Nov 29, 2007

Dyslexia?

‘Nashi wolit,’ gumam Kay yang sedang terbaring bermalas-malasan di lantai, ‘nashi wolit.’

Baba yang sedang sarapan terheran-heran. Kok kedengarannya tak asing, tapi ada yang salah. Apa sebenarnya yang digumamkan Kay?

Setelah beberapa saat akhirnya Baba sadar bahwa ‘nashi wolit’ yang ia gumamkan maksudnya adalah ‘nasi liwet’.

‘Nasi liwet?’ tanya Baba.

‘Nashi liwet,’ kata Kay mengulang.

Beberapa menit yang lalu Bibi memang menggoda Kay dengan menawarkan nasi liwet.

‘Kay mau makan pake nasi liwet?’ kata Bibi, ‘enak. Nasi liwet pake peda goreng.’

Kata ‘liwet’ rupanya masih asing di telinga Kay, sehingga—seperti biasa—ia masih suka terbalik-balik dan salah mengulangnya.

‘Nashi wolit. Nashi wolit,’ demikian kata Kay berulang-ulang.

‘Bukan nasi wolit, Nak,’ kata Baba membetulkan, ‘tapi nasi liwet.’

‘Nashi liwet,’ katanya sambil senyum.

‘Coba suruh dia ngomong bakwan,’ kata Teteh.

‘Coba bilang ‘bakwan’ Kay!’ perintah Baba.

Sambil nyengir si bocah berucap: ‘Bawkan.’

‘Bukan bawkan, bakwan,’ kata Baba.

‘Bawkan,’ kata Kay lagi.

‘Ba’wan,’ kata Baba, kali ini dengan ‘k’ lemah.

‘Ba’wan,’ kata Kay mengulangi.

Kay memang seringkali mengucapkan kata-kata yang baru ia dengar dengan salah. Dulu sekali ia pernah berucap ‘pakeya’. Mama dan Baba bingung memahami kata yang dia ucapkan itu sampai akhirnya ia memeragakan lagu Kepala Pundak Lutut Kaki.

Sambil berucap ‘pakeya’ ia memegang kepalanya.

Boks

Boks mainan itu terbuat dari plastik, dengan ukuran yang cukup besar sehingga saat tidak terisi penuh oleh mainannya, boks itu terkadang diisi oleh tubuh Kay yang lumayan besar dan didorong oleh Baba, Teteh atau Bibi. Bocah yang duduk di dalamnya biasanya akan tertawa-tawa kegirangan, terutama saat boks itu berhenti mendadak karena menabrak dinding atau meja.

Selain menjadi tempat menyimpan mainan dan ‘mobil’ atau ‘kereta’ Kay, boks itu juga mempunyai fungsi lain, yaitu menjadi alat pengasah imajinasi Kay.

Bagaimana caranya?

Selain didorong di dalamnya, Kay juga gemar mendorong boks itu mondar-mandir. Biasanya ia melakukan kegiatan itu sambil ‘menjajakan dagangan’.

Suatu kali sambil mendorong boks berisi mainan itu ia akan berteriak-teriak, ‘Kue, kueeeee!!’

Di lain waktu ia akan berujar lantang: ‘Ikan pindaaaang!! Bu, bade* pindang??’

Pada saat berpura-pura berdagang inilah Baba menemukan bahwa Kay cukup memperhatikan detail.

Satu saat ia menghunjamkan stik drum mainannya ke ‘gerobaknya’ dan memegang stik drum yang mencuat itu dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang salah satu sisi boks. Lalu ia mendorong boks itu sambil berteriak lantang: ‘Mangga, manggaaaaa!!’

Kay dengan cermat memperhatikan dan menirukan tukang mangga keliling yang memang mendorong gerobaknya dengan memegang gagang gerobak dengan tangan satu dan tangan satunya lagi memegang pasak yang mencuat di tengah gerobak.

Kecermatannya memperhatikan tukang keliling yang sering menjajakan dagangannya di sekitar kompleks kami diperlihatkan lagi saat Baba memergoki Kay tidak mendorong boks itu, melainkan menghelanya.

‘Dagang apa sekarang, Pak?’ tanya Baba menggoda.

Yang ditanya cuek.

‘Mangga?’

Masih diam.

‘Kue?’

Tanpa menoleh Kay menjajakan ‘dagangannya’.

‘Balang, balaaaang*!!’ serunya menirukan tukang barang dan koran bekas yang memang biasanya menghela, dan bukan mendorong gerobak mereka.


*bade = mau
* balang = barang, Kay masih cadel.

Nov 23, 2007

Ngambek?

Baba melongok ke dalam kamar. Di tempat tidur ada seorang anak kecil yang sedang dikeloni oleh neneknya. Anak itu mengangkat kepalanya, nyengir dan berkata:

‘Baba mandi dulu aja!’

Baba melangkah masuk ke dalam kamar.

‘Bobo shama Nenek aja! Baba mandi dulu aja!’ katanya lagi.

‘Okay,’ jawab Baba, ‘tapi kiss dulu dong Babanya.’

Baba menundukkan kepala dan Kay mencium pipi Baba.

‘Dadaaaa!!’ katanya sambil melambaikan tangan, kurang dari sedetik setelah pipi Baba dicium olehnya.

‘Dadaaaaa!!’ serunya lagi. Lambaian tangannya makin bersemangat.

Akhir-akhir ini itulah yang sering dilakukan Kay. Ia sudah bisa memilih dikeloni siapa pada saat mau bobo. Dan biasanya bukan Baba yang diminta mengeloni dia. Bisa Bibi atau Teteh Iis.

‘Bobo shama Bibi aja,’ begitu katanya, ‘Baba ngetik aja!’

‘Bobo shama Teteh aja,’ begitu pintanya di lain hari, ‘Baba mamam aja!’

‘Tapi kan Baba udah mamam, baru aja selesai,’ protes Baba.

‘Ah! Ah! Baba ngetik aja! Shama Teteh aja! Dadaaaaa!!’ serunya sambil melambaikan tangan, tanda ia meminta Baba untuk pergi.

‘Ya udah, kiss dulu.’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Lho, pipi kirinya belum?’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Tos dulu!’

‘Tosh! Dadaaaaa!!’

Wah, wah, wah, mungkin ia kesal karena akhir-akhir ini Babanya seringkali membawa pekerjaan ke rumah dan terlihat asyik mengetik di depan komputer saja.

Maafkan Baba ya, Nak. Meskipun Baba terlihat sibuk, bukan berarti Baba nggak sayang dan nggak mau main atau ngeloni Kay kok.

Nov 12, 2007

Tolpes dan Lateral Thinking

‘Apa ini, Kay?’ tanya Baba.

‘Tolpes,’ jawabnya.

‘Bukan tolpes, tapi toples,’ kata Baba berusaha membenarkan.

‘Tolpes,’ katanya lagi.

‘Bukan tolpes, Nak, top—?’ kata Baba lagi, maksudnya agar Kay mengikuti suku kata yang Baba ucapkan.

‘—pes,’ lanjut Kay.

‘Hahahahaa! Bukan, ikutin Baba, ya: top—?’

‘Top-pes,’ kata Kay.

‘Hahahahaha, tungguin Baba dong. Top-les, gitu.’

‘Tolpes.’

Kay memang masih sangat cadel dan selalu terbalik dalam mengucapkan kata-kata dengan huruf l dan r yang menempel dengan huruf lain, misalnya: ‘coklat’ dan ‘jigrak’. Ia akan menyebutkan kedua kata itu sebagai ‘colkat’ dan ‘jilgag’.

Tetapi, dalam hal yang lain, ia menunjukkan kecerdasannya. Mungkin ini menunjukkan kemampuan lateral thinking Kay.

Suatu hari ia diminta oleh Kakak memakai sandal. Ketika ia sedang memasukkan kakinya ke dalam sandal jepit favoritnya itu, secara tidak sengaja sandal itu tertendang sehingga posisinya berubah, sebelah kanan ada di sisi kiri dan sebaliknya.

Kay tidak menunjukkan tanda-tanda akan memperbaiki posisi sandal, ia malah terlihat cuek dan tetap menyorongkan kakinya ke dalam sandal itu.

‘Eh,’ kata Kakak, ‘sandalnya terbalik. Benerin dulu, dong.’

‘Iya,’ tambah Yangti, ‘nanti jatuh, lho.’

Kay cuek dan menyilangkan kaki kanannya ke depan kaki kiri dan memakai sandal kanan, lalu ia melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Akhirnya ia tidak memakai sandal terbalik.

‘Wah, udah pintar, ya, ternyata,’ kata Kakak memuji.

Aku udah tau kok kalo sendalnya terbalik. Kan bisa juga makenya kayak gini, nggak usah pake bungkuk-bungkuk ngebenerin posisinya dulu, mungkin itu pikir Kay.

Oct 26, 2007

Sebelum Tidur Semalam

'Kay? Kay kangen sama Mama nggak?'

'Kangen.'

'Kalo ketemu Mama mau diapain mamanya?'

'Uh-uh-uh-uh-uh.' (mengeluarkan suara manja dan gemas sambil memeluk leher Baba.)

'Terus Kay bilang apa?'

'Shayaaaaaaaaaaang.....' (tangannya mengelus-elus rambut Baba dengan lembut.)

Oct 23, 2007

Kue Dari Tante Mandy--Update

Tadi pagi Baba tanya ke Bibi apakah Kay menyukai kue keju lempeng yang diberikan Tante Mandy.

'Suka kok,' jawab Bibi, 'kemaren siang mau dia makan itu.'

Wah, kalau begitu mungkin kemarin pagi itu dia masih kenyang atau belum terbiasa memakan kue keju super enak buatan Eyang Hiang Marahimin, hehehehe...

Pagi ini setelah sarapan Baba menyuapkan sepotong kue keju lempeng itu dan dia menyantapnya tanpa protes.

Oct 22, 2007

Kue Dari Tante Mandy

‘Kay, ini ada kue dari Tante Mandy,’ panggil Baba sambil mengeluarkan dua macam kue keju, dua toples kue keju lempeng dan satu kemasan cheese stick.

Baba meletakkan ketiga kemasan kue tersebut di hadapan Kay. Seperti seorang raja kecil, Kay langsung memeriksa upeti tersebut dengan saksama.

Baba memotret Kay dengan kue-kue tersebut untuk bukti bahwa titipan Tante Mandy telah sampai dengan aman ke tangan Kay.

‘Ini kue keju, Nak,’ kata Baba.

‘Bukain, Baba,’ pinta Kay begitu ia mendengar kata “keju”.

Baba membuka selotip penyegel salah satu toples kue keju lempeng, lalu membuka tutupnya. Tangan mungil Kay segera meraih dua lempeng kue tersebut…

…lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

Ia menggigit setengah lempeng, mengunyahnya, dan beranjak pergi meninggalkan satu setengah lempeng kue keju di atas kemasan cheese stick.

‘Lho, kok ditinggal?’ tanya Baba.

Kay mengacuhkan pertanyaan itu dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari berisi mangkuk dan peralatan plastik dan mulai mengeluarkan semuanya. Ia lalu bermain-main dengan berbagai mangkuk dan tutup gelas dari plastik tersebut.

Beberapa saat kemudian ia kembali ke ruang tengah dan menghampiri piggy bank miliknya.

‘Kay mau keju nggak?’ tanya Baba sambil mendekat. Tangan Baba memegang sebuah kue keju lempeng.

‘Mau!’ jawabnya saat ia mendengar kata “keju”. Kay menoleh dan melihat kue keju lempeng di tangan Baba, lalu segera berucap, ‘nggak! Shimpen aja!’

‘Lho?? Nggak mau kue keju ini?’ tanya Baba.

‘Nggak!’ ia kabur ke tempat cuci piring.

‘Ya udah, Baba aja yang makan ya?’

‘Shimpen aja!’ lalu ia merengek sambil mendongakkan kepalanya.

‘Iya, Baba yang makan, bukan Kayril,’ kata Baba sambil memasukkan kue itu ke dalam mulut.

