“Iya,” jawabnya.
“Satu…” kata Baba.
“Dua…” lanjut Kay.
“Tiiiiii--?”
“Gaaa!”
Dan Baba melemparkan Kay ke atas tempat tidur, tawanya meledak.
“Baba hokalang!” katanya.
Dan Baba pun melompat ke tempat tidur, membuat Kay terbahak-bahak dan melenting-lentingkan badannya dengan gembira.
“Udah bobo beluuum?” terdengar suara Teteh Iis dari luar jendela.
“HUAAAAAHAHAHA!!!” teriak Kay panik, tergopoh-gopoh ia merangkak memeluk Baba sambil tertawa.
“Takut,” katanya.
“Takut apa?” tanya Baba tertawa, “itu kan Teh Iis.”
“Kotawa,” kata Kay sambil kembali merebahkan diri di tempat tidur.
“Kay, masih inget lagu I’m a Little Teapot nggak?” tanya Baba, “I’m a little teapot, short and--?” Baba mulai menyanyikan lagu itu.
Tiba-tiba Kay bangkit dan berdiri tegak di tempat tidur--membuat Baba agak panik, takut ia jatuh--lalu menyanyikan lagu itu sampai habis sambil memperagakan tarian Little Teapot.
I’m a little teapot, short and stout (ia menekuk kedua tangannya di pinggang, menggambarkan teko gemuk dan pendek.)
Here is my handle; here is my spout (sebelah tangannya bertolak pinggang, sebelah lagi diacungkan ke atas. Di sini ia agak bingung, sebelah mana yang harus di pinggang, sebelah mana yang mengacung.)
When the water’s boiling hear me shout! (kedua tangannya diacungkan ke atas sekuat tenaga.)
Lift me up and pour me out! (wajahnya bingung, ia lupa gerakan terakhir ini. Seharusnya satu tangan di pinggang, dan satu lagi teracung, lalu badannya dibungkukkan menirukan gerakan teko yang sedang dituang.)
(tentu saja Kay tidak menyanyikan lagu ini dengan sejelas itu, tapi kalau di sini Baba menuliskan sesuai dengan yang diucapkan Kay, kalian yang akan kebingungan.)
Baba bertepuk tangan memuji kepandaian Kay. Ia tertawa-tawa dan kembali berbaring.
“Ayo, berdoa dulu!” perintah Baba.
Kay mengucapkan doa untuk kedua orang tua, lalu doa tidur (yang mulai agak dilupakan) lalu memeluk leher Baba dan tidur.
Nov 10, 2006
Kebiasaan dan Kebisaan Baru
“Gosok-gosok tangannya!”
Si Bocah Periang itu menggosok-gosok tangannya, sambil tersenyum lebar tentunya. Lalu tanpa ragu-ragu langsung menggosokkan kedua tangannya ke rambut.
“Kolamas, pake hampo,” katanya, lalu berlari menghambur keluar kamar.
Si Bocah Periang itu menggosok-gosok tangannya, sambil tersenyum lebar tentunya. Lalu tanpa ragu-ragu langsung menggosokkan kedua tangannya ke rambut.
“Kolamas, pake hampo,” katanya, lalu berlari menghambur keluar kamar.
* * *
Akhir-akhir ini Kay punya kebiasaan baru, jalan-jalan sore hari bersama Kakek, “liyat angha,” katanya.
“Dideketin angsanya,” kata Kakek, “tapi kalo angsanya mendekat, dia lari ketakutan.”
Kemarin karena Baba pulang cepat untuk persiapan ulang tahun Uwa, Baba bertemu Kay pada saat ia pulang dari jalan-jalan melihat ‘angha’.
“Kayril,” panggil Baba. Kay menoleh dan berteriak girang.
“Baba!”
Lalu ia menghambur, memeluk Baba dan menggandeng tangan Baba sampai rumah.
Di tengah jalan Kay melepas gandengan sebentar untuk memegang jenggot Opung Harahap.
“Di sana dia lihat angsa, begitu sampai sini ini yang diincar,” kata Opung Harahap tertawa.
Nov 8, 2006
Mati Lampu
Gelak tawa seorang bocah mengiringi cahaya yang memancar dari halaman rumah dua malam yang lalu saat Baba berjalan pulang dalam gelap karena satu kompleks mati lampu.
Beberapa langkah dari rumah Baba melihat bahwa kegembiraan itu bersumber dari sebatang kembang api yang dinyalakan Kakek untuk menghibur sang cucu.
Baba memberi salam, Kay makin kegirangan dan segera membuka pintu gerbang.
“Kembang api!” katanya pada Baba, senyumnya terkembang selebar mungkin. Ia memperhatikan kembang api tersebut dengan kagum dan takjub hingga habis.
“Lagi ya,” pintanya pada kakek. Dan halaman rumah kami pun kembali benderang diterangi nyala kembang api lagi dan lagi.
Sewaktu kembang api itu akhirnya benar-benar habis, Kay kecewa dan merengek. Untungnya sebelum ia sempat menangis listrik menyala kembali dan kami berhasil mengalihkan perhatiannya.
“Horeee! Lampunya nyala!” sorak kami. Dan Kay pun melupakan kesedihannya.
Beberapa langkah dari rumah Baba melihat bahwa kegembiraan itu bersumber dari sebatang kembang api yang dinyalakan Kakek untuk menghibur sang cucu.
Baba memberi salam, Kay makin kegirangan dan segera membuka pintu gerbang.
“Kembang api!” katanya pada Baba, senyumnya terkembang selebar mungkin. Ia memperhatikan kembang api tersebut dengan kagum dan takjub hingga habis.
“Lagi ya,” pintanya pada kakek. Dan halaman rumah kami pun kembali benderang diterangi nyala kembang api lagi dan lagi.
Sewaktu kembang api itu akhirnya benar-benar habis, Kay kecewa dan merengek. Untungnya sebelum ia sempat menangis listrik menyala kembali dan kami berhasil mengalihkan perhatiannya.
“Horeee! Lampunya nyala!” sorak kami. Dan Kay pun melupakan kesedihannya.
Nov 2, 2006
Come To My Arms, My Beamish Boy!
Seperti biasa, pulang kantor Baba memasukkan mobil ke dalam garasi dan menutup pintu garasi.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Baba mendengar suara ‘klik’ pintu samping terbuka dan seorang bocah cilik menyembulkan kepala berhias sebuah cengiran khas. Lalu tanpa buang waktu ia langsung menghambur keluar—hampir jatuh tersandung sandal—dan langsung memeluk Baba.
Yes, Gentles, Kay sudah pulang dari libur Lebarannya di Subang.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Baba mendengar suara ‘klik’ pintu samping terbuka dan seorang bocah cilik menyembulkan kepala berhias sebuah cengiran khas. Lalu tanpa buang waktu ia langsung menghambur keluar—hampir jatuh tersandung sandal—dan langsung memeluk Baba.
