Dec 27, 2006

Confessions of a Therapist

‘Nggak mau. Bahaya,’ kata Kay ketika Pak Ito memintanya melompat dari balok ke matras.

Pak Ito pun naik ke atas balok dan melompat. ‘Lihat,’ katanya, ‘Pak Ito nggak apa-apa. Nggak luka. Nggak berdarah. Berarti nggak bahaya kan?’

‘Iya,’ jawab Kay sambil senyum. Ia lalu tidak menolak untuk meloncat, meskipun masih takut dan dibantu dalam meloncat dari balok itu.

Di lain waktu Kay mogok melakukan perintah Pak Ito dan saat diminta dengan agak keras untuk menurut ia menangis. Seperti biasanya ketika menangis, Kay berteriak keras. Pak Ito membiarkan Kay menangis dan berkata, ‘Ya udah, kalau begitu hari ini nggak belajar.’

Lalu Pak Ito melakukan kegiatan lain yang ia tahu akan menarik perhatian Kay. Tak berapa lama kemudian tangisan Kay berhenti. Ia memperhatikan Pak Ito.

‘Pak Ito,’ kata Kay. Pak Ito masih diam.

‘Pak Ito,’ kata Kay lagi.

‘Apa?’ tanya Pak Ito.

‘Belajal,’ jawab Kay.

‘Nggak,’ kata Pak Ito, masih berpura-pura ngambek, ‘hari ini nggak usah belajar.’

Kay memukul lantai dengan marah. Pak Ito masih diam, mengacuhkan Kay.

Kay mendekat, memeluk Pak Ito.

‘Mau belajar?’ tanya Pak Ito.

‘Mau,’ jawab Kay.

‘Kalau mau, ambil bola itu,’ perintah Pak Ito.

Kay bangun dan melaksanakan perintah gurunya.


* * *

‘Itu sering kejadian, Pak,’ jelas Pak Ito pada Baba, ‘dulu saya pernah melakukan kesalahan dengan tertawa saat Kay bertingkah lucu waktu diperintah—dan anak itu kan memang lucu sekali, ya—akhirnya malah ia menggunakan tingkah lakunya sebagai senjata, ia malah jadi sering melucu untuk mengalihkan perhatian saya dari pelajaran. Akhirnya saya acuhkan saja dan menunjukkan muka marah—dan berusaha untuk tidak tertawa—bila ia mulai seperti itu. Kadang-kadang saya sampai harus menghadap tembok, supaya tidak terlihat kalau saya menahan tawa. Kay kan memang lucu anaknya, apalagi waktu itu dia suka menyanyi lagu Sunda yang aki-aki peyot itu.

‘Kalau dia melihat saya sudah menulis, lain lagi ceritanya.’


* * *

Pak Ito menuliskan laporan harian Kay dalam buku penghubung. Kay langsung duduk diam meninggalkan permainannya dan memperhatikan Pak Ito.

‘Udah, main aja,’ perintah Pak Ito.

Kay tetap memperhatikan terapisnya. Lalu ia mendekat, ‘Nulis,’ katanya.

‘Kay mau nulis?’ tanya Pak Ito sambil menyerahkan buku dan pena pada Kay.

‘Nggak,’ kata Kay, tangannya meraih tangan Pak Ito dan mengarahkannya ke buku dan pena, ‘Pak Ito aja.’


* * *

‘Sepertinya Kay heran, karena biasanya kan dia melihat tulisan saya patah patah, karena menunjukkan dia bentuk dan garis. Kok sekarang nyambung dan gerakannya mengalun,’ kata Pak Ito tertawa.

Dec 19, 2006

Kegiatan Sebelum Tidur

‘Kalau Kay haus tandanya mau?’

‘Minum.’

‘Kalau Kay lapar tandanya mau?’

‘Mamam,’ jawabnya, lalu menyodorkan tangan kecilnya ke mulut Baba, ‘Am!’

‘Kalau Kay mengantuk tandanya mau?’

‘Bobo.’

Lalu ia bergulingan di tempat tidur, meraih sebuah buku, membukanya, membaliknya, berupaya meratakan punggung buku itu dengan tangan-tangan kecilnya, dan merebahkan tubuhnya di atas buku itu. Untungnya buku yang dipilih adalah sebuah TV Guide.

Sejurus kemudian Kay bangun dan turun, berjalan menuju tape compo dan mencari-cari novel yang terkadang Baba letakkan di atasnya.

‘Mana ya? Mana ya?’ gumamnya sambil meraih dan meraba-raba bagian atas tape compo itu.

‘Udah, buku ini aja,’ kata Baba sambil mengangkatnya kembali ke tempat tidur.

‘Mau yang mana?’ tanya Baba. Kay duduk menghadap dua buku: A Treasury for Three Years dan TV Guide.

‘Yang ini aja,’ katanya meraih TV Guide itu dan kembali membuka, membalik, dan merebahkan tubuhnya di atas buku tersebut.

‘Kay, nyanyi dong, sambil tepuk tangan,’ pinta Baba.

Ia menyanyikan bagian pertama lagu Hai Teman-Teman sambil bertepuk tangan, lalu menggosok-gosok tangan kecilnya. Setelah itu, ia menggosok-gosok badannya.

‘Sabunan ya?’ tanya Baba, ‘tangannya sekarang.’

Ia menggosok kedua lengannya.

‘Mukanya?’

Tangan kecil itu menggosok-gosok wajah berhias cengiran.

‘Kalau sudah, dibilas ya,’ ucap Baba, ‘Gimana bilasnya?’

Kay tampak ragu. Ia biasanya dibilas dengan mencebur ke dalam bak plastik. Ia hanya menggosok badannya.

‘Gini caranya,’ Baba meraih tangan Kay dan mengepalkan jemarinya, berpura-pura memegang gayung, dan mengayunkan tangannya ke kepala Kay.

Kay tampak senang. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali.

Pintu kamar terkuak dan Bibi melongok, ‘Bibi pulang ya.’

‘Bibi mau pulang Kay,’ kata Baba, ‘Kay harus bilang apa?’

‘Bi, Kay bobo dulu ya,’ kata Kay.

‘Apa lagi yang harus dibilang sebelum Bibi pulang?’ tanya Baba lagi.

‘Bi, Kay pulang dulu ya,’ kata Kay.

‘Bukan itu, Nak,’ ucap Baba berusaha menjelaskan, ‘Bibi udah bantu dan temani Kay hari ini, makanya Kay harus bilang?’

Kay tampak bingung. Ia diam saja.

‘Terima?’ Baba memancing.

‘Kahih, Bi,’ sambung Kay akhirnya.

‘Iya, Nak. Bibi pulang ya,’ pamit Bibi, ‘Dadah dulu.’

Kay melambaikan tangannya, ‘Dadaaaaaaah.’

Kiss-bye-nya mana?’ tanya Bibi.

Kay mencium telapak tangannya lalu melambaikannya ke arah Bibi, ‘Mmmmmmah!!’

Setelah Bibi pulang dan membaca doa, Kay berbaring telungkup dan segera tertidur.

Dec 18, 2006

Musical Aptitude?

Akhir minggu kemarin di rumah Yangti Baba menemukan satu hal yang unik dari Kay.

Di kamar Yangti, Kay bernyanyi jingle iklan salah satu pasta gigi anak yang selalu kami gunakan untuk mengajaknya menggosok gigi. Jingle itu dimulai dengan baris-baris:

Hai teman-teman
Jagalah kesehatan
Jangan lupa gosok gigi
Dst.

Bahwa Kay sudah bisa bernyanyi, itu bukan sesuatu yang mengherankan Baba. Tokh Mama dan Baba selalu mendendangkan lagu-lagu pengantar tidur sejak ia masih bayi. Yang membuat Baba takjub adalah Kay bernyanyi sambil bertepuk tangan mengikuti irama dan ketukan jingle tersebut. Dan sepanjang pendengaran Baba, ketukannya tidak meleset.

Selama ini Kay memang tidak terlalu sulit dalam mempelajari lagu, meskipun ia mungkin belum bisa mengucapkan kata-katanya (terutama lagu berbahasa asing), ia biasanya bisa mengikuti nada lagu itu setelah tiga sampai lima kali mendengarkan. Tapi kali ini ia menunjukkan peningkatan dengan bernyanyi sambil bertepuk tangan seiring dengan ketukan dan irama lagu itu.

Hmm…mungkin kita harus menggali lebih dalam kemampuan ini, Ma…

Dec 8, 2006

Nakal atau Kolokan??

Akhir-akhir ini Kay mulai menunjukkan kenakalan yang lebih dari biasanya. Ia sering menolak perintah, menahan kantuk hingga larut malam, sengaja mengompol, dan ia mendapat hukuman di sekolahnya. Dua kali.

Di kelas Kay menolak perintah yang diberikan gurunya dan Ibu Rissa, sang guru, memerintah Kay untuk berdiri di atas meja sebagai hukuman. Hari pertama mendapat hukuman itu Kay langsung menjadi anak yang kooperatif, namun di hari berikutnya ia kembali mendapat hukuman itu dan reaksinya sangat berbeda dengan saat pertama ia dihukum: kali ini Kay hanya cengar-cengir seolah ia menikmati hukuman itu.

Saat ditanya apakah ia mau belajar, Kay dengan lantang menjawab, ‘Nggak! Gak mau belajal!’, tapi waktu ada yang bertanya apakah ia mau belajar dan Ibu Rissa menjawab bahwa Kay tidak mau belajar, dengan sama lantangnya ia berkata, 'Mau!!'

Ia bahkan menangis saat melewati ruangan Bapak Ito, salah seorang gurunya.

Di rumah, ia berusaha keras menahan kantuk dengan berbagai cara, mulai dari berteriak-teriak, menghentakkan kakinya ke dinding kamar berkali-kali, hingga berusaha memancing Teteh Iis untuk bermain kejar-kejaran dengannya. Pada jam sepuluh malam, dengan mata setengah tertutup dan langkah yang sudah tak teratur karena kantuk.

Biasanya ini berakhir dengan tiga pasang celana basah karena ia tidak mau bilang kapan ia mau pipis meskipun ia sudah bisa bilang. Ia akan tersenyum, memegang selangkangannya yang sudah basah, sambil berkata, ‘Pipis,’ atau keluyuran dengan celana basah sambil berkata, ‘Ngompol. Nggak bilang.’ And the silly grin never disappears from his face!

Kadang-kadang kebiasaannya ini juga menyebabkan kasur basah.

Sudah kurang lebih empat malam ini Baba tidak tahu kapan Kay benar-benar tidur karena Baba selalu tertidur lebih dulu karena lelah.

Kay biasanya langsung mengajak Baba masuk ke kamar segera setelah Baba tiba di rumah. ‘Teteeeh, Kay bobo dulu ya…’ begitu katanya, pamit bobo pada Teteh Iis lalu menggamit lengan Baba sambil menunjuk pintu kamar, ‘Ke hitu,’ katanya.

Begitu di kamar ia akan memanjat naik tempat tidur, Baba menyuruhnya berdoa—kadang agak sulit, tetapi bila Baba menyuruhnya mendoakan Mama ia segera berdoa tanpa komando.

Kemudian ia mulai nyengir.

Dan mulai bermain-main di tempat tidur. Melenting-lentingkan tubuhnya, menendang-nendang dinding, mengintip ke luar jendela—‘Gak ada olang!’—bergulingan nggak keruan, nungging, duduk, dan berusaha memanjat tumpukan bantal yang dimaksudkan untuk menjaganya agar tidak jatuh dari tempat tidur (Kay tidurnya lasak). Singkatnya, ia berusaha semampunya untuk menahan kantuk. Dan peristiwa ini selalu diakhiri dengan sepasang—atau dua pasang—celana basah dan seorang ayah yang menggantikan celana anaknya dalam keadaan setengah tertidur sambil ngedumel.

Semua peristiwa ini menyebabkan Kay tidur larut malam, bangun terlambat, rewel di sekolah dan akhirnya dihukum.

Semalam, mumpung hari ini ia nggak sekolah, Baba membiarkan Kay bermain-main lagi di ruang tengah setelah kurang lebih satu jam—dan dua pasang celana basah—melawan kantuk di dalam kamar.

Kay keluyuran ke seluruh penjuru ruang tengah memilah dan memilih mainan yang ia suka (in this case sebuah Tupperware bundar yang biasa dipakai untuk membawa bekalnya) dan memainkannya sambil sesekali rebahan di lantai.

Setengah jam kemudian ia bangun dan terhuyung-huyung menghampiri Baba yang sedang berbaring menonton tv. Wajahnya sudah menunjukkan rasa kantuk yang tak tertahankan lagi.

‘Hama Baba,’ katanya.

‘Minta apa?’ tanya Baba.

‘Minta geddong hama Baba.’

Baba menggendong bocah yang matanya setengah terpejam itu.

‘Pipis dulu nggak?’ tanya Baba.

‘Pipis dulu,’ jawabnya.

‘Di mana?’

‘Di hitu,’ jawabnya menunjuk ke arah kamar mandi.

Baba mengantar Kay pipis, lalu menggiringnya ke kamar. Dalam perjalanan menuju kamar, Kay memungut sebuah mainannya (orang-orangan Lego Duplo yang biasa kami sebut ‘Pak Item’) dan membawanya ke kamar.

Di atas tempat tidur, Kay segera terlelap sambil memegang Pak Item erat-erat.



Note:

Pada suatu hari Teteh Iis pernah memergoki Kay membuka lemari pakaian dan mengeluarkan baju Mama. Saat diminta menyimpan kembali pakaian itu Kay menolak dan bahkan melarang Teteh Iis menyimpannya.

'Kenapa?' tanya Teteh Iis, 'Kangen?'

'Kangen,' kata Kay, 'MAMAAAA!!!!'

Dec 4, 2006

Weekend at Yangti's

Baba : Ayo bilang dulu sama Paman Mon-mon. Selamat…?

Kay : Hiang!

Baba : Lho, bukan selamat siang. Selamat…?

Kay : Helamat ulang tahun…


* * *


Yangti : Dwi mana?

Kay : Hwedia.

Yangti : Ngapain di Swedia?

Kay : Hokolah.

Yangti : (Dengan nada bercanda) Ngapain sekolah jauh-jauh?

Kay : Kangen.

Yangti : Kangen?

Kay : Banget.


* * *


Baba meraih tangan Kay dan menyuruhnya berpijak pada kaki Baba. “Robot-siap-berangkat,” kata Baba menirukan suara mekanis sebuah robot.

Kay melepaskan tangan Baba dan sambil duduk menjawab, dengan suara mekanis sebuah robot juga, “Duduk-aja.”


* * *


Samples of inane mumblings (and yells) heard in Paman Mon-mon’s room while Kay is playing with Baba:

1. ‘Awas ada motol!’
2. ‘Wang wing!’ (menirukan teriakan burung beo.)
3. ‘B-I-N-G-O! B-I-N-G-O!’
4. ‘Bulung! Ayam! Bebek!’ (sambil memegang topi ayam Paman Mon-mon.)
5. ‘Hehat ya bu ya..!’


* * *


Kay menghambur keluar kamar Paman Mon-mon langsung ke teras tempat jemur pakaian. Belum sampai ke ujung teras ia segera berbalik dan berjalan pelan-pelan sambil berjingkat.

“Panas,” katanya, “panas,”

“Siapa suruh kamu ke situ?” tanya Baba sambil senyum.

Kay menghambur masuk ke kamar lagi.


* * *


“Hayo bilang sama Engkong,” kata Baba.

“Kong, Kay pulang dulu,” kata Kay.

“Eeh, bukan pulang!” sergah Baba.

“Kong, bobo—Kay bobo dulu ya,” ulang Kay.

Kami keluar dari ruang kerja Engkong dan masuk ke kamar Yangti. Lalu Baba merebahkan Kay di tempat tidur, tapi Kay langsung melompat bangun.

“Minta geddong hama Teteh!” katanya.

“Lho, sama siapa?” tanya Baba.

“Minta geddong hama Baba!”

Baba menggendong Kay yang langsung meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sudah ngantuk dia.

“Mau ke mana?” tanya Baba.

“Ke hitu,” jawab Kay sambil menunjuk pintu.

“Bobo di sini aja ya?” tanya Baba sambil menunjuk tempat tidur.

“Ke hana aja!” bentak Kay sambil menunjuk pintu.

Baba keluar merebahkan dan mengeloni Kay di sofa. Saat Kay sudah setengah tertidur Baba memindahkan Kay kembali ke kamar Yangti dan merebahkan dia di tempat tidur.

“HAMA BABA AJAAAA!” tangis Kay tiba-tiba. Manja sekali anak ini, hanya mau dikeloni Baba.


* * *


Baba : Kay udah sekolah belum?

Kay : Udah.

Baba : Belajar apa di sekolah?

Kay : …

Yangti : Belajar apa Nak?

Kay : Pak Ito.

Baba : Pak Ito ngajarin apa?

Kay : Lompat.

Baba : Ibu Qori ngajarin apa?

Kay : Lonce.


* * *



“Tuh, Baba udah nyiapin mobil tuh!” kata Yangti. Sekejap kemudian terdengar suara langkah anak kecil berlari ke teras depan rumah, “IKUT! IKUT! IKUT!”

Baba masuk ke dalam rumah dan mendapati Kay sudah melintas ruang tamu. Baba memutar badannya kembali masuk, “Hayo, pamit dulu!”

“Yangti! Kay pulang dulu ya,” teriaknya, girang sekali.
“Sama Engkong!” perintah Baba.

“Kong, Kay pulang dulu,” ucapnya.

“Bude?”

“Bude, pulang dulu yaaaaa,”

“Iya Nak,” kata Bude sambil mencium Kay, yang berada di gendongan Baba, “pamit sama Kakak.”

“Kakak, Kay pulang dulu,”

“Peluk dulu dong!” kata Kakak.

“Gak boleh,” jawab Kay berkelit.

“Aah, boleh dong!” kata Kakak sambil memaksa mencium Kay yang membuang muka sambil terkekeh-kekeh.

“Oh, emang dasar anak ngaco,” kata Bude menggoda.

“Ngaco,” kata Kay.

“Mau pulang ke Pondok—?” tanya Baba.

“Gede!” jawab Kay sambil nyengir.

Di dalam mobil Kay berteriak-teriak, “DADAAAAA!!!!” katanya dengan penuh semangat sambil melambai-lambaikan tangannya dengan sekuat tenaga.

“Itu anak girang banget mau pulang!” kata Yangti, “Dada, Nak! Hati-hati ya…”

Nov 27, 2006

Phonecall At Around 15:40

‘Kayril?’

‘Ya Baba.’

‘Udah makan belum?’

‘Udah.’

‘Pake apa makannya?’

‘Pake lele.’

‘Nyanyi dong. I’m a little teapot.’

‘Hm-hm, nanana, dudadada. Halo?’

‘Halo Kayril.’

Terdengar suara Teteh Iis memperingatkan Kay bahwa paku bisa menyakitkan kalau menusuk tangan, kemudian menyuruh Kay mandi.