Wah, Tante Mandy, kayaknya dia nggak suka kue keju lempengnya nih…

Tapi begitu Baba membuka cheese stick Kay langsung melahap dua atau tiga batang dan tidak pernah menolak ketika Baba menyuapkan cheese stick padanya.

My Little Angel -- Aduuuuuh -- 'Keju, Baba!'

‘Kay ke mana, Ma?’ tanya Baba ke Nenek. Sabtu siang itu Baba baru saja tiba di rumah Nenek di Subang untuk menjemput Kay kembali ke Jakarta.

‘Pergi sama Papa tadi, beli makanan,’ jawab Nenek.

‘Sudah lama?’

‘Baru aja berangkat.’

Baba masuk ke dalam rumah, membaca buku dan segera tertidur lelap.

Dua jam kemudian Baba terbangun dan berjalan gontai ke teras belakang rumah. Di atas tikar di lantai teras itu Kay terlelap. Wajahnya tenang sekali, bagai malaikat. Baba mencium pipi gembilnya dan menunggu Kay terjaga sambil meneruskan membaca buku di sisinya.

‘Tadi dia baru datang girang sekali melihat mobil bapaknya,’ kata Kakek, ‘Papa suruh bangunin kamu tadi. Dia nggak mau, malah kabur sambil tertawa-tawa cekikikan. Lucu sekali anak ini.’

Wah, pasti tidak keruan sekali tingkahnya tadi!

Kurang lebih satu jam kemudian Kay terjaga. Baba mendekat dan tangannya langsung meraih leher Baba dan menariknya ke dalam pelukan.

‘Aduuuuh,’ katanya lirih.

Tangannya semakin kencang memeluk leher Baba. Baba berbaring di sebelahnya. Kali ini kakinya ikut merangkul perut Baba.

‘Duuh, aduuuh.’

‘Wah, ogoan*nya,’ kata Baba, ‘kenapa? Kayril kangen sama Baba?’

‘Aduuuuh,’ jawabnya, pelukannya mengencang.

‘Kayril kangen sama Mama nggak?’

‘Kangen.’

‘Kalo ketemu mau diapain Mamanya?’

‘Aduuuuuuuuh,’ jawabnya lagi. Pelukannya makin mengencang.

Beberapa menit (dan pelukan serta ‘aduh, aduh’) kemudian Kay bangkit dan mulai lasak, tapi ia tidak pernah jauh dari Baba. Bahkan beberapa kali ia berjalan sambil memeluk paha Baba, yang tentu saja membuat Baba agak sulit untuk berjalan.

‘Makannya lagi jelek, nih, sejak kemarin,’ kata Nenek, ‘dilepeh melulu. Padahal dua hari sebelum ini makannya bagus sekali.’

Memang sore harinya Kay makannya jelek, padahal Nenek memasakkan nasi tim kesukaannya. Akhirnya ia hanya menghabiskan setengah cheese john yang Baba belikan di toko roti dalam perjalanan menuju Subang.

‘Mau keju,’ katanya antusias. Ketika keju di tempat kuenya habis (walaupun rotinya belum) ia blingsatan ke dapur mencari-cari keju.

‘Tambah kejunya,’ katanya sambil celingukan di sekitar tempat cuci piring.

‘Di sini kejunya, Nak,’ Baba memanggil Kay, ‘di atas meja makan.’

Kay segera menghampiri meja makan dan berusaha mengambil sisa cheese john kesukaannya itu. Paruhan roti itu jatuh ke atas meja, tapi dengan cueknya Kay menyendoki keju parut yang berserakan di atas meja di sekitar cheese john tersebut.

‘Keju,’ katanya, ‘Keju, Baba!’


*Kolokan, manja

Oct 18, 2007

Liburan Lebaran di Subang

‘Halo? Papa? Si Kay lagi ngapain, Pa?’

‘Ada itu, lagi makan siang dia,’ jawab Kakek di ujung sana.

‘Mau makannya? Sehat kan dia?’

‘Mau! Sehat kok, jangan khawatir. Senang dia di sini. Dari tadi dia lari-larian aja tuh.’

Yes, Gentles, masa-masa Baba kesepian selama liburan Lebaran datang kembali. Seperti tahun lalu, Kay dititipkan pada Kakek dan Nenek di Subang. Ia sudah ada di sana sejak tanggal 7 Oktober yang lalu dan Baba akan menjemputnya akhir pekan ini.

Waktu berangkat Kay terlihat senang sekali. Duduk sendiri dan melihat-lihat keluar mobil memperhatikan pemandangan dan mobil-mobil lainnya yang berseliweran.

‘Ayam, Baba,’ ujarnya sesekali, memberitakan balon ayam yang ia miliki dan dibawa serta mudik ke Subang.

Balon ayam itu Baba belikan saat ia sedang berkunjung ke dokter sehari sebelum mudik. Begitu ia turun dari mobil, matanya langsung tertuju pada balon berbentuk ayam yang dijual di halaman rumah sakit.

‘Mau ayam itu,’ demikian pintanya. Ia baru mau masuk ke dalam rumah sakit setelah Baba berjanji akan membelikan balon ayam tersebut.

‘Ayo timbang dulu,’ kata suster sambil menyalakan timbangan digital. Kay naik ke atas timbangan dan mulai ikut-ikutan memencet tombol di panel timbangan digital tersebut.

‘Eeh, tidak boleh ikut-ikut mencet,’ kata Baba, ‘berdiri tegap, diam sebentar ya.’

Angka di timbangan menunjukkan bahwa berat Kay kali ini naik lagi menjadi 19 kg. Wah, pantas saja ia terasa makin mantap digendongnya.

Setelah beberapa orang pasien masuk, akhirnya tiba giliran Kay, tepat pada saat ia sedang makan sore.

‘Kenapa ini?’ tanya dokter.

‘Batuk, Dok,’ jawab Baba, ‘mungkin ketularan pengantarnya sekolah.’

‘Wah, kamu kok sakit beratnya naik hampir sekilo?’ tanya dokter kepada Kay. Yang ditanya acuh tak acuh.

Setelah terjadi keributan saat diperiksa dengan stetoskop dan dilihat tenggorokannya (Kay marah-marah dan minta gendong Baba meskipun ia masih mau diperintah membuka mulutnya yang masih dipenuhi makanan), dokter segera menuliskan resep.

Esoknya batuk Kay sudah hampir sembuh, dan kami pun melakukan perjalanan mudik ke Subang.

Sampai di Kalijati, Teteh bertanya pada Kay, ‘Kita mau ke mana ini Kay?’

‘Ke lumah Yangti,’ jawabnya yakin.

‘Bukan,’ kata Teteh, ‘kita mau ke rumah Nenek.’

‘Ke lumah Yangti aja!!!’ katanya merajuk.

Teteh langsung mengalihkan perhatian Kay ke mobil yang lalu lalang.

Sesampainya di rumah Nenek, Kay sudah lupa sama sekali akan ngambeknya. Ia tertawa terkekeh-kekeh di dalam mobil dan langsung berlarian berkeliling ketika ia sudah masuk ke dalam rumah. Ia tentu tidak lupa memberitakan balon ayam yang amat ia banggakan itu.

‘Ayam, Ngki! Ayam, Nenek!’ katanya sambil berkeliling. Balon ayam itu digenggamnya di bagian jengger.

Saking gembiranya ia menolak untuk tidur siang (meskipun akhirnya kelelahan dan tertidur di dipan di depan televisi).

Sore harinya, ia terlihat gembelengan tanpa balon ayam.

‘Ayamnya ke mana Is?’ tanya Baba.

‘Bocor,’ jawab Teteh.

‘Wah, nangis nggak?’

‘Nggak. Soalnya dia yang bikin bocor. Nyangkut di rak piring dan sama dia ditarik paksa, akhirnya jenggernya robek.’

‘Terus gimana?’

‘Dia suruh buang. ”Buang, Teteh” katanya gitu.’

‘Hahaha, pintar. Nggak ngambek,’ puji Baba.

Sorenya Baba kembali ke Jakarta, meninggalkan Kay di rumah Nenek.

Esoknya Nenek melapor pada Baba bahwa Kay sulit tidur dan menolak tidur di dalam kamar. Ia hanya mau bobo di dipan depan televisi. Itupun masih sering terbangun tengah malam. Sepertinya ia kurang nyaman tidak berada di rumahnya.

Hehehe, anak rumahan nih, Ma!

* * *

‘Gimana si Kay? Masih sulit tidurnya?’ tanya Baba saat Baba tiba di Subang kembali sehari sebelum Lebaran.

‘Nggak,’ jawab Kakek, ‘malah udah ngajak ke kamar sekarang.’

‘Wah, bagus!’

Yang dibicarakan sedang asyik berkutat di hadapan white board sambil memegang spidol dan menggambar benang kusut.

‘Gambal ayam shama Baba,’ pintanya.

‘Ini apanya?’ tanya Baba menunjuk ke sudut runcing yang baru saja Baba buat.

‘Patuknya,’ jawab Kay dengan tepat. Baba memang baru saja menggambar patuk si ayam.

Setelah selesai Kay minta digambarkan ikan, dan lagi-lagi dengan tepat bisa menyebutkan bagian ikan yang Baba gambar meskipun gambar keseluruhan belum selesai.

Esok harinya setelah shalat Ied, seperti biasa kami berkunjung ke rumah Uyut Kay. Kay terlihat gaya sekali dengan baju koko berwarna merah dan celana jeans biru.

Di rumah Uyut ia sempat merajuk ketika bertemu Bibi. ‘Mau shama Bibi aja,’ demikian katanya.

Beberapa hari sebelum Lebaran ia juga sempat merajuk ketika mengetahui Teteh Iis akan pulang ke Garut.

‘Mau ikut Teteh ke Galut aja!’ demikian tangisnya. Akhirnya Teteh Iis menangguhkan mudik ke Garut karena tidak tega meninggalkan Kay. Sayang sekali dia pada si Kay!

* * *

‘Palu, Ngki! Palu Nenek! Palu Teteh!’ demikian ujar Kay sambil memegang palu yang digunakan Kakek untuk memperbaiki berbagai macam kerusakan di rumah.

Lalu Kay memukul-mukulkan palu itu ke lantai, ke dinding dan akhirnya, TOOKKKK!!!

Palu itu ia pukulkan ke lutut Kakek.

‘Adddduuuhhh!! Sudah, kamu jangan mainan palu lagi!’ kata Kakek sambil mengambil palu itu dari tangan Kay. Yang dimarahi menangis. Ia masih ingin bermain-main dengan palu itu.

Kakek lalu membuatkan Kay palu palsu dari kayu-kayu sisa yang ada di sekitar rumah, kemudian memberikannya pada Kay yang langsung membuangnya. Ia hanya tertarik pada palu asli.

Wah, kayaknya Baba perlu menjelaskan bahaya palu pada Kay nih kalau sudah ketemu lagi nanti…

Sep 17, 2007

Obrolan Sebelum Tidur

Tok! Tok! Tok!

Baba mengetuk pintu kamar.

Tok! Tok! Tok!

Suara tangisan menyambut ketukan pintu. Baba segera membuka pintu dan masuk.

Di tempat tidur Kay sedang menangis keras. Di sebelahnya Bibi berusaha membujuknya. Baba segera menghampiri.

‘Yang ngetuk tadi Baba Nak,’ kata Baba berusaha membujuk. Baba mengira ia menangis karena kaget mendengar suara pintu diketuk.

‘Gendong,’ rengeknya sambil berusaha duduk. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

‘Masih sedih dia, masih sedih,’ kata Bibi sambil keluar kamar.

Baba menggendong Kay dan dalam beberapa menit tangisannya sudah reda.

‘Bobo lagi ya?’ ajak Baba.

‘Bobo,’ katanya lirih.

Baba merebahkan Kay kembali di tempat tidur, lalu berbaring di sebelahnya. Ia segera memeluk leher Baba.

‘Kay mau Buku Ayam?’ tanya Baba. Kemarin Sabtu di supermarket ia menemukan buku tentang ayam di dekat kasir. Buku itu diambil dan segera menjadi buku favorit.

‘Buku ayam. Ayam dua aja,’ katanya.

Meskipun ia minta Ayam Dua, ia tidak merajuk saat Baba memberikan Buku Ayam itu kepadanya. Akan tetapi buku itu hampir tidak dipandang. Ia hanya mengambil buku itu dari tangan Baba dan meletakkannya asal di atas tempat tidur.

‘Kenapa sih Kay menangis?’ tanya Baba setelah berbaring di sisi Kay lagi.

‘Kan kalau sedang kesal kata Jojo harus tarik napas,’ kata Baba, ‘gimana tarik napasnya?’

Kay menarik napas panjang.

‘Terus hitung sampai?’

‘Lima,’ jawabnya lirih.

‘Sepuluh, dong. Kalau kata Jojo hitungnya sampai sepuluh.’

Kemudian kami menghitung sampai sepuluh. Setelah selesai menghitung Kay kembali mengambil napas panjang.

‘Kay kesayangan siapa sih?’

Ia berbalik memunggungi Baba.

‘Kesayangan siapa, Nak?’

‘Keshayangan Baba.’

‘Kesayangan Baba atau kesayangan Mama?’

‘Keshayangan Baba aja!’ geramnya.

‘Kay itu kesayangan dua-duanya. Mama juga sayang lho sama Kay. Sayaang sekali,’ kata Baba, ‘Kay sayang nggak sama Mama?’

‘Shayang.’

‘Sama Baba sayang nggak?’

Ia berbalik lagi dan memeluk leher Baba, ‘Shayang,’ katanya. Tapi wajahnya masih menyisakan kesedihan.

‘Kay tadi makan apa?’ tanya Baba lagi, berusaha membujuk.

‘Makan nashi,’ jawab Kay.

‘Pake apa?’

‘Pake shayul.’

‘Sayur apa?’

‘Shayul bayem melah.’

‘Terus lauknya apa?’

Diam. Dia berusaha mencerna apa itu “lauk”, kata yang jarang ia dengar.

‘Tempe goreng? Tahu goreng?’ tanya Baba memancing.

‘Tahu goleng.’

‘Kay suka tahu goreng?’

‘Shuka.’

‘Enak ya? Kalo enak, tangannya gimana?’

Kay mengacungkan jempolnya.

‘Terus makan apa lagi? Makan pepaya?’

‘Mi,’ katanya.

‘Makan mi?’

‘Pake agel.’

Hah? Makan mie pakai agar? Model mana lagi nih? Baba harus minta penjelasan dari Bibi atau Teteh.

Tiba-tiba Kay menarik baju Baba, meminta Baba berbaring pada sisi kanan.

‘Bobo,’ katanya sambil memeluk leher Baba, ‘di bantal.’

Maksudnya Baba harus berbaring dengan kepala di bantal. Tak lama kemudian ia terlelap.

Setelah Kay tertidur Baba bertanya pada Teteh mengenai mie dan agar. Rupanya pada saat berbuka puasa, Kay ikut-ikutan heboh dan minta es buah dengan bahan utama melon dan blewah yang diparut panjang serta agar-agar.

Terus kenapa menangis?

‘Nggak mau pake celana dalam. Terus kan baju piyamanya kekecilan, dia minta “dibenelin”,’ kata Teteh sambil memeragakan menarik-narik lengan baju, ‘kan nggak bisa. Nangis.’

Wah, anak tertib. Jika lengan panjang piyamanya tidak menutupi pergelangan ia memang tidak suka. Demikian juga dengan celana panjang piyama. Harus menutupi hingga pergelangan kaki. Jika bajunya tertarik sehingga perutnya terbuka ia pasti langsung menutupinya lagi.

Sep 12, 2007

'AH!' Katanya Memprotes

‘Gendong!’ suara anak lelaki di sebelah Baba membuyarkan impian. Baba membuka mata dan mendapatkan Kay sudah duduk bersila. Matanya masih setengah terbuka dan mulutnya cemberut. Secara keseluruhan ia masih terlihat amat sangat mengantuk.

‘Gendong!’ katanya lagi.

Dengan susah payah dan mata yang masih lengket, Baba menggendong Kay dan mulai mengayun-ayunnya.

‘Ke shana!’ katanya sambil menunjuk asal-asalan ke arah pintu.

Di luar kamar ia merosot turun. Masih dengan mata setengah terpejam. Baba melirik ke jam dinding. 05:30.

‘Pipis dulu yuk,’ ajak Baba, ‘pipis sama Teteh ya.’

Baba hampir tak kuasa menahan kantuk.

‘AH!’ protesnya, ‘shama Baba aja.’

Baba menggandeng tangannya.

‘AH!’ protesnya lagi, ‘gendong aja!’ katanya sambil mengangkat kedua tangannya.

Baba kembali menggendong Kay dan berjalan terseok-seok ke kamar mandi.

Setelah selesai pipis Kay kembali mengembangkan “sayapnya.”

Baba kembali menggendong Kay dan berjalan terseok-seok kembali ke kamar.

‘Bobo lagi ya,’ kata Baba, ‘Baba ngantuuk sekali.’

Di tempat tidur ia segera memeluk leher Baba dan memejamkan mata. Baba segera terlelap. Dan terbangun beberapa saat kemudian karena merasa geli di belakang lutut.

Kay sedang asyik mengorek-ngorek belakang lutut Baba dengan telunjuknya.

‘Dikodek-kodekin,’ katanya sambil nyengir.

‘Aduuh, jangan dong! Geli! Baba kan mau bobo dulu sebentar lagii aja,’ mohon Baba sambil menggesernya. Baba kembali terlelap.

Dan terbangun kembali dengan rasa geli di tempat yang sama.

‘Dikodek-kodekin,’ kata Kay dengan cengiran yang lebih lebar. Baba menghentikan kegiatannya dengan menurunkan Kay dari tempat tidur.

Ia segera lari keluar kamar. Baba terlelap kembali.

Telepon berdering. Suara Mama menyambut telinga Baba. Kay yang sudah mandi dan rapi mendekat. Baba meletakkan gagang telepon ke telinganya.

‘AH!’ katanya memprotes, lalu melarikan diri ke dapur sambil menyeret sapu.

Sep 8, 2007

Mengabsen Isi Kamar

‘Kaki! Celana!’ seru Kay sambil memegang apa yang disebutkannya.

Kay sudah berada di tempat tidur, sudah siap bobo, tapi masih berusaha menahan kantuknya dengan menolak untuk berbaring. Ia duduk di dekat jendela.

‘Baju!’ lanjutnya.

‘Kaki!’ serunya lagi.

‘Kaki. Terus?’ Baba menimpali.

‘Celana!’

‘Celana. Terus?’

‘Baju!’

‘Baju. Terus?’

‘Kelil!’ Kay menunjuk dadanya.

‘Kayril. Terus?’

‘Baba!’

‘Baba. Terus?’

‘Golden!’

‘Gorden. Terus apa lagi?’

‘Hehehehehe! Tembok!’

‘Terus apa lagi?’

‘Bantal!’

‘Terus?’

‘Langit-langit!’ ia tengadahkan kepalanya.

‘Terus apa lagi?’

‘Atap lumah! Hahahahaha!’

‘Terus?’

‘Lemali!’

‘Lemari. Terus?’

Ia ragu sejenak. Mencari-cari apa lagi yang ada di dalam kamar. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.

‘Lantai!’

‘Terus apa lagi?’

‘Tembok!’

‘Tadi udah disebut,’ sergah Baba.

‘Golden!’

‘Itu juga udah disebut,’

Kay tampak kehilangan akal. Wajahnya kelihatan bertanya-tanya apa lagi yang bisa ia sebutkan yang ada di dalam kamar ini.

‘Itu apa?’ tanya Baba sambil menunjuk ke alat pengatur suhu udara.

‘A-she,’ jawabnya.

‘Itu apa yang menyala di atas?’

‘Lampu.’

‘Udah, yuk, kita bobo dulu,’ ajak Baba sambil merebahkan tubuhnya.

Kay senyam-senyum sambil menggosok-gosok telapak tangannya, lalu ia mengoleskan tangannya ke pipi Baba.

‘Mmm, ashik,’ katanya sambil nyengir, ‘ashik.’

‘Asyik apaan?’ tanya Baba keheranan.

Yang ditanya nyengir sambil membuang muka, lalu—DUUK!!—jidatnya membentur tembok.

Ia berbalik, memegang jidat. Baba menunggu ledakan tangis. Tidak ada. Kay hanya memegangi jidat sambil berkata, ‘Pake minyak tawon.’

‘Ok. Baba ambilin dulu, ya,’ kata Baba sambil berjalan keluar kamar mengambilkan apa yang diminta.

Setelah Baba masuk ke kamar lagi, ia langsung menyodorkan jarinya. Baba mengoleskan minyak gosok itu ke jari mungil Kay, lalu Kay menggosok-gosokkan jari berminyak itu ke jidatnya yang mulai memerah.

‘Makanya bobo aja, ya. Itu tandanya Kay sudah mengantuk,’ kata Baba.

Kangen?

‘Piggibeng!’ seru Kay sambil bangkit dari duduknya.

‘Piggibeng!’ serunya lagi sambl berjalan ke arah dipan tempat si Piggibeng disimpan.

Baba menghampiri Kay dan bertanya.

Piggy Bank dari siapa, Kay?’

‘Dali Mama.’

‘Dari Mama? Kay kangen nggak sama Mama?’

‘Duuuh,’ jawabnya sambil meraih leher Baba untuk dipeluk, ‘shayang. Shayang,’ katanya sambil mengusap-usap rambut Baba.

‘Gendong,’ pintanya manja.

‘Kayril anak siapa sih?’ tanya Baba.

‘Anak Mama,’ jawabnya.

Bawang

Di dapur Kay asyik memandangi Bibi mengupas bawang merah. Ia lalu menghampiri wadah bawang merah dan mengambil sebutir.

'Hey, untuk apa bawangnya diambilin?' tanya Baba.

'Untuk kerokan,' jawab Bibi. Kay sedang asyik menggosok-gosok bawang itu ke kakinya.

'Ya udah, kalau untuk kerokan ambil aja satu, Kay,' perintah Baba pada Kay yang masih saja memilih-milih bawang lainnya.

'Ambil satu aja,' kata Baba lagi.

Kay masih memilih-milih bawang.

'Satu aja,' kata Baba sekali lagi.

'Ambil dua!' katanya menawar sambil mengambil sebutir bawang merah lagi, lalu menggosok-gosokkan keduanya ke kakinya.

Biscotti

Pagi ini Baba sarapan biscotti sambil sesekali menyuapkannya pada Kay. Tampaknya ia doyan. Tak satupun tawaran biscotti dari Baba ditolaknya.

‘Mmmm!’ katanya pada suapan kedua.

‘Mmmm enaak!’ katanya pada suapan ketiga.

Potongan terakhir biscotti kini berada di tangan Baba.

‘Siapa yang mau habiskan ini? Baba atau Kay?’ tanya Baba.

Kay menjawab dengan menangkap dan medorong tangan yang memegang potongan terakhir biscotti itu ke dalam mulutnya.

Laporan Bibi

‘Lucu dia kemarin,’ kata Bibi memulai laporannya tentang Kay.

‘Kenapa?’ tanya Baba.

‘Duduk di meja makan, makan sendiri.’

‘Hah? Udah bisa makan sendiri?’

‘Iya. Kemarin sore dia makan sendiri.’

‘Pake apa?’

‘Pake telor dadar. Bibi bikinin telor dadar pake bawang merah dan daun bawang.’

‘Ya ampuun.’

‘Sambil suap dia suka bilang “mmm enaak” gitu. Bibi liatin aja dari dapur. Bibi bilang ke Iis, “Biarin aja Is, liatin aja.” Habis makannya.’

‘Habis? Pintar!’

‘Berantakan sih,’ kata Teteh Iis, ‘tapi kalo ada nasi jatuh ke meja diambilin. Habis itu mejanya dilapin sama dia.’

‘Berantakan nggak apa-apa, namanya juga lagi belajar,’ kata Baba.

‘Waktu itu,’ kata Teteh Iis memulai, ‘dia mau makan ngeliat tahu goreng di meja, langsung bilang “pake tahu. Pake tahu.” udah diambilin tahunya dia bilang lagi “pake shambel. Pake shambel.”’

‘Hahahaha! sok tahu banget sih!’ tawa Baba berderai mendengarnya, ‘kasih aja, biar tahu.’

‘Kalo ada mah nggak mau!’ timpal Bibi, ‘“Huh-hah!” katanya.’

Ada-ada aja si Kay ini.

Permintaan Khusus

Baba menyalakan komputer. Kay menghampiri. Baba duduk di kursi dan mengangkat Kay ke pangkuan Baba.

Lalu ia berkata:

‘Tulish ayam.’

Jadi Baba tuliskan:

Ayam

Sep 2, 2007

Kejutan Di Rumah

‘Mobil siapa itu, Kay?’ kata Baba sambil menunjuk mobil hijau yang diparkir di dalam garasi. Kami baru saja pulang dari rumah Yangti.

Kay yang sudah mengantuk kembali segar. Senyumnya berubah menjadi teriakan kegirangan.

‘Engki!!!!’ serunya girang lalu sekonyong-konyong melonjak-lonjak di jok mobil.

Kakek dan Nenek dari Subang ternyata hari itu datang ke rumah. Bocah yang di mobil tadi matanya sudah setengah terpejam kembali segar. Ia berlari-larian keliling rumah. Ia tertawa-tawa girang sambil berlari takut setelah meminta Kakek memutar tutup gelas. Ia berteriak-teriak tidak keruan. Ia menggigit Kakek, menarik-narik rambut Nenek, minta gendong Kakek dan mengacak-acak lalap teman makan ayam bakakak. Pokoknya heboh sekali!

Setelah puas bermain, Kay dipersiapkan untuk bobo oleh Teteh Iis. Disikat giginya, cuci kaki, tangan dan muka, lalu mengenakan piyama. Dengan sedikit bantuan, Kay bisa memakai baju piyamanya sendiri.

‘Bobo sama siapa?’ tanya Baba setelah ia siap.

‘Shama Baba,’ jawabnya sambil menggandeng tangan Baba.

‘Bilang apa sama Teteh?’

‘Teh, Kay mau bobo dulu, ya.’

‘Kay sudah dibantu sama Teteh hari ini. Kalau sudah dibantu bilang apa?’

‘Telima kashih. Dadaaaaa!’ serunya sambil melambaikan tangan.

Di kamar, Kay menyalakan AC, berguling-guling dan bertingkah untuk yang terakhir kalinya di hari itu.

Ia minta diantar pipis. Setelah selesai dan kembali masuk ke kamar, ia memaksa minta minum air putih.

‘Benar-benar diminum ya,’ kata Baba yang mengetahui bahwa ia punya kenakalan baru yang sebentar lagi akan Baba jabarkan.

Baba mengambilkan air yang diminta. Kay meminum air itu lalu berkumur-kumur.

‘Hayo, telan!’ perintah Baba.

Dan ia menyemburkan air di dalam mulutnya, membasahi bajunya dan kasur.

Sebagai hukuman, Kay mendapatkan sentilan ringan di kedua tangan, omelan dari Baba dan harus berjanji untuk tidak mengulangi tindakan itu.

‘Hayo bilang: Kay berjanji tidak akan—’

‘—nyembul-nyembulin ail lagi.’

Kemudian, karena kelelahan ia segera terlelap.

Celotehan Di Dalam Mobil

‘Ini, pake ini,’ kata Teteh sambil menyelimuti kaki Kay dengan selimut yang selalu kami bawa, ‘dingin kakinya kena AC di depan.’

‘Ituu,’ katanya sambil menunjuk ke luar mobil.

‘Apa itu?’ tanya Teteh.

‘Bendela,’ jawab Kay, ‘Bendela beshal.’

‘Mana?’ tanya Teteh lagi, ‘itu mah bendera kecil.’

‘Bendela beshal ituu!’ kata Kay tak mau kalah.

‘Oh, di sana ada bendera besar, yang itu ya?’ kata Teteh sambil menunjuk ke umbul-umbul merah putih.

‘We-she!’ kata Kay.

‘Mana WC?’ tanya Teteh dan Baba sambil tertawa.

‘Itu,’ kata Kay sambil menunjuk ke tong plastik tempat menyimpan air.

‘Itu sih tempat cuci motor, Kay,’ kata Teteh.

Tempat yang ditunjuk Kay sebagai WC memang sebenarnya tempat cuci motor.

‘Yeeeeee!!! Malah dibuka!’ seru Kay sambil membuka selimut yang menutupi kakinya itu.

‘Eeh, jangan dibuka, nanti dingin,’ kata Teteh. Lalu Teteh menutupi kaki Kay dengan sajadah bergambar ayam yang diberikan Uwa Mia sebagai penambah selimut.

Sajadah itu diangkat oleh Kay menutupi kepalanya.

‘Kay mana yaaaaa?’ katanya dengan suara dibuat-buat.

Lalu ia berpaling dan tangannya mulai memegang-megang pengunci pintu mobil.

‘Bahaya, Kay,’ kata Baba memperingatkan, ‘kamu mulai bosan ya, dari tadi macet melulu.’

‘Ketombe!’ serunya tiba-tiba.

‘Ketombe apaan?’ tanya Baba keheranan.

‘Shing shashe!’ katanya lagi.

Sachet? Sachet apa?

‘Ooh, sampo sashe punya Bibi ya? Anti ketombe ya?’ tanya Teteh sambil tertawa.

‘We-she! Kamal itu,’ kata Kay lagi sambil asal-asalan menunjuk ke rumah di tepi jalan.

‘Yee, asal!’ kata Teteh.

Lalu hening. Celotehnya yang sejak tadi meramaikan perjalanan ini tiba-tiba saja berhenti. Baba menoleh dan mendapatkan Kay sedang menguap lebar-lebar. Di bawah matanya muncul garis yang menandakan ia mengantuk.

‘Wah, baterainya habis nih?’ goda Baba. Ia cuek. Sudah mengantuk sekali tampaknya. Hehehe, lagian siapa suruh nggak bobo siang, Kay?

Dalam Perjalanan Pulang

‘Mau ke depan,’ kata Kay.

‘Iya, sebentar ya, kantong plastiknya disingkirin dulu,’ kata Baba sambil memindahkan kantung plastik berisi belanjaan dari jok depan.

‘Mau ke depan!’ geramnya menandakan ia mau pindah ke depan sekarang. Kami sedang berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang setelah seharian main di rumah Yangti. Di dalam mobil Kay memang biasanya duduk di kursi tengah bersama Teteh Iis.

‘Mau ke depan!’ rengeknya lagi.

Untung saat itu situasi lalu lintas sedang macet, sehingga dengan mudah Kay bisa dipindahkan ke depan, duduk di kursi penumpang di sisi supir.

‘Pake shabuk pengaman,’ pintanya.

Teteh segera memakaikan sabuk itu. Kay tersenyum-senyum gembira, ‘Mobil!’ katanya sambil menunjuk ke depan.

Kay sangat menikmati perjalanan pulang itu, meskipun lasak dan tangannya beberapa kali memegang tuas persneling yang menyebabkan ia berkali-kali ditegur Baba.

Tangannya yang bertualang menemukan kotak penyimpan koin. ‘Ambil ini,’ katanya sambil mengambil beberapa koin dari dalam kotak itu.

‘Mashukin ke shini,’ ucapnya sambil memindahkan koin ke dalam kotak di bawah tape mobil, tempat Baba meletakkan uang ribuan untuk bayar tol.

Ia melakukan hal itu berkali-kali hingga seluruh koin berpindah tempat.

‘Lampu,’ katanya sambil menunjuk ke lampu jalan yang berpendaran di luar.

‘Tos dulu dong,’ kata Baba sambil menyodorkan tangan kiri untuk ditepuk oleh Kay.

Kay menepuk tangan Baba, memberikan high five.

‘Tos jempol,’ pinta Baba. Biasanya kalau Baba meminta ini, kami akan mengadu jempol kami.

‘Nyupil, nyetil aja!’ kata Kay sambil menunjuk ke setir mobil.

Waduh, dimarahin, hehehehe!

Sajadah Ayam Dari Uwa Mia

‘De, ini sajadah dari Mia,’ kata Bude sambil memberikan sebuah bungkusan.

Baba membuka bungkusan itu dan menunjukkan sajadah bergambar dua ekor ayam sedang makan kepada Kay.

‘Ayam,’ katanya, ‘ayam dua.’

‘Iya, gambarnya ayam ya?’

‘Bebek,’ katanya sambil menunjuk barisan anak ayam yang menghiasi sajadah itu, membatasi pemandangan dua ekor ayam yang sedang makan dan pemandangan alam.

Baba menggelar sajadah itu di lantai.

Begitu sajadah itu digelar, Kay langsung merebahkan diri di atasnya.

‘Tilam ompol,’ katanya.

Waduh, Uwa Mia, nggak ada yang ngajarin ini, lho! Hahahaha!

Sep 1, 2007

Laporan Kakak dan Yangti

Baba sedang di supermarket membeli kebutuhan Kay. Karena belanja sudah hampir selesai, Baba menelepon Yangti yang mengajak Kay berkeliling Bintaro Plaza sementara Baba berbelanja.

‘Ma, di mana?’

‘Ini di lantai 2, si Kay lagi ngeliatin ikan,’

Uh-oh, sounds like potential trouble, pikir Baba.

‘Oh, ok. Senang dia?’

‘Senang banget. Udah ya?’

‘Ok.’

Baba kembali berkeliling mencari barang-barang yang dibutuhkan, lalu mengantri di kasir.

Sementara menunggu transaksi selesai, Baba menelepon Kakak.

‘Di mana? Aku hampir selesai nih, lagi bayar.’

‘Di atas,’ suara Kakak terdengar agak kerepotan, ‘lagi mau turun. Anakmu ngamuk. Nggak mau berhenti ngeliatin ikan.’

I knew it.

‘Oh, ok. Aku di kasir ya.’

Lima menit kemudian mereka tiba di pandangan. Kay sudah terlihat cerah ceria dan mulai meraba-raba atau meraih segala sesuatu yang ada dalam jangkauan tangannya. Senyumnya nakal sekali.

‘Wah! Dia ngamuk, nggak mau disuruh berhenti,’ kata Yangti.

‘Si Teteh dijambak!’ kata Kakak.

‘Kerudungku ditarik,’ kata Yangti lagi, ‘Sakit Is, dijambak sama dia?’ tanya Yangti ke Teteh Iis.

‘Ah, itu mah sudah biasa,’ jawab Teteh santai.

‘Awalnya sih tenang-tenang aja. Dia senang ngeliatin ikan,’ kata Kakak, ‘sambil tidur-tiduran.’

Hah? Tidur-tiduran? Tidur-tiduran gimana? Di lantai? Waduh.

‘Lama kelamaan dia gemas sama ikannya. Airnya mulai dimainin. Karena takut basah dan nggak bawa baju ganti, kita suruh berhenti. Eh, malah ngamuk,’ kata Yangti.

‘Iya, mana nggak ada yang kuat lagi,’ kata Kakak sambil tertawa, ‘dia besar dan berat sekali sih!’

Yang sedang dilaporkan ke ayahnya asyik berjalan digandeng Yangti sambil mencolek dan meraih apapun yang bisa diraih dan dicolek oleh tangannya yang lain.

Ke Rumah Yangti

Mobil sudah keluar dari garasi dan diparkir rapi di depan rumah. Kay duduk manis di dalamnya. Kami sedang menunggu Teteh Iis mengunci pintu sebelum berangkat ke rumah Yangti mengambil sepatu baru Kay yang dibelikan oleh Kakak kemarin.

Teteh Iis masuk ke mobil dan menanyakan apakah Baba sudah mematikan komputer. Karena tidak yakin, Baba masuk kembali ke rumah dan mendapatkan komputer sudah mati, namun monitornya belum.

Telepon berdering.

‘Halo,’

‘De, udah mau ke sini? Si Mama mau kondangan, siang ini dan malam nanti. Nanti kalau ke sini Mama nggak ada kasihan si Kay,’ kata Kakak.