Yes, Gentles, Kay sudah pulang dari libur Lebarannya di Subang.
“Come to my arms, my beamish boy!
O frabjous day! Callooh! Callay!”
He chortled in his joy*
Tanpa buang waktu lagi, Baba langsung menggendongnya. Badannya terasa mantap. Sehat sekali tampaknya anak ini! Pipinya kemerahan, senyumnya terkembang, meskipun matanya setengah tertutup menahan kantuk.
“Sudah mau tidur itu,” kata Nenek, “tapi begitu dengar suara mobil dia langsung turun dari tempat tidur dan teriak ‘Baba!’”
Kay tidak melepaskan pandangannya dari wajah Baba.
“Nggak pake popok dia sekarang,” jelas Nenek lagi, “sebelum tidur udah disuruh pipis dulu, kemarin di Subang mah nggak ngompol.”
“Wah, hebat dong!” kata Baba, “sudah gosok gigi, Nek?”
“Belum.”
Baba menggosok gigi Kay dan mengajaknya ke kamar.
“Ayo, bilang dulu,” perintah Baba.
“Ngki, bobo ya,” kata Kay sambil mencium tangan Kakek.
“Sekarang ke Nenek,” perintah Baba lagi.
“Nenek, bobo dulu ya,” Kay mencium tangan Nenek.
Lalu kami masuk ke kamar. Seperti biasa, Kay naik ke tempat tidur dengan cara special, dengan ‘dilempar’ oleh Baba. Ia tertawa geli dan senang.
“Baba hokalang,” katanya meminta Baba melompat ke tempat tidur. Baba pun melompat, mengguncang tempat tidur dan membuat Kay kegirangan.
Lalu ia memeluk leher Baba. “Nelengnengkung,” katanya sambil memejamkan mata. Baba menyanyikan lagu kesayangan itu. Lagu manjanya Kay.
“Ayo, berdoa dulu,” pinta Baba. Kami pun berdoa bersama, doa tidur dan doa untuk orang tua. Lalu Kay tertidur tanpa popok. Tanpa popok!
Terus terang Baba agak was-was dan beberapa kali terbangun malam harinya, tapi ternyata kekhawatiran Baba tak beralasan, karena pada pagi harinya Kay terbangun di tempat tidur yang masih kering.
Yes, Gentles, Kay tidak ngompol! Unbelievable! Ia sudah makin pintar sekarang. Baba bangga sekali.
“Pipis,” katanya waktu terbangun. Nenek langsung membawanya ke kamar mandi dan ia pipis di sana.
He really is a good boy, Ma!
* diambil dari puisi Jabberwocky karya Lewis Carroll.
Oct 17, 2006
Bobo
“Bobo,” gumam Kay sambil bangkit dari duduknya, matanya sudah setengah tertutup.
“Kalo bobo di mana?” tanya Baba.
“Di hitu,” jawabnya menunjuk pintu kamar tidur, Kay lalu menghampiri Baba dan menarik tangan Baba, mengajak Baba ke kamar.
“Hayo, bilang dulu sama Nenek,”
“Bobo dulu ya, Nek,” ujar Kay sambil mencium tangan Nenek. Nenek mencium kedua pipi Kay.
“Sama Uwa,”
“Bobo dulu Uwa,” katanya mencium tangan Uwa Abah. Uwa Abah balas mencium pipi Kay, lalu secepat kilat Kay mencubit pipi Uwa.
“Eh, iseng aja nih, tangannya,” tegur Baba, “Sama Teteh,”
“Bobo dulu Teh,” kata Kay mencium tangan Teteh Iis.
“Dadaaaa!” katanya.
“Kiss bye-nya mana?” tanya Baba.
Kay mengangkat jari-jarinya menutupi mulut, “mmmmah!”
Dan kami pun berjalan menuju kamar. Kay membuka pintu kamar, masuk dan menutupnya kembali.
Baba mengangkat Kay dan ‘melemparnya’ ke tempat tidur, ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu Baba menyusul melompat ke tempat tidur. Kay senang sekali.
“Sekarang kita ada di?” tanya Baba.
“Tompat tidul,” jawab Kay.
“Berarti sudah waktunya?”
“Bobo,”
“Sebelum bobo?”
“Kita boldoa,” jawab Kay.
“Gimana berdoanya?”
Kay membaca doa tidur dan doa untuk orang tua. Lalu ia berguling-guling ke sana kemari sebelum akhirnya memeluk leher baba dan memejamkan mata.
“Nelengnengkung,” Kay meminta Baba menyanyikan lagu favoritnya saat ini.
Baba pun menyanyikan lagu itu hingga Kay tertidur.
“Kalo bobo di mana?” tanya Baba.
“Di hitu,” jawabnya menunjuk pintu kamar tidur, Kay lalu menghampiri Baba dan menarik tangan Baba, mengajak Baba ke kamar.
“Hayo, bilang dulu sama Nenek,”
“Bobo dulu ya, Nek,” ujar Kay sambil mencium tangan Nenek. Nenek mencium kedua pipi Kay.
“Sama Uwa,”
“Bobo dulu Uwa,” katanya mencium tangan Uwa Abah. Uwa Abah balas mencium pipi Kay, lalu secepat kilat Kay mencubit pipi Uwa.
“Eh, iseng aja nih, tangannya,” tegur Baba, “Sama Teteh,”
“Bobo dulu Teh,” kata Kay mencium tangan Teteh Iis.
“Dadaaaa!” katanya.
“Kiss bye-nya mana?” tanya Baba.
Kay mengangkat jari-jarinya menutupi mulut, “mmmmah!”
Dan kami pun berjalan menuju kamar. Kay membuka pintu kamar, masuk dan menutupnya kembali.
Baba mengangkat Kay dan ‘melemparnya’ ke tempat tidur, ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu Baba menyusul melompat ke tempat tidur. Kay senang sekali.
“Sekarang kita ada di?” tanya Baba.
“Tompat tidul,” jawab Kay.
“Berarti sudah waktunya?”
“Bobo,”
“Sebelum bobo?”
“Kita boldoa,” jawab Kay.
“Gimana berdoanya?”
Kay membaca doa tidur dan doa untuk orang tua. Lalu ia berguling-guling ke sana kemari sebelum akhirnya memeluk leher baba dan memejamkan mata.
“Nelengnengkung,” Kay meminta Baba menyanyikan lagu favoritnya saat ini.
Baba pun menyanyikan lagu itu hingga Kay tertidur.
Oct 16, 2006
Sang Penyanyi
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Kami bertepuk tangan memuji kecakapannya bernyanyi. Sang Penyanyi melebarkan senyumnya dan tertawa terbahak-bahak, sambil melompat-lompat kegirangan, dan mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Kami bertepuk tangan lagi, mengelu-elukan Sang Penyanyi, yang kembali melonjak-lonjak dan tertawa terkekeh-kekeh, lalu ia mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Tepik tangan kembali membahana, Sang Penyanyi makin beraksi, mengangguk-anggukkan kepala dan berteriak-teriak kegirangan. Lalu ia mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis…
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Kami bertepuk tangan memuji kecakapannya bernyanyi. Sang Penyanyi melebarkan senyumnya dan tertawa terbahak-bahak, sambil melompat-lompat kegirangan, dan mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Kami bertepuk tangan lagi, mengelu-elukan Sang Penyanyi, yang kembali melonjak-lonjak dan tertawa terkekeh-kekeh, lalu ia mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña
Tepik tangan kembali membahana, Sang Penyanyi makin beraksi, mengangguk-anggukkan kepala dan berteriak-teriak kegirangan. Lalu ia mulai menyanyi lagi:
Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis…
Oct 13, 2006
"YEK WI KEET*!!"
“Kayril, can we fix it?”
“YEK WI KEET*!!”
*baca: ‘Yes we can’—catchphrase dari Bob The Builder.
“YEK WI KEET*!!”
*baca: ‘Yes we can’—catchphrase dari Bob The Builder.
Senyum
“Baba,” kata Kay sebelum tidur.
“Apa Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kayril kangen Mama?”
Kay tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Matanya menerawang.
“Kayril kangen dipeluk Mama?” tanya Baba lagi sambil memeluk Kay
Senyumnya melebar.
“Kayril kangen dicium Mama?” Baba mencium pipi Kay.
Senyumnya makin melebar.
Baba nggak merasa bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Kayril, tapi melihat senyumnya yang amat manis dan terawang matanya, Baba yakin bahwa yang ada dalam ingatan Kay tentang Mamanya adalah ingatan yang manis belaka.
“Apa Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kayril kangen Mama?”
Kay tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Matanya menerawang.
“Kayril kangen dipeluk Mama?” tanya Baba lagi sambil memeluk Kay
Senyumnya melebar.
“Kayril kangen dicium Mama?” Baba mencium pipi Kay.
Senyumnya makin melebar.
Baba nggak merasa bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Kayril, tapi melihat senyumnya yang amat manis dan terawang matanya, Baba yakin bahwa yang ada dalam ingatan Kay tentang Mamanya adalah ingatan yang manis belaka.
Oct 10, 2006
This Morning Around 07:30
“Ayam,”
“Ayam apa?”
“Ayam kate,”
“Kenapa ayam katenya?”
“Jatuh. PAAAAAAAANG!!!” katanya nyaring, “Petcah!”
“Waktu ayamnya pecah Kay nangis nggak?”
“Nggak! Nggak apa-apa,”
“Nggak apa-apa ya, kan ada ayam be—?”
“—hal.”
“Kay mau turun?”
Kay langsung duduk, lalu merayap turun melintasi badan Baba, langsung menuju pintu.
“Buka pintunya,” kata Baba.
Kay memainkan gantungan kunci bergambar koala sebelum membuka pintu. Keciiiil sekali dibukanya pintu itu, lalu Kay mengintip keluar sambil berseru: “NAAAA!”
Tidak ada yang menjawab, ia mengulangi seruannya lagi sebelum membuka pintu lebar-lebar dan keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian Baba menyusul Kay keluar kamar. Kay sedang sarapan.
“Sarapan apa dia Bi?”
“Bubur roti, dicampur telur dan daun bawang,” jawab Bibi. Kay makan dengan lahap.
Beberapa hari setelah kesembuhannya dari flu berat dua minggu lalu itu nafsu makan Kay mulai pulih. Ia sekarang selalu menghabiskan makanannya. Selain itu dalam sehari Kay masih diberikan jus buah segelas, susu dua – tiga gelas, dan kudapan buah-buahan: pepaya, alpukat, mangga dan pisang. Ia bisa menghabiskan pisang dua buah dalam sehari.
“Baba,” kata Kay.
“Iya, Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kenapa Kay cari Mama?”
“Kangen.”
“Ayam apa?”
“Ayam kate,”
“Kenapa ayam katenya?”
“Jatuh. PAAAAAAAANG!!!” katanya nyaring, “Petcah!”
“Waktu ayamnya pecah Kay nangis nggak?”
“Nggak! Nggak apa-apa,”
“Nggak apa-apa ya, kan ada ayam be—?”
“—hal.”
“Kay mau turun?”
Kay langsung duduk, lalu merayap turun melintasi badan Baba, langsung menuju pintu.
“Buka pintunya,” kata Baba.
Kay memainkan gantungan kunci bergambar koala sebelum membuka pintu. Keciiiil sekali dibukanya pintu itu, lalu Kay mengintip keluar sambil berseru: “NAAAA!”
Tidak ada yang menjawab, ia mengulangi seruannya lagi sebelum membuka pintu lebar-lebar dan keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian Baba menyusul Kay keluar kamar. Kay sedang sarapan.
“Sarapan apa dia Bi?”
“Bubur roti, dicampur telur dan daun bawang,” jawab Bibi. Kay makan dengan lahap.
Beberapa hari setelah kesembuhannya dari flu berat dua minggu lalu itu nafsu makan Kay mulai pulih. Ia sekarang selalu menghabiskan makanannya. Selain itu dalam sehari Kay masih diberikan jus buah segelas, susu dua – tiga gelas, dan kudapan buah-buahan: pepaya, alpukat, mangga dan pisang. Ia bisa menghabiskan pisang dua buah dalam sehari.
“Baba,” kata Kay.
“Iya, Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kenapa Kay cari Mama?”
“Kangen.”
Oct 4, 2006
Percakapan Sebelum Bobo
“Mama.”
“Mama di mana?”
“Hwedia.”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hekolah.”
“Kayril udah sekolah belum?”
“Udah.”
“Siapa gurunya?”
“Ibu Liha, Ibu Koli.” Maksudnya Ibu Rissa dan Ibu Qori.
“Siapa lagi?”
“Pak Wahkito.”
“Yang baru siapa? Ibu Fat—?”
“—ma.”
“Kayril di sekolah belajar apa?”
“Bolajal………duduk.”
“Gimana?”
“Duduk yang lapiiiih!” Kay melipat tangannya di depan dada.
“Terus belajar apa lagi?”
“……” Senyumnya terkembang, seolah ia sedang mengingat-ingat.
“Belajar gambar?”
“Nggak!”
Kay berguling ke tembok, menjauhi Baba.
“Jadi gini nih, bobonya? Nggak mau dipeluk Baba?” goda Baba, “Ya udah, Baba bobonya hadap sini aja ya?” Baba memunggungi Kay.
Kay berbalik, mengeluarkan rengekan manja dan menarik punggung baju Baba, meminta Baba berbalik menghadapnya, lalu memeluk leher Baba.
Lima menit kemudian Kay bobo dengan senyum di wajahnya…
“Mama di mana?”
“Hwedia.”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hekolah.”
“Kayril udah sekolah belum?”
“Udah.”
“Siapa gurunya?”
“Ibu Liha, Ibu Koli.” Maksudnya Ibu Rissa dan Ibu Qori.
“Siapa lagi?”
“Pak Wahkito.”
“Yang baru siapa? Ibu Fat—?”
“—ma.”
“Kayril di sekolah belajar apa?”
“Bolajal………duduk.”
“Gimana?”
“Duduk yang lapiiiih!” Kay melipat tangannya di depan dada.
“Terus belajar apa lagi?”
“……” Senyumnya terkembang, seolah ia sedang mengingat-ingat.
“Belajar gambar?”
“Nggak!”
Kay berguling ke tembok, menjauhi Baba.
“Jadi gini nih, bobonya? Nggak mau dipeluk Baba?” goda Baba, “Ya udah, Baba bobonya hadap sini aja ya?” Baba memunggungi Kay.
Kay berbalik, mengeluarkan rengekan manja dan menarik punggung baju Baba, meminta Baba berbalik menghadapnya, lalu memeluk leher Baba.
Lima menit kemudian Kay bobo dengan senyum di wajahnya…
Oct 2, 2006
Nggak!
Kay, mamam dulu yuk
Nggak! (tapi kalau disuapi ia membuka mulutnya dan mengunyah makanannya.)
Hayu ganti celananya, habis ngompol, kan?
Nggak! (tapi nurut buka dan ganti celana.)
Kay nanti sekolah ya
Nggak!
Kan udah dicariin sama ibu guru.
Gagagagaga! Kagak!
Ayo, mandi dulu!
Nggak! Nggak! Mamamama! (kalo ini emang berontak waktu mau dilepas bajunya…)
Yuk, udahan mandinya, yuk. Udah lama, nanti masuk angin.
Nggak!
Dadaa, Baba berangkat ke kantor ya.
Nggak!
Assalamualaikum.
Nggak!
Kiss bye-nya mana?
Nggak!
Nggak! (tapi kalau disuapi ia membuka mulutnya dan mengunyah makanannya.)
Hayu ganti celananya, habis ngompol, kan?
Nggak! (tapi nurut buka dan ganti celana.)
Kay nanti sekolah ya
Nggak!
Kan udah dicariin sama ibu guru.
Gagagagaga! Kagak!
Ayo, mandi dulu!
Nggak! Nggak! Mamamama! (kalo ini emang berontak waktu mau dilepas bajunya…)
Yuk, udahan mandinya, yuk. Udah lama, nanti masuk angin.
Nggak!
Dadaa, Baba berangkat ke kantor ya.
Nggak!
Assalamualaikum.
Nggak!
Kiss bye-nya mana?
Nggak!
Pulih
Kay berjalan menuju lemari dan mengambil seperangkat unit handsfree rusak. Ia memasang earpiece unit itu ke telinganya, lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.
Sejurus kemudian unit handsfree itu ia lepas, dan ia coba pasangkan ke piano mainannya. Menekan tombol drum, cymbal dan akhirnya demo yang mengeluarkan suara musik bising yang Mama biasa bilang ‘musik panik’. Kay tertawa dan menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan mengikuti irama.
Lalu ia mengambil dua balok susun: sebuah double block, dan sebuah single block. Ia pasangkan single block itu ke salah satu titik double block, dan dengan puas ia berkata “Kuda,”
Kemudian ia berusaha menunggangi ‘kuda’ itu, yang tentu saja menghilang di bawah tubuhnya yang jauh lebih besar daripada balok-balok itu. ‘Kuda’ itu dilempar, mengagetkan Baba, dan membuat Kay tertawa terkekeh-kekeh menirukan kagetnya Baba: “Aduh-aduh!” katanya.
Unit handsfree itu kembali berada di tangannya dan diutak-utik. Tiba-tiba Kay mencolek Baba sambil berkata “Patah.”
“Apanya yang patah?” tanya Baba sambil mengambil unit handsfree itu dari tangan Kay. Ternyata earpiece-nya copot. Baba segera memasangnya kembali, tetapi Kay segera mencopotnya lagi. “Patah,” katanya.
Ia lalu ke ruang tamu dan berupaya untuk menunggangi Kakek yang sedang tidur.
Beberapa saat kemudian Kay membuat Baba membatalkan shalat Baba karena Kay meraih dan menjatuhkan termometer hingga pecah berantakan dan membuat raksa di dalam termometer itu berceceran.
Tampaknya anak Baba ini sudah benar-benar pulih dan menjadi dua kali lipat lasaknya…
Sejurus kemudian unit handsfree itu ia lepas, dan ia coba pasangkan ke piano mainannya. Menekan tombol drum, cymbal dan akhirnya demo yang mengeluarkan suara musik bising yang Mama biasa bilang ‘musik panik’. Kay tertawa dan menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan mengikuti irama.
Lalu ia mengambil dua balok susun: sebuah double block, dan sebuah single block. Ia pasangkan single block itu ke salah satu titik double block, dan dengan puas ia berkata “Kuda,”
Kemudian ia berusaha menunggangi ‘kuda’ itu, yang tentu saja menghilang di bawah tubuhnya yang jauh lebih besar daripada balok-balok itu. ‘Kuda’ itu dilempar, mengagetkan Baba, dan membuat Kay tertawa terkekeh-kekeh menirukan kagetnya Baba: “Aduh-aduh!” katanya.
Unit handsfree itu kembali berada di tangannya dan diutak-utik. Tiba-tiba Kay mencolek Baba sambil berkata “Patah.”
“Apanya yang patah?” tanya Baba sambil mengambil unit handsfree itu dari tangan Kay. Ternyata earpiece-nya copot. Baba segera memasangnya kembali, tetapi Kay segera mencopotnya lagi. “Patah,” katanya.
Ia lalu ke ruang tamu dan berupaya untuk menunggangi Kakek yang sedang tidur.
Beberapa saat kemudian Kay membuat Baba membatalkan shalat Baba karena Kay meraih dan menjatuhkan termometer hingga pecah berantakan dan membuat raksa di dalam termometer itu berceceran.
Tampaknya anak Baba ini sudah benar-benar pulih dan menjadi dua kali lipat lasaknya…
Sep 29, 2006
Sakit
It has been a very tiresome and taxing week for me that I barely found time to update My Day with Kay. Kay had been ill, and juggling my physical and psychological strength between tending Kay’s illness, my work and the beginning of Ramadhan really put me to the test.
In the following entry I will try to enlighten you, Gentles, by recounting what had happened as minutely as my memory permits.
Sabtu, 23 September 2006:
Baba terbangun dini hari (sekitar pukul satu pagi) dan mendapatkan suhu badan Kay meninggi.