‘Hayu, bilang sama Baba mau mandi!’ perintah Teteh Iis.

‘Baba, mandi dulu ya,’ kata Kay.

‘Iya, Nak,’ jawab Baba.

‘Bilang udah dulu!’ perintah Teteh Iis lagi.

‘Udah dulu yaaa,’ ujar Kay.

‘Iya,’ jawab Baba.

‘Dadaaaaa!’ kata Kay menyudahi pembicaraan.

Nov 23, 2006

Jempol Kepentok dan Belajar 'baca'

Baba mengintip ke dalam kamar dari jendela depan dan melihat seorang bocah lelaki yang sedang berupaya naik ke tempat tidur ditemani Bibi.

‘Siapa tuh, Kay?’ tanya Bibi sambil menunjuk ke jendela.

Kay mendongak dan tertawa, lalu menghentikan upayanya naik ke tempat tidur dan menghambur keluar kamar.

Tawa riangnya mengantar Baba masuk garasi. Saat membuka sepatu, Baba melihat gagang pintu bergerak-gerak.

‘Sabar,’ suara Teteh Iis terdengar, ‘dibuka dulu kuncinya.’

Klik! Pintu pun terbuka dan seraut wajah berhias senyum lebar muncul. Sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi tangisan saat jempol Kay tertumbuk pintu yang sedang ia buka. Asal-asalan, Kay memukul meja yang ada di dekatnya dengan marah.

‘WAAAAAAAA!!!’

‘Udah nggak apa-apa,’ bujuk Baba sambil mengambil susu yang berada di meja, ‘yuk, minum dulu biar tenang sedikit.’

Kay menyeruput susu itu seteguk, lalu melanjutkan tangisnya.

‘Ini, ini, Baba punya apa?’ kata Baba menyodorkan koin.

Kay meraih koin itu dan memasukkannya ke dalam celengan Piggibeng.

Berdasarkan laporan Teteh Iis, Kay sekarang sedang belajar ‘membaca’.

‘Baca apa?’ tanya Baba.

‘Baca “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis.

‘Lho, bukunya dari mana? Kita kan nggak punya?’ tanya Baba heran.

‘Yaa…kalo belajar baca kan bilangnya “ini Ibu Budi”,’ jawab Teteh Iis polos, ‘tadi dia bilang “ini mobil Kay” sambil nunjuk mobilnya,’ lanjutnya.

Baba tersenyum. Ada ada saja.

Kay sudah tenang dan menghentikan tangisannya setelah Bibi mengoleskan Zam-buk ke jempolnya yang tertumbuk pintu. Sekarang ia sedang bermain.

Lamat-lamat terdengar gumaman Kay:

‘Ini cici Budi,’ katanya sambil menunjuk kemaluannya.

‘Ini cici Budi,’ ulangnya lagi.

Waduh! Siapa pula yang mengajarkan ini???

Nov 14, 2006

What Happened Last Night

Baba melangkah ke garasi dan melihat pintu samping terkuak dan sebentuk wajah berhias seringai jenaka melongok, lalu berteriak gembira.

Sedetik kemudian Kay menghambur keluar dan memeluk Baba.

“WAHAHAHAHA!!!” teriaknya.

“Itu buku sampe dilempar begitu denger suara pintu,” kata Bibi.

Kayril lalu mengikuti Baba ke mana pun Baba pergi. Baba ke kamar untuk ganti baju, Kayril ikut; Baba meletakkan baju kotor di keranjang di dapur, Kay ikut; Baba pipis di kamar mandi, Kay menunggu di pintu. Pokoknya dia mengekor Baba terus.

Lalu Baba mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.

“Mamam dulu aah…” kata Baba.

“Kay, ini apa?” tanya Baba sambil menunjukkan piring berisi nasi itu pada Kay.

“Mamam,” jawab Kay.

Baba berharap Kay menjawab nasi, untuk melihat apakah ia sudah mengenali nasi atau belum. Baba bertanya lagi, “ini apa?”

“Piling,” jawab Kay.

“Isinya apa?” tanya Baba memancing.

“Nahi,” jawab Kay. Baba tertawa, rupanya dia sudah mengenali nasi.

Kemudian, tanpa diduga sama sekali, Kay menggandeng dan mengajak Baba ke meja makan. Kay berhenti di depan kursi yang biasa diduduki Baba.

“Di hinih,” kata Kay, “Baba duduk di hinih.”

Baba tertawa dan duduk.

“Terus Baba ngapain?” tanya Baba.

“Mamam,” jawab Kay dengan pasti.

“Kay duduk di sini temenin Baba ya…” pinta Baba menunjuk kursi yang lain. Bibi membantu mendudukkan Kay di kursi itu.

“Temenin,” kata Kay. Ia lalu mengambil tutup gelas dan mulai memutar-mutarnya di atas meja makan. Tak lama kemudian tutup gelas itu sudah berada di lantai.

Kay mengusap-usap meja yang basah karena tumpahan air minum, lalu mengelap muka dengan tangannya yang basah. Senyumnya terkembang.

“Ambilin,” pintanya pada Teh Iis sambil menunjuk tutup gelas yang tergeletak di lantai.

Teh Iis mengambil tutup gelas dan memberikannya pada Kay. Kay langsung melempar tutup gelas itu ke lantai.

“Dilem—PAAL!” katanya sambil tertawa.

Selesai makan Baba mengajak Kay berhitung—kata Teh Iis di sekolahnya Kay sudah bisa menghitung sampai 20, Baba mau menguji.

“Satu,” kata Baba memulai.

“Dua,” lanjut Kay.

“Tiga,” sambung Baba.

“Ompat.”

“Lima.”

“Onam.”

“Tujuh.”

“Dolapan.”

“Sembilan.”

“Hopuluh. Hobolas,” kata Kay sekaligus.

“Duabelas,” lanjut Baba.

“Tigabolas.”

“Empatbelas.”

“Limabolas.”

“Enambelas.”

“Tujuhbolas.”

“Delapanbelas,” kata Baba.

“Tigabolas!” sambung Kay dengan keyakinan penuh.

“Hahahahaha! Salah, Nak,” kata Baba, “habis delapanbelas sembilan—?”

Kayril tampak ragu.

“Sembilan—?” tanya Baba memancing.

“Hopuluh, hobolas,” jawab Kay.

“Lhooo, kok ngulang lagi?” kata Baba tertawa.

Kay nyengir dan kabur ke dapur sambil melompat-lompat…

Nov 13, 2006

Sabtu yang Menyenangkan

Akhir minggu bersama Kay selalu menyenangkan. Pada saat itulah Baba mengalami hal-hal baru yang dilakukan Kay.

Sabtu kemarin, pada pagi hari, Baba dan Kay menghirup udara segar pagi hari di beranda depan rumah.

“Istirahat aah,” kata Baba.

“Istilahat,” ulang Kay membeo, “istilahat.”

Senyumnya mengembang saat ia mengulang-ulang kembali kata yang baru didengarnya itu.

“Enak ya, istirahat,” ujar Baba.

“Mmm enaaak!” jawabnya. Tak lama kemudian dia sudah sibuk mengorek-ngorek lubang gerendel pintu di tanah.

“Lho, jangan dong,” kata Baba, “kotor kan?”

Kay menginspeksi telunjuknya dengan seksama.

“Tuh, kotor kan? Ada pasirnya,” kata Baba.

“Pahil,” ulang Kay, “pahil.”

“Sudah, istirahat lagi,” kata Baba.

Kay duduk kembali.

“Baba duduk!” perintahnya.

“Duduk di mana?” tanya Baba.

“Di hitu,” katanya sambil menepuk lantai persis di sebelahnya, “istilahat.”

Baba tertawa dan duduk di sisi Kay.

“Kotawa,” katanya, “Ha-ha-ha.”

* * *


Menjelang bobo siang, saat sudah berada di tempat tidur dan mengucapkan doa, Kay bangkit dan memegang teralis jendela. Kemudian ia mulai melompat-lompat.

Beberapa menit kemudian Kay berhenti melompat.
“Cape,” katanya terengah-engah. Kemudian ia mulai melompat-lompat lagi selama beberapa menit, lalu ia tertidur.

Setengah jam kemudian ia terbangun karena ngompol dan menolak untuk tidur kembali.

* * *


“Mama, bobo dulu yaaaa!” ucap Kay lantang ke gagang telepon, lalu memberikan telepon itu ke Baba. Ia sudah mengenakan piyama dan bersiap untuk bobo.

“Sebelum bobo kita ber--?” terdengar suara Mama bertanya.

“Sudah kabur anaknya,” jawab Baba.

“Lucu sekali sih, suaranya,” kata Mama di ujung sana.

“Heheh, cempreng ya?” kata Baba, “udah dulu ya, Ma. Aku mau kelonin dia dulu.”

Kay sudah membuka pintu kamar dan melangkah masuk saat Baba menutup telepon. Baba menyusul masuk dan mengangkat Kay untuk membantunya naik ke tempat tidur yang masih terlalu tinggi untuk dia panjat.

“Mau dilempar?” tanya Baba. Kay tersenyum lebar.

“Iya,” jawabnya.

“Satu…” kata Baba.

“Dua…” lanjut Kay.

“Tiiiiii--?”

“Gaaa!”

Dan Baba melemparkan Kay ke atas tempat tidur, tawanya meledak.

“Baba hokalang!” katanya.

Dan Baba pun melompat ke tempat tidur, membuat Kay terbahak-bahak dan melenting-lentingkan badannya dengan gembira.

“Udah bobo beluuum?” terdengar suara Teteh Iis dari luar jendela.

“HUAAAAAHAHAHA!!!” teriak Kay panik, tergopoh-gopoh ia merangkak memeluk Baba sambil tertawa.

“Takut,” katanya.

“Takut apa?” tanya Baba tertawa, “itu kan Teh Iis.”

“Kotawa,” kata Kay sambil kembali merebahkan diri di tempat tidur.

“Kay, masih inget lagu I’m a Little Teapot nggak?” tanya Baba, “I’m a little teapot, short and--?” Baba mulai menyanyikan lagu itu.

Tiba-tiba Kay bangkit dan berdiri tegak di tempat tidur--membuat Baba agak panik, takut ia jatuh--lalu menyanyikan lagu itu sampai habis sambil memperagakan tarian Little Teapot.

I’m a little teapot, short and stout (ia menekuk kedua tangannya di pinggang, menggambarkan teko gemuk dan pendek.)

Here is my handle; here is my spout (sebelah tangannya bertolak pinggang, sebelah lagi diacungkan ke atas. Di sini ia agak bingung, sebelah mana yang harus di pinggang, sebelah mana yang mengacung.)

When the water’s boiling hear me shout! (kedua tangannya diacungkan ke atas sekuat tenaga.)

Lift me up and pour me out! (wajahnya bingung, ia lupa gerakan terakhir ini. Seharusnya satu tangan di pinggang, dan satu lagi teracung, lalu badannya dibungkukkan menirukan gerakan teko yang sedang dituang.)

(tentu saja Kay tidak menyanyikan lagu ini dengan sejelas itu, tapi kalau di sini Baba menuliskan sesuai dengan yang diucapkan Kay, kalian yang akan kebingungan.)

Baba bertepuk tangan memuji kepandaian Kay. Ia tertawa-tawa dan kembali berbaring.

“Ayo, berdoa dulu!” perintah Baba.

Kay mengucapkan doa untuk kedua orang tua, lalu doa tidur (yang mulai agak dilupakan) lalu memeluk leher Baba dan tidur.



Nov 10, 2006

Kebiasaan dan Kebisaan Baru

“Gosok-gosok tangannya!”

Si Bocah Periang itu menggosok-gosok tangannya, sambil tersenyum lebar tentunya. Lalu tanpa ragu-ragu langsung menggosokkan kedua tangannya ke rambut.

“Kolamas, pake hampo,” katanya, lalu berlari menghambur keluar kamar.

* * *


Akhir-akhir ini Kay punya kebiasaan baru, jalan-jalan sore hari bersama Kakek, “liyat angha,” katanya.

“Dideketin angsanya,” kata Kakek, “tapi kalo angsanya mendekat, dia lari ketakutan.”

Kemarin karena Baba pulang cepat untuk persiapan ulang tahun Uwa, Baba bertemu Kay pada saat ia pulang dari jalan-jalan melihat ‘angha’.

“Kayril,” panggil Baba. Kay menoleh dan berteriak girang.

“Baba!”

Lalu ia menghambur, memeluk Baba dan menggandeng tangan Baba sampai rumah.

Di tengah jalan Kay melepas gandengan sebentar untuk memegang jenggot Opung Harahap.

“Di sana dia lihat angsa, begitu sampai sini ini yang diincar,” kata Opung Harahap tertawa.

Nov 8, 2006

Mati Lampu

Gelak tawa seorang bocah mengiringi cahaya yang memancar dari halaman rumah dua malam yang lalu saat Baba berjalan pulang dalam gelap karena satu kompleks mati lampu.

Beberapa langkah dari rumah Baba melihat bahwa kegembiraan itu bersumber dari sebatang kembang api yang dinyalakan Kakek untuk menghibur sang cucu.

Baba memberi salam, Kay makin kegirangan dan segera membuka pintu gerbang.

“Kembang api!” katanya pada Baba, senyumnya terkembang selebar mungkin. Ia memperhatikan kembang api tersebut dengan kagum dan takjub hingga habis.

“Lagi ya,” pintanya pada kakek. Dan halaman rumah kami pun kembali benderang diterangi nyala kembang api lagi dan lagi.

Sewaktu kembang api itu akhirnya benar-benar habis, Kay kecewa dan merengek. Untungnya sebelum ia sempat menangis listrik menyala kembali dan kami berhasil mengalihkan perhatiannya.

“Horeee! Lampunya nyala!” sorak kami. Dan Kay pun melupakan kesedihannya.

Nov 2, 2006

Come To My Arms, My Beamish Boy!

Seperti biasa, pulang kantor Baba memasukkan mobil ke dalam garasi dan menutup pintu garasi.

Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Baba mendengar suara ‘klik’ pintu samping terbuka dan seorang bocah cilik menyembulkan kepala berhias sebuah cengiran khas. Lalu tanpa buang waktu ia langsung menghambur keluar—hampir jatuh tersandung sandal—dan langsung memeluk Baba.

Yes, Gentles, Kay sudah pulang dari libur Lebarannya di Subang.

“Come to my arms, my beamish boy!
O frabjous day! Callooh! Callay!”
He chortled in his joy*

Tanpa buang waktu lagi, Baba langsung menggendongnya. Badannya terasa mantap. Sehat sekali tampaknya anak ini! Pipinya kemerahan, senyumnya terkembang, meskipun matanya setengah tertutup menahan kantuk.

“Sudah mau tidur itu,” kata Nenek, “tapi begitu dengar suara mobil dia langsung turun dari tempat tidur dan teriak ‘Baba!’”

Kay tidak melepaskan pandangannya dari wajah Baba.

“Nggak pake popok dia sekarang,” jelas Nenek lagi, “sebelum tidur udah disuruh pipis dulu, kemarin di Subang mah nggak ngompol.”

“Wah, hebat dong!” kata Baba, “sudah gosok gigi, Nek?”

“Belum.”

Baba menggosok gigi Kay dan mengajaknya ke kamar.

“Ayo, bilang dulu,” perintah Baba.

“Ngki, bobo ya,” kata Kay sambil mencium tangan Kakek.

“Sekarang ke Nenek,” perintah Baba lagi.

“Nenek, bobo dulu ya,” Kay mencium tangan Nenek.

Lalu kami masuk ke kamar. Seperti biasa, Kay naik ke tempat tidur dengan cara special, dengan ‘dilempar’ oleh Baba. Ia tertawa geli dan senang.

“Baba hokalang,” katanya meminta Baba melompat ke tempat tidur. Baba pun melompat, mengguncang tempat tidur dan membuat Kay kegirangan.

Lalu ia memeluk leher Baba. “Nelengnengkung,” katanya sambil memejamkan mata. Baba menyanyikan lagu kesayangan itu. Lagu manjanya Kay.

“Ayo, berdoa dulu,” pinta Baba. Kami pun berdoa bersama, doa tidur dan doa untuk orang tua. Lalu Kay tertidur tanpa popok. Tanpa popok!

Terus terang Baba agak was-was dan beberapa kali terbangun malam harinya, tapi ternyata kekhawatiran Baba tak beralasan, karena pada pagi harinya Kay terbangun di tempat tidur yang masih kering.

Yes, Gentles, Kay tidak ngompol! Unbelievable! Ia sudah makin pintar sekarang. Baba bangga sekali.

“Pipis,” katanya waktu terbangun. Nenek langsung membawanya ke kamar mandi dan ia pipis di sana.

He really is a good boy, Ma!


* diambil dari puisi Jabberwocky karya Lewis Carroll.

Oct 17, 2006

Bobo

“Bobo,” gumam Kay sambil bangkit dari duduknya, matanya sudah setengah tertutup.
“Kalo bobo di mana?” tanya Baba.
“Di hitu,” jawabnya menunjuk pintu kamar tidur, Kay lalu menghampiri Baba dan menarik tangan Baba, mengajak Baba ke kamar.
“Hayo, bilang dulu sama Nenek,”
“Bobo dulu ya, Nek,” ujar Kay sambil mencium tangan Nenek. Nenek mencium kedua pipi Kay.
“Sama Uwa,”
“Bobo dulu Uwa,” katanya mencium tangan Uwa Abah. Uwa Abah balas mencium pipi Kay, lalu secepat kilat Kay mencubit pipi Uwa.
“Eh, iseng aja nih, tangannya,” tegur Baba, “Sama Teteh,”
“Bobo dulu Teh,” kata Kay mencium tangan Teteh Iis.
“Dadaaaa!” katanya.
Kiss bye-nya mana?” tanya Baba.
Kay mengangkat jari-jarinya menutupi mulut, “mmmmah!”
Dan kami pun berjalan menuju kamar. Kay membuka pintu kamar, masuk dan menutupnya kembali.
Baba mengangkat Kay dan ‘melemparnya’ ke tempat tidur, ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu Baba menyusul melompat ke tempat tidur. Kay senang sekali.
“Sekarang kita ada di?” tanya Baba.
“Tompat tidul,” jawab Kay.
“Berarti sudah waktunya?”
“Bobo,”
“Sebelum bobo?”
“Kita boldoa,” jawab Kay.
“Gimana berdoanya?”
Kay membaca doa tidur dan doa untuk orang tua. Lalu ia berguling-guling ke sana kemari sebelum akhirnya memeluk leher baba dan memejamkan mata.
“Nelengnengkung,” Kay meminta Baba menyanyikan lagu favoritnya saat ini.
Baba pun menyanyikan lagu itu hingga Kay tertidur.

Oct 16, 2006

Sang Penyanyi

Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña

Kami bertepuk tangan memuji kecakapannya bernyanyi. Sang Penyanyi melebarkan senyumnya dan tertawa terbahak-bahak, sambil melompat-lompat kegirangan, dan mulai menyanyi lagi:

Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña


Kami bertepuk tangan lagi, mengelu-elukan Sang Penyanyi, yang kembali melonjak-lonjak dan tertawa terkekeh-kekeh, lalu ia mulai menyanyi lagi:

Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis lupaña
Eong eong buñiña
Tanda lapal pelutña


Tepik tangan kembali membahana, Sang Penyanyi makin beraksi, mengangguk-anggukkan kepala dan berteriak-teriak kegirangan. Lalu ia mulai menyanyi lagi:

Kutcingkuuuuu bolang tigaaaa
Hungguh manis…

Oct 13, 2006

"YEK WI KEET*!!"

“Kayril, can we fix it?”
“YEK WI KEET*!!”




*baca: ‘Yes we can’—catchphrase dari Bob The Builder.

Senyum

“Baba,” kata Kay sebelum tidur.
“Apa Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kayril kangen Mama?”
Kay tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Matanya menerawang.
“Kayril kangen dipeluk Mama?” tanya Baba lagi sambil memeluk Kay
Senyumnya melebar.
“Kayril kangen dicium Mama?” Baba mencium pipi Kay.
Senyumnya makin melebar.

Baba nggak merasa bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Kayril, tapi melihat senyumnya yang amat manis dan terawang matanya, Baba yakin bahwa yang ada dalam ingatan Kay tentang Mamanya adalah ingatan yang manis belaka.

Oct 10, 2006

This Morning Around 07:30

“Ayam,”
“Ayam apa?”
“Ayam kate,”
“Kenapa ayam katenya?”
“Jatuh. PAAAAAAAANG!!!” katanya nyaring, “Petcah!”
“Waktu ayamnya pecah Kay nangis nggak?”
“Nggak! Nggak apa-apa,”
“Nggak apa-apa ya, kan ada ayam be—?”
“—hal.”
“Kay mau turun?”
Kay langsung duduk, lalu merayap turun melintasi badan Baba, langsung menuju pintu.
“Buka pintunya,” kata Baba.
Kay memainkan gantungan kunci bergambar koala sebelum membuka pintu. Keciiiil sekali dibukanya pintu itu, lalu Kay mengintip keluar sambil berseru: “NAAAA!”
Tidak ada yang menjawab, ia mengulangi seruannya lagi sebelum membuka pintu lebar-lebar dan keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian Baba menyusul Kay keluar kamar. Kay sedang sarapan.
“Sarapan apa dia Bi?”
“Bubur roti, dicampur telur dan daun bawang,” jawab Bibi. Kay makan dengan lahap.
Beberapa hari setelah kesembuhannya dari flu berat dua minggu lalu itu nafsu makan Kay mulai pulih. Ia sekarang selalu menghabiskan makanannya. Selain itu dalam sehari Kay masih diberikan jus buah segelas, susu dua – tiga gelas, dan kudapan buah-buahan: pepaya, alpukat, mangga dan pisang. Ia bisa menghabiskan pisang dua buah dalam sehari.
“Baba,” kata Kay.
“Iya, Nak,”
“Mama,” katanya lagi.
“Kayril cari Mama ya?” tanya Baba, “Kenapa Kay cari Mama?”
“Kangen.”

Oct 4, 2006

Percakapan Sebelum Bobo

“Mama.”
“Mama di mana?”
“Hwedia.”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hekolah.”
“Kayril udah sekolah belum?”
“Udah.”
“Siapa gurunya?”
“Ibu Liha, Ibu Koli.” Maksudnya Ibu Rissa dan Ibu Qori.
“Siapa lagi?”
“Pak Wahkito.”
“Yang baru siapa? Ibu Fat—?”
“—ma.”
“Kayril di sekolah belajar apa?”
“Bolajal………duduk.”
“Gimana?”
“Duduk yang lapiiiih!” Kay melipat tangannya di depan dada.
“Terus belajar apa lagi?”
“……” Senyumnya terkembang, seolah ia sedang mengingat-ingat.
“Belajar gambar?”
“Nggak!”
Kay berguling ke tembok, menjauhi Baba.
“Jadi gini nih, bobonya? Nggak mau dipeluk Baba?” goda Baba, “Ya udah, Baba bobonya hadap sini aja ya?” Baba memunggungi Kay.
Kay berbalik, mengeluarkan rengekan manja dan menarik punggung baju Baba, meminta Baba berbalik menghadapnya, lalu memeluk leher Baba.
Lima menit kemudian Kay bobo dengan senyum di wajahnya…

Oct 2, 2006

Nggak!

Kay, mamam dulu yuk
Nggak! (tapi kalau disuapi ia membuka mulutnya dan mengunyah makanannya.)
Hayu ganti celananya, habis ngompol, kan?
Nggak! (tapi nurut buka dan ganti celana.)
Kay nanti sekolah ya
Nggak!
Kan udah dicariin sama ibu guru.
Gagagagaga! Kagak!
Ayo, mandi dulu!
Nggak! Nggak! Mamamama! (kalo ini emang berontak waktu mau dilepas bajunya…)
Yuk, udahan mandinya, yuk. Udah lama, nanti masuk angin.
Nggak!
Dadaa, Baba berangkat ke kantor ya.
Nggak!
Assalamualaikum.
Nggak!
Kiss bye-nya mana?
Nggak!

Pulih

Kay berjalan menuju lemari dan mengambil seperangkat unit handsfree rusak. Ia memasang earpiece unit itu ke telinganya, lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.
Sejurus kemudian unit handsfree itu ia lepas, dan ia coba pasangkan ke piano mainannya. Menekan tombol drum, cymbal dan akhirnya demo yang mengeluarkan suara musik bising yang Mama biasa bilang ‘musik panik’. Kay tertawa dan menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan mengikuti irama.
Lalu ia mengambil dua balok susun: sebuah double block, dan sebuah single block. Ia pasangkan single block itu ke salah satu titik double block, dan dengan puas ia berkata “Kuda,”
Kemudian ia berusaha menunggangi ‘kuda’ itu, yang tentu saja menghilang di bawah tubuhnya yang jauh lebih besar daripada balok-balok itu. ‘Kuda’ itu dilempar, mengagetkan Baba, dan membuat Kay tertawa terkekeh-kekeh menirukan kagetnya Baba: “Aduh-aduh!” katanya.
Unit handsfree itu kembali berada di tangannya dan diutak-utik. Tiba-tiba Kay mencolek Baba sambil berkata “Patah.”
“Apanya yang patah?” tanya Baba sambil mengambil unit handsfree itu dari tangan Kay. Ternyata earpiece-nya copot. Baba segera memasangnya kembali, tetapi Kay segera mencopotnya lagi. “Patah,” katanya.
Ia lalu ke ruang tamu dan berupaya untuk menunggangi Kakek yang sedang tidur.
Beberapa saat kemudian Kay membuat Baba membatalkan shalat Baba karena Kay meraih dan menjatuhkan termometer hingga pecah berantakan dan membuat raksa di dalam termometer itu berceceran.
Tampaknya anak Baba ini sudah benar-benar pulih dan menjadi dua kali lipat lasaknya…

Sep 29, 2006

Sakit

It has been a very tiresome and taxing week for me that I barely found time to update My Day with Kay. Kay had been ill, and juggling my physical and psychological strength between tending Kay’s illness, my work and the beginning of Ramadhan really put me to the test.
In the following entry I will try to enlighten you, Gentles, by recounting what had happened as minutely as my memory permits.



Sabtu, 23 September 2006:
Baba terbangun dini hari (sekitar pukul satu pagi) dan mendapatkan suhu badan Kay meninggi.
Sore harinya Baba dan Nenek (plus Teteh Iis tentunya) berangkat ke rumah sakit. Diagnosa dokter pada saat itu adalah Kay terkena serangan batuk pilek atau istilah kerennya, infeksi viral pada saluran pernapasan atas. Memang selama seminggu Kay sudah batuk-batuk dan baru saja menghabiskan obat batuk dari dokter sebelumnya.
Karena pada saat di dokter Kay demam tinggi (390 C) ia diberikan obat penurun panas melalui anusnya.
Sesampainya di rumah, panas Kay menurun.
Kay dikunjungi Paman, Bibi dan sepupunya dari Medan. Ia senang sekali dengan Kakak Ika-nya yang tak henti-hentinya dipeluk dan dielus rambutnya.
Kay tertidur di sebelah Kakak Ika sambil ditepuk-tepuk oleh Bibi Butet.

Minggu, 24 September 2006:
Suhu badan Kay naik turun, dan obat panas dari dokter tidak memberikan efek yang memuaskan.
Sorenya Uwa Imel dan Uwa Sonny datang bersama Andung dan Bang Reyhan. Mereka menganjurkan agar memberikan obat panas dokter dan Tempra secara berselang setiap 4 jam sekali.
Kay dengan manjanya memeluk Uwa Imel erat-erat.

Senin, 25 September 2006:
Menjelang sahur suhu tubuh Kay kembali naik. Telinganya memerah dan ia meminimalisir kegiatannya.
Meskipun demikian, setelah obat penurun panas beraksi membuat suhunya turun, Kay tidak mau istirahat. Ia langsung berlari-larian dan berlompat-lompatan dan nggak mau diam sampai suhunya naik lagi.
Sorenya kami ke dokter di Bintaro. Di klinik Kay dikunjungi Engkong, tapi Kay sama sekali tidak mau lepas dari gendongan Baba. Bahkan Baba tidak diijinkan Kay untuk duduk. Manja sekali…
Dokter mengatakan obat yang diberikan diteruskan saja, dan bila besok sore suhunya masih belum turun Kay harus tes darah, karena kuatir serangan demam berdarah.
Malamnya Baba nyaris tidak tidur meskipun Kay tidak demam lagi.

Selasa, 26 September 2006:
Paginya Kay membaik, ia sudah mulai mau bermain-main dan makan cukup banyak.
Dari kantor Baba telepon dan kata Teteh Iis dia sudah mulai berkeringat, suatu pertanda baik.
Sorenya Kay demam lagi, Baba segera pulang dan membawa Kay ke laboratorium rumah sakit Bintaro setelah berbuka puasa. Hasil tes darah segera Baba laporkan pada dokter yang memang praktik di sana hari itu. Menurut dokter jumlah trombositnya masih baik, tapi kalau dalam dua hari ke depan masih demam, harus tes darah lagi.

Rabu, 27 September 2006:
Baba di kantor hanya setengah hari karena Nenek melaporkan Kay demam lagi dan lemas, seharian ini ia hampir tidak turun dari gendongan atau tempat tidur dan hampir selalu tidur, nyaris tidak mau makan apa-apa.
Sorenya kami kembali ke dokter yang kaget karena Kay lemas sekali, padahal biasanya berontak kalau diperiksa olehnya. Dokter menganjurkan untuk melakukan tes darah lagi.
Seperti biasa anak pemberani ini tidak menitikkan sebutir air mata saat jarum menembus kulit jarinya.
Hasil tes darah kurang memuaskan, karena trombosit Kay turun. Dokter tampak khawatir dan menganjurkan untuk tes darah lagi keesokan paginya.
“Kalau ada kecenderungan turun, berarti dia harus dirawat ya,” demikian kata dokter. “Berikan saja dia minum yang banyak, karena kelihatan di sini kekentalan darahnya cukup tinggi,” tambahnya.
“Ruamnya gimana Dok?” tanya Baba khawatir.
“Bukan, ini bukan ruam demam berdarah. Ruam demam berdarah itu seperti ujung jarum, ini terlalu besar. Tapi tetap saja kita harus hati-hati,” jelas dokter.
Setelah dari dokter kami menyempatkan diri ke acara tujuh bulan kehamilan Bibi Ois. Kay segera meminta gendong Bibi Ois begitu ia melihat bibinya itu. Kay bobo dikeloni Bibi Ois.
Malamnya setiap jam Baba membangunkan Kay dan memberinya minum air dan Pocari Sweat. Kay minum cukup banyak, antara jam 22:00 hingga sahur Kay menghabiskan lebih dari 2 gelas air dan ¾ kaleng Pocari Sweat.

Kamis, 28 September 2006:
Sekitar jam 08:30 Kay tes darah lagi. Saat hasilnya keluar, Baba mengatakan ke suster bahwa dokter minta segera diberi tahu akan hasil tes darah itu.
Sementara menunggu pihak rumah sakit menghubungi dokter Kay mengamuk. Ia tidak mau berada dalam gedung rumah sakit.
“Buka-buka, ya…” katanya di hadapan pintu otomatis rumah sakit. “Ke hitu…” jawabnya ketika ditanya mau ke mana. Terpaksa Baba menggendong Kay keluar rumah sakit dan berdiri menunggu di pinggir jalan. Selangkah saja Baba mengarah ke dalam rumah sakit, maka Kay akan menangis dan menyentakkan tubuhnya ke arah berlawanan.
Akhirnya Baba berhasil membujuk Kay masuk rumah sakit bertepatan dengan berhasilnya pihak rumah sakit menghubungi dokter.
“Hasilnya masih bagus, ya,” kata dokter.
“Tapi kan trombositnya turun lagi dok, sekarang ke angka 150,” bantah Baba.
“Iya, tapi itu nggak apa-apa, lekositnya sudah naik ke batas normal dan pengentalan darahnya mengurang,” jelas dokter, “jadi nggak perlu dirawat,” tambahnya.
Saat itu sebuah beban berat terangkat dari pundak Baba dan Baba memutuskan untuk tidak masuk kantor hari itu untuk menjaga Kay.
“Kalau sore panas, besok pagi tes darah lagi ya,” kata dokter menutup pembicaraan.
Sesampainya di rumah Kay menghabiskan sebutir alpukat dan tidur selama 3 jam. Bangun dari tidurnya ia sudah mulai mau makan meskipun sedikit.
Ruam merah di sekujur tubuh Kay masih tetap membuat Baba dan Nenek khawatir. Baba menelepon Bude untuk menanyakan ciri-ciri ruam demam berdarah dan Bude menjelaskan bahwa ruam demam berdarah itu berwarna merah terang, bukan merah muda seperti gigitan nyamuk.
Nenek memanggil tetangga yang mengkonfirmasikan bahwa ruam di sekujur tubuh Kay adalah ruam tampek.
Sorenya Kay menghabiskan dua piring kecil penuh bubur nasi.
Sepanjang malam, meskipun Baba masih waswas dan memberikan Kay Pocari Sweat setiap dua jam sekali, tanda-tanda demam akan menyerang sudah tidak ada sama sekali. Kay mulai terlihat aktif bermain di tempat tidur sebelum bobo. Kay bahkan tertidur bermandikan keringat…

Hari ini:
Kay terbangun saat sahur dan Nenek memberikan dia bubur nasi yang ia habiskan sebanyak 1½ piring kecil, kemudian ia bobo lagi.
Paginya, meskipun masih sempoyongan ia mulai menjelajah dan mengikuti Baba ke manapun Baba pergi, sambil memegang gantungan kunci Hush Puppies kesukaannya.
Sebelum Baba berangkat ke kantor Kay sudah menghabiskan sepiring kecil bubur nasi, dan segelas air madu.
Di kantor Baba menelepon rumah dan Nenek menjelaskan bahwa Kay baru saja tertidur setelah menghabiskan satu buah alpukat kesukaannya. Ia tidur dikeloni Engki yang selama beberapa hari ini selalu ia hindari…


Gentles, words cannot express the anxiety and fear that gripped me during the days described above. And I will always be indebted to all people who helped me (and help me still) during the hard days: Bibi Eni who treated Kay as her own son; Teteh Iis who barely had time to rest preparing everything for the multiple trips to the doctor and hospital; Nenek and Engki, for their enduring patient and calmness during my bouts of worries; Doctors B and H; and last but by no means least: Mama, for her trust, her unwavering confident and her unsurpassable support in me, although I know that these last few days must’ve been hellish for her also. Thank you all.

Sep 20, 2006

Celoteh Pagi Hari

Celotehan seorang bocah lelaki berusia tiga tahun yang terdengar di pagi hari ketika Baba masih bergulat dengan kantuk…

“Biiiiii! Mimi Biiiii,”
“Iiiiis, kupu-kupu….”
“Huss! Sana! ñamuk nakal!”
“Nakal!”
“Nakal.”
“Huss! Pus nakal! Huss!”
“Hole! Hole! Aku naik kelas!”
“Mamam. Lapal.”
“Baba!” telunjuknya terasa menekan punggung Baba.
“Mama!”
“Hwedia.”
“Hokolah.”
“Ayam!”
“Ini kakiña!”
“Ko hitu, ko dopan.”
“Pipis.”

Dan Baba terbangun memandang genangan pipis dan sekelebat sosok mungil melaju menuju ruang tamu…

Ayam dan Kuda

Kay punya celengan ayam baru, dibelikan oleh neneknya. Celengan ayam yang baru ini lebih kecil dari yang lama, tapi masih lengkap anggota badannya. Ekornya masih menjulang dengan anggun, dan belum ada tambalan lakban, hingga suatu ketika Kay meletakkan celengan baru itu dengan agak keras dan…jenggernya copot hahaha, selotip beraksi, deh.
Paginya Baba memberikan Kay dua keping koin dua ratus rupiah. “Ini untuk apa Kay?” tanya Baba, “untuk di…?”
“Dinaaaaabung!” jawab Kay, tertawa. “Kotawa,” lanjutnya.
“Siapa yang ketawa?” tanya Baba.
“Lil,” jawabnya, ia selalu menyebut dirinya ‘Lil’.
“Gimana ketawanya?” tanya Baba lagi.
“Hahaha,” jawab Kay.
“Ayo ditabung dulu,” dan Kay pun memasukkan sekeping koin itu ke celengan ayam lama.
“Satu lagi,” ujar Baba.
Kay tampak ragu memasukkan keping terakhir koin itu, ia tidak melepaskan genggamannya bahkan ketika setengah koin itu sudah masuk ke celengan. Kay menarik kembali koin itu, lalu beranjak pergi.
“Mau ke mana?” tanya Baba, “nabung dulu dong.”
Kay berjongkok di dekat celengan ayam barunya dan tanpa ragu-ragu memasukkan koin terakhirnya ke dalam celengan baru itu. Barulah Baba paham bahwa ia membagi dua ‘pendapatannya’ hari itu.

Selain celengan baru, Kay juga punya kuda-kudaan baru. Kuda-kudaan ini berbentuk zebra. Meskipun Kay masih agak takut menaiki kuda baru ini ia sangat senang dengannya.
“Kuda ada dua,” demikian kata Kay.
Tadi pagi Baba membantunya naik kuda itu.
“Sakit,” kata Kay. Baba heran, sakit apanya? pikir Baba, kan ‘pelananya’ sudah dilapis busa oleh Nenek.
“Sakit,” kata Kay lagi. Rupanya Kay duduk terlalu di belakang, sehingga pantatnya persis berada di pinggir ‘pelana’ kayu kuda itu, dan itulah yang menyebabkan rasa sakit.
Setelah Baba membenahi posisi duduknya, Kay dengan nyaman duduk di punggung kuda, tapi ia masih takut mengayunkan badannya. Jadi Kay hanya duduk diam berpegangan pada handel di sisi kanan dan kiri leher kuda-kudaan itu sementara kakinya merangkul kedua kaki depan kuda-kudaan.
Kay kelihatan kikuk sekali meskipun senyum lebarnya terkembang.

Sep 15, 2006

Reflek Menabung

“Bi, ini untuk beli Baygon dan belanja,” Kata Baba sambil memberi selembar limapuluh ribuan padanya. Kay beringsut maju mendekat dan melongok ke tangan Bibi, lalu mengambil uang kertas tersebut. Ia langsung melipat, melipat dan menggulung-gulung lembaran itu dengan serius.
“Kasih ke Bibi,” perintah Baba yang, tentu saja, tidak dituruti.
“Ayo, kasih Bibi,” ulang Baba sambil setengah memaksa memutar badan Kay menghadap Bibi. Kay hanya menyentuhkan uang tersebut sepersekian detik di telapak Bibi sebelum cepat-cepat menariknya kembali. Lalu Kay memutar badan dan berjalan tergopoh gopoh ke kamar.
“Bi,” kata Baba yang mafhum apa yang akan terjadi, “cepetan tangkep sebelum uangnya dimasukin ke celengan ayam.”
Bibi pun segera mengejar Kay ke kamar dan membujuknya untuk mengembalikan uang itu.
“Jangan dimasukin, nanti susah ngeluarinnya,” pinta Bibi yang, tentu saja, tidak diindahkan. But Bibi still have some tricks up her sleeves.
“Sini Bibi masukin. Nah, udah ya. Udah masuk tuh,” kata Bibi, padahal uang itu ada dalam genggamannya.
Hehehe…dasar anak kecil…masih bisa diakalin. Tapi Baba senang karena Kay sekarang kalau mendapat uang tidak lagi dibuang ke tempat sampah…

Sep 14, 2006

Pertanyaan yang Tak Terjawab

“Kay kesayangan siapa?”
“Duuh….” tangannya meraih leher Baba dan memeluk.
“Kay kesayangan siapa?” tanya Baba lagi.
“Duuh…” pelukannya makin kencang.
“Kay kesayangan siapa?” ulang Baba untuk yang ketiga kalinya.
“Duuh…” kali ini leher Baba dipeluk dengan dua tangan.
“Kay anak siapa?”
“Anak Mama,” jawab Kay.

Versions

Versi Normal:

“Mama,”
“Di mana Mama?”
“Hwedia,”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hokolah.”


Versi Echo:

Kay, sehabis mandi, masih telanjang bulat, melompat-lompat di atas tempat tidur, dipegangi Teteh Iis.

“Mamamama!”
“Di mana Mama?”
“Hwediawedia!”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hokolahokolah!”


Versi Rocker:

“Mama!” geram Kay.
“Di mana Mama?” geram Baba bertanya.
“Hwedia!” jawab Kay dengan geraman.
“Ngapain Mama di Swedia?” tanya Baba lagi, masih dengan geraman.
“Hokolah!” geram Kay menjawab.

Sep 13, 2006

Kangen Mama

Kemarin Kakek menurunkan foto Mama Kay yang tergantung di dinding di atas meja makan untuk membersihkannya dari debu.
Kay melihat, lalu menghampiri Kakek.
"Mama," tunjuk Kay.
Kay mendekat lagi, menyentuh wajah Mama.
Lalu Kay memeluk foto berbingkai itu, "Duuh..." katanya...

Anatomy Lesson

“Nabung dulu yuk!” kata Baba sambil memberikan sekeping koin lima ratus pada Kay. “Masukin ke celengan ayam besar ya,” lanjut Baba.
“Nabung!” ujar Kay. Ia meraih koin itu dari tangan Baba dan memasukkannya ke dalam celengan, lalu ia bertepuk tangan, “Holeeee!” soraknya.
“Kayril,” panggil Baba sambil memegang celengan itu, “Ini apa?”
“Jambul,” jawabnya.
“Ini apa?” tanya Baba lagi sambil memegang bagian yang lain.
Kay diam, ia tampak bingung.
“Ini jengger,” kata Baba menjelaskan.
“Jenggel,” ulang Kay.
“Ini apa yang warnanya kuning?”
“Patuk,”
“Kalo yang ini?”
“Mata,”
“Ini apanya ya?” tanya Baba sambil mengusap sisi-sisi celengan tersebut.
“Sayap,”
“Kalo ini?”
“Ekol,”
“Yang di bawah ini apa?”
“Kaki,”
“Pintar. Sekarang kepala Kay mana?”
“Kepaalaa,” jawabnya sambil memegang kepala.
“Leher?”
“Leeehelll,” ditunjuknya leher pendek itu.
“Dagu?”
“Daaagu,” tunjuknya.
“Bibir?”
“Biiiibil,” katanya agak kesulitan karena ia memegang bibirnya.
Kemudian Baba lanjutkan dengan mata, alis, hidung, jidat, kuping, perut, dada, punggung dan kaki. Kay bisa mengenali seluruh bagian tubuh itu dengan tepat.
“Kalo jempol mana?” uji Baba.
“Jempol,” jawab Kay sambil memegang telunjuk.
“Itu telunjuk, Nak,” Baba tersenyum. “Kuku mana?” tanya Baba.
“Kuuuuuku,” dipegangnya kuku telunjuk itu, “Iiiiiis, potong kuku!” tambahnya.

Sep 11, 2006

Kincir angin -- Gembira -- More 'Duuh...Laah...'

Bangun pagi Kay langsung mengenail mainan baru di kotak mainannya: sebuah kincir angin warna-warni. Kincir itu langsung diambil dan diteliti.
“Itu kincir angin dari Tante Mandy,” kata Baba. “Gini cara mainnya,” Baba mencontohkan Kay cara bermain kincir angin dengan mengayunkannya ke depan dan ke belakang. Kincir itu berputar kencang.
Lalu Kay mengambil kincir itu dari tangan Baba dan memutar helai-helai kincir dengan tangan kanannya. Baba tersenyum melihat Kay sudah bisa mengkoordinasikan tangan kanan dan kirinya dengan cukup baik.

Kemarin Kay bermain air bersama Kakek yang sedang menyirami tanaman. Ia senang sekali. Selang air dipegang dan jari-jari mungilnya menutup mulut selang itu sehingga air terpancar ke segala arah, termasuk ke mukanya sendiri. Kay tertawa tergelak-gelak.
Baba belum pernah melihat Kay segembira itu. Bahkan dalam tidur siangnya Kay masih tertawa-tawa dan tersenyum. Mungkin ia mimpi main air.
Tapi, yah, seperti biasa Kay tidak mau berhenti main air, sehingga waktu airnya dihentikan Kay menangis. Nggak apa-apa nak, nggak semuanya bisa Kay dapatkan and all good things have to end sometime.

Ada satu hal yang Baba perhatikan dari Kay akhir-akhir ini. Ia makin manja dan sudah mulai banyak alasan bila diminta melakukan sesuatu. Well, nggak banyak sih alasannya, hanya saja bila Baba meminta Kay melakukan sesuatu—berdoa, menjawab pertanyaan, mengambilkan sesuatu—biasanya dia akan melakukan setengahnya, bila berdoa hanya sampai ‘bismillah’, menjawab pertanyaan hanya satu suku kata (ditanya ‘Baba mau ke mana?’ jawabnya hanya ‘ke kaaan—’), selebihnya dia akan memeluk Baba sambil berkata manja: “Duuh…Laah…”
hmmh...benar-benar makin banyak akalnya...

Sep 7, 2006

Banyak akal -- Ngeloni -- "Empat tahun"

Kay sudah mulai bisa beraktifitas menggunakan kedua sisi tubuhnya.
Demikian laporan terapis Kay kemarin. Ia kemarin belajar menggunting dan menempel. Meskipun dalam menempel dia masih dibantu oleh terapis dalam menggunting ia sudah menunjukkan kemajuan.
Di kelas Ibu Rissa Kay mulai menunjukkan kenakalannya, ia mulai suka menolak melakukan perintah-perintah yang diberikan oleh Ibu Rissa dan banyak menangis.
“Nangisnya karena kolokan,” kata Teteh Iis, “Kay suka mencolok mata sendiri supaya air matanya keluar.”
Hmm…sudah mulai banyak akalnya anak ini…

Malamnya Kay gembira karena Baba pulang sebelum dia tidur, dan Baba membawa mainan untuknya. Sayangnya kedua mainan itu dijadikan alasan untuk menunda waktu tidurnya.
Kay semalam begitu manja pada Baba, ia menolak tidur dikeloni nenek.
“Tulun,” katanya sambil beringsut dari tempat tidur, “bukain pintu.”
Akhirnya Baba terpaksa mengenakan handuk di sekeliling mulut Baba untuk mencegah Kay tertular influenza yang sedang Baba idap.
Kay tampaknya penasaran dengan handuk di muka Baba. Ia selalu berusaha untuk membukanya dan berkali-kali Kay berkata: “Baba!” seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang tidur bersamanya adalah memang Baba yang biasa ngeloni dia…

Paginya Kay agak susah disuruh mandi untuk bersiap ke sekolah, dia asyik bermanja-manja dengan Bude Tati, tetangga sebelah.
Kalau ditanya sudah berapa lama nggak ketemu Bude, Kay akan menjawab “Empat tahun.”
Akhirnya Kay dibujuk naik jerapah sementara Bude Tati menyelinap keluar rumah.

Sep 5, 2006

Suatu Pagi Bersama Kay

Alarm berbunyi.
Jam setengah enam, pikirku. Aku bangun, mematikan alarm, mematikan AC dan bersiap untuk kembali tidur.
Lima menit kemudian, seorang bocah cilik berujar tidak jelas, membangunkanku, merangkak melintasi tubuhku dan turun dari tempat tidur sambil bersenandung. Entah apa yang disenandungkan.
Ia membuka pintu dan berjalan terhuyung-huyung keluar kamar. Di hadapan kotak mainannya ia jongkok dan mulai memilih-milih dan memilah-milah mainan yang hendak dimainkan.
Aku keluar kamar, mengambil segelas air dan meminumkannya pada Kay. Seperti biasa, dia hanya minum seteguk. Sisanya aku yang menghabiskan.
Kay tepekur di hadapan mainannya.
“Tcali kupu-kupu,” katanya tiba-tiba.
Kupu-kupu yang dimaksud adalah sebuah windchime dengan kupu-kupu plastik tergantung di atasnya. Kupu-kupu itu didesain sedemikian sehingga seolah terbuat dari kaca patri. Warnanya ungu dan biru. Kay sangat suka dengan kupu-kupunya itu. Bahkan ia semalam tidur sambil menggenggam sang kupu-kupu.
Kay beranjak bangun.
“Di mana kupu-kupunya?” tanya Kay.
“Di sana, tuh.” Jawabku, menunjuk laci yang ada di kaki tempat tidur. Semalam aku meletakkan kupu-kupu itu di atas laci itu, persis di depan tape compo.
Kay kembali masuk ke kamar, celingukan.
“Itu di sana, di atas meja,” kataku.
Kay masih celingukan dan bergerak keluar kamar, agaknya akan mencari meja di ruang tamu.
“Bukan di luar,” kataku, “itu di depan tape.”
Ia menoleh dan mendekat ke tape compo dan melihat si kupu-kupu tergeletak, meraihnya dan memegang gantungannya. Ia sangat suka memandang benda yang tergantung.
Kay tersenyum puas.

Beberapa menit kemudian si kupu-kupu tergeletak di lantai. Kay sedang mengosongkan keranjang mainannya dan, setelah keranjang itu kosong, ia masuk dan duduk di dalamnya bersama dengan sebuah piring plastik berbentuk ice cream cone.
“Apa ini?” tanyaku.
“Es klim.”
“Kay mau es krim?”
Dia diam.
“Ayo mamam.”
“Ammm,” ucapnya sambil memasukkan salah satu sisi piring berbentuk es krim itu ke dalam mulut kecilnya.
“Mamam. Lapal,” katanya. “Mmmm enaaaak!” tambahnya.
Kemudian Bibi datang membawa semangkuk havermout, dan dalam sekejap Kay menghabiskannya, padahal dia baru saja menghabiskan segelas susu cokelat…

Nabung--"Hokolah"--doa

Semalam waktu Baba buka pintu gerbang, dari dalam rumah terdengar suara teriakan gembira seorang anak lelaki berusia tiga tahun.
Kay menyambut Baba dengan gegap gempita ketika Baba masuk ke dalam rumah. Seperti biasa dia langsung memeluk kedua kaki Baba.
Baba merogoh kantung dan mengeluarkan koin seratus rupiah, “Apa ini Kay?” tanya Baba.
“Uwang.” Jawabnya.
“Untuk apa?” tanya Baba lagi.
“Naaaaabung!” katanya.
Baba ambil celengan ayam dan dengan senyum lebar Kay memasukkan koin kecil itu ke dalam celengan.
“Baba!” katanya menunjuk Baba.
“Mama!” katanya menunjuk udara kosong.
“Mama di mana?” tanya Baba.
“Hwedia.”
“Ngapain Mama di Swedia?”
“Hokolah!” Jawab Kay. “Bobo yuk!”
“Baba mamam dulu ya,” dan Kay menunggu Baba mamam dengan sabar sambil sesekali meletakkan kepalanya di paha Baba.
Setelah selesai makan, Baba dituntun Kay masuk ke kamar. Ia naik ke tempat tidur, berdoa—doa tidur dan doa untuk orang tua.
Lalu Kay bobo.

Aug 29, 2006

"Dua Kilo!" -- Upacara -- Nakal -- Keju?

“Kayril.”
“Ya Baba.”
“Berapa beratnya?” ia sedang berdiri di atas timbangan badan.
“Dua kilo!” jawabnya dengan segala keyakinan yang hanya dimiliki oleh seorang balita, kemudian tertawa dan memelukku, “duuh…laah…”
“Upacara dulu,” pintaku.
“Pipi kanan,” katanya sambil mencium pipi kananku. “Pipi kili,” pipi kiriku mendapat bagian. “Mmmm,” gumamnya mencium bibirku. “Jidat,” katanya sambil mengadu keningku dengan keningnya.
“And?” tanyaku.
“Big hug!!! AAAAAAAAAAAA!!!!” dipeluknya aku erat-erat sambil berteriak nyaring di kupingku.

Laporan terapisnya kemarin kurang memuaskan, Kay tidak bisa diam dan ingin keluar kelas terus—‘Kay lebih nakal’ demikian tulis Sang Terapis—sehingga nilai duduk dengan rapinya lebih buruk daripada minggu lalu, tetapi yang lainnya, termasuk mengidentifikasi warna (merah) baik dan konsisten. Mungkin yang jadi masalah bagi Kay adalah bersinggungannya waktu sekolah dengan waktu dia tidur siang, jadi di kelas Kay seringkali mengantuk. Hehehe.

Soal selera makan? Kay memang kurang suka nasi, kayaknya. Kalau makan nasi maunya diemut saja, meskipun dengan semur hati ayam yang biasanya menjadi kesukaan. Entah bagaimana caranya anak itu bisa saja memilah nasi dengan sayuran atau lauk lainnya di dalam mulut sehingga meskipun sayur atau lauk sudah ditelan nasinya pasti tertinggal di rongga antara lidah dan gigi seri untuk diemut.
“Tapi kalo makan nasi pake ati ayam dan keju nggak masalah,” ujar Teteh Iis, pengasuh Kay. Nah lho? Macam mana pula ini makan nasi pakai semur hati ayam dan selembar keju?
Yah, nggak apa-apalah, yang penting anaknya mau makan. Ya kan Ma?

Aug 25, 2006

Gabal Ayam

Semalam saat membuka pintu rumah, sebuah pemandangan lucu dan menggemaskan menyambutku. Kay sedang duduk di pangkuan neneknya, mengenakan sarung. He is so cute in that!

Saat melihatku senyumnya terkembang dan ia langsung bangkit menghampiriku dan memeluk dan mencium kedua pipiku. Tangannya terkembang, minta ‘gedong sama Baba’ katanya.

Di sekolahnya Kay menunjukkan perkembangan yang cukup baik, ia sudah mulai bisa memahami perintah-perintah sederhana, sudah bisa ‘duduk yang rapi’ berkali-kali, melompat tiga kali berturut-turut. Nilai pada kelas Behavioral Therapy-nya sudah baik (rata-rata A).

Kemarin ia melukis dengan jari. Ketika terapis bertanya lukisan apa yang ia buat, dengan yakin Kay menjawab: ‘Gabal ayam!’ lalu mendekatkan jemari berlumur cat itu ke hidungnya, dan berkata: ‘Bau!’.

All in all he’s improving, and that makes me happy. Last night while he played he sang an unintelligible song that had a somewhat familiar tune to my ears. I asked him to repeat the song, and he repeated it all the way from the beginning, starting the song with the words: ‘Bawalah aku ke tepat ku tudju / bila t’lah tapak, kapung hañamalamanku / buñikan ñaling seluling ketamu / tiwiit.’ He was singing one of Tasya’s song.

Satu hal yang menakjubkan dari Kay adalah kemampuannya menyambungkan lagu yang satu dengan yang lainnya, dengan kata lain ia suka membuat medley. Semalam ia memanjat tempat tidur sambil bernyanyi:

Naik naik ko putcak gunung
Tig’gi ti’gi hokali
Kiliii kanan kulihat haja
Bañak pohon tcomala pohon lamping
Daunnya halus lang’hing
Bo’golak-golak kian komali
Hopolti tangan ponali…

See? The only thing I am trying to stop is his fondness of swinging a rolled play-dough worm, saying: ‘ini e’ek’.

Aug 23, 2006

phonecall at 16:45

Baba : Kayril lagi ngapain?
Kayril : Sekolah.
Baba : Sekolah?
Kayril : Babababababa!!! Mamamamamama!!
Baba : Mama ada di mana?
Kayril : Di Swedia (dia mengucapkannya Hwedia, dengan nada tinggi dan panjang pada ‘di’—Hwediiiii-a!)
Baba : Kayril udah sekolah?
Kayril : Udah (lalu dia menyanyi Naik Kereta Api, sebagian Balonku—meletus balon hijau, DOR!; dan Bintang Kecil sampai habis)

Aug 16, 2006

Sebuah Introduksi

Lima hari lagi saya akan menjadi orang tua tunggal secara fisik selama minimal satu tahun.

Saya sebut secara fisik karena saya tahu bahwa secara psikologis istri saya akan tetap bersama dengan saya selama kurun waktu (minimal) setahun itu. Saya meyakini itu meskipun secara wadag ia akan berada ribuan kilometer jauhnya dari saya dan Kay, anak kami.

Tanggal duapuluhsatu Agustus duaribuenam nanti ia akan berangkat ke Lund, Swedia untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang berikut. Dan saya akan tinggal di Jakarta bersama Kay.

No worries. Kay adalah anak yang baik. Anak penyayang yang selalu ceria.

Dan melalui halaman-halaman virtual ini saya akan menceritakan pada kalian (pada kamu juga, Ma) keseharian saya bersama Kay, my son, my sun.

Gentles, please enjoy My Day With Kay...