Dec 20, 2008

Tiga Permintaan

I

Kebiasaan Baba setiba di rumah dari kantor adalah langsung makan malam, kadang kala ditemani oleh Mama.

Akhir-akhir ini jika Baba dan Mama sedang makan malam sambil asyik ngobrol di meja makan, Kay sering menghampiri Baba lalu menempelkan pantatnya di lutut Baba.

‘Mau dipangku sama Baba,’ katanya kemudian sambil menumpangkan kakinya ke paha Baba.

Baba tidak punya pilihan lain selain mengangkat tubuhnya dengan tangan kiri—Baba hampir selalu makan dengan tangan, tanpa sendok-garpu—dan mendudukkan Kay di paha Baba. Dia memintanya dengan sangat manis, sih!

Sudah barang tentu sepanjang Baba dan Mama makan malam Kay duduk manis di paha Baba sambil mendengarkan—dan sesekali membeo—percakapan kami.


II

Setiap hari Minggu, Baba selalu menyempatkan diri mengisi TTS mingguan yang tercetak di salah satu suratkabar terkemuka.

Saat membuka halaman TTS tersebut, suara kertas koran itu pasti akan mengundang seorang anak kecil yang serta-merta memohon:

‘Ba, gambal ayam, Ba!’

Sesi mengisi TTS pun akan diselingi dengan sesi menggambar bebas. Permintaan gambar yang sering diminta Kay antara lain: ikan paus, ayam, ayam biru, ayam hitam, burung, pohon kelapa, kurungan ayam, ubur-ubur, ayam mesin, burung hijau, kandang burung, tempat makan (merujuk ke salah satu restoran favorit Kay), pagar pohon kelapa, pohon daun, dan banyak lagi.

Senyum yang mengembang di bibirnya cukup menjadi imbalan yang paling berharga.


III

Kay mempunyai sebuah kuda goyang (terjemahan bebas dari rocking horse) dengan loreng seperti zebra. Kuda itu memiliki pelana busa yang dipasang Engki supaya pantat Kay tidak sakit, dan pelana busa itu dibungkus dengan kain batik oleh Nenek supaya lebih empuk dan terlihat manis.

Kay senang sekali menaiki kuda tersebut, kadang-kadang kudanya diberi ‘minum’ dari gelas plastik.

‘Ba, mau naik kuda, Ba!’ demikian katanya sebelum menaiki kuda itu.

‘Iya,’ jawab Baba, ‘silahkan naik.’

Kay naik dan mulai menggoyangkan si kuda maju mundur.

Lalu ia merentangkan tangannya ke arah Baba dan menggoyang-goyangkan jemarinya mengajak Baba mendekat sambil berkata, ‘Peluk dulu, Babanya.’

Tidak bisa tidak, Baba mendekati si penunggang kuda yang langsung meraih leher dan memeluk erat sambil mengeluarkan suara manja.

Setelah selesai ia akan kembali ‘mengendarai’ kudanya.

Nov 23, 2008

Kayril is What He Eats

‘Halo? Bibi?’


‘Iya, kenapa?’


‘Si Kay lagi ngapain?’


‘Itu lagi main-main,’ kata Bibi di ujung sana, ‘dari tadi nggak bisa diem.’


‘Hahaha,’ Baba tak bisa menahan tawa membayangkan bocah kecil itu berlarian di dalam rumah, ‘Makannya gimana?’


‘Mau,’ jawab Bibi, ‘tadi nambah dua piring.’


‘Hah? Makan pake apaan?’


‘Ya pake itu, bakwan jagung. Bakwannya habis tiga, nasinya dua piring.’


Heran? Iya, kadang-kadang Baba juga heran. Sebagai seorang anak berusia lima tahun Kay hampir tidak memiliki kesulitan makan—memang seringkali makannyadikulum alias diemut, tapi jarang sekali dia menolak makanan.


Sayur-mayur dia suka, terutama sayur bening oyong dan bakwan (atau ‘bawkan’—seperti biasa dia sebut). Wortel dia sangat suka, terutama apabila Mama membuatkan kue wortel (ini sih semua juga suka, hehehe).


Ikan? Jangan ditanya. Mulai dari yang mentah, hingga yang matang. Mulai dari sushi, hingga lele goreng. Telur salmon dalam sushi? Dilahap dengan tidak sabar. Salmon asap? Dipakai makan nasi berbarengan dengan bakwan dan sayur bening. Ikan kembung goreng? Nggak masalah. Ikan mas pepes? Disikat. Ikan pindang? Dilahap. Singkatnya, semua hidangan ikan, asalkan tidak pedas, dia suka. Bahkan kami sering menghalangi dia menambul ikan goreng di meja makan. Bukan apa-apa, karena kami takut dia kekenyangan dan sakit perut. Makan berlebihan juga tidak baik, bukan?


Yang agak sulit adalah ayam dan daging. Bukan karena ia tidak suka, tapi untuk kedua jenis makanan ini Kay harus mendapatkan yang lembut, karena yang keras dan liat sulit dikunyah dan akhirnya diemut.


Bagaimana caranya kami mendidik Kay agar menyukai segala macam jenis makanan ini? Mungkin Mama bisa menjelaskannya dengan lebih baik dari Baba. Take it away, Ma!


Dulu, waktu Kay masih di dalam kandungan, dan Mama lagi senang-senangnya menimba ilmu kanan-kiri soal parenting, ada seorang dokter anak yang membagi tips jitu cara membuat anak menyukai sayuran (dan semua jenis makanan bergizi lainnya). Caranya gampang, kenalkan rasa asli sayuran yang memang punya ‘acquired taste’ tanpa dicampur apapun ketika anak berusia dini (usia mengenal makanan lembut bertekstur). Misalnya alih-alih mencampur semua sayuran dan lauk ke dalam bubur saring, buat bubur saring ikan dengan sayur bayam yang terpisah. Atau buat pure kacang polong atau labu kuning. Wah, kombinasinya bisa seru!