Sore harinya Baba dan Nenek (plus Teteh Iis tentunya) berangkat ke rumah sakit. Diagnosa dokter pada saat itu adalah Kay terkena serangan batuk pilek atau istilah kerennya, infeksi viral pada saluran pernapasan atas. Memang selama seminggu Kay sudah batuk-batuk dan baru saja menghabiskan obat batuk dari dokter sebelumnya.
Karena pada saat di dokter Kay demam tinggi (390 C) ia diberikan obat penurun panas melalui anusnya.
Sesampainya di rumah, panas Kay menurun.
Kay dikunjungi Paman, Bibi dan sepupunya dari Medan. Ia senang sekali dengan Kakak Ika-nya yang tak henti-hentinya dipeluk dan dielus rambutnya.
Kay tertidur di sebelah Kakak Ika sambil ditepuk-tepuk oleh Bibi Butet.
Minggu, 24 September 2006:
Suhu badan Kay naik turun, dan obat panas dari dokter tidak memberikan efek yang memuaskan.
Sorenya Uwa Imel dan Uwa Sonny datang bersama Andung dan Bang Reyhan. Mereka menganjurkan agar memberikan obat panas dokter dan Tempra secara berselang setiap 4 jam sekali.
Kay dengan manjanya memeluk Uwa Imel erat-erat.
Senin, 25 September 2006:
Menjelang sahur suhu tubuh Kay kembali naik. Telinganya memerah dan ia meminimalisir kegiatannya.
Meskipun demikian, setelah obat penurun panas beraksi membuat suhunya turun, Kay tidak mau istirahat. Ia langsung berlari-larian dan berlompat-lompatan dan nggak mau diam sampai suhunya naik lagi.
Sorenya kami ke dokter di Bintaro. Di klinik Kay dikunjungi Engkong, tapi Kay sama sekali tidak mau lepas dari gendongan Baba. Bahkan Baba tidak diijinkan Kay untuk duduk. Manja sekali…
Dokter mengatakan obat yang diberikan diteruskan saja, dan bila besok sore suhunya masih belum turun Kay harus tes darah, karena kuatir serangan demam berdarah.
Malamnya Baba nyaris tidak tidur meskipun Kay tidak demam lagi.
Selasa, 26 September 2006:
Paginya Kay membaik, ia sudah mulai mau bermain-main dan makan cukup banyak.
Dari kantor Baba telepon dan kata Teteh Iis dia sudah mulai berkeringat, suatu pertanda baik.
Sorenya Kay demam lagi, Baba segera pulang dan membawa Kay ke laboratorium rumah sakit Bintaro setelah berbuka puasa. Hasil tes darah segera Baba laporkan pada dokter yang memang praktik di sana hari itu. Menurut dokter jumlah trombositnya masih baik, tapi kalau dalam dua hari ke depan masih demam, harus tes darah lagi.
Rabu, 27 September 2006:
Baba di kantor hanya setengah hari karena Nenek melaporkan Kay demam lagi dan lemas, seharian ini ia hampir tidak turun dari gendongan atau tempat tidur dan hampir selalu tidur, nyaris tidak mau makan apa-apa.
Sorenya kami kembali ke dokter yang kaget karena Kay lemas sekali, padahal biasanya berontak kalau diperiksa olehnya. Dokter menganjurkan untuk melakukan tes darah lagi.
Seperti biasa anak pemberani ini tidak menitikkan sebutir air mata saat jarum menembus kulit jarinya.
Hasil tes darah kurang memuaskan, karena trombosit Kay turun. Dokter tampak khawatir dan menganjurkan untuk tes darah lagi keesokan paginya.
“Kalau ada kecenderungan turun, berarti dia harus dirawat ya,” demikian kata dokter. “Berikan saja dia minum yang banyak, karena kelihatan di sini kekentalan darahnya cukup tinggi,” tambahnya.
“Ruamnya gimana Dok?” tanya Baba khawatir.
“Bukan, ini bukan ruam demam berdarah. Ruam demam berdarah itu seperti ujung jarum, ini terlalu besar. Tapi tetap saja kita harus hati-hati,” jelas dokter.
Setelah dari dokter kami menyempatkan diri ke acara tujuh bulan kehamilan Bibi Ois. Kay segera meminta gendong Bibi Ois begitu ia melihat bibinya itu. Kay bobo dikeloni Bibi Ois.
Malamnya setiap jam Baba membangunkan Kay dan memberinya minum air dan Pocari Sweat. Kay minum cukup banyak, antara jam 22:00 hingga sahur Kay menghabiskan lebih dari 2 gelas air dan ¾ kaleng Pocari Sweat.
Kamis, 28 September 2006:
Sekitar jam 08:30 Kay tes darah lagi. Saat hasilnya keluar, Baba mengatakan ke suster bahwa dokter minta segera diberi tahu akan hasil tes darah itu.
Sementara menunggu pihak rumah sakit menghubungi dokter Kay mengamuk. Ia tidak mau berada dalam gedung rumah sakit.
“Buka-buka, ya…” katanya di hadapan pintu otomatis rumah sakit. “Ke hitu…” jawabnya ketika ditanya mau ke mana. Terpaksa Baba menggendong Kay keluar rumah sakit dan berdiri menunggu di pinggir jalan. Selangkah saja Baba mengarah ke dalam rumah sakit, maka Kay akan menangis dan menyentakkan tubuhnya ke arah berlawanan.
Akhirnya Baba berhasil membujuk Kay masuk rumah sakit bertepatan dengan berhasilnya pihak rumah sakit menghubungi dokter.
“Hasilnya masih bagus, ya,” kata dokter.
“Tapi kan trombositnya turun lagi dok, sekarang ke angka 150,” bantah Baba.
“Iya, tapi itu nggak apa-apa, lekositnya sudah naik ke batas normal dan pengentalan darahnya mengurang,” jelas dokter, “jadi nggak perlu dirawat,” tambahnya.
Saat itu sebuah beban berat terangkat dari pundak Baba dan Baba memutuskan untuk tidak masuk kantor hari itu untuk menjaga Kay.
“Kalau sore panas, besok pagi tes darah lagi ya,” kata dokter menutup pembicaraan.
Sesampainya di rumah Kay menghabiskan sebutir alpukat dan tidur selama 3 jam. Bangun dari tidurnya ia sudah mulai mau makan meskipun sedikit.
Ruam merah di sekujur tubuh Kay masih tetap membuat Baba dan Nenek khawatir. Baba menelepon Bude untuk menanyakan ciri-ciri ruam demam berdarah dan Bude menjelaskan bahwa ruam demam berdarah itu berwarna merah terang, bukan merah muda seperti gigitan nyamuk.
Nenek memanggil tetangga yang mengkonfirmasikan bahwa ruam di sekujur tubuh Kay adalah ruam tampek.
Sorenya Kay menghabiskan dua piring kecil penuh bubur nasi.
Sepanjang malam, meskipun Baba masih waswas dan memberikan Kay Pocari Sweat setiap dua jam sekali, tanda-tanda demam akan menyerang sudah tidak ada sama sekali. Kay mulai terlihat aktif bermain di tempat tidur sebelum bobo. Kay bahkan tertidur bermandikan keringat…
Hari ini:
Kay terbangun saat sahur dan Nenek memberikan dia bubur nasi yang ia habiskan sebanyak 1½ piring kecil, kemudian ia bobo lagi.
Paginya, meskipun masih sempoyongan ia mulai menjelajah dan mengikuti Baba ke manapun Baba pergi, sambil memegang gantungan kunci Hush Puppies kesukaannya.
Sebelum Baba berangkat ke kantor Kay sudah menghabiskan sepiring kecil bubur nasi, dan segelas air madu.
Di kantor Baba menelepon rumah dan Nenek menjelaskan bahwa Kay baru saja tertidur setelah menghabiskan satu buah alpukat kesukaannya. Ia tidur dikeloni Engki yang selama beberapa hari ini selalu ia hindari…
Gentles, words cannot express the anxiety and fear that gripped me during the days described above. And I will always be indebted to all people who helped me (and help me still) during the hard days: Bibi Eni who treated Kay as her own son; Teteh Iis who barely had time to rest preparing everything for the multiple trips to the doctor and hospital; Nenek and Engki, for their enduring patient and calmness during my bouts of worries; Doctors B and H; and last but by no means least: Mama, for her trust, her unwavering confident and her unsurpassable support in me, although I know that these last few days must’ve been hellish for her also. Thank you all.
In the following entry I will try to enlighten you, Gentles, by recounting what had happened as minutely as my memory permits.
Sabtu, 23 September 2006:
Baba terbangun dini hari (sekitar pukul satu pagi) dan mendapatkan suhu badan Kay meninggi.
Sore harinya Baba dan Nenek (plus Teteh Iis tentunya) berangkat ke rumah sakit. Diagnosa dokter pada saat itu adalah Kay terkena serangan batuk pilek atau istilah kerennya, infeksi viral pada saluran pernapasan atas. Memang selama seminggu Kay sudah batuk-batuk dan baru saja menghabiskan obat batuk dari dokter sebelumnya.
Karena pada saat di dokter Kay demam tinggi (390 C) ia diberikan obat penurun panas melalui anusnya.
Sesampainya di rumah, panas Kay menurun.
Kay dikunjungi Paman, Bibi dan sepupunya dari Medan. Ia senang sekali dengan Kakak Ika-nya yang tak henti-hentinya dipeluk dan dielus rambutnya.
Kay tertidur di sebelah Kakak Ika sambil ditepuk-tepuk oleh Bibi Butet.
Minggu, 24 September 2006:
Suhu badan Kay naik turun, dan obat panas dari dokter tidak memberikan efek yang memuaskan.
Sorenya Uwa Imel dan Uwa Sonny datang bersama Andung dan Bang Reyhan. Mereka menganjurkan agar memberikan obat panas dokter dan Tempra secara berselang setiap 4 jam sekali.
Kay dengan manjanya memeluk Uwa Imel erat-erat.
Senin, 25 September 2006:
Menjelang sahur suhu tubuh Kay kembali naik. Telinganya memerah dan ia meminimalisir kegiatannya.
Meskipun demikian, setelah obat penurun panas beraksi membuat suhunya turun, Kay tidak mau istirahat. Ia langsung berlari-larian dan berlompat-lompatan dan nggak mau diam sampai suhunya naik lagi.
Sorenya kami ke dokter di Bintaro. Di klinik Kay dikunjungi Engkong, tapi Kay sama sekali tidak mau lepas dari gendongan Baba. Bahkan Baba tidak diijinkan Kay untuk duduk. Manja sekali…
Dokter mengatakan obat yang diberikan diteruskan saja, dan bila besok sore suhunya masih belum turun Kay harus tes darah, karena kuatir serangan demam berdarah.
Malamnya Baba nyaris tidak tidur meskipun Kay tidak demam lagi.
Selasa, 26 September 2006:
Paginya Kay membaik, ia sudah mulai mau bermain-main dan makan cukup banyak.
Dari kantor Baba telepon dan kata Teteh Iis dia sudah mulai berkeringat, suatu pertanda baik.
Sorenya Kay demam lagi, Baba segera pulang dan membawa Kay ke laboratorium rumah sakit Bintaro setelah berbuka puasa. Hasil tes darah segera Baba laporkan pada dokter yang memang praktik di sana hari itu. Menurut dokter jumlah trombositnya masih baik, tapi kalau dalam dua hari ke depan masih demam, harus tes darah lagi.
Rabu, 27 September 2006:
Baba di kantor hanya setengah hari karena Nenek melaporkan Kay demam lagi dan lemas, seharian ini ia hampir tidak turun dari gendongan atau tempat tidur dan hampir selalu tidur, nyaris tidak mau makan apa-apa.
Sorenya kami kembali ke dokter yang kaget karena Kay lemas sekali, padahal biasanya berontak kalau diperiksa olehnya. Dokter menganjurkan untuk melakukan tes darah lagi.
Seperti biasa anak pemberani ini tidak menitikkan sebutir air mata saat jarum menembus kulit jarinya.
Hasil tes darah kurang memuaskan, karena trombosit Kay turun. Dokter tampak khawatir dan menganjurkan untuk tes darah lagi keesokan paginya.
“Kalau ada kecenderungan turun, berarti dia harus dirawat ya,” demikian kata dokter. “Berikan saja dia minum yang banyak, karena kelihatan di sini kekentalan darahnya cukup tinggi,” tambahnya.
“Ruamnya gimana Dok?” tanya Baba khawatir.
“Bukan, ini bukan ruam demam berdarah. Ruam demam berdarah itu seperti ujung jarum, ini terlalu besar. Tapi tetap saja kita harus hati-hati,” jelas dokter.
Setelah dari dokter kami menyempatkan diri ke acara tujuh bulan kehamilan Bibi Ois. Kay segera meminta gendong Bibi Ois begitu ia melihat bibinya itu. Kay bobo dikeloni Bibi Ois.
Malamnya setiap jam Baba membangunkan Kay dan memberinya minum air dan Pocari Sweat. Kay minum cukup banyak, antara jam 22:00 hingga sahur Kay menghabiskan lebih dari 2 gelas air dan ¾ kaleng Pocari Sweat.
Kamis, 28 September 2006:
Sekitar jam 08:30 Kay tes darah lagi. Saat hasilnya keluar, Baba mengatakan ke suster bahwa dokter minta segera diberi tahu akan hasil tes darah itu.
Sementara menunggu pihak rumah sakit menghubungi dokter Kay mengamuk. Ia tidak mau berada dalam gedung rumah sakit.
“Buka-buka, ya…” katanya di hadapan pintu otomatis rumah sakit. “Ke hitu…” jawabnya ketika ditanya mau ke mana. Terpaksa Baba menggendong Kay keluar rumah sakit dan berdiri menunggu di pinggir jalan. Selangkah saja Baba mengarah ke dalam rumah sakit, maka Kay akan menangis dan menyentakkan tubuhnya ke arah berlawanan.
Akhirnya Baba berhasil membujuk Kay masuk rumah sakit bertepatan dengan berhasilnya pihak rumah sakit menghubungi dokter.
“Hasilnya masih bagus, ya,” kata dokter.
“Tapi kan trombositnya turun lagi dok, sekarang ke angka 150,” bantah Baba.
“Iya, tapi itu nggak apa-apa, lekositnya sudah naik ke batas normal dan pengentalan darahnya mengurang,” jelas dokter, “jadi nggak perlu dirawat,” tambahnya.
Saat itu sebuah beban berat terangkat dari pundak Baba dan Baba memutuskan untuk tidak masuk kantor hari itu untuk menjaga Kay.
“Kalau sore panas, besok pagi tes darah lagi ya,” kata dokter menutup pembicaraan.
Sesampainya di rumah Kay menghabiskan sebutir alpukat dan tidur selama 3 jam. Bangun dari tidurnya ia sudah mulai mau makan meskipun sedikit.
Ruam merah di sekujur tubuh Kay masih tetap membuat Baba dan Nenek khawatir. Baba menelepon Bude untuk menanyakan ciri-ciri ruam demam berdarah dan Bude menjelaskan bahwa ruam demam berdarah itu berwarna merah terang, bukan merah muda seperti gigitan nyamuk.
Nenek memanggil tetangga yang mengkonfirmasikan bahwa ruam di sekujur tubuh Kay adalah ruam tampek.
Sorenya Kay menghabiskan dua piring kecil penuh bubur nasi.
Sepanjang malam, meskipun Baba masih waswas dan memberikan Kay Pocari Sweat setiap dua jam sekali, tanda-tanda demam akan menyerang sudah tidak ada sama sekali. Kay mulai terlihat aktif bermain di tempat tidur sebelum bobo. Kay bahkan tertidur bermandikan keringat…
Hari ini:
Kay terbangun saat sahur dan Nenek memberikan dia bubur nasi yang ia habiskan sebanyak 1½ piring kecil, kemudian ia bobo lagi.
Paginya, meskipun masih sempoyongan ia mulai menjelajah dan mengikuti Baba ke manapun Baba pergi, sambil memegang gantungan kunci Hush Puppies kesukaannya.
Sebelum Baba berangkat ke kantor Kay sudah menghabiskan sepiring kecil bubur nasi, dan segelas air madu.
Di kantor Baba menelepon rumah dan Nenek menjelaskan bahwa Kay baru saja tertidur setelah menghabiskan satu buah alpukat kesukaannya. Ia tidur dikeloni Engki yang selama beberapa hari ini selalu ia hindari…
Gentles, words cannot express the anxiety and fear that gripped me during the days described above. And I will always be indebted to all people who helped me (and help me still) during the hard days: Bibi Eni who treated Kay as her own son; Teteh Iis who barely had time to rest preparing everything for the multiple trips to the doctor and hospital; Nenek and Engki, for their enduring patient and calmness during my bouts of worries; Doctors B and H; and last but by no means least: Mama, for her trust, her unwavering confident and her unsurpassable support in me, although I know that these last few days must’ve been hellish for her also. Thank you all.
Sep 20, 2006
Celoteh Pagi Hari
Celotehan seorang bocah lelaki berusia tiga tahun yang terdengar di pagi hari ketika Baba masih bergulat dengan kantuk…
“Biiiiii! Mimi Biiiii,”
“Iiiiis, kupu-kupu….”
“Huss! Sana! ñamuk nakal!”
“Nakal!”
“Nakal.”
“Huss! Pus nakal! Huss!”
“Hole! Hole! Aku naik kelas!”
“Mamam. Lapal.”
“Baba!” telunjuknya terasa menekan punggung Baba.
“Mama!”
“Hwedia.”
“Hokolah.”
“Ayam!”
“Ini kakiña!”
“Ko hitu, ko dopan.”
“Pipis.”
Dan Baba terbangun memandang genangan pipis dan sekelebat sosok mungil melaju menuju ruang tamu…
“Biiiiii! Mimi Biiiii,”
“Iiiiis, kupu-kupu….”
“Huss! Sana! ñamuk nakal!”
“Nakal!”
“Nakal.”
“Huss! Pus nakal! Huss!”
“Hole! Hole! Aku naik kelas!”
“Mamam. Lapal.”
“Baba!” telunjuknya terasa menekan punggung Baba.
“Mama!”
“Hwedia.”
“Hokolah.”
“Ayam!”
“Ini kakiña!”
“Ko hitu, ko dopan.”
“Pipis.”
Dan Baba terbangun memandang genangan pipis dan sekelebat sosok mungil melaju menuju ruang tamu…
Ayam dan Kuda
Kay punya celengan ayam baru, dibelikan oleh neneknya. Celengan ayam yang baru ini lebih kecil dari yang lama, tapi masih lengkap anggota badannya. Ekornya masih menjulang dengan anggun, dan belum ada tambalan lakban, hingga suatu ketika Kay meletakkan celengan baru itu dengan agak keras dan…jenggernya copot hahaha, selotip beraksi, deh.
Paginya Baba memberikan Kay dua keping koin dua ratus rupiah. “Ini untuk apa Kay?” tanya Baba, “untuk di…?”
“Dinaaaaabung!” jawab Kay, tertawa. “Kotawa,” lanjutnya.
“Siapa yang ketawa?” tanya Baba.
“Lil,” jawabnya, ia selalu menyebut dirinya ‘Lil’.
“Gimana ketawanya?” tanya Baba lagi.
“Hahaha,” jawab Kay.
“Ayo ditabung dulu,” dan Kay pun memasukkan sekeping koin itu ke celengan ayam lama.
“Satu lagi,” ujar Baba.
Kay tampak ragu memasukkan keping terakhir koin itu, ia tidak melepaskan genggamannya bahkan ketika setengah koin itu sudah masuk ke celengan. Kay menarik kembali koin itu, lalu beranjak pergi.
“Mau ke mana?” tanya Baba, “nabung dulu dong.”
Kay berjongkok di dekat celengan ayam barunya dan tanpa ragu-ragu memasukkan koin terakhirnya ke dalam celengan baru itu. Barulah Baba paham bahwa ia membagi dua ‘pendapatannya’ hari itu.
Selain celengan baru, Kay juga punya kuda-kudaan baru. Kuda-kudaan ini berbentuk zebra. Meskipun Kay masih agak takut menaiki kuda baru ini ia sangat senang dengannya.
“Kuda ada dua,” demikian kata Kay.
Tadi pagi Baba membantunya naik kuda itu.
