Mar 31, 2008

Pamitan Untuk Main & Bujukan Untuk Pulang

‘BABAAAAAA!!!’ teriaknya dari garasi.

‘Eh, jangan teriak-teriak,’ susul suara Teteh Iis sedetik kemudian, ‘bilangnya dari dekat.’

‘BABAAAA!!’ teriak Kay lagi. Suaranya makin mendekat.

‘Hey,’ kata Baba, ‘Kenapa? Sini bilangnya.’ Beberapa detik kemudian sosoknya muncul di ambang pintu.

‘Baba,’ kata anak yang masih memakai piyama itu melangkah masuk dari garasi, ‘Kay mau ke lumah desweidesweideswei yaaaa…’ lanjutnya tidak jelas karena ia langsung lari keluar takut ditinggal oleh Teteh.

Kay memang belakangan ini sedang sangat suka sekali bermain di luar rumah. Ia biasanya bermain sambil sarapan atau makan sore di rumah salah seorang tetangga sambil memperhatikan ikan atau burung yang menjadi peliharaan mereka. Kalau sudah begini biasanya ia sulit diajak pulang. Harus dengan ekstra bujukan yang dilakukan dengan ekstra sabar. Biasanya, kalau waktu sarapan, Baba yang sudah bersiap berangkat ke kantor harus kembali ke rumah sambil menggendong seorang anak yang menangis sedih.

‘Eeh, kan ada waktunya main dan ada waktunya pulang, ingat Bing & Bong juga pulang kalau sudah waktunya pulang kan?’ kata Baba membujuk sambil menyebut salah satu filler Playhouse Disney yang menjadi kesukaan Kay. Kedua tokoh utama dalam serial itu memang selalu pulang bila alarm sudah memanggil mereka.

‘Huhuhuhuu,’ isak Kay, lalu ia akan mendengus, ‘Ingush, minta handuk,’ katanya. Setelah handuk diberikan ia akan mengusap air mata dan ingusnya sendiri.

Biasanya setelah ia tiba di rumah, Kay sudah lupa akan marahnya dan kembali melompat-lompat kegirangan menuju bak mandi…

Mar 17, 2008

Pagi Ini

“Baba lagi nyemil shepatu dulu, ya,” kata Kay sambil menghampiri Baba, lalu ia duduk di belakang Baba.

“Iya, Baba sedang menyemir sepatu.”

“Shedang menyemil shepatu,” katanya mengikuti.

“Sepatu siapa?”

“Shepatu Baba.”

“Kay sedang apa?”

“Shedang duduk.”

“Sambil?” tanya Baba, mengharapkan ia menjawab bahwa ia sedang melihat Baba menyemir.

“Mamam.”

“Mamam apa?”

“Nashi.”

“Nasi apa?”

“Nashi liwet.”

Hehe, padahal dia makan nasi tim tahu dan ceker ayam.

“Baba mau berangkat ke?” tanya Baba setelah siap berangkat.

“Ke kantol.”

“Kay di?”

“Di lumah.”

“Sama?”

“Shama Bibi.”

“Sama siapa lagi?”

“Shama Teteh.”

“Baik-baik di rumah, ya. Nurut sama Bibi dan Teteh.”

“Iya.”

“Mamam yang banyak, ya.”

“Iya.”

“Mimi yang banyak, ya.”

Diam.

“Ok?”

Diam.

“Okie?”

“Dokie.”

“Supaya?” tanya Baba mengharap ia menjawab ‘supaya sembuh.’

“Nggak cekukan,” jawabnya di luar dugaan.

“Kemalen di Bandung naik kuda,” katanya lagi.

“Iya. Kay mau naik kuda lagi?”

“Mau.”

“Oke. Sembuh dulu, ya. Baba berangkat ya. Dadaaa,” kata Baba melambaikan tangan.

“Dadaaaaaaa,” Kay membalas lambaian Baba.

Feb 28, 2008

Pengenalan Profesi 2

'Kay, apakah tugas dokter?' tanya Baba.

'Memeliksha olang shakit!' jawab Kay sambil nyengir.

'Apakah tugas suster?'

'Membawa obat!'

'Apakah tugas guru?'

'Mengajal mulid-mulid!'

'Apakah tugas polisi?'

'Menangkap olang jahat!'

'Horeeee!!! Kay pintar!' Baba bertepuk tangan di hadapan bocah yang cengar-cengir dengan penuh kebanggaan.

'Lagi! apakah tugash dokteeeel?' pintanya...

Mengantar Mama

‘Kita mau ke mana, Kay?’ tanya Mama.

‘Ke bandala,’ jawab Kay.

‘Ke bandara mau lihat apa?’

‘Liyat peshawat.’

Percakapan tersebut terjadi saat kami sekeluarga (plus Engki, Nenek, Uwa, dan tentu saja Teteh) terjebak macet di jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu. Liburan musim dingin Mama sudah selesai dan ia harus kembali meneruskan studinya di Swedia.

Kay, yang selama seminggu terakhir ini menjadi sangat kolokan dan manja pada Mama, sudah mengijinkan Mama berangkat kembali ke Swedia.

‘Mama boleh pergi ke Swedia lagi, Kay?’ tanya Mama.

‘Boleh.’

‘Teteh Iis boleh pulang ke Garut nggak?’ tanya Mama lagi.

‘Jangan!’ jawab Kay merajuk.

Mama nggak ada kok Teteh mau pulang ke Garut? Nanti aku sama siapa? Mungkin itu yang ada dalam benak Kay.

Di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa, Kay berlarian tidak keruan. Meskipun demikian ia tidak mau lepas jauh-jauh dari Mama.Setiap beberapa menit berlarian ia pasti akan menghampiri dan memeluk Mama.

Waktu Mama sedang check-in dan membayar airport tax, ia agak kesal dan mencari-cari Mamanya.

‘Mau shama Mama aja!’ teriaknya sambil memukul-mukul kursi dengan marah.Untung saja ia mudah dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain.