‘Wah, udah siap tuh. Mobil udah keluar, si Kay lagi nunggu di dalam.’

‘Wah, gimana ya? Ngomong langsung sama Mama aja deh.’

Kakak menyerahkan telepon ke Yangti yang menjelaskan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Kakak.

‘Oh, ya sudah,’ kata Baba, ‘kalau begitu aku ke sananya besok aja ya.’

Telepon Baba tutup, dan Baba segera ke mobil.

‘Nggak jadi ke Yangti,’ kata Baba pada Teteh Iis, ‘kita ke Carrefour aja, beli susu dan sayuran Kay.’

Baba masuk ke dalam mobil sementara Teteh Iis menyelesaikan tugas menutup semua pintu dan jendela rumah.

‘Kita beli susu aja ya, Kay,’ kata Baba, ‘Yangti mau pergi soalnya.’

Kay menggeram marah, ‘Ke lumah Yangti aja!’

‘Yangtinya nggak ada, mau pergi. Nanti nggak ketemu. Kita beli susu aja, ke rumah Yangtinya besok aja, ya?’

‘Jangan beli shushu aja! Ke lumah Yangti aja!’ rengek Kay, tangisnya hampir meledak.

Akhirnya Baba mengalah.

‘Ok, ok. Kita pergi ke rumah Yangti.’

Di jalan Baba menelepon Yangti menjelaskan apa yang terjadi dan bahwa akhirnya kami akan tetap ke sana juga.

Yangti tertawa.

Di perjalanan, Kay sama sekali tidak mau disuruh apapun. Ia masih ngambek karena Baba sempat bilang tidak jadi ke rumah Yangti.

Ketika Baba minta tos, ia menolak. Disuruh menyanyi ia menolak. Disuruh menari ia menolak.

‘Jadi Kay maunya ngapain?’ tanya Baba.

‘Ke lumah Yangti!’ jawab Kay sambil cemberut.

Aug 26, 2007

Ke Dokter

‘Kayril, pasien dr. Bambang,’ suara suster terdengar memanggil Kay.

Baba segera menggiring Kay masuk ke dalam ruang periksa.

Begitu mengenali ruang yang ia masuki, Kay terlihat agak panik. Ia memeluk kursi, dan memanggil-manggil Teteh Iis. Baba menangkapnya dan memangkunya di kursi di hadapan dokter.

‘Kenapa nih?’ tanya dr. Bambang sambil memeriksa buku kesehatan Kay, ‘wah, 18.5 kg? Cepet amat naiknya! Balas dendam nih?’

‘Iya, makannya lagi bagus,’ jawab Baba, ‘batuk-batuk nih, Dok. Kayaknya sih alergi.’

‘Alergi apa?’

‘Mungkin keju. Soalnya karena melihat dia makannya lahap kalau pake keju, Bibi di rumah selalu ngasih keju setiap dia makan.’

‘Ngetesnya gampang, Pak,’ kata dr. Bambang, ‘coba hentikan kejunya seminggu ini sampai batuknya hilang. Setelah itu berikan lagi. Kalau batuknya muncul lagi, ya apa boleh buat,’ ia memandang Kay, ‘berarti kamu harus makan keju Belanda yang bau itu,’ lanjutnya sambil tersenyum.

Kay sedang asyik bermain dengan stempel dr. Bambang. Stempel itu dicap berulang kali ke meja.

‘Yuk, periksa dulu yuk,’ ajak dr. Bambang.

Di ranjang periksa, Kay berontak.

‘Shama Baba aja,’ katanya saat dr. Bambang menempelkan stetoskop ke dadanya, ‘Teteeeh!! Bibiii!! Iiiiiis!!’ ocehnya tak keruan.

‘Ya ampuun, kuat amat sih,’ kata dr. Bambang mengomentari, ‘sebentar ya sayang, satu lagi. Kan mulutnya belum dilihat.’

Kay membuka mulutnya lebar-lebar.

‘Waduh, pinter amat,’ kata dr. Bambang.

‘Keluarin lidahnya,’ perintah Baba.

Kay mengeluarkan lidahnya sepanjang mungkin.

‘Wah, pintar,’ puji dr. Bambang lagi, ‘sudah,yuk.’

Kembali ke meja, dr. Bambang langsung menuliskan resep obat yang harus diminum Kay.

‘Ini obat batuknya saya kasih dua ya, Pak,’ katanya, ‘yang satu harus habis, yang satu lagi bisa diulang.’

‘OK, Dok’ jawab Baba, ‘apakah memang alergi, Dok?’

‘Mendengar batuknya sih kayaknya memang alergi, ya,’ jawab dr. Bambang.

Kay kembali bermain dengan stempel dr. Bambang. Baba mengambil stempel itu dan mencap lengan Kay.

Kay memperhatikan lengannya yang baru saja Baba cap.

‘Lunash,’ katanya yakin.

Dr. Bambang dan suster tertawa. ‘Kamu taunya lunas aja, itu yang ada di meja Bapak, ya?’ canda dr. Bambang.

‘Ayo, Kay sudah dibantu dr. Bambang. Harus bilang apa?’ kata Baba sambil menggiring Kay keluar ruang periksa.

‘Telimakashih!’ jawabnya nyaring.

‘Terima kasih kembali,’ kata dr. Bambang.

Tamu Istimewa

Hari Jumat kemarin Kay kedatangan tamu istimewa: Teh Anya dan Teh Adel, sepupu dari Bandung. Mereka ke Jakarta untuk menemani Uwa Abah ikut dalam family gathering kantor tempat Uwa Abah bekerja. Tentu saja Uwa Neneng, istri Uwa Abah, dan Uwa Uyun, kakak Uwa Abah, ikut serta.

Ketika Teh Anya datang, Kay langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.

‘Shono. Shono,’ katanya. Dalam bahasa Sunda sono berarti kangen.

Lalu ke mana pun Teh Anya pergi, Kay mengekor dan memanggil-manggil.

Waktu Baba pulang dari kantor, malam harinya, Kay masih terjaga. Ia sedang duduk di pinggir kasur depan TV. Piano kecil mainannya berada di pangkuan.

'Wah, ada siapa Kay?’ tanya Baba.

‘Shedang main piano,’ jawab Kay. Waduh, nggak bisa diganggu nih, kalau lagi main piano?

‘Sudah ngantuk ini,’ kata Uwa Uyun dengan logat Sunda yang kental, ‘dari tadi udah nguap aja.’

‘Ya sudah. Main saja dulu sama Teh Anya dan Teh Adel, nanti kalau Baba sudah makan dan bersih-bersih kita bobo, ya,’ kata Baba.

‘Iya,’ kata Uwa Uyun lagi, ‘tadi mau dikelonin malah ajrut-ajrutan, lulumpatan di kasur.’

Setelah Baba makan dan membersihkan badan, Baba mengajak Kay tidur. Seperti biasa ia berpamitan pada semua orang sebelum masuk ke kamar. Di kamar, setelah berdoa Kay segera tidur lelap, namun tidur Kay diganggu oleh batuk hebat setelah tengah malam.

* * *

Sabtu kemarin, sekembalinya dari dokter, Kay yang tertidur di jalan dibaringkan Uwa Uyun di kasur depan TV. Ia belum bersalin dengan piyama dan belum cuci kaki dan tangan.

‘Kalo diganti baju dia ngamuk nggak?’ tanya Uwa Uyun.

‘Nggak,’ jawab Baba.

Dan Kay memang dengan manis menurut saja saat bajunya diganti dengan piyama. Akan tetapi, proses penggantian baju itu membuat ia terbangun dan, melihat Teh Anya dan Teh Adel, menahan kantuknya. Kay memaksa dirinya bermain dengan kedua sepupunya itu.

‘Kay, bobo yuk,’ ajak Baba.

Kay cuek.

‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba, ‘sama Bibi, Baba atau Teteh Iis?’

‘Shama Teh Anya aja!’ jawabnya.

Ia lalu berbaring dan memeluk leher Teh Anya yang duduk di sebelahnya, mengajaknya berbaring juga. Teh Anya menuruti permintaan Kay dan berbaring memeluk Kay.

‘Ajak ke kamar aja, Nya,’ kata Uwa Uyun.

Teh Anya dan Teh Adel segera membimbing Kay masuk ke kamar. Baba sempat melihat mereka bertiga naik ke tempat tidur saat Baba menutup pintu kamar.

Suasanya senyap di kamar membuat Baba penasaran.

‘Bi, coba tengok anak-anak itu lagi ngapain?’ pinta Baba pada Bibi.

Bibi melongok kamar sejenak lalu tertawa-tawa.

Kunaon?’

‘Itu si Kay lagi dikelonin sama Adel,’ jawab Bibi, ‘coba tengok aja, hihihi.’

Baba melongok ke kamar dan melihat Kay sedang memeluk Teh Anya dengan erat. Wah, dia menikmati sekali dikeloni oleh kakak-kakaknya ini. Setelah memeluk Teh Adel ia memeluk Teh Anya lalu kembali memeluk Teh Adel.

Beberapa menit kemudian, suasana riuh kembali mewarnai kamar tidur. Baba melongok dan mendapatkan ketiga anak itu sedang bermain di lantai.

‘Kay-nya ngajak turun,’ kata Teh Anya menjelaskan.

Melihat waktu sudah menunjukkan jam 22.15, Baba mengambil alih. Kay Baba baringkan di tempat tidur dengan Teh Adel di sisi kanan Kay dan Teh Anya di sisi kiri Kay. Baba berbaring dekat kaki mereka. Kay masih berusaha mengajak kedua kakak sepupunya bermain-main.

‘Kay bobo sama Baba aja ya,’ kata Baba.

‘Shama Teh Anya aja,’ katanya sambil berbaring, menutup mata dan memeluk Teh Anya.

Sesaat kemudian ia kembali lasak.

‘Kalau masih lasak aja, bobonya sama Baba ya,’ kata Baba lagi.

‘Shama Teh Anya aja!’ katanya lagi, kali ini ketiaknya berada di kepala Teh Anya.

Tak berapa lama kemudian Teh Adel turun dan beranjak keluar. Teh Anya menyusul. Kay menangis.

Baba segera memeluk dan menenangkan Kay. Ia sudah mengantuk sekali.

‘Gendong Baba aja,’ katanya sambil naik ke badan Baba.

‘Gendong?’

‘Gendong Baba aja,’ katanya lagi.

Baba menggendong Kay hingga ia hampir lelap, lalu meletakkannya kembali di kasur dan, sejenak kemudian, Kay segera terlelap.

Aug 22, 2007

Sudah Besar

Baba mendudukkan Kay di perut Baba.

‘Kay sudah besar ya?’

‘Shudah.’

‘Sudah besar bisa apa?’

‘Bisha nyanyi.’

‘Nyanyi apa?’

Diam.

‘Nyanyi apa?’

Diam.

‘Gimana nyanyinya?’

Tersipu dan berusaha berbaring di kasur.

‘Eh, tunggu dulu,’ kata Baba menahannya, ‘Kay sudah besar ya?’

‘Shudah. Shudah beshal.’

‘Sudah besar bisa apa?’

‘Bisha nali.’

‘Gimana menarinya?’

Kay mengangkat lengannya lalu memutar-mutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

‘Ooh, gitu menarinya…kalau nyanyi gimana?’

‘Aaah…’ katanya sambil tersipu dan merebahkan diri di kasur.

Aug 21, 2007

Jontor: The Aftermath

Sekadar kabar terakhir mengenai perkembangan bibir jontor si bocah lasak.

Secara ajaib, sejak kemarin jontornya hampir tidak ketara lagi dan bahkan hari ini sudah terlihat normal.

Sariawan yang Baba khawatirkan akan muncul juga tidak terlihat dan selera makannya sama sekali tidak terganggu.

Lasaknya? Masih, masih lasak. Tadi pagi dia masuk ke kamar hanya untuk menjilat baju Baba dan buru-buru lari lintang pukang keluar kamar sambil teriak-teriak tidak karuan saat Baba bangun karena dijilat.

Aug 19, 2007

Jontor

Baba baru saja menutup kulkas saat melihat Kay terjerembab di dekat meja makan. Tangisnya langsung mengalahkan suara televisi. Baba segera menggendong dan memeriksa apakah ada tangan atau kaki yang keseleo. Kelihatannya aman, tapi Kay masih tampak kesakitan sambil sesekali memegang mulutnya.

‘Mana yang sakit?’ tanya Baba.

‘Ini,’ jawab Kay di sela tangisnya sambil memegang bibir atas. Rupanya ketika jatuh giginya bertumbukan dengan bibir dan mengakibatkan luka. Bibir atas Kay berdarah. Tidak banyak memang, tapi pasti perih.
Baba merebahkan Kay di tempat tidur dan menutulkan handuk ke lukanya, setelah itu luka tersebut segera diobati. Kay diam sejenak dan menjilati bibir atasnya. Pasti akan jontor nih, pikir Baba, mungkin besok akan sariawan.
‘Makanya, Kay dengerin dong kalo dikasih tahu sama Baba dan Bibi,’ kata Baba sambil menutulkan obat ke bibir Kay, ‘kan tadi udah disuruh di atas tempat tidur aja. Lantainya kan licin lagi dipel sama Bibi. Kay turun mau apa sih?’
Tangisnya merebak kembali. ‘Minta geddong aja,’ rengeknya. Baba kembali menggendong Kay yang dengan manja segera meletakkan kepalanya di bahu. Beberapa menit kemudian tangisnya berhenti.
‘Baba mau makan dulu ya?’
‘Gendong aja!’ rengeknya.
‘Jadi Baba nggak boleh mamam?’
‘Gendong aja!’ tubuhnya diayun-ayunkan tidak keruan.
‘Coba lihat bibirnya,’ kata Baba sambil mengatur posisinya sehingga ia menghadap Baba. Sudah mulai membengkak. Jontornya jadi, hehehe.
‘Uuh!’ katanya memprotes sambil kembali meletakkan kepalanya di bahu Baba.
Jangan kuatir, Ma. Jontornya kecil kok, nyaris nggak kentara. Hanya saja sekarang dia jadi suka memonyong-monyongkan bibir atasnya. Mungkin gara-gara jontor itu rasanya jadi agak aneh ya, hehehe.

Aug 18, 2007

'Pake Kaush Kaki Shama Baba'--'Nyangkut'--'Mashukin Shini'

‘Pake kaush kaki shama Baba!’

Baba menghampiri suara itu dan mendapatkan Kay sedang duduk di lantai. Tangannya memegang sebuah kaus kaki. Pasangan kaus kaki di tangannya itu telah terpasang secara serampangan di kaki kanannya.

‘Pake kaush kaki,’ katanya lagi.

‘Pakai sendiri, dong,’ kata Baba.

‘Pake shama Baba aja!’ kata Kay minta Baba memakaikan kaus kaki. Kaus kaki untuk anak setahun itu hanya sampai ke mata kaki Kay. Setelah itu ia bangkit dan mulai melompat-lompat.

‘Awas nanti jatuh,’ kata Baba memperingatkan.

Kay mendekati kotak mainannya dan menarik kuda terbang. Gagal. Ia menarik lagi. Gagal lagi. Baba mendekat dan melihat bahwa tali penarik sayap si kuda terbang tersangkut pada mainan lainnya.

‘Nyangkut,’ kata Kay.

‘Iya,’ jawab Baba, ‘nyangkut ke gogok.’

Baba melepaskan kuda terbang dari kolintang berbentuk anjing itu dan mengepakkan sayapnya. Kay tersenyum dan meraih si kuda terbang dari tangan Baba.

Puas bermain dengan kuda terbang, Kay melesat ‘terbang’ ke ruang depan.

‘Pake kaush kaki shama Baba,’ katanya.

‘Kenapa?’ tanya Baba sambil mendekat. Rupanya sebelah kaus kakinya copot.

‘Sini,’ kata Baba, ‘gini cara makainya: pegang di sini, masukkan semua jari kaki dan tarik sampai ke mata kaki.’

Dengan kaus kaki kekecilan terpasang lagi, Kay menuju ke luar rumah.

‘Awaas, awaas,’ kata Kay memperingatkan diri sendiri saat ia melangkahi mainannya yang berserak di lantai.

‘Buka,’ katanya sambil menarik gagang pintu yang masih terkunci. Ia tersenyum saat melihat Baba mengambil kunci pintu.

‘Mashukin shini,’ perintahnya.

‘Masukin ke mana?’ tanya Baba.

‘Mashukin ke shini,’ Kay mengulangi perintahnya sambil menunjuk ke lubang kunci.

Baba memasukkan kunci ke dalam lubangnya dan bertanya lagi.

‘Terus diapain?’

‘Dibuka,’ jawab Kay.

Kay baru saja duduk di kursi di teras depan rumah saat Bibi memanggil dan menyuruhnya mandi. Dengan teriakan kegirangan Kay melesat masuk rumah menuju kamar mandi.

'Kay Mau Ke Shubang!'

‘Mama pulang dulu ya,’ demikian suara Nenek membangunkan Baba. Sebelum Baba sempat menjawab, Kay menyeruak masuk, air mata berderai di pipinya.

‘Kay mau ke Shubang!’ rengeknya.

Baba menggendong anak itu dan membujuknya.

‘Iya, nanti kita ke Subangnya, ya,’ bujuk Baba, ‘kan sekarang Teteh Iis lagi di kampung.’

Teteh Iis memang sedang ijin pulang kampung selama tiga hari.

‘KelumahYangtikeshubangshamaNenekaja!’ rengeknya lagi.

‘Shh, shh,’ bujuk Baba sambil menepuk-nepuk punggung Kay, ‘kata Jojo apa? Kalau kamu kesal, tarik na—?’

Kay menolak meneruskan kalimat itu. Tangisnya makin menjadi. Tangan kirinya menunjuk-nunjuk ke garasi.

‘Mau shama Kakek!’ tangisnya sambil menunjuk Kakek yang sedang memarkir mobil.

‘Iya, nanti kita ke Subang,’ Baba terus membujuk Kay hingga ia agak tenang.

Baba melap ingus dan air mata Kay dengan handuk kecilnya, lalu menyalakan TV. Iklan produk suplemen terpampang di layar. Baba mengganti saluran ke Playhouse Disney.

‘HUAAAAAAAA!!!’ tangis Kay kembali merebak. Ia sekarang terbaring di tempat tidur di depan TV, kakinya menendang-nendang tidak karuan.

‘Ganti!’ katanya meminta saluran TV diganti, ‘She-De-El aja!’

‘Emang tadi lagi iklan itu?’ tanya Nenek.

‘Iya, tadi diganti ke saluran anak-anak,’ jelas Baba.

Saat saluran dipindah iklan itu sudah selesai, beruntung Kay bisa segera terbujuk melihat iklan-iklan lainnya. Setelah tenang, Baba kembali menggendong Kay dan menyuruhnya berpamitan pada Nenek.

‘Salim dulu, Kay,’ kata Baba.

Sambil cemberut Kay mencium tangan Nenek.

‘Sini yuk, sama Kakek,’ kata Kakek menyodorkan dua tangan sebagai tanda ingin menggendong.

‘Jangan, Pa,’ kata Baba, ‘nanti ngamuk lagi lho.’

Benar saja. Tangis Kay meledak lagi. Setelah Kay berhasil dibujuk dan tangisnya berhenti, Nenek dan Kakek naik ke mobil dan berangkat ke Subang.

Kay menolak melambaikan tangan maupun memberikan kiss bye.

Setelah masuk ke rumah lagi, Kay tampak masih kesal. Sambil merajuk ia mulai mencari-cari mainannya.

‘Mau itu!’ katanya.

‘Mau apa? “Itu” apa?’ tanya Baba sambil menghampiri Kay.

‘Itu!’ katanya lagi, tangisan sudah membayang di wajahnya.

‘Sini,’ kata Baba sambil memeluk Kay, ‘Kay mau apa?’

‘Shapu,’ katanya. Rupanya ia mau memainkan sapu kecil yang dulu sekali dibelikan Nenek. Kay memang sangat suka menirukan Bibi menyapu dengan sapu mini tersebut.

Setelah itu Kay menghampiri Baba dan meletakkan kepalanya di pangkuan Baba. Baba mengangkatnya dan merebahkan Kay di tempat tidur depan TV dan kami pun menonton TV bersama.

‘Baba goyang-goyang Kay,’ kata Baba sambil menirukan cara Kay menggoyang badannya.

Kay ikut goyang-goyang. Senyumnya kembali terkembang.

Aug 17, 2007

Kegiatan Hingga Siang Hari Ini

‘Bobo,’ kata Kay sambil merebahkan tubuhnya di lantai teras depan rumah.

‘Oh, gitu bobonya,’ kata Bibi. Nenek memperhatikan tingkah Kay sambil tersenyum.

Tiba-tiba Kay bangkit berdiri sambil berkata, ‘Ambil bantal.’

Ia masuk ke dalam rumah. Tujuannya adalah kamar tidur, tempat yang ia tahu pasti ada bantalnya.

‘Ini ada bantal di sini,’ kata Baba sambil menunjuk ke sofa ruang tamu. Di sofa itu memang tergeletak sebuah bantal. Sofa ini adalah tempat tidur siang favorit Kakek. Kay berbalik arah dan mengambil bantal itu. Setelah meletakkan bantal di lantai teras, ia kembali merebahkan tubuhnya.

‘Oo, anaknya Mama,’ kata Bibi. Kay senyam-senyum, memamerkan lesung pipit sebesar ujung jarum di sudut kanan bibirnya.

Kemudian ia mengangkat perut dan merapikan bajunya agar menutupi perut. Lalu ia rebahan menghadap satu sisi, meringkuk dan menepuk-nepuk pantatnya, seperti yang biasa Baba atau Bibi lakukan untuk membuatnya tidur.

Semenit kemudian ia bangun lagi, menghampiri meja komputer. Kay menarik-narik kursi dan memposisikan kursi itu di depan komputer sambil bergumam, ‘Gini. Gini.’

Setelah kursi itu berada di depan monitor ia pun duduk. ‘Duduk,’ katanya. Lalu ia menarik laci keyboard dan mulai berpura-pura mengetik.

Baba, Nenek dan Bibi memperhatikan segala kelakuan Kay sambil tersenyum geli.

Saat Baba melintas, Kay turun dari kursi dan mengikuti Baba ke dapur. Baba berbalik dan menangkapnya lalu melemparnya tinggi-tinggi melampaui kepala Baba. Kay senang sekali dilempar dan, tentu saja, ditangkap lagi seperti itu.

‘Lagi!’ serunya, ‘Terbang lagi!’ Nyaring sekali suara tawanya, memenuhi rumah.

Baba melemparnya sekali lagi, lalu menggendongnya ke dapur.

‘Mimi dulu, yuk,’ ajak Baba. Kay minum setengah gelas air putih. Rupanya ia haus sekali.

‘Mau itu,’ katanya setelah turun dari gendongan Baba. Tangannya menunjuk kulkas. Di dinding kulkas terpasang secarik kertas kado bertuliskan Happy Birthday bekas pembungkus hadiah ulang tahun Kay.

‘Mau ini?’ tanya Baba sambil mengambil kertas kado tersebut.

‘Mau itu,’ kata Kay. Tangannya masih menunjuk sisi kulkas.

Rupanya yang ia inginkan adalah magnet kulkas berbentuk disk yang melekatkan kertas kado itu.

Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Kay mengangkat bajunya dan mulai mengerik perut.

Yes, Gentles, lempengan magnet kulkas itu ia gunakan untuk kerokan. Ada-ada saja.

Kemudian ia mendekati Kakek yang sedang mengambil nasi dan mengerik punggung Kakek.

‘Aduuh, sakiit,’ kata Kakek.

‘Shakit,’ ulang Kay, ‘beldalah.’

Menurut Kay kalau sakit pasti berdarah.

Beberapa menit kemudian Kay sudah duduk di lantai, lempengan magnet kulkas ditutul-tutulkan ke lantai lalu ia gosok-gosokkan ke telapak kaki dan tangannya. Ia masih menggunakan magnet itu untuk kerokan. Kali ini pasiennya adalah dirinya sendiri.

Semua kegiatan ini berlangsung dalam tempo kurang dari dua jam. Kay mulai terlihat aktif dan tidak bisa diam.

Saat Baba mengetik entri ini, ia sudah melongok ke monitor komputer, memperhatikan tulisan yang Baba buat, minta diputarkan lagi Curi-Curi Pandang kesayangannya, menari diiringi lagu itu, menepuk-nepuk pahanya mengikuti irama lagu, berlari lagi ke dapur, mengangkat setengah buah pepaya dari piring dan mengambil bijinya dan menghancurkan biji pepaya itu dengan sisi lempengan magnet kulkas yang tadi ia pakai untuk kerokan.

Di dapur Baba menemukan Kay sedang mengusap-usap sikutnya.

‘Shakit. Pake Zam-Buk,’ katanya.

‘Kenapa?’ tanya Baba.

‘Kepentok tembok,’ jawab Bibi.

Baba mengambilkan Zam-Buk yang ia minta dan ia mengoleskannya ke sikutnya yang sakit.

Saat ini Kay sedang makan siang. Menu hari ini adalah tahu goreng dan kecap, sayur bening brokoli dan wortel dan, tentu saja, selembar keju cheddar.

Aug 9, 2007

Transkrip Pembicaraan Melalui Telepon

Baba : Lagi ngapain dia Is?
Teteh Iis : Itu lagi di tempat tidur.
Baba : Baru bangun?
Teteh Iis : Nggak. Biasa lah.

Tempat tidur lagi dibersihkan kan digeser, dia nangkring di

pinggiran tempat tidur nyanyi 'Kucingku Belang Tiga'.
Baba : Nemplok di pinggiran kasur sambil ayun-ayunan?
Teteh Iis : Iya. Biasa.
Baba : Sekolahnya gimana?
Teteh Iis : Ih! Males! Disuruh nggak mau, malah meluk-meluk gurunya!

Untungnya gurunya laki, jadi digalakin sedikit dia mau nurut.
Baba : Lho, emangnya kalo gurunya perempuan dia gimana?
Teteh Iis : Malah makin susah dan manja

Meluk-meluk dan bilang 'Aduuuuh!', 'Alaaaaah!'
Baba : Mana anaknya? Mau ngomong nggak?
Teteh Iis : Kay, ini Baba nih! Hayu ngomong dulu sini!
Kay : (Memperdengarkan sejumlah geraman dan erangan marah.)
Baba : Ya udahlah kalo nggak mau.
Teteh Iis : Tadi dia habis minum susu minta melon.

Akhirnya malah melonnya nggak dikunyah. Kenyang kali ya.
Baba : Diemut gitu?
Teteh Iis : Iya.
Baba : Dasar.

Ya udah lah kalo gitu. Nggak mau ngomong dia.
Teteh Iis : Ya udah ya.

Aug 7, 2007

Anak Manisnya Baba dan Mama

Kay mengangkat kepalanya dan memandang Baba sambil senyum.

‘Baba, Baba, Baba, Baba!’ serunya.

Ia sedang memilah-milah mainannya saat ia memanggil Baba. Baba sedang sarapan di meja makan di salah satu sisi ruangan, sementara Kay berada di sisi lain ruang tengah itu. Di dekat pintu yang menuju garasi.

‘Apa sayang, apa sayang, apa sayang,’ jawab Baba membalas senyumnya.

Sebelum Baba menyelesaikan kata-kata itu, Kay dengan tergopoh-gopoh beranjak dan menghampiri Baba…

…lalu memberikan sebuah pelukan erat yang amat hangat di pagi yang tiba-tiba menjadi sangat cerah bagi Baba.

Setelah itu ia kembali lagi menuju tumpukan mainannya dan kembali asyik bermain…

Aug 1, 2007

A Day In The Life Of Kay

05:30 – 06:00

Bangun pagi, pipis, langsung cari ayam atau mainan favorit hari ini. Main-main, gangguin Baba yang masih bobo.


07:00 – 07:30

Sarapan: havermout dengan madu dan pisang atau bubur manado rekayasa (dengan brokoli, wortel dan kaldu ceker ayam) dan semur tahu atau bubur roti dengan susu dan telur atau nasi dengan telur orak-arik.


08:00 – 09:00

Main, nonton TV atau jalan-jalan ke TK dekat rumah


09:00 – 09:30

Milkshake time (susu Ultra tawar, strawberry dan madu) atau susu dan madu (kalau tidak ada strawberry.)


09:30 – 11:30

Main lagi.


11:30 – 12:30

Makan siang. Sayur bening (oyong, katuk, bayam atau bayam merah dengan wortel) atau sop bola-bola daging atau udang dengan kaldu ceker dan semur tahu dan hati ayam atau nasi tim ayam atau kwetiau goreng.


13:00 – 15:00

Bobo siang.


15:00 – 16:00

Buah (pisang, alpukat atau papaya) dan susu cokelat atau bila tidak ada buah, agar-agar.


16:00 – 17:30

Main di depan rumah.


17:30 – 18:30

Makan sore, menu sama dengan makan siang.


19:00 – 20:30

Main di dalam rumah, atau menonton TV (Playhouse Disney). Minum susu tawar dengan madu atau susu cokelat.


20:30 – 21:00

Gosok gigi, cuci muka, kaki dan tangan, pakai piyama.


Sekitar jam 21:00

Bobo malam.


23:00 – 23:30

Dibangunkan Baba untuk pipis tengah malam sebagai pencegah ngompol. Langsung dilanjutkan dengan bobo lagi sampai pagi.

Talik Napaash

‘Talik napaash. Ssssssss—haaaaaa,’ kata Kay sambil menarik napas dalam-dalam. Saat menarik napas dadanya membusung dan bahunya diangkat.

‘Terus?’ tanya Baba.

‘Hitung shampai lima!’ serunya, sambil nyengir nakal.

‘Sampai sepuluh,’ kata Baba mengoreksi.

‘Shampai lima!’serunya lagi sambil tertawa-tawa jahil.

‘Sampai sepuluh,’ kata Baba lagi, ‘Jojo bilang tarik napas dan hitung sampai sepuluh.’

‘Shampai shepuluh,’ kata Kay akhirnya. Lalu dia lari menjauhi Baba sambil tertawa-tawa dan berteriak, ‘SHAMPAI LIMAAAAAA!!! HAHAHAHA!!’

Jul 30, 2007

Sapi atau Kambing? Kambing!

‘Ayo Kay, merangkak!’ perintah sang terapis pada Kay, ‘Seperti sapi.’

Sambil merangkak menuruti sang terapis Kay protes.

‘Bukan,’ katanya, ‘kambing.’

Maksudnya bukan sapi, tapi kambing.

Lalu Kay dengan jenaka menggoyang-goyangkan pantatnya sambil merangkak, memancing tawa dari semua orang yang melihatnya.

Iih, isengnya anak ini! Jangan-jangan dia akan jadi badut kelas nantinya...

Kuda Terbang

Akhirnya Baba sampai di rumah setelah usai mengunjungi perhelatan nikah rekan kerja di Cianjur dan Jakarta hari Minggu kemarin. Jam menunjukkan pukul 21:30 saat Baba menekan klakson mobil, minta dibukakan pintu garasi.
Saat Baba hendak memasukkan mobil ke dalam garasi yang sudah dibuka oleh Teteh Iis, tiba-tiba terdengar teriakan senang seorang anak kecil dari dalam rumah.
‘WAAAAAHAHAHAHAHAHAHA!!’
Sepersekian detik kemudian sosok Kay berlari keluar menyambut mobil. Teteh segera menggendong dan memasukkan Kay ke dalam mobil, di kursi sebelah pengemudi.
‘Ini Kay, Baba belikan mainan,’ kata Baba sambil memberikan mainan kuda terbang yang Baba beli di salah satu restoran di Puncak. Kuda itu terbuat dari karet dengan sebatang bambu mencuat dari perutnya, seperti wayang. Kaki-kaki kuda terbang itu berada pada posisi melompat, kaki depan terlipat sedangkan kaki belakangnya terjulur ke belakang. Dari sayapnya terpasang tali yang pada ujungnya terdapat cincin karet. Jika cincin itu ditarik sayapnya akan mengepak.
Kay senang sekali. ‘Kuda lumping,’ katanya.
Di dalam rumah, kuda terbang itu dimainkan olehnya, dikepak-kepakkannya sayap si kuda sambil bernyanyi:
Kuda lumping geningan ecel-ecelan
Lalu ia mulai menyelidiki apa yang menyebabkan sayap si kuda bisa mengepak. Ia merunut tali dan memperhatikan dengan seksama sambil menarik-narik tali itu dengan kencang.
‘Awas, nanti rusak,’ kata Baba memperingati.
‘Kita bobo yuk,’ ajak Baba, ‘bilang sama Bibi dan Teteh.’
‘Teh, Kay mau bobo dulu.’
‘Sama Bibi?’
‘Bi, Kay mau bobo dulu.’
‘Kay sudah ditolong sama Bibi hari ini. Bilang apa?’
‘Telimakashih.’
Lalu kami masuk ke kamar tidur.
Di kamar Kay tidak segera tidur. Dia masih asyik bermain-main dengan kuda barunya dan Baba harus mengingatkannya beberapa kali untuk tidur karena esok pagi harus sekolah.
Akhirnya Baba tidak yakin siapa yang tidur lebih dulu, Baba atau Kay, karena hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Baba...

Jul 27, 2007

Berkembang Biak?

Setengah mengantuk, Baba memanggil Kay yang sedang ngambek mencari Ayam Dua.

‘Ini, Ayam Dua ada di kamar,’ kata Baba.

Si bocah masih ngambek dan tidak mau beranjak dari tempatnya gogoleran di dekat tenda. Terpaksa Baba bangun, mengambil Ayam Dua dari tempat tidur dan menyerahkannya kepada Kay yang langsung berhenti merajuk.

Lalu Baba kembali masuk ke kamar dengan niat meneruskan tidur yang terganggu. Saat Baba hendak merebahkan tubuh, mata Baba tertumbuk pada sesosok mainan ayam yang tergeletak di atas tape compo.

Ayam Dua ada di sini, pikir Baba.

Tunggu, tunggu. Ayam Dua kan tadi udah dikasih ke Kay, kenapa masih ada di sini?

Baba mengambil mainan ayam itu dan bergegas keluar kamar. Kay masih bermain-main di dekat tenda. Tangan kanannya masih memegang Ayam Dua.

Baba memandang ayam di tangan Baba. Ayam Dua ada dua!?

Saat ini Kay sudah meninggalkan Ayam Dua dan mencari-cari Oli Uwa Abah*. Baba segera mengambil Ayam Dua, Ayam Kecil dan Ayam Satu, lalu menggabungkannya dengan Ayam Dua II yang ada di tangan Baba.

‘Teh?’ tanya Baba kepada Teteh yang sedang mencuci baju, ‘Ini ayamnya nambah?’

‘Iya, dibawa dari sekolah.’

‘Iya, yang ini kan dari sekolah,’ kata Baba menunjukkan Ayam Kecil.

‘Yang kakinya buntung juga dari sekolah,’ jelas Teteh, ‘yang punya Kay mah masih utuh.’

‘Ini ada tiga yang kakinya buntung,’ kata Baba lagi sambil menunjukkan Ayam Satu, Ayam Dua dan Ayam Dua II yang memang masing-masing sudah terpisah dari base-nya.

‘Yang ayam betina ini dari sekolah juga,’ kata Teteh menjelaskan.

Di tangan Baba ada empat ayam, tiga diantaranya kakinya sudah terpisah dari base, satu—Si Ayam Kecil—masih nempel dengan base. Ayam Satu yang kakinya buntung itu dari sekolah, begitu juga dengan Ayam Kecil dan, tampaknya, Ayam Dua II. Berarti—

‘Sekarang ayamnya ada lima?’ tanya Baba takjub.