“Sakit,” kata Kay. Baba heran, sakit apanya? pikir Baba, kan ‘pelananya’ sudah dilapis busa oleh Nenek.
“Sakit,” kata Kay lagi. Rupanya Kay duduk terlalu di belakang, sehingga pantatnya persis berada di pinggir ‘pelana’ kayu kuda itu, dan itulah yang menyebabkan rasa sakit.
Setelah Baba membenahi posisi duduknya, Kay dengan nyaman duduk di punggung kuda, tapi ia masih takut mengayunkan badannya. Jadi Kay hanya duduk diam berpegangan pada handel di sisi kanan dan kiri leher kuda-kudaan itu sementara kakinya merangkul kedua kaki depan kuda-kudaan.
Kay kelihatan kikuk sekali meskipun senyum lebarnya terkembang.
Paginya Baba memberikan Kay dua keping koin dua ratus rupiah. “Ini untuk apa Kay?” tanya Baba, “untuk di…?”
“Dinaaaaabung!” jawab Kay, tertawa. “Kotawa,” lanjutnya.
“Siapa yang ketawa?” tanya Baba.
“Lil,” jawabnya, ia selalu menyebut dirinya ‘Lil’.
“Gimana ketawanya?” tanya Baba lagi.
“Hahaha,” jawab Kay.
“Ayo ditabung dulu,” dan Kay pun memasukkan sekeping koin itu ke celengan ayam lama.
“Satu lagi,” ujar Baba.
Kay tampak ragu memasukkan keping terakhir koin itu, ia tidak melepaskan genggamannya bahkan ketika setengah koin itu sudah masuk ke celengan. Kay menarik kembali koin itu, lalu beranjak pergi.
“Mau ke mana?” tanya Baba, “nabung dulu dong.”
Kay berjongkok di dekat celengan ayam barunya dan tanpa ragu-ragu memasukkan koin terakhirnya ke dalam celengan baru itu. Barulah Baba paham bahwa ia membagi dua ‘pendapatannya’ hari itu.
Selain celengan baru, Kay juga punya kuda-kudaan baru. Kuda-kudaan ini berbentuk zebra. Meskipun Kay masih agak takut menaiki kuda baru ini ia sangat senang dengannya.
“Kuda ada dua,” demikian kata Kay.
Tadi pagi Baba membantunya naik kuda itu.
“Sakit,” kata Kay. Baba heran, sakit apanya? pikir Baba, kan ‘pelananya’ sudah dilapis busa oleh Nenek.
“Sakit,” kata Kay lagi. Rupanya Kay duduk terlalu di belakang, sehingga pantatnya persis berada di pinggir ‘pelana’ kayu kuda itu, dan itulah yang menyebabkan rasa sakit.
Setelah Baba membenahi posisi duduknya, Kay dengan nyaman duduk di punggung kuda, tapi ia masih takut mengayunkan badannya. Jadi Kay hanya duduk diam berpegangan pada handel di sisi kanan dan kiri leher kuda-kudaan itu sementara kakinya merangkul kedua kaki depan kuda-kudaan.
Kay kelihatan kikuk sekali meskipun senyum lebarnya terkembang.
Sep 15, 2006
Reflek Menabung
“Bi, ini untuk beli Baygon dan belanja,” Kata Baba sambil memberi selembar limapuluh ribuan padanya. Kay beringsut maju mendekat dan melongok ke tangan Bibi, lalu mengambil uang kertas tersebut. Ia langsung melipat, melipat dan menggulung-gulung lembaran itu dengan serius.
“Kasih ke Bibi,” perintah Baba yang, tentu saja, tidak dituruti.
“Ayo, kasih Bibi,” ulang Baba sambil setengah memaksa memutar badan Kay menghadap Bibi. Kay hanya menyentuhkan uang tersebut sepersekian detik di telapak Bibi sebelum cepat-cepat menariknya kembali. Lalu Kay memutar badan dan berjalan tergopoh gopoh ke kamar.
“Bi,” kata Baba yang mafhum apa yang akan terjadi, “cepetan tangkep sebelum uangnya dimasukin ke celengan ayam.”
Bibi pun segera mengejar Kay ke kamar dan membujuknya untuk mengembalikan uang itu.
“Jangan dimasukin, nanti susah ngeluarinnya,” pinta Bibi yang, tentu saja, tidak diindahkan. But Bibi still have some tricks up her sleeves.
“Sini Bibi masukin. Nah, udah ya. Udah masuk tuh,” kata Bibi, padahal uang itu ada dalam genggamannya.
Hehehe…dasar anak kecil…masih bisa diakalin. Tapi Baba senang karena Kay sekarang kalau mendapat uang tidak lagi dibuang ke tempat sampah…
“Kasih ke Bibi,” perintah Baba yang, tentu saja, tidak dituruti.
“Ayo, kasih Bibi,” ulang Baba sambil setengah memaksa memutar badan Kay menghadap Bibi. Kay hanya menyentuhkan uang tersebut sepersekian detik di telapak Bibi sebelum cepat-cepat menariknya kembali. Lalu Kay memutar badan dan berjalan tergopoh gopoh ke kamar.
“Bi,” kata Baba yang mafhum apa yang akan terjadi, “cepetan tangkep sebelum uangnya dimasukin ke celengan ayam.”
Bibi pun segera mengejar Kay ke kamar dan membujuknya untuk mengembalikan uang itu.
“Jangan dimasukin, nanti susah ngeluarinnya,” pinta Bibi yang, tentu saja, tidak diindahkan. But Bibi still have some tricks up her sleeves.
“Sini Bibi masukin. Nah, udah ya. Udah masuk tuh,” kata Bibi, padahal uang itu ada dalam genggamannya.
Hehehe…dasar anak kecil…masih bisa diakalin. Tapi Baba senang karena Kay sekarang kalau mendapat uang tidak lagi dibuang ke tempat sampah…
Sep 14, 2006
Pertanyaan yang Tak Terjawab
“Kay kesayangan siapa?”
“Duuh….” tangannya meraih leher Baba dan memeluk.
“Kay kesayangan siapa?” tanya Baba lagi.
“Duuh…” pelukannya makin kencang.
“Kay kesayangan siapa?” ulang Baba untuk yang ketiga kalinya.
“Duuh…” kali ini leher Baba dipeluk dengan dua tangan.
“Kay anak siapa?”
“Anak Mama,” jawab Kay.
“Duuh….” tangannya meraih leher Baba dan memeluk.
“Kay kesayangan siapa?” tanya Baba lagi.
“Duuh…” pelukannya makin kencang.
“Kay kesayangan siapa?” ulang Baba untuk yang ketiga kalinya.
“Duuh…” kali ini leher Baba dipeluk dengan dua tangan.
“Kay anak siapa?”
“Anak Mama,” jawab Kay.
Subscribe to:
Posts (Atom)