‘Cepot, Baba!’ katanya sambil berusaha meraih wayang golek Cepot yang berada di etalase di dekat kami duduk. Baba segera mencegahnya sebelum ia sempat menyambar golek itu.

‘Iya, Cepot,’ kata Baba, ‘warnanya apa?’

‘Melah.’

Akhirnya waktu untuk boarding tiba.

‘Kay,’ kata Mama, ‘Mama berangkat sekolah lagi ya. Kay harus nurut sama Baba, sama Nenek, sama Kakek, sama Bibi dan sama Teteh ya?’

Kay diam.

‘OK?’ kata Mama lagi.

Kay masih diam.

‘Okie?’ kata Mama lagi.

‘Dokie,’ jawab Kay, lalu ia memeluk dan mencium Mama.

‘Jaga dia ya, Ba,’ bisik Mama ke Baba.

‘Pasti. Jangan kuatir,’ jawab Baba tersenyum.

Kemudian Mama berangkat.

Cepat selesaikan sekolah lalu pulang, ya Ma, supaya kita bisa jalan-jalan bertiga lagi.

Hugs and kisses dari Kay.

Feb 19, 2008

'Telima Kashih'

Waktu menunjukkan pukul 17:30 di hari Sabtu minggu lalu. Mama dan Baba sedang bersiap-siap berangkat ke sebuah acara makan malam di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ketika pintu terkuak dan Kay dengan santai masuk ke dalam kamar.

Ia langsung mendekati dan memeluk kaki Mama.

‘Telima kashih ya, Ma,’ katanya tiba-tiba. Mama segera berbalik dan memeluk anak manis itu, matanya berkaca-kaca.

‘Iya, Sayang,’ kata Mama, ‘terima kasih kembali.’

Kay melepaskan diri dari pelukan Mama, lalu memeluk kaki Baba yang sedang memperhatikan pemandangan mengharukan itu.

‘Telima kashih ya, Ba,’ katanya sambil tersenyum lebar, kepalanya menengadah menatap wajah Baba.

‘Iya, sama-sama,’ kata Baba sambil membalas pelukan Kay.

Jan 14, 2008

Pengenalan Profesi

‘Kay, ini pekerjaan apa?’ tanya sang terapis sambil menunjukkan gambar seorang polisi.

‘Polishi,’ jawab Kay pasti.

Dalam salah satu sesi terapi Kay dia memang diajarkan untuk mengenal benda-benda dan profesi yang ada di sekelilingnya.

‘Kalau ini apa?’

‘Pemadam kebakalan.’

‘Yang ini?’ sang terapis menunjukkan seorang yang mengenakan jas medis.

‘Doktel.’

‘Kalau yang ini apa, Kay?’ tanya Sang Terapis lagi sambil menunjukkan gambar seorang lelaki bertubuh tegap berseragam loreng dan memegang senjata.

Kay memperhatikan sejenak gambar yang baru pertama kali ia lihat itu.

Kemudian tanpa keraguan sedikitpun ia menjawab:

‘Pengamen.’

Sambil menahan tawa Sang Terapis mengoreksi jawaban Kay.

‘Ini bukan pengamen, Kay. Ini tentara.’

‘Telima kashih, Bu,’ kata Kay melanjutkan sambil membungkukkan badannya menirukan pengamen yang baru saja diberi uang.

Beberapa minggu kemudian saat Baba dan Mama sedang mengantarkan Kay sekolah, Ibu Widya, sang terapis bercerita tentang sesi terapi yang baru saja selesai.

‘Sekarang Kay sudah tahu tentara. Tadi begitu saya tunjukkan gambar tentara ia bisa mengenalinya dengan tepat.’

‘Sudah tidak dibilang pengamen lagi ya,’ kata Baba.

‘Tidak. Tapi ketika saya tanya “tentara bawa apa, Kay?” ia menjawab, “Bawa gitar.” Rupanya senjata yang dibawa tentara itu dikira gitar oleh Kay,’ kata Ibu Widya sambil tertawa.

Kay memang anak yang tidak mengenal senjata karena Baba dan Mama memang tidak pernah membelikan senjata mainan dan tidak pula mengijinkan Kay menonton acara-acara (sekalipun dikatakan sebagai acara anak-anak) yang tokoh-tokohnya memiliki senjata. Akibatnya memang ia mengira senjata yang dipegang oleh tentara dalam gambar itu adalah gitar.

Sebelum berangkat sekolah pagi itu, saat Mama sedang menonton BBC World yang menampilkan kebakaran karena kerusuhan di salah satu kota di dunia, Kay berkomentar dengan mantap:

‘Ada kembang api banyak, Mama.’

Jan 11, 2008

Mama Datang!

Hai, Gentles, Kay dan para pendukungnya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008!

Iya, iya, sekarang sudah tanggal 11, sudah lumayan terlambat untuk mengucapkan selamat, tapi nggak apa-apa tokh? Soalnya Baba punya alasan yang sangat bagus:

Mama lagi di Jakarta.

Nah, bagus kan alasannya? Makanya agak lama nggak ada update di halaman-halaman buku harian Baba dan Kay. Kami sedang asyik bermain-main bertiga.

Apa? Kapan Mama datang? Tanggal 25 Desember yang lalu.

Tentu saja peristiwa ini membuat Kay menjadi luar biasa gembira dan bahagia.

Waktu Mama keluar dari imigrasi di bandara Soekarno-Hatta, Kay masih malu-malu.

‘Mau sama Mama nggak?’ tanya Mama sambil menawarkan diri untuk menggendong Kay.

Yang ditanya membuang muka, tapi senyumnya lebar sekali.

Mama mengulangi pertanyaan yang sama hingga tiga kali, barulah Kay mau pindah dari gendongan Baba ke pelukan Mama.

Menuju mobil, Mama bertanya lagi pada Kay:

‘Mau digendong Baba?’

‘Shama Mama aja,’ jawab Kay, ‘Biola,’ katanya lagi sambil menunjuk sebuah poster bergambar biola.

‘Sama Teteh mau?’ goda Mama lagi.

‘Ng! Shama Mama aja! Ng!’ jawabnya setengah marah.

‘Ok, ok,’ kata Baba, ‘wah, nggak laku lagi nih.’

‘Duuh, shayangnya,’ kata Kay sambil memeluk Mama dengan erat. Di dalam mobil ia tidak mau beranjak dari pangkuan Mama. Sepanjang perjalanan mungkin ada sekitar empat puluh kali Kay menyatakan ia sayang Mama.

Di rumah, Bibi menyambut dengan membuka pintu mobil yang baru saja Baba parker di garasi. Ia langsung disambut oleh tangan Kay yang melambai-lambai.

‘Dadaaaaa!!’ kata Kay sambil melambai. Artinya ia ingin Bibi pergi dari situ. Wah, Bibi juga nggak laku. Semua dikalahkan oleh Mama.

Esok harinya, ketika sedang bermain-main, Kay selalu menyempatkan diri untuk memeluk Mama sambil bergumam ‘Duuh shayangnya.’

Selain itu ia juga sering menghentikan permainannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mama. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Mama ia akan menunjuk bahu atau dada Mama sambil berkata:

‘Mama!’

Seolah-olah ia tidak percaya Mama yang sekarang ada di hadapannya adalah yang asli dan bukan foto.

Yah, begitulah, sejak tanggal 25 Desember hingga sekarang hari-hari kami lalui bertiga lagi. Ke rumah Nenek di Subang, ke rumah Uyut hingga kondangan ke Nagreg yang menyebabkan Kay dihukum oleh Baba. Tapi itu kisah yang lain lagi.

Nov 29, 2007

Dyslexia?

‘Nashi wolit,’ gumam Kay yang sedang terbaring bermalas-malasan di lantai, ‘nashi wolit.’

Baba yang sedang sarapan terheran-heran. Kok kedengarannya tak asing, tapi ada yang salah. Apa sebenarnya yang digumamkan Kay?

Setelah beberapa saat akhirnya Baba sadar bahwa ‘nashi wolit’ yang ia gumamkan maksudnya adalah ‘nasi liwet’.

‘Nasi liwet?’ tanya Baba.

‘Nashi liwet,’ kata Kay mengulang.

Beberapa menit yang lalu Bibi memang menggoda Kay dengan menawarkan nasi liwet.

‘Kay mau makan pake nasi liwet?’ kata Bibi, ‘enak. Nasi liwet pake peda goreng.’

Kata ‘liwet’ rupanya masih asing di telinga Kay, sehingga—seperti biasa—ia masih suka terbalik-balik dan salah mengulangnya.

‘Nashi wolit. Nashi wolit,’ demikian kata Kay berulang-ulang.

‘Bukan nasi wolit, Nak,’ kata Baba membetulkan, ‘tapi nasi liwet.’

‘Nashi liwet,’ katanya sambil senyum.

‘Coba suruh dia ngomong bakwan,’ kata Teteh.

‘Coba bilang ‘bakwan’ Kay!’ perintah Baba.

Sambil nyengir si bocah berucap: ‘Bawkan.’

‘Bukan bawkan, bakwan,’ kata Baba.

‘Bawkan,’ kata Kay lagi.

‘Ba’wan,’ kata Baba, kali ini dengan ‘k’ lemah.

‘Ba’wan,’ kata Kay mengulangi.

Kay memang seringkali mengucapkan kata-kata yang baru ia dengar dengan salah. Dulu sekali ia pernah berucap ‘pakeya’. Mama dan Baba bingung memahami kata yang dia ucapkan itu sampai akhirnya ia memeragakan lagu Kepala Pundak Lutut Kaki.

Sambil berucap ‘pakeya’ ia memegang kepalanya.

Boks

Boks mainan itu terbuat dari plastik, dengan ukuran yang cukup besar sehingga saat tidak terisi penuh oleh mainannya, boks itu terkadang diisi oleh tubuh Kay yang lumayan besar dan didorong oleh Baba, Teteh atau Bibi. Bocah yang duduk di dalamnya biasanya akan tertawa-tawa kegirangan, terutama saat boks itu berhenti mendadak karena menabrak dinding atau meja.

Selain menjadi tempat menyimpan mainan dan ‘mobil’ atau ‘kereta’ Kay, boks itu juga mempunyai fungsi lain, yaitu menjadi alat pengasah imajinasi Kay.

Bagaimana caranya?

Selain didorong di dalamnya, Kay juga gemar mendorong boks itu mondar-mandir. Biasanya ia melakukan kegiatan itu sambil ‘menjajakan dagangan’.

Suatu kali sambil mendorong boks berisi mainan itu ia akan berteriak-teriak, ‘Kue, kueeeee!!’

Di lain waktu ia akan berujar lantang: ‘Ikan pindaaaang!! Bu, bade* pindang??’

Pada saat berpura-pura berdagang inilah Baba menemukan bahwa Kay cukup memperhatikan detail.

Satu saat ia menghunjamkan stik drum mainannya ke ‘gerobaknya’ dan memegang stik drum yang mencuat itu dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang salah satu sisi boks. Lalu ia mendorong boks itu sambil berteriak lantang: ‘Mangga, manggaaaaa!!’

Kay dengan cermat memperhatikan dan menirukan tukang mangga keliling yang memang mendorong gerobaknya dengan memegang gagang gerobak dengan tangan satu dan tangan satunya lagi memegang pasak yang mencuat di tengah gerobak.

Kecermatannya memperhatikan tukang keliling yang sering menjajakan dagangannya di sekitar kompleks kami diperlihatkan lagi saat Baba memergoki Kay tidak mendorong boks itu, melainkan menghelanya.

‘Dagang apa sekarang, Pak?’ tanya Baba menggoda.

Yang ditanya cuek.

‘Mangga?’

Masih diam.

‘Kue?’

Tanpa menoleh Kay menjajakan ‘dagangannya’.

‘Balang, balaaaang*!!’ serunya menirukan tukang barang dan koran bekas yang memang biasanya menghela, dan bukan mendorong gerobak mereka.


*bade = mau
* balang = barang, Kay masih cadel.

Nov 23, 2007

Ngambek?

Baba melongok ke dalam kamar. Di tempat tidur ada seorang anak kecil yang sedang dikeloni oleh neneknya. Anak itu mengangkat kepalanya, nyengir dan berkata:

‘Baba mandi dulu aja!’

Baba melangkah masuk ke dalam kamar.

‘Bobo shama Nenek aja! Baba mandi dulu aja!’ katanya lagi.

‘Okay,’ jawab Baba, ‘tapi kiss dulu dong Babanya.’

Baba menundukkan kepala dan Kay mencium pipi Baba.

‘Dadaaaa!!’ katanya sambil melambaikan tangan, kurang dari sedetik setelah pipi Baba dicium olehnya.

‘Dadaaaaa!!’ serunya lagi. Lambaian tangannya makin bersemangat.

Akhir-akhir ini itulah yang sering dilakukan Kay. Ia sudah bisa memilih dikeloni siapa pada saat mau bobo. Dan biasanya bukan Baba yang diminta mengeloni dia. Bisa Bibi atau Teteh Iis.

‘Bobo shama Bibi aja,’ begitu katanya, ‘Baba ngetik aja!’

‘Bobo shama Teteh aja,’ begitu pintanya di lain hari, ‘Baba mamam aja!’

‘Tapi kan Baba udah mamam, baru aja selesai,’ protes Baba.

‘Ah! Ah! Baba ngetik aja! Shama Teteh aja! Dadaaaaa!!’ serunya sambil melambaikan tangan, tanda ia meminta Baba untuk pergi.

‘Ya udah, kiss dulu.’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Lho, pipi kirinya belum?’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Tos dulu!’

‘Tosh! Dadaaaaa!!’

Wah, wah, wah, mungkin ia kesal karena akhir-akhir ini Babanya seringkali membawa pekerjaan ke rumah dan terlihat asyik mengetik di depan komputer saja.

Maafkan Baba ya, Nak. Meskipun Baba terlihat sibuk, bukan berarti Baba nggak sayang dan nggak mau main atau ngeloni Kay kok.

Nov 12, 2007

Tolpes dan Lateral Thinking

‘Apa ini, Kay?’ tanya Baba.

‘Tolpes,’ jawabnya.

‘Bukan tolpes, tapi toples,’ kata Baba berusaha membenarkan.

‘Tolpes,’ katanya lagi.

‘Bukan tolpes, Nak, top—?’ kata Baba lagi, maksudnya agar Kay mengikuti suku kata yang Baba ucapkan.

‘—pes,’ lanjut Kay.

‘Hahahahaa! Bukan, ikutin Baba, ya: top—?’

‘Top-pes,’ kata Kay.

‘Hahahahaha, tungguin Baba dong. Top-les, gitu.’

‘Tolpes.’

Kay memang masih sangat cadel dan selalu terbalik dalam mengucapkan kata-kata dengan huruf l dan r yang menempel dengan huruf lain, misalnya: ‘coklat’ dan ‘jigrak’. Ia akan menyebutkan kedua kata itu sebagai ‘colkat’ dan ‘jilgag’.

Tetapi, dalam hal yang lain, ia menunjukkan kecerdasannya. Mungkin ini menunjukkan kemampuan lateral thinking Kay.

Suatu hari ia diminta oleh Kakak memakai sandal. Ketika ia sedang memasukkan kakinya ke dalam sandal jepit favoritnya itu, secara tidak sengaja sandal itu tertendang sehingga posisinya berubah, sebelah kanan ada di sisi kiri dan sebaliknya.

Kay tidak menunjukkan tanda-tanda akan memperbaiki posisi sandal, ia malah terlihat cuek dan tetap menyorongkan kakinya ke dalam sandal itu.

‘Eh,’ kata Kakak, ‘sandalnya terbalik. Benerin dulu, dong.’

‘Iya,’ tambah Yangti, ‘nanti jatuh, lho.’

Kay cuek dan menyilangkan kaki kanannya ke depan kaki kiri dan memakai sandal kanan, lalu ia melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Akhirnya ia tidak memakai sandal terbalik.

‘Wah, udah pintar, ya, ternyata,’ kata Kakak memuji.

Aku udah tau kok kalo sendalnya terbalik. Kan bisa juga makenya kayak gini, nggak usah pake bungkuk-bungkuk ngebenerin posisinya dulu, mungkin itu pikir Kay.

Oct 26, 2007

Sebelum Tidur Semalam

'Kay? Kay kangen sama Mama nggak?'

'Kangen.'

'Kalo ketemu Mama mau diapain mamanya?'

'Uh-uh-uh-uh-uh.' (mengeluarkan suara manja dan gemas sambil memeluk leher Baba.)

'Terus Kay bilang apa?'

'Shayaaaaaaaaaaang.....' (tangannya mengelus-elus rambut Baba dengan lembut.)

Oct 23, 2007

Kue Dari Tante Mandy--Update

Tadi pagi Baba tanya ke Bibi apakah Kay menyukai kue keju lempeng yang diberikan Tante Mandy.

'Suka kok,' jawab Bibi, 'kemaren siang mau dia makan itu.'

Wah, kalau begitu mungkin kemarin pagi itu dia masih kenyang atau belum terbiasa memakan kue keju super enak buatan Eyang Hiang Marahimin, hehehehe...

Pagi ini setelah sarapan Baba menyuapkan sepotong kue keju lempeng itu dan dia menyantapnya tanpa protes.

Oct 22, 2007

Kue Dari Tante Mandy

‘Kay, ini ada kue dari Tante Mandy,’ panggil Baba sambil mengeluarkan dua macam kue keju, dua toples kue keju lempeng dan satu kemasan cheese stick.

Baba meletakkan ketiga kemasan kue tersebut di hadapan Kay. Seperti seorang raja kecil, Kay langsung memeriksa upeti tersebut dengan saksama.

Baba memotret Kay dengan kue-kue tersebut untuk bukti bahwa titipan Tante Mandy telah sampai dengan aman ke tangan Kay.

‘Ini kue keju, Nak,’ kata Baba.

‘Bukain, Baba,’ pinta Kay begitu ia mendengar kata “keju”.

Baba membuka selotip penyegel salah satu toples kue keju lempeng, lalu membuka tutupnya. Tangan mungil Kay segera meraih dua lempeng kue tersebut…

…lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

Ia menggigit setengah lempeng, mengunyahnya, dan beranjak pergi meninggalkan satu setengah lempeng kue keju di atas kemasan cheese stick.

‘Lho, kok ditinggal?’ tanya Baba.

Kay mengacuhkan pertanyaan itu dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari berisi mangkuk dan peralatan plastik dan mulai mengeluarkan semuanya. Ia lalu bermain-main dengan berbagai mangkuk dan tutup gelas dari plastik tersebut.

Beberapa saat kemudian ia kembali ke ruang tengah dan menghampiri piggy bank miliknya.

‘Kay mau keju nggak?’ tanya Baba sambil mendekat. Tangan Baba memegang sebuah kue keju lempeng.

‘Mau!’ jawabnya saat ia mendengar kata “keju”. Kay menoleh dan melihat kue keju lempeng di tangan Baba, lalu segera berucap, ‘nggak! Shimpen aja!’

‘Lho?? Nggak mau kue keju ini?’ tanya Baba.

‘Nggak!’ ia kabur ke tempat cuci piring.

‘Ya udah, Baba aja yang makan ya?’

‘Shimpen aja!’ lalu ia merengek sambil mendongakkan kepalanya.

‘Iya, Baba yang makan, bukan Kayril,’ kata Baba sambil memasukkan kue itu ke dalam mulut.

Wah, Tante Mandy, kayaknya dia nggak suka kue keju lempengnya nih…

Tapi begitu Baba membuka cheese stick Kay langsung melahap dua atau tiga batang dan tidak pernah menolak ketika Baba menyuapkan cheese stick padanya.

My Little Angel -- Aduuuuuh -- 'Keju, Baba!'

‘Kay ke mana, Ma?’ tanya Baba ke Nenek. Sabtu siang itu Baba baru saja tiba di rumah Nenek di Subang untuk menjemput Kay kembali ke Jakarta.

‘Pergi sama Papa tadi, beli makanan,’ jawab Nenek.

‘Sudah lama?’

‘Baru aja berangkat.’

Baba masuk ke dalam rumah, membaca buku dan segera tertidur lelap.

Dua jam kemudian Baba terbangun dan berjalan gontai ke teras belakang rumah. Di atas tikar di lantai teras itu Kay terlelap. Wajahnya tenang sekali, bagai malaikat. Baba mencium pipi gembilnya dan menunggu Kay terjaga sambil meneruskan membaca buku di sisinya.

‘Tadi dia baru datang girang sekali melihat mobil bapaknya,’ kata Kakek, ‘Papa suruh bangunin kamu tadi. Dia nggak mau, malah kabur sambil tertawa-tawa cekikikan. Lucu sekali anak ini.’

Wah, pasti tidak keruan sekali tingkahnya tadi!

Kurang lebih satu jam kemudian Kay terjaga. Baba mendekat dan tangannya langsung meraih leher Baba dan menariknya ke dalam pelukan.

‘Aduuuuh,’ katanya lirih.

Tangannya semakin kencang memeluk leher Baba. Baba berbaring di sebelahnya. Kali ini kakinya ikut merangkul perut Baba.

‘Duuh, aduuuh.’

‘Wah, ogoan*nya,’ kata Baba, ‘kenapa? Kayril kangen sama Baba?’

‘Aduuuuh,’ jawabnya, pelukannya mengencang.

‘Kayril kangen sama Mama nggak?’

‘Kangen.’

‘Kalo ketemu mau diapain Mamanya?’

‘Aduuuuuuuuh,’ jawabnya lagi. Pelukannya makin mengencang.

Beberapa menit (dan pelukan serta ‘aduh, aduh’) kemudian Kay bangkit dan mulai lasak, tapi ia tidak pernah jauh dari Baba. Bahkan beberapa kali ia berjalan sambil memeluk paha Baba, yang tentu saja membuat Baba agak sulit untuk berjalan.

‘Makannya lagi jelek, nih, sejak kemarin,’ kata Nenek, ‘dilepeh melulu. Padahal dua hari sebelum ini makannya bagus sekali.’

Memang sore harinya Kay makannya jelek, padahal Nenek memasakkan nasi tim kesukaannya. Akhirnya ia hanya menghabiskan setengah cheese john yang Baba belikan di toko roti dalam perjalanan menuju Subang.

‘Mau keju,’ katanya antusias. Ketika keju di tempat kuenya habis (walaupun rotinya belum) ia blingsatan ke dapur mencari-cari keju.

‘Tambah kejunya,’ katanya sambil celingukan di sekitar tempat cuci piring.

‘Di sini kejunya, Nak,’ Baba memanggil Kay, ‘di atas meja makan.’

Kay segera menghampiri meja makan dan berusaha mengambil sisa cheese john kesukaannya itu. Paruhan roti itu jatuh ke atas meja, tapi dengan cueknya Kay menyendoki keju parut yang berserakan di atas meja di sekitar cheese john tersebut.

‘Keju,’ katanya, ‘Keju, Baba!’


*Kolokan, manja

Oct 18, 2007

Liburan Lebaran di Subang

‘Halo? Papa? Si Kay lagi ngapain, Pa?’

‘Ada itu, lagi makan siang dia,’ jawab Kakek di ujung sana.

‘Mau makannya? Sehat kan dia?’

‘Mau! Sehat kok, jangan khawatir. Senang dia di sini. Dari tadi dia lari-larian aja tuh.’

Yes, Gentles, masa-masa Baba kesepian selama liburan Lebaran datang kembali. Seperti tahun lalu, Kay dititipkan pada Kakek dan Nenek di Subang. Ia sudah ada di sana sejak tanggal 7 Oktober yang lalu dan Baba akan menjemputnya akhir pekan ini.

Waktu berangkat Kay terlihat senang sekali. Duduk sendiri dan melihat-lihat keluar mobil memperhatikan pemandangan dan mobil-mobil lainnya yang berseliweran.

‘Ayam, Baba,’ ujarnya sesekali, memberitakan balon ayam yang ia miliki dan dibawa serta mudik ke Subang.

Balon ayam itu Baba belikan saat ia sedang berkunjung ke dokter sehari sebelum mudik. Begitu ia turun dari mobil, matanya langsung tertuju pada balon berbentuk ayam yang dijual di halaman rumah sakit.

‘Mau ayam itu,’ demikian pintanya. Ia baru mau masuk ke dalam rumah sakit setelah Baba berjanji akan membelikan balon ayam tersebut.

‘Ayo timbang dulu,’ kata suster sambil menyalakan timbangan digital. Kay naik ke atas timbangan dan mulai ikut-ikutan memencet tombol di panel timbangan digital tersebut.

‘Eeh, tidak boleh ikut-ikut mencet,’ kata Baba, ‘berdiri tegap, diam sebentar ya.’

Angka di timbangan menunjukkan bahwa berat Kay kali ini naik lagi menjadi 19 kg. Wah, pantas saja ia terasa makin mantap digendongnya.

Setelah beberapa orang pasien masuk, akhirnya tiba giliran Kay, tepat pada saat ia sedang makan sore.

‘Kenapa ini?’ tanya dokter.

‘Batuk, Dok,’ jawab Baba, ‘mungkin ketularan pengantarnya sekolah.’

‘Wah, kamu kok sakit beratnya naik hampir sekilo?’ tanya dokter kepada Kay. Yang ditanya acuh tak acuh.

Setelah terjadi keributan saat diperiksa dengan stetoskop dan dilihat tenggorokannya (Kay marah-marah dan minta gendong Baba meskipun ia masih mau diperintah membuka mulutnya yang masih dipenuhi makanan), dokter segera menuliskan resep.

Esoknya batuk Kay sudah hampir sembuh, dan kami pun melakukan perjalanan mudik ke Subang.

Sampai di Kalijati, Teteh bertanya pada Kay, ‘Kita mau ke mana ini Kay?’

‘Ke lumah Yangti,’ jawabnya yakin.

‘Bukan,’ kata Teteh, ‘kita mau ke rumah Nenek.’

‘Ke lumah Yangti aja!!!’ katanya merajuk.

Teteh langsung mengalihkan perhatian Kay ke mobil yang lalu lalang.

Sesampainya di rumah Nenek, Kay sudah lupa sama sekali akan ngambeknya. Ia tertawa terkekeh-kekeh di dalam mobil dan langsung berlarian berkeliling ketika ia sudah masuk ke dalam rumah. Ia tentu tidak lupa memberitakan balon ayam yang amat ia banggakan itu.

‘Ayam, Ngki! Ayam, Nenek!’ katanya sambil berkeliling. Balon ayam itu digenggamnya di bagian jengger.

Saking gembiranya ia menolak untuk tidur siang (meskipun akhirnya kelelahan dan tertidur di dipan di depan televisi).

Sore harinya, ia terlihat gembelengan tanpa balon ayam.

‘Ayamnya ke mana Is?’ tanya Baba.

‘Bocor,’ jawab Teteh.

‘Wah, nangis nggak?’

‘Nggak. Soalnya dia yang bikin bocor. Nyangkut di rak piring dan sama dia ditarik paksa, akhirnya jenggernya robek.’

‘Terus gimana?’

‘Dia suruh buang. ”Buang, Teteh” katanya gitu.’

‘Hahaha, pintar. Nggak ngambek,’ puji Baba.

Sorenya Baba kembali ke Jakarta, meninggalkan Kay di rumah Nenek.

Esoknya Nenek melapor pada Baba bahwa Kay sulit tidur dan menolak tidur di dalam kamar. Ia hanya mau bobo di dipan depan televisi. Itupun masih sering terbangun tengah malam. Sepertinya ia kurang nyaman tidak berada di rumahnya.

Hehehe, anak rumahan nih, Ma!

* * *

‘Gimana si Kay? Masih sulit tidurnya?’ tanya Baba saat Baba tiba di Subang kembali sehari sebelum Lebaran.

‘Nggak,’ jawab Kakek, ‘malah udah ngajak ke kamar sekarang.’

‘Wah, bagus!’

Yang dibicarakan sedang asyik berkutat di hadapan white board sambil memegang spidol dan menggambar benang kusut.

‘Gambal ayam shama Baba,’ pintanya.

‘Ini apanya?’ tanya Baba menunjuk ke sudut runcing yang baru saja Baba buat.

‘Patuknya,’ jawab Kay dengan tepat. Baba memang baru saja menggambar patuk si ayam.

Setelah selesai Kay minta digambarkan ikan, dan lagi-lagi dengan tepat bisa menyebutkan bagian ikan yang Baba gambar meskipun gambar keseluruhan belum selesai.

Esok harinya setelah shalat Ied, seperti biasa kami berkunjung ke rumah Uyut Kay. Kay terlihat gaya sekali dengan baju koko berwarna merah dan celana jeans biru.

Di rumah Uyut ia sempat merajuk ketika bertemu Bibi. ‘Mau shama Bibi aja,’ demikian katanya.

Beberapa hari sebelum Lebaran ia juga sempat merajuk ketika mengetahui Teteh Iis akan pulang ke Garut.

‘Mau ikut Teteh ke Galut aja!’ demikian tangisnya. Akhirnya Teteh Iis menangguhkan mudik ke Garut karena tidak tega meninggalkan Kay. Sayang sekali dia pada si Kay!

* * *

‘Palu, Ngki! Palu Nenek! Palu Teteh!’ demikian ujar Kay sambil memegang palu yang digunakan Kakek untuk memperbaiki berbagai macam kerusakan di rumah.

Lalu Kay memukul-mukulkan palu itu ke lantai, ke dinding dan akhirnya, TOOKKKK!!!

Palu itu ia pukulkan ke lutut Kakek.

‘Adddduuuhhh!! Sudah, kamu jangan mainan palu lagi!’ kata Kakek sambil mengambil palu itu dari tangan Kay. Yang dimarahi menangis. Ia masih ingin bermain-main dengan palu itu.

Kakek lalu membuatkan Kay palu palsu dari kayu-kayu sisa yang ada di sekitar rumah, kemudian memberikannya pada Kay yang langsung membuangnya. Ia hanya tertarik pada palu asli.

Wah, kayaknya Baba perlu menjelaskan bahaya palu pada Kay nih kalau sudah ketemu lagi nanti…

Sep 17, 2007

Obrolan Sebelum Tidur

Tok! Tok! Tok!

Baba mengetuk pintu kamar.

Tok! Tok! Tok!

Suara tangisan menyambut ketukan pintu. Baba segera membuka pintu dan masuk.

Di tempat tidur Kay sedang menangis keras. Di sebelahnya Bibi berusaha membujuknya. Baba segera menghampiri.

‘Yang ngetuk tadi Baba Nak,’ kata Baba berusaha membujuk. Baba mengira ia menangis karena kaget mendengar suara pintu diketuk.

‘Gendong,’ rengeknya sambil berusaha duduk. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

‘Masih sedih dia, masih sedih,’ kata Bibi sambil keluar kamar.

Baba menggendong Kay dan dalam beberapa menit tangisannya sudah reda.

‘Bobo lagi ya?’ ajak Baba.

‘Bobo,’ katanya lirih.

Baba merebahkan Kay kembali di tempat tidur, lalu berbaring di sebelahnya. Ia segera memeluk leher Baba.

‘Kay mau Buku Ayam?’ tanya Baba. Kemarin Sabtu di supermarket ia menemukan buku tentang ayam di dekat kasir. Buku itu diambil dan segera menjadi buku favorit.

‘Buku ayam. Ayam dua aja,’ katanya.

Meskipun ia minta Ayam Dua, ia tidak merajuk saat Baba memberikan Buku Ayam itu kepadanya. Akan tetapi buku itu hampir tidak dipandang. Ia hanya mengambil buku itu dari tangan Baba dan meletakkannya asal di atas tempat tidur.

‘Kenapa sih Kay menangis?’ tanya Baba setelah berbaring di sisi Kay lagi.

‘Kan kalau sedang kesal kata Jojo harus tarik napas,’ kata Baba, ‘gimana tarik napasnya?’

Kay menarik napas panjang.

‘Terus hitung sampai?’

‘Lima,’ jawabnya lirih.

‘Sepuluh, dong. Kalau kata Jojo hitungnya sampai sepuluh.’

Kemudian kami menghitung sampai sepuluh. Setelah selesai menghitung Kay kembali mengambil napas panjang.

‘Kay kesayangan siapa sih?’

Ia berbalik memunggungi Baba.

‘Kesayangan siapa, Nak?’

‘Keshayangan Baba.’

‘Kesayangan Baba atau kesayangan Mama?’

‘Keshayangan Baba aja!’ geramnya.

‘Kay itu kesayangan dua-duanya. Mama juga sayang lho sama Kay. Sayaang sekali,’ kata Baba, ‘Kay sayang nggak sama Mama?’

‘Shayang.’

‘Sama Baba sayang nggak?’

Ia berbalik lagi dan memeluk leher Baba, ‘Shayang,’ katanya. Tapi wajahnya masih menyisakan kesedihan.

‘Kay tadi makan apa?’ tanya Baba lagi, berusaha membujuk.

‘Makan nashi,’ jawab Kay.

‘Pake apa?’

‘Pake shayul.’

‘Sayur apa?’

‘Shayul bayem melah.’

‘Terus lauknya apa?’

Diam. Dia berusaha mencerna apa itu “lauk”, kata yang jarang ia dengar.

‘Tempe goreng? Tahu goreng?’ tanya Baba memancing.

‘Tahu goleng.’

‘Kay suka tahu goreng?’

‘Shuka.’

‘Enak ya? Kalo enak, tangannya gimana?’

Kay mengacungkan jempolnya.

‘Terus makan apa lagi? Makan pepaya?’

‘Mi,’ katanya.

‘Makan mi?’

‘Pake agel.’

Hah? Makan mie pakai agar? Model mana lagi nih? Baba harus minta penjelasan dari Bibi atau Teteh.

Tiba-tiba Kay menarik baju Baba, meminta Baba berbaring pada sisi kanan.

‘Bobo,’ katanya sambil memeluk leher Baba, ‘di bantal.’

Maksudnya Baba harus berbaring dengan kepala di bantal. Tak lama kemudian ia terlelap.

Setelah Kay tertidur Baba bertanya pada Teteh mengenai mie dan agar. Rupanya pada saat berbuka puasa, Kay ikut-ikutan heboh dan minta es buah dengan bahan utama melon dan blewah yang diparut panjang serta agar-agar.

Terus kenapa menangis?

‘Nggak mau pake celana dalam. Terus kan baju piyamanya kekecilan, dia minta “dibenelin”,’ kata Teteh sambil memeragakan menarik-narik lengan baju, ‘kan nggak bisa. Nangis.’

Wah, anak tertib. Jika lengan panjang piyamanya tidak menutupi pergelangan ia memang tidak suka. Demikian juga dengan celana panjang piyama. Harus menutupi hingga pergelangan kaki. Jika bajunya tertarik sehingga perutnya terbuka ia pasti langsung menutupinya lagi.

Sep 12, 2007

'AH!' Katanya Memprotes

‘Gendong!’ suara anak lelaki di sebelah Baba membuyarkan impian. Baba membuka mata dan mendapatkan Kay sudah duduk bersila. Matanya masih setengah terbuka dan mulutnya cemberut. Secara keseluruhan ia masih terlihat amat sangat mengantuk.

‘Gendong!’ katanya lagi.

Dengan susah payah dan mata yang masih lengket, Baba menggendong Kay dan mulai mengayun-ayunnya.

‘Ke shana!’ katanya sambil menunjuk asal-asalan ke arah pintu.

Di luar kamar ia merosot turun. Masih dengan mata setengah terpejam. Baba melirik ke jam dinding. 05:30.

‘Pipis dulu yuk,’ ajak Baba, ‘pipis sama Teteh ya.’

Baba hampir tak kuasa menahan kantuk.

‘AH!’ protesnya, ‘shama Baba aja.’

Baba menggandeng tangannya.

‘AH!’ protesnya lagi, ‘gendong aja!’ katanya sambil mengangkat kedua tangannya.

Baba kembali menggendong Kay dan berjalan terseok-seok ke kamar mandi.

Setelah selesai pipis Kay kembali mengembangkan “sayapnya.”

Baba kembali menggendong Kay dan berjalan terseok-seok kembali ke kamar.

‘Bobo lagi ya,’ kata Baba, ‘Baba ngantuuk sekali.’

Di tempat tidur ia segera memeluk leher Baba dan memejamkan mata. Baba segera terlelap. Dan terbangun beberapa saat kemudian karena merasa geli di belakang lutut.

Kay sedang asyik mengorek-ngorek belakang lutut Baba dengan telunjuknya.

‘Dikodek-kodekin,’ katanya sambil nyengir.

‘Aduuh, jangan dong! Geli! Baba kan mau bobo dulu sebentar lagii aja,’ mohon Baba sambil menggesernya. Baba kembali terlelap.

Dan terbangun kembali dengan rasa geli di tempat yang sama.

‘Dikodek-kodekin,’ kata Kay dengan cengiran yang lebih lebar. Baba menghentikan kegiatannya dengan menurunkan Kay dari tempat tidur.

Ia segera lari keluar kamar. Baba terlelap kembali.

Telepon berdering. Suara Mama menyambut telinga Baba. Kay yang sudah mandi dan rapi mendekat. Baba meletakkan gagang telepon ke telinganya.

‘AH!’ katanya memprotes, lalu melarikan diri ke dapur sambil menyeret sapu.

Sep 8, 2007

Mengabsen Isi Kamar

‘Kaki! Celana!’ seru Kay sambil memegang apa yang disebutkannya.

Kay sudah berada di tempat tidur, sudah siap bobo, tapi masih berusaha menahan kantuknya dengan menolak untuk berbaring. Ia duduk di dekat jendela.

‘Baju!’ lanjutnya.

‘Kaki!’ serunya lagi.

‘Kaki. Terus?’ Baba menimpali.

‘Celana!’

‘Celana. Terus?’

‘Baju!’

‘Baju. Terus?’

‘Kelil!’ Kay menunjuk dadanya.

‘Kayril. Terus?’

‘Baba!’

‘Baba. Terus?’

‘Golden!’

‘Gorden. Terus apa lagi?’

‘Hehehehehe! Tembok!’

‘Terus apa lagi?’

‘Bantal!’

‘Terus?’

‘Langit-langit!’ ia tengadahkan kepalanya.

‘Terus apa lagi?’

‘Atap lumah! Hahahahaha!’

‘Terus?’

‘Lemali!’

‘Lemari. Terus?’

Ia ragu sejenak. Mencari-cari apa lagi yang ada di dalam kamar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.

‘Lantai!’

‘Terus apa lagi?’

‘Tembok!’

‘Tadi udah disebut,’ sergah Baba.

‘Golden!’

‘Itu juga udah disebut,’

Kay tampak kehilangan akal. Wajahnya kelihatan bertanya-tanya apa lagi yang bisa ia sebutkan yang ada di dalam kamar ini.

‘Itu apa?’ tanya Baba sambil menunjuk ke alat pengatur suhu udara.

‘A-she,’ jawabnya.

‘Itu apa yang menyala di atas?’

‘Lampu.’

‘Udah, yuk, kita bobo dulu,’ ajak Baba sambil merebahkan tubuhnya.

Kay senyam-senyum sambil menggosok-gosok telapak tangannya, lalu ia mengoleskan tangannya ke pipi Baba.

‘Mmm, ashik,’ katanya sambil nyengir, ‘ashik.’

‘Asyik apaan?’ tanya Baba keheranan.

Yang ditanya nyengir sambil membuang muka, lalu—DUUK!!—jidatnya membentur tembok.

Ia berbalik, memegang jidat. Baba menunggu ledakan tangis. Tidak ada. Kay hanya memegangi jidat sambil berkata, ‘Pake minyak tawon.’

‘Ok. Baba ambilin dulu, ya,’ kata Baba sambil berjalan keluar kamar mengambilkan apa yang diminta.

Setelah Baba masuk ke kamar lagi, ia langsung menyodorkan jarinya. Baba mengoleskan minyak gosok itu ke jari mungil Kay, lalu Kay menggosok-gosokkan jari berminyak itu ke jidatnya yang mulai memerah.

‘Makanya bobo aja, ya. Itu tandanya Kay sudah mengantuk,’ kata Baba.

Kangen?

‘Piggibeng!’ seru Kay sambil bangkit dari duduknya.

‘Piggibeng!’ serunya lagi sambl berjalan ke arah dipan tempat si Piggibeng disimpan.

Baba menghampiri Kay dan bertanya.

‘Piggy Bank dari siapa, Kay?’

‘Dali Mama.’

‘Dari Mama? Kay kangen nggak sama Mama?’

‘Duuuh,’ jawabnya sambil meraih leher Baba untuk dipeluk, ‘shayang. Shayang,’ katanya sambil mengusap-usap rambut Baba.

‘Gendong,’ pintanya manja.

‘Kayril anak siapa sih?’ tanya Baba.

‘Anak Mama,’ jawabnya.