Hasilnya Kay tidak pernah menolak sayuran dan ikan. Kecuali sayur pare dan daun melinjo yang mungkin alpa Mama kenalkan.


Nah, kenapa Kay tidak begitu suka ayam dan daging?


Mungkin selain teksturnya yang kurang dia sukai, karena Baba dan Mama yang waktu Kay masih bayi seringkali tongpes (waduh, rahasia keluarga nih hehehe –Baba). Sehingga perlu dibuat prioritas makanan apa yang harus dibeli dan tidak harus, daripada mengorbankan imunisasi yang tidak di-cover asuransi kantor, hehehe. Nah, kami pikir, ayam kan banyak yang diternakkan dengan menggunakan segala macam hormon penggemuk atau antibiotik, atau daging yang diberi formalin. Dengan protein yang sama bisa didapat dari daging ikan. Di belakang rumah, ada Pak Haji peternak lele dan belut yang masih natural, yang jadi langganan kita. Sementara sumber zat besi dari daging bisa diganti sayuran, kan?


Semuanya ada trade-off-nya. Dan kita sekarang cukup bahagia melihat mata Kay yang berbinar-binar setiap kali melihat tempe yang baru digoreng. Knowing that, banyak protein yang terkandung di dalamnya yang bisa membuat dia tumbuh sehat. Atau, melihat dia melahap sayur sawi berikut batangnya dan toge rebus di bakmi ayam bangka yang kadang-kadang suka kita belikan (yang ini agak nggak sehat, memang).


Kembali ke cerita Baba.


Thanks a lot, Mama. Nah, gitu ceritanya. Repot? Memang, tapi bukankah itu serunya merawat anak? Dan percaya deh, begitu melihat mata yang berbinar, semua kerepotan dan kelelahan akan sirna seketika. Percayalah.


Oh, ya. Ada makanan yang Kay tidak doyan meskipun kemasannya sangat menarik, yaitu: fast food.

Nov 6, 2008

'Duuh Ashemnyaaaa!'

Petikan percakapan di telepon kemarin:

Baba : Lagi ngapain si Kay?

Mama : Itu, lagi lari-larian.

Suara teriakan dan tawa terdengar melatari jawaban Mama. Suara-suara itu mendekat.

Kay : Aaaaahhh (suaranya lirih, manja, suara yang biasa ia keluarkan bila memeluk)

Mama : Aduh, aduuuh, Mamanya dipelukin.

Terdengar suara mulut mencium pipi berkali-kali, sepertinya Kay sedang menghunjami Mama dengan puluhan ciuman.

Kay : Adddduuuh ashemnyaaaaa!!!

Mama : Heh! Masa Mama dibilang asem??

Terdengar suara gelak tawa Kay yang kegelian dikelitiki Mama.

Oct 8, 2008

Menghapal

Di suatu Selasa, Baba mendapatkan Kay sedang duduk di salah satu sudut rumah. Telunjuk kanannya sedang menyentuh-nyentuh jemari tangan kirinya, sementara mulutnya terlihat berkomat-kamit.

‘Sedang apa, Kay?’ tanya Baba.

Kay tidak mengindahkan pertanyaan Baba dan terus menyentuh jemarinya sambil komat-kamit, tetapi kali ini ia melakukannya sambil beranjak pergi.

Baba dan Mama yang penasaran menghampiri Kay yang masih asyik dengan kegiatan misteriusnya itu.

‘—pel, semangka, jeluk, mangga, pisang. Itu telmasuk kelompok buah-buahan,’ gumam Kay sambil menyentuh jemarinya setiap menyebut nama-nama buah tersebut.

‘Ayam, unta, kucing, gogok, bebek. Itu telmasuk kelompok binatang,’ gumamnya lagi sambil menjauh dari Mama dan Baba.

Oalah, Naaak, rupanya sedang menghapal pelajaran untuk hari Rabu besok ya? Memangnya ada ujian?

Aug 20, 2008

Mengeja

‘Yuu—Emm—Bii—Arr—Ii—Eel—Eel—Eii!’ seru Kay sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

‘Bacanya apa?’ tanya Baba.

Umbrella!’ teriaknya.

‘Artinya apa?’

‘Payuuung!’

Berkat komputer mainan yang dibelikan Mama, Kay kini sudah bisa mengeja beberapa kata dalam Bahasa Inggris. Memang masih menghapal, tapi ini sangat membantunya mengingat huruf-huruf yang sudah ia kenal dan memudahkannya pada sesi terapi okupasi.

‘Kalau pesawat ejaannya gimana?’ tanya Mama.

‘Eii—Aii—Arr—Pii—Eel—Eii—Een—Ii!’ jawabnya mantap.

‘Bacanya apa?’

Airplane!’

Lucunya, ia juga mengekspresikan marahnya dengan mengeja. Sebelum ini, ia mengekspresikan marahnya dengan mengeluarkan suara-suara tak menentu yang terdengar seperti percakapan meskipun tidak memiliki arti. Tapi sekarang ia mengeja bila marah.

Misalnya, ketika ia mengekspresikan keengganannya untuk membereskan mainannya ia akan merepet:

‘Di-O-Ji! Di-O-Ji!’

Atau

‘I-Wai-I! I-Wai-I!’

Atau bahkan berseru dengan cepat ejaan berikut:

‘Yu-Em-Bi-Ar-I-El-El-Ei!!’

Sedemikian cepatnya sehingga kadang-kadang Baba maupun Mama kesulitan menangkap maksudnya.

Di sekolahnya pun Kay sudah bisa mengeja, dan seringkali Baba atau Mama mengujinya kembali di rumah sambil menambahkan kosa kata ejaan Kay.

Berikut adalah cuplikan menjelang tidur beberapa hari yang lalu:

‘B-A?’ tanya Baba.

‘Baa!’ jawab Kay.

‘J-U?’

‘Juu!’

‘Bacanya?’ tanya Baba.

‘Baaaajuuuu!!’ jawab Kay sambil cengar-cengir.

‘L-A?’ tanya Baba memulai kata yang lain.

‘Laaa!’

‘C-I?’

‘Ciii!!’

‘Bacanya?’

‘Laaaciii!’ tingkahnya makin menjadi-jadi. Ia ajrut-ajrutan di tempat tidur.

‘B-A?’

‘Baa!’

‘B-A?’

‘Baa!!’

‘Bacanya?’

‘BABA!!!’ teriaknya sambil memeluk Baba erat sekali.

‘M-A?’

‘Maa!’

‘M-A?’

‘Maa!’

‘Bacanya?’

‘Mamaa! Mama di lual,’ katanya, Mama memang ada di luar kamar. Kalau kami berdua berada di dalam kamar mengeloni Kay, dia akan menahan tidur sedapat mungkin agar bisa lebih lama bermain-main dan bermanja-manja. Akibatnya bangun selalu kesiangan.

‘K-A?’ tanya Baba, dengan maksud mengeja nama Kay.

‘Y!’ lanjut Kay. Kok nggak dijawab dengan Ka?

‘K-A?’ tanya Baba mencoba lagi.

‘Y!’ jawab Kay lagi.

‘Ya udah,’ kata Baba menyerah, ‘bacanya apa?’

‘BAJAAAAY!!!!’ teriaknya dengan penuh keyakinan.

Aug 19, 2008

Kunci

‘Lho? Kok kunci lemari nggak ada?’ tanya Mama keheranan. Kami baru saja pulang dari rumah Yangti di Bintaro malam Minggu kemarin. Baba menghambur ke kamar dan menemukan bahwa salah satu pintu lemari pakaian kami—tepat di bagian kami menyimpan pakaian sehari-hari—terkunci dan anak kunci yang biasanya tergantung di lubangnya tidak ada.

‘Wah, iya. Pasti tadi dimainin sama Kay,’ kata Baba. Bukan menuduh, tapi ini bukan kejadian pertama. Untungnya pada kedua peristiwa terdahulu, anak kunci selalu berhasil ditemukan.

Setengah mengantuk dan lelah, Baba berkeliling rumah mencari anak kunci itu sambil berusaha mengingat-ingat ke mana saja Kay bermain sebelum kami berangkat ke rumah Yangti siang tadi. Di teras rumah? Tidak ada. Di dapur? Tidak ada. Di garasi? Tidak ada juga. Di ruang tengah? Tidak ada. Di ruang tamu? Tidak ada. Mungkin terselip di bagian lemari yang lain? Tidak ada juga.

‘Wah, terpaksa pakai baju yang ada di luar lemari aja nih,’ kata Baba sambil mengenakan kaus singlet. Tidak mungkin kan Baba tidur dengan kemeja kerja? Pasti nggak enak banget rasanya.

Keesokan harinya kami bertanya kepada Kay, di mana anak kunci lemari itu?

‘Dishimpen,’ kata Kay.

‘Disimpen di mana?’

‘Di shitu.’

‘Di situ di mana, Kay?’ tanya Baba agak mendesak.

Hening.

‘Ilang ya?’ tanya Kay polos.

Baba hampir tertawa terbahak-bahak. Aduuh anak ini, komentarnya ada-ada aja!

Setengah hari kami mencari lagi anak kunci itu tanpa hasil.

‘Congkel aja pakai obeng,’ usul Bibi.

Baba mencoba mencongkel. Gagal. Mendobrak pun gagal.

‘Bisa, Ba?’ tanya Mama.

‘Nggak. Kuncinya kuat. Sulit didobrak. Mungkin kalau kita punya…’ Baba bergegas ke garasi.

‘Cari apa, Ba?’ tanya Mama.

‘Gergaji besi,’ jawab Baba sambil mencari-cari di dalam laci perkakas di garasi.

Untung ada. Baba kembali masuk ke rumah sambil menunjukkan gergaji besi pada Mama.

‘Buatan Swedia nih,’ kata Baba sambil menunjukkan kalimat made in Sweden. Kami berdua tertawa.

Baba mulai menggergaji grendel kunci lemari diiringi tatapan penasaran dari seorang bocah berusia lima tahun.

Tiba-tiba Kay bergegas keluar kamar dan masuk kembali beberapa detik berikutnya sambil memegang sendok makan.

‘Bocok, Ma! Bocok!’ katanya sambil memukul-mukul tembok dan—tentu saja—membuat cat tembok kamar somplak di mana-mana. Rupanya melihat Baba sibuk ia berpendapat bahwa ia juga harus ikut sibuk.

‘Lhoo,’ kata Mama sambil mengambil sendok dari tangan Kay, ‘jangan dipukulin ke tembok dong, nanti rusak temboknya.’

‘Bocok Ma!’ katanya seru sekali.

Lima menit kemudian Baba berhasil memotong grendel kunci lemari itu. Akhirnya kami punya akses atas pakaian sehari-hari kami.

‘Kay nanti jangan suka mainin kunci lemari lagi ya,’ nasihat Mama.

‘Iya,’ jawab Kay.

‘Janji?’

‘Jangji.’

‘Aku udah pisahin kunci-kunci yang lain, jadi kalau hilang masih ada serep. Yang udah rusak, ya sudahlah, mau bilang apa lagi? Paling nanti kita ganti kunci baru aja,’ kata Baba.

Malamnya, anak kunci dari pintu yang siang tadi Baba rusak ditemukan di sela-sela baju di bagian lain dari lemari yang sama . . .

Jul 15, 2008

Happy Birthday Kay

Selamat ulang tahun Kayril Arenuma Faiz.

Terima kasih yang tak terhingga dari Baba dan Mama untuk seribu delapan ratus dua puluh enam hari yang dipenuhi dengan peluk, cium, canda, tawa, senyum, tangis, haru, marah dan berbagai keajaiban lain yang tak terhitung jumlahnya.

Baba dan Mama berharap Kay menjadi manusia yang berguna bagi semua, tanpa batasan bangsa, negara dan keyakinan.

Jul 14, 2008

Terima Kasih 2

‘Ba, waktu itu ada kejadian mengharukan, deh,’ kata Mama kemarin.

‘Kenapa, Ma?’

‘Si Kay tiba-tiba nyamperin aku, terus bilang “Kalau sudah dibantu bilang apa, Ma?” Aku tanya lagi: “Bilang apa?” Terus dia bilang gini: “Telima kasih.” Terus…’

‘Terus?’

‘Terus dia ngeliatin aku, dan bilang: “Telima kasih, Ma.” sambil meluk aku.’

Kami berdua tersenyum. Terharu.

‘Lalu aku bilang: “Sama-sama, Nak. Emang Mama udah bantu Kay?” Terus dia jawab: “Udah,” katanya.’

Sama-sama, Nak. Baba dan Mama juga berterima kasih pada Kay. Kay sudah banyak membantu Baba dan Mama dengan cara yang tak terduga.

Jul 9, 2008

Permainan Baru Kay

‘Kok nggak ada sualanya siih?’ tanya Kay sambil memegang kepingan puzzle hewan pertanian. Kepingan puzzle itu bergambar seekor ayam jantan, seekor ayam betina dan dua ekor anak ayam, tepat di tengah-tengahnya ada sebuah kenop yang berfungsi sebagai pegangan.

‘Suara apa, Nak?’ Mama balik bertanya.

‘Suala ayam,’ jawab Kay.

‘Ayam apa? Jantan apa betina?’ tanya Mama lagi.

‘Ayam jantan,’ jawab Kay.

‘Pijit ayamnya dong,’ pinta Mama.

‘Pijit Maaa,’ kata Kay sambil memijit kenop di kepingan puzzle itu.

‘Kukuruyuuuuuk,’ kata Mama menirukan kokok ayam jantan.

‘Oh, oh, oh,’ lirih Kay sambil tergopoh-gopoh menghampiri dan memeluk Mama dengan erat.

Jul 8, 2008

Tugas

‘Apa tugas suster, Kay,’ tanya Ibu Terapis.

Kay memperhatikan gambar suster yang ada di hadapannya, lalu menjawab:

‘Membawa obat.’

Dalam gambar itu si suster memang sedang membawa obat, tetapi bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Ibu Terapis.

‘Bukan, Kay. Kemarin kan sudah diajarkan, tugas suster adalah merawat—?’ kata Ibu Terapis memancing.

‘Olang sakit,’ jawab Kay.

‘Iya, benar.’

‘Sekarang tugas Baba apa?’ tanyanya lagi.

‘Mengantal vishidi,’ jawab Kay mantap.

‘Mengantar VCD?’ Ibu Terapis hampir tak dapat menahan tawanya. ‘Tugas Mama apa?’

‘Pelgi ke Swedia,’ jawab Kay.

‘Oh, gitu. Kalau tugas Kay apa?’

‘Memakai baju.’

Mulai mengarang bebas agaknya si Kay ini.

Akhirnya Ibu Terapis berhasil mengingatkan Kay bahwa tugas Kay adalah belajad dan tugas Baba adalah mencari uang.

‘Untuk apa, Kay?’

‘Untuk jajan,’ jawabnya sambil tersenyum.

Jun 25, 2008

Hai

'Hai, aku Baba,' kata Kay sambil menunjuk dada Baba.

'Hai, aku Mama,' katanya lagi sambil menunjuk Mama.

'Hai, aku Kayril,' jawab Baba dan Mama bersamaan.

Kay tertawa terbahak-bahak lalu memeluk kami berdua.

Jun 21, 2008

Tidak Boleh Pergi Lagi

Claim Open itu maksudnya apa ya, Teh?’ tanya Baba pada Teh Yuyun, salah satu sepupu Mama yang pagi itu menemani Baba dan Kay ke Bandara Soekarno-Hatta.

‘Pilotnya udah minta mendarat ke menara, meureun,’ jawab yang ditanya tak pasti.

Pagi itu, tanggal 15 Juni 2008, Baba, Kay dan Teh Iis sudah tiba di bandara sejak jam 8 pagi. Kami ditemani sepupu Mama dari Bandung, Teh Yuyun dan Teh Neneng dan kedua sepupu Kay, Anya dan Adel.

Kenapa pagi-pagi sekali di hari Minggu yang ditingkahi oleh renyai gerimis kami sudah ada di bandara?

Tepat sekali, Gentles, kami di sana untuk menjemput Mama yang akan pulang dari Swedia.

For good? Baba dengar sebagian dari kalian bertanya-tanya.

Yes. For good. Tak lama lagi kami akan kembali bertiga.

Hooray!

Lama kami menunggu, status penerbangan Mama tidak kunjung berubah. Sementara penerbangan-penerbangan sesudahnya dilaporkan telah mendarat.

Wah,sepertinya laporan yang tertera di LCD display itu tidak dapat diandalkan, pikir Baba. Akhirnya setelah kira-kira setengah jam Baba memutuskan untuk mencuri pandang dari luggage tag orang-orang yang keluar dari pabean.

Bukan yang ini . . . ini juga bukan . . . ini nggak kelihatan . . . nah! Ini dia!

Akhirnya Baba menemukan orang yang mendorong kopor dengan luggage tag bertuliskan nomor penerbangan Mama. Ini berarti sebenarnya pesawat yang ditumpangi Mama sudah mendarat.

‘Sini, Kay,’ panggil Baba, ‘sebentar lagi Mama datang, nih.’

Kay segera menghampiri Baba dan mulai berusaha memanjat pagar pembatas, diikuti oleh kedua sepupunya yang selalu menjaga Kay kemanapun dia pergi.

Tak lama kemudian sosok Mama muncul dari balik dinding penyekat.

‘Siapa itu, Kay?’ tanya Baba sambil menunjuk Mama.

Tanpa menjawab Kay langsung menghambur ke arah Mama sambil berteriak:

‘MAMAAAAAA!!’

—dan langsung minta gendong lalu memeluk Mama erat-erat.

‘Ya ampuun!’ kata Mama, ‘kok kurus sih, Nak?’

Yang ditanya asyik memainkan rambut Mama yang dibiarkan panjang.

‘Kurus tapi tinggi, Ma,’ kata Baba, ‘Mamamnya memang lagi jelek sih. Kadang-kadang sarapan tidak habis dan kalau makan akhir-akhir ini selalu diemut.’

Baba mendorong trolley berisi kopor-kopor Mama sementara Mama menggendong anak yang sedang asyik bermanja-manja.

‘Sebentar ya, aku ambil mobil dulu,’ kata Baba sambil berlari menuju lokasi parkir mobil.

Beberapa menit kemudian kami selesai memasukkan semua barang—dan orang—ke dalam mobil dan melaju menuju rumah.

‘Tadi Mama tanya katanya Mama nggak boleh pergi lagi, Ba,’ kata Mama.

‘Oh ya? Mama boleh pergi lagi, Kay?’ tanya Baba.

‘Tidak,’ jawab Kay.

‘Kalau Baba boleh pergi?’ tanya Baba lagi.

‘Tidak.’

‘Jadi Baba sama Mama di sini aja sama Kay?’

‘Iya,’ jawabnya mantap.

Jun 4, 2008

Improvisasi

Tuk tuk tuk ada s’patu
S’patuku kulit lembu
Kudapat dari Ibu
Karena rajin membantu

Kring kring kring ada s’peda
S’pedaku roda dua
Kudapat dari Ayah
Karena rajin bekerja

‘Ayo, Kay nyanyi!’ ajak Baba seusai menyanyikan lagu anak-anak di atas.

Yang diajak segera bersiap-siap dengan bertepuk tangan dan menggoyang badannya ke kiri dan ke kanan.

Lalu menyanyikan ini:

Meyong meyong ada kucing
Kucingku belang tiga
Kudapat dali Engki
Kalena lajin—

‘—suala kucing, Babaaa!’ katanya sambil memeluk Baba, meminta Baba menirukan suara kucing.

‘Meong,’ kata Baba.

‘Ah, ah, ah,’ Kay mengeluarkan suara manja sambil mempererat pelukannya.

Duuh, anak Baba ini pandai sekali mengalihkan perhatian orang tuanya…

Jun 2, 2008

Kerja yang Bagus

'Kelja yang bagus, Semuanya!' kata Kay.

'Kelja yang bagus, Ba!' katanya lagi sambil menghadap Baba.

'Kerja yang bagus? Kalau begitu tepuk tangan dong,' pinta Baba.

Plok! Plok! Plok!

Kay bertepuk tangan tiga kali, berbalik memunggungi Baba dan langsung terlelap.

May 28, 2008

Jatuh


‘Kay jatuh?’

‘Iya.’

'Di mana?’

‘Di lumah Bu Laban. Liyat layang-layang.’

‘Nangis nggak?'

'Nangis.’

‘Gimana nangisnya?’

‘Aaaaa!’

May 26, 2008

Ayam Colkat

‘Gambal ayam colkat, Ba!’ seru Kay sambil menyorongkan tubuhnya di antara Baba dan sebuah surat kabar yang TTS mingguannya sedang Baba isi.

‘Gambar ayam apa?’ tanya Baba.

‘Ayam colkat.’

‘Ayam cokelat?’

‘Iya.’

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Cokelat,’ kata Baba membenarkan.

‘Iya.’

‘Ayam apa?’ tanya Baba lagi.

‘Colkat,’ jawab Kay.

‘Cokelat. Apa?’

‘Iyaa,’ kata Kay.

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Ayam cokelat,’ kata Baba lagi, senyum iseng Baba mengembang.

‘Iyaa,’ kata Kay sambil senyum, seolah-olah dia memang sengaja menghindari kata itu.

‘Gambar di mana?’ tanya Baba.

‘Di sini. Yang beshaaaaaaaaal!’ teriaknya melengking sambil menunjuk surat kabar yang terbentang di lantai.

Baba pun segera menggambar seekor ayam cokelat dengan pena hitam di tangan Baba.

‘Nih, udah,’ kata Baba. Kay tersenyum puas.

‘Gambal ayam putih, Ba,’ pintanya lagi.

May 16, 2008

Let's Go, Kay!

‘Let’s go, Kay!’ kata Baba. Kami baru saja keluar dari pom bensin dekat rumah, hendak menuju sekolah Kay.

‘Let’s go, Kay!’ kata Kay menjawab ajakan Baba.

‘Lho, kok?’ protes Teteh, ‘jawabnya “let’s go, Ba!”, gitu.’

‘Let’s go, Ba!’ kata Kay memperbaiki ucapannya.

‘Ke mana kita?’ tanya Baba.

‘Ke Giant,’ katanya.

‘Nggak ke Marvin?’ tanya Baba lagi.

‘Iya. Aku mau ke Giant, jadi ingat susu,’ dendang Kay.

Apr 15, 2008

Telur Asin

‘Eeh, jangan mainin pintu kulkas,’ suara Teteh terdengar, ditingkahi langkah-langkah kaki yang makin mendekati Baba yang sedang bersantai di hari Minggu sambil membaca buku di teras depan rumah.

‘Baba, telol ashin, Baba,’ kata Kay sambil mengacungkan sebutir telur asin ke wajah Baba.

Sebelum Baba berhasil memberi komentar ia sudah melaju ke arah dapur.

‘TELOL ASHIN, TETEEEH!’ seruannya terdengar melengking.

‘Mau makan pake telor asin?’ tanya Teteh.

‘Mau mamam pake telol ashin,’ jawabnya mengekor.

Teteh Iis mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi, membelah telur asin itu menjadi dua, lalu menyuapi bocah yang menyambut makanan sederhana itu dengan lahap.

‘Itu telor dia ambil sendiri?’ tanya Baba.

‘Iya, tadi buka kulkas, terus ambil telor, minta makan deh,’ jawab Teteh.

Baba kembali melanjutkan bacaan. Kay masuk ke dalam, Teteh mengikuti. Sejurus kemudian lagu dari komputer mainan Kay terdengar.

‘Tigaa, duaa, entel!’ suara Kay terdengar sayup-sayup. Kode 32 adalah kode untuk musik, biasanya ia akan memilih musik yang diiringi dengan gambar seekor paus menari di layar.

‘Ikan, Teteh. Ikan paus!’

Betul, kan?

Kurang lebih 45 menit berlalu. Kay kembali ke teras dan memilih beberapa buku bergambar yang menjadi favoritnya.

‘Ayam, Teteh. Ayam, Baba,’ katanya sambil menunjuk gambar ayam di bukunya.

‘Belum selesai makannya?’ tanya Baba.

‘Wah,’ kata Teteh, ‘ini udah nambah. Yang tadi mah udah habis.’

‘Nambah?’ tanya Baba heran, ‘Cuma sama telor asin aja makannya nambah?’

‘Iya, dia kan memang doyan telor asin.’

Kay memang suka telur asin, tapi baru kali ini Baba melihat dia makan dengan telur asin sampai nambah.

Apr 2, 2008

Kangen

‘Bobo siang sampai jam 4 sore,’ kata Teteh Iis sambil menutup pintu kamar. Ia baru saja melongok Kay yang sedang dikeloni oleh Nenek.

‘Udah tidur?’ tanya Baba. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Baba baru tiba di rumah dan hendak menyantap makan malam.

‘Belum,’ jawab Teteh, ‘tidur sampai sore, bisa-bisa tidur jam sebelas.’

Selesai makan malam, tiba-tiba tangisan Kay terdengar dari kamar. Baba segera mencuci tangan dan masuk ke kamar.

Kay sedang berbaring di atas tubuh Nenek, menangis tersedu-sedu. Nenek berusaha membujuknya.

‘Kenapa, Nak?’ tanya Baba.

‘Nenek salah ngomong,’ jelas Nenek, ‘maunya bilang “bobo sama Nenek?” eh keluarnya malah “bobo sama Mama?”. Terus langsung nangis.’

‘Ooh, sayang,’ kata Baba sambil menggendong Kay. Yang digendong segera meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sedu-sedannya masih berlanjut.

‘Kenapa?’ tanya Teteh Iis yang melongokkan kepalanya di pintu kamar.

Sebelum sempat menjawab Kay sudah mendengus mengeluarkan ingusnya. ‘Aduh, aduh, ingus,’ kata Teteh sambil meraih handuk, ‘sini dilap dulu ingusnya.’

Setelah dilap ingusnya tangisan Kay berhenti, namun ia masih terisak.

‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba.

‘Shama Baba,’ jawabnya lirih.

‘Bilang dulu sama Nenek.’

‘Nek, Kay mau bobo dulu, ya,’ bisiknya.

‘Iya,’ jawab Nenek, ‘tidur yang nyenyak, ya.’

‘Kiss dulu Neneknya,’ kata Baba.

Kay menyorongkan tubuhnya dan Nenek mencium pipi tembam Kay.

‘Udah, bobo, ya,’ kata Nenek, ‘ Nenek keluar, ya.’

Di tempat tidur, Kay segera memeluk Baba dengan erat.

‘Kenapa Kay tiba-tiba nangis, Sayang?’ tanya Baba.

Pelukannya makin erat.

‘Kay kangen sama Mama?’

‘Iya,’ jawabnya lirih.

‘Sabar, ya. Sebentar lagi Mama pulang, kok,’ kata Baba.

‘Iya,’ jawab Kay sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baba dan mempererat pelukannya.

‘Udah, bobo, ya.’

‘Iya.’

Mar 31, 2008

Pamitan Untuk Main & Bujukan Untuk Pulang

‘BABAAAAAA!!!’ teriaknya dari garasi.

‘Eh, jangan teriak-teriak,’ susul suara Teteh Iis sedetik kemudian, ‘bilangnya dari dekat.’

‘BABAAAA!!’ teriak Kay lagi. Suaranya makin mendekat.

‘Hey,’ kata Baba, ‘Kenapa? Sini bilangnya.’ Beberapa detik kemudian sosoknya muncul di ambang pintu.

‘Baba,’ kata anak yang masih memakai piyama itu melangkah masuk dari garasi, ‘Kay mau ke lumah desweidesweideswei yaaaa…’ lanjutnya tidak jelas karena ia langsung lari keluar takut ditinggal oleh Teteh.

Kay memang belakangan ini sedang sangat suka sekali bermain di luar rumah. Ia biasanya bermain sambil sarapan atau makan sore di rumah salah seorang tetangga sambil memperhatikan ikan atau burung yang menjadi peliharaan mereka. Kalau sudah begini biasanya ia sulit diajak pulang. Harus dengan ekstra bujukan yang dilakukan dengan ekstra sabar. Biasanya, kalau waktu sarapan, Baba yang sudah bersiap berangkat ke kantor harus kembali ke rumah sambil menggendong seorang anak yang menangis sedih.

‘Eeh, kan ada waktunya main dan ada waktunya pulang, ingat Bing & Bong juga pulang kalau sudah waktunya pulang kan?’ kata Baba membujuk sambil menyebut salah satu filler Playhouse Disney yang menjadi kesukaan Kay. Kedua tokoh utama dalam serial itu memang selalu pulang bila alarm sudah memanggil mereka.

‘Huhuhuhuu,’ isak Kay, lalu ia akan mendengus, ‘Ingush, minta handuk,’ katanya. Setelah handuk diberikan ia akan mengusap air mata dan ingusnya sendiri.

Biasanya setelah ia tiba di rumah, Kay sudah lupa akan marahnya dan kembali melompat-lompat kegirangan menuju bak mandi…

Mar 17, 2008

Pagi Ini

“Baba lagi nyemil shepatu dulu, ya,” kata Kay sambil menghampiri Baba, lalu ia duduk di belakang Baba.

“Iya, Baba sedang menyemir sepatu.”

“Shedang menyemil shepatu,” katanya mengikuti.

“Sepatu siapa?”

“Shepatu Baba.”

“Kay sedang apa?”

“Shedang duduk.”

“Sambil?” tanya Baba, mengharapkan ia menjawab bahwa ia sedang melihat Baba menyemir.

“Mamam.”

“Mamam apa?”

“Nashi.”

“Nasi apa?”

“Nashi liwet.”

Hehe, padahal dia makan nasi tim tahu dan ceker ayam.

“Baba mau berangkat ke?” tanya Baba setelah siap berangkat.

“Ke kantol.”

“Kay di?”

“Di lumah.”

“Sama?”

“Shama Bibi.”

“Sama siapa lagi?”

“Shama Teteh.”

“Baik-baik di rumah, ya. Nurut sama Bibi dan Teteh.”

“Iya.”

“Mamam yang banyak, ya.”

“Iya.”

“Mimi yang banyak, ya.”

Diam.

“Ok?”

Diam.

“Okie?”

“Dokie.”

“Supaya?” tanya Baba mengharap ia menjawab ‘supaya sembuh.’

“Nggak cekukan,” jawabnya di luar dugaan.

“Kemalen di Bandung naik kuda,” katanya lagi.

“Iya. Kay mau naik kuda lagi?”

“Mau.”

“Oke. Sembuh dulu, ya. Baba berangkat ya. Dadaaa,” kata Baba melambaikan tangan.

“Dadaaaaaaa,” Kay membalas lambaian Baba.

Feb 28, 2008

Pengenalan Profesi 2

'Kay, apakah tugas dokter?' tanya Baba.

'Memeliksha olang shakit!' jawab Kay sambil nyengir.

'Apakah tugas suster?'

'Membawa obat!'

'Apakah tugas guru?'

'Mengajal mulid-mulid!'

'Apakah tugas polisi?'

'Menangkap olang jahat!'

'Horeeee!!! Kay pintar!' Baba bertepuk tangan di hadapan bocah yang cengar-cengir dengan penuh kebanggaan.

'Lagi! apakah tugash dokteeeel?' pintanya...

Mengantar Mama

‘Kita mau ke mana, Kay?’ tanya Mama.

‘Ke bandala,’ jawab Kay.

‘Ke bandara mau lihat apa?’

‘Liyat peshawat.’

Percakapan tersebut terjadi saat kami sekeluarga (plus Engki, Nenek, Uwa, dan tentu saja Teteh) terjebak macet di jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu. Liburan musim dingin Mama sudah selesai dan ia harus kembali meneruskan studinya di Swedia.

Kay, yang selama seminggu terakhir ini menjadi sangat kolokan dan manja pada Mama, sudah mengijinkan Mama berangkat kembali ke Swedia.

‘Mama boleh pergi ke Swedia lagi, Kay?’ tanya Mama.

‘Boleh.’

‘Teteh Iis boleh pulang ke Garut nggak?’ tanya Mama lagi.

‘Jangan!’ jawab Kay merajuk.

Mama nggak ada kok Teteh mau pulang ke Garut? Nanti aku sama siapa? Mungkin itu yang ada dalam benak Kay.

Di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa, Kay berlarian tidak keruan. Meskipun demikian ia tidak mau lepas jauh-jauh dari Mama.Setiap beberapa menit berlarian ia pasti akan menghampiri dan memeluk Mama.

Waktu Mama sedang check-in dan membayar airport tax, ia agak kesal dan mencari-cari Mamanya.

‘Mau shama Mama aja!’ teriaknya sambil memukul-mukul kursi dengan marah.Untung saja ia mudah dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain.

‘Cepot, Baba!’ katanya sambil berusaha meraih wayang golek Cepot yang berada di etalase di dekat kami duduk. Baba segera mencegahnya sebelum ia sempat menyambar golek itu.

‘Iya, Cepot,’ kata Baba, ‘warnanya apa?’

‘Melah.’

Akhirnya waktu untuk boarding tiba.

‘Kay,’ kata Mama, ‘Mama berangkat sekolah lagi ya. Kay harus nurut sama Baba, sama Nenek, sama Kakek, sama Bibi dan sama Teteh ya?’

Kay diam.

‘OK?’ kata Mama lagi.

Kay masih diam.

‘Okie?’ kata Mama lagi.

‘Dokie,’ jawab Kay, lalu ia memeluk dan mencium Mama.

‘Jaga dia ya, Ba,’ bisik Mama ke Baba.

‘Pasti. Jangan kuatir,’ jawab Baba tersenyum.

Kemudian Mama berangkat.

Cepat selesaikan sekolah lalu pulang, ya Ma, supaya kita bisa jalan-jalan bertiga lagi.

Hugs and kisses dari Kay.

Feb 19, 2008

'Telima Kashih'

Waktu menunjukkan pukul 17:30 di hari Sabtu minggu lalu. Mama dan Baba sedang bersiap-siap berangkat ke sebuah acara makan malam di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ketika pintu terkuak dan Kay dengan santai masuk ke dalam kamar.

Ia langsung mendekati dan memeluk kaki Mama.

‘Telima kashih ya, Ma,’ katanya tiba-tiba. Mama segera berbalik dan memeluk anak manis itu, matanya berkaca-kaca.

‘Iya, Sayang,’ kata Mama, ‘terima kasih kembali.’

Kay melepaskan diri dari pelukan Mama, lalu memeluk kaki Baba yang sedang memperhatikan pemandangan mengharukan itu.

‘Telima kashih ya, Ba,’ katanya sambil tersenyum lebar, kepalanya menengadah menatap wajah Baba.

‘Iya, sama-sama,’ kata Baba sambil membalas pelukan Kay.

Jan 14, 2008

Pengenalan Profesi

‘Kay, ini pekerjaan apa?’ tanya sang terapis sambil menunjukkan gambar seorang polisi.

‘Polishi,’ jawab Kay pasti.

Dalam salah satu sesi terapi Kay dia memang diajarkan untuk mengenal benda-benda dan profesi yang ada di sekelilingnya.

‘Kalau ini apa?’

‘Pemadam kebakalan.’

‘Yang ini?’ sang terapis menunjukkan seorang yang mengenakan jas medis.

‘Doktel.’

‘Kalau yang ini apa, Kay?’ tanya Sang Terapis lagi sambil menunjukkan gambar seorang lelaki bertubuh tegap berseragam loreng dan memegang senjata.

Kay memperhatikan sejenak gambar yang baru pertama kali ia lihat itu.

Kemudian tanpa keraguan sedikitpun ia menjawab:

‘Pengamen.’

Sambil menahan tawa Sang Terapis mengoreksi jawaban Kay.

‘Ini bukan pengamen, Kay. Ini tentara.’

‘Telima kashih, Bu,’ kata Kay melanjutkan sambil membungkukkan badannya menirukan pengamen yang baru saja diberi uang.

Beberapa minggu kemudian saat Baba dan Mama sedang mengantarkan Kay sekolah, Ibu Widya, sang terapis bercerita tentang sesi terapi yang baru saja selesai.

‘Sekarang Kay sudah tahu tentara. Tadi begitu saya tunjukkan gambar tentara ia bisa mengenalinya dengan tepat.’

‘Sudah tidak dibilang pengamen lagi ya,’ kata Baba.

‘Tidak. Tapi ketika saya tanya “tentara bawa apa, Kay?” ia menjawab, “Bawa gitar.” Rupanya senjata yang dibawa tentara itu dikira gitar oleh Kay,’ kata Ibu Widya sambil tertawa.

Kay memang anak yang tidak mengenal senjata karena Baba dan Mama memang tidak pernah membelikan senjata mainan dan tidak pula mengijinkan Kay menonton acara-acara (sekalipun dikatakan sebagai acara anak-anak) yang tokoh-tokohnya memiliki senjata. Akibatnya memang ia mengira senjata yang dipegang oleh tentara dalam gambar itu adalah gitar.

Sebelum berangkat sekolah pagi itu, saat Mama sedang menonton BBC World yang menampilkan kebakaran karena kerusuhan di salah satu kota di dunia, Kay berkomentar dengan mantap:

Ada kembang api banyak, Mama.’

Jan 11, 2008

Mama Datang!

Hai, Gentles, Kay dan para pendukungnya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008!

Iya, iya, sekarang sudah tanggal 11, sudah lumayan terlambat untuk mengucapkan selamat, tapi nggak apa-apa tokh? Soalnya Baba punya alasan yang sangat bagus:

Mama lagi di Jakarta.

Nah, bagus kan alasannya? Makanya agak lama nggak ada update di halaman-halaman buku harian Baba dan Kay. Kami sedang asyik bermain-main bertiga.

Apa? Kapan Mama datang? Tanggal 25 Desember yang lalu.

Tentu saja peristiwa ini membuat Kay menjadi luar biasa gembira dan bahagia.

Waktu Mama keluar dari imigrasi di bandara Soekarno-Hatta, Kay masih malu-malu.

‘Mau sama Mama nggak?’ tanya Mama sambil menawarkan diri untuk menggendong Kay.

Yang ditanya membuang muka, tapi senyumnya lebar sekali.

Mama mengulangi pertanyaan yang sama hingga tiga kali, barulah Kay mau pindah dari gendongan Baba ke pelukan Mama.

Menuju mobil, Mama bertanya lagi pada Kay:

‘Mau digendong Baba?’

‘Shama Mama aja,’ jawab Kay, ‘Biola,’ katanya lagi sambil menunjuk sebuah poster bergambar biola.

‘Sama Teteh mau?’ goda Mama lagi.

‘Ng! Shama Mama aja! Ng!’ jawabnya setengah marah.

‘Ok, ok,’ kata Baba, ‘wah, nggak laku lagi nih.’

‘Duuh, shayangnya,’ kata Kay sambil memeluk Mama dengan erat. Di dalam mobil ia tidak mau beranjak dari pangkuan Mama. Sepanjang perjalanan mungkin ada sekitar empat puluh kali Kay menyatakan ia sayang Mama.

Di rumah, Bibi menyambut dengan membuka