‘Iya.’

Cepat sekali hewan-hewan ini berkembang biak!



*Gantungan berbentuk kemasan oli mobil yang menyatakan pada kilometer berapa mobil harus servis berkala. Gantungan yang Kay miliki diberikan oleh Uwa Abah.

Jul 24, 2007

Memberikan Pertolongan

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’ seru Baba mengiringi derap Kay keluar kamar.

‘Belhentiiiiiiii!’ kata Kay sambil mengambil sikap sempurna. Sebuah senyuman nakal tersungging di bibirnya.

‘Hormaaaat gerak!’ seru Baba lagi. Ia meletakkan tangan kanannya di dahi.

‘Kay,’ kata Baba hendak menguji pemahaman Kay akan perintah, ‘tolong ambilin kaus kaki Baba dong.’

Kay bergegas ke dapur, dengan lincah berkelit dari Bibi yang berusaha menghalanginya.

‘Mau ke mana?’ tanya Bibi yang hendak masuk. Bibi menghadang Kay ke dapur karena di sana tidak ada orang.

Kay berkelit dan meraih kaus kaki yang tersampir di gantungan handuk, lalu ia berbalik menuju Baba sambil mengayun-ayunkan sepasang kaus kaki itu.

Thank you,’ ujar Baba saat Kay memberikan kaus kaki.

Yowekam*,’ jawab Kay.

‘Baba pake kaosh kaki,’ ujar Kay saat melihat Baba memakai kaus kaki.

‘Eh, Kay, tolong Baba lagi dong,’ pinta Baba, ‘tolong ambilin buku Baba di kamar, ada di lantai. Bukunya berwarna biru ya.’

Kay masuk ke kamar dan sejenak kemudian keluar sambil membawa buku yang Baba minta.

Thank you,’ kata Baba.

Yowekam,’ jawab Kay, ‘Dadaaaaa!’ lanjut Kay sambil melambaikan tangannya. Ia tahu Baba sudah akann berangkat ke kantor.

‘Salim dulu dong,’ kata Baba. Kay meraih tangan Baba dan menciumnya.

‘Dadaaaaaa!’ katanya lagi.

‘Kiss dulu sini!’ Baba merangkul dan menciumi pipi tembam Kay. Kay tertawa-tawa kegelian.

‘Dadaaaaaa!’ katanya lagi. Lambaian tangannya makin bersemangat.

‘Dadaaa!’ jawab Baba, ‘Kiss-bye!’

‘Mmmmmuahhh!’ kata Kay sambil meletakkan tangannya di mulut.


*maksudnya: you’re welcome.

Ayam Dua

‘Ayam dua?’

Terdengar suara anak kecil mencari mainan favoritnya: sebuah miniatur ayam yang merupakan bagian dari sekelompok mainan hewan-hewan ternak yang Baba belikan bulan lalu.

Kay saat ini memiliki tiga buah miniatur ayam: seekor ayam betina yang ia sebut ‘Ayam Satu’, seekor ayam jantan berwarna jingga dan putih yang ia sebut ‘Ayam Dua’, dan seekor ayam jantan berwarna jingga dan hitam yang ia sebut ‘Ayam Kecil’ meskipun posturnya lebih besar dari Ayam Satu dan Dua.

‘Ayam Dua?’

Suaranya terdengar lagi, nyaring dan cempreng.

‘Pake celana dulu, nanti kita cari,’ jawab Teteh Iis.

‘Dishimpen di mana?’ tanya Kay lagi.

‘Nanti kita cari, ya,’ bujuk Teteh.

‘Dishimpen di mana?’ desak Kay.

‘Pake celana dulu, nanti tanya sama Baba. Ayamnya ada di kamar,’ kata Baba.

Kay merajuk. Kain gendong yang disampirkan di sandaran kursi ditarik dan dibuang.

‘Hey, sini!’ ajak Baba, ‘masuk ke kamar dan lihat di atas tape ada apa.’

Kay masuk kamar, cemberut. Ia mendekati tape compo dan mengambil Ayam Dua yang disimpan di atasnya.

Saat keluar dari kamar, senyuman mengembang di wajahnya.

* * *

Dua jam kemudian Ayam Dua kembali membuat kehebohan.

Si bocah, yang baru saja pulang main ayunan dari TK dekat rumah mencari si ayam, dan tidak bisa menemukannya.

Seisi rumah menjadi heboh, terutama karena Kay mulai merajuk dan menangis mencari Ayam Dua kesayangannya. Bujukan untuk menghitung hingga sepuluh gagal total.

‘Yuk sama-sama kita cari,’ Baba mengajaknya keliling rumah mencari si ayam.

Di dalam tenda hanya ada Ayam Satu dan hewan ternak lainnya.

‘Coba ke depan, yuk,’ ajak Baba. Yang diajak masih merengek dan mengikuti dengan enggan.

Tangisnya meledak ketika di teras depan yang ditemui hanya si Ayam Kecil.

‘Ayam Dua aja!’ rengeknya sambil melepaskan diri dari gandengan Baba dan duduk menangis tersedu-sedu di depan televisi.

Baba mencari Ayam Dua di kolong tempat tidur, Bibi mencari di dapur, Teteh di garasi.

Akhirnya Bibi mengambil kain gendongan dengan niat menenangkan si bocah sambil menggendongnya. Saat itulah si Ayam Dua jatuh dari lipatan kain.

‘Nih, ayamnya!’ kata Bibi.

Kay bangun dan mengambil si ayam. Lalu tangisnya berlanjut. Sudah terlanjur sakit hati dan kecewa rupanya.

Akhirnya Bibi tetap menggendong Kay dan kurang dari semenit kemudian ia tenang kembali.

* * *

Habis mandi, Baba mendapatkan Kay sedang duduk di depan pintu kamar mandi, menunggu Baba.

‘Ikut,’ katanya. Ia memang biasa ikut Baba ke kamar saat Baba bersiap-siap berangkat ke kantor.

‘Ayam Dua-nya ambil dulu, nanti hilang,’ kata Baba.

Tangan kecil Kay meraih dan mengambil Ayam Dua yang tergeletak di samping keset kamar mandi dan hampir saja ditinggalkan oleh Kay.

'If You're Upset, Take A Deep Breath And Count To Ten.'

Dalam beberapa minggu terakhir ini Baba sedang berusaha mengajarkan Kay untuk mengontrol marahnya.

Ide ini Baba dapatkan setelah bersama-sama dengan Kay menonton salah satu episode Jojo’s Circus di televisi.

Dalam episode itu Jojo berkata, ‘If you’re upset, take a deep breath and count to ten – jika kamu sedang kesal, tarik napas dalam-dalam dan hitung hingga sepuluh.’

Sekarang setiap kali Kay marah atau kesal, yang biasanya disusul dengan gigitan pada tangannya sendiri, Baba langsung menggendong Kay dan mengusap-usap punggungnya sambil membujuk.

‘Kata Jojo apa? Kalau marah, ambil napas dalam-dalam dan hitung sampai sepuluh. Yuk kita hitung: satuu.’

Kay masih diam, napasnya memburu.

‘Duaa.’

‘Tigaa.’

‘Empaat.’

Perlahan-lahan napasnya mulai teratur, tapi Kay masih cemberut.

‘Limaa.’

‘Enaam.’

‘Tujuuh.’

‘Delapaan.’

‘Sembilaan?’

‘Shepuluh,’ lanjut Kay. Mulutnya nyaris tidak terbuka dan suara yang keluar amat lirih, menyerupai bisikan.

Beberapa detik kemudian ia beringsut turun dari gendongan Baba dan kembali bermain-main.

Doakan Baba agar program ini berhasil ya, Gentles.

Jul 22, 2007

Sekuen Menuju Tidur Pagi Ini (sekitar 10:15)

Curi-curi Pandang -- Naif ('Jangan Terlalu' - 1998)

Kay menghampiri Baba dan minta diputarkan lagu 'Culi-culi Pandang' kesayangannya sambil memperhatikan Baba mengetik.


The Wedding Song -- David Bowie ('Black Tie White Noise' - 1993)

Baba sudah selesai mengetik dan sedang bermain Spider Solitaire sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kay bersandar pada Baba sambil sesekali mendorong meja komputer dengan kakinya.

'Jangan didorong-dorong,' kata Baba memperingatkan.


Rubber Band -- David Bowie ('David Bowie' - 1967)

Kay sudah bersandar pada Baba dengan manis, dia tenang mendengarkan Baba bernyanyi-nyanyi kecil. (Entah kenapa komputer memilih lagu-lagu yang tenang*). Baba perhatikan matanya sudah mengecil.


New Angels of Promise -- David Bowie ('Hours...' - 1998)

Lagu yang agak keras tidak membuat Kay mengubah posisinya. Teteh Iis melongok dan berkomentar: 'Laaah, kok ngantuk?'


Falling At Your Feet -- Bono and Daniel Lanois (The Million Dollar Hotel: Music from the Motion Picture - 2000)

Alunan manis soundtrack film The Million Dollar Hotel ini akhirnya mengantarkan Kay ke alam mimpi. Selesai lagu ini Baba menunduk untuk melihat keadaannya, Kay sudah memejamkan mata. Posisinya tidak berubah. Ia masih berdiri, bersandar pada Baba yang duduk di hadapan komputer ini.

Singing lullabies to your kid, no matter what the songs are, is always a great and fun experience.




*Baba selalu mengatur iTunes agar memilih lagu secara acak.

Baris-berbaris

Dari dapur, Kay berjalan menuju kamar. Kakinya diangkat tinggi-tinggi.

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’ goda Baba menirukan aba-aba gerak jalan.

Senyum si bocah melebar, dan gayanya makin menjadi-jadi. Kakinya makin diangkat setinggi mungkin.

‘Kiri! Kiri! Kiri-kanan-kiri!’

Di dalam kamar ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

‘Berhentiiiiiiiii gerak!’ seru Baba, ‘Siaaaaaaaaaaap (tangannya diangkat lurus-lurus di sisi tubuhnya) gerak! (tangannya dihentakkan rapat-rapat ke sisi tubuh)’

‘Hormaaaaaaaaat gerak!’

Kay pun mengangkat tangan kanannya ke dahi.

Wah, benar-benar cucu seorang purnawirawan!

Jul 21, 2007

Pagi Ini, Antara 08:30 Hingga 11:30

Keluar kamar, Kay menuju dapur dan mengambil sebuah gelas takar. Ia membawa gelas itu mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah, sambil sesekali berpura-pura minum darinya. Di antara dua ‘tegukan’ ia berkomentar:

‘Itu bukan minuman, Kay.’

Hahaha, kalau tahu itu bukan minuman kenapa masih ‘diminum’ juga, Nak?

* * *

‘Shalingan! Shalingan! Shalingan!’ seru Kay, sambil menghampiri Teteh Iis yang sedang menyaring teh.

‘Bilang minta, dong,’ kata Baba.

‘Minta shalingan, Teteh,’ kata Kay semanis-manisnya.

Setelah dibilas, Teteh menyerahkan saringan itu pada Kay.

‘Shendok! Shendok!’

‘Bilang apa?’ Baba mengingatkan.

‘Minta shendok, Teteh,’

Setelah sendok teh diserahkan, Kay segera menggosok-gosok sendok teh itu pada saringan di tangannya.

‘Kay sedang apa sih?’ tanya Baba penasaran.

‘Nyaling bubul,’ jawab Kay.

* * *

‘Mau pipish,’ kata Kay.

‘Yuk, pipis,’ ajak Baba, ‘Di mana pipisnya?’

‘Di kamal mandi.’

‘Kamar mandinya di mana?’

‘Di shitu.’

‘Tunjuk, dong.’

‘Di shitu,’ katanya lagi sambil menunjuk ke arah kamar mandi.

‘Pipisnya sama Baba atau sama Teteh?’

‘Shama Baba.’

‘Sama Teteh aja, deh,’ goda Teteh Iis.

‘Ngngngngng!!! Shamababashamabibiajaikanlumbalumbaaja!’ omel Kay.

Rasanya Baba kenal sekali dengan gaya marah yang merepet itu…