Nov 29, 2007

Boks

Boks mainan itu terbuat dari plastik, dengan ukuran yang cukup besar sehingga saat tidak terisi penuh oleh mainannya, boks itu terkadang diisi oleh tubuh Kay yang lumayan besar dan didorong oleh Baba, Teteh atau Bibi. Bocah yang duduk di dalamnya biasanya akan tertawa-tawa kegirangan, terutama saat boks itu berhenti mendadak karena menabrak dinding atau meja.

Selain menjadi tempat menyimpan mainan dan ‘mobil’ atau ‘kereta’ Kay, boks itu juga mempunyai fungsi lain, yaitu menjadi alat pengasah imajinasi Kay.

Bagaimana caranya?

Selain didorong di dalamnya, Kay juga gemar mendorong boks itu mondar-mandir. Biasanya ia melakukan kegiatan itu sambil ‘menjajakan dagangan’.

Suatu kali sambil mendorong boks berisi mainan itu ia akan berteriak-teriak, ‘Kue, kueeeee!!’

Di lain waktu ia akan berujar lantang: ‘Ikan pindaaaang!! Bu, bade* pindang??’

Pada saat berpura-pura berdagang inilah Baba menemukan bahwa Kay cukup memperhatikan detail.

Satu saat ia menghunjamkan stik drum mainannya ke ‘gerobaknya’ dan memegang stik drum yang mencuat itu dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang salah satu sisi boks. Lalu ia mendorong boks itu sambil berteriak lantang: ‘Mangga, manggaaaaa!!’

Kay dengan cermat memperhatikan dan menirukan tukang mangga keliling yang memang mendorong gerobaknya dengan memegang gagang gerobak dengan tangan satu dan tangan satunya lagi memegang pasak yang mencuat di tengah gerobak.

Kecermatannya memperhatikan tukang keliling yang sering menjajakan dagangannya di sekitar kompleks kami diperlihatkan lagi saat Baba memergoki Kay tidak mendorong boks itu, melainkan menghelanya.

‘Dagang apa sekarang, Pak?’ tanya Baba menggoda.

Yang ditanya cuek.

‘Mangga?’

Masih diam.

‘Kue?’

Tanpa menoleh Kay menjajakan ‘dagangannya’.

‘Balang, balaaaang*!!’ serunya menirukan tukang barang dan koran bekas yang memang biasanya menghela, dan bukan mendorong gerobak mereka.


*bade = mau
* balang = barang, Kay masih cadel.

No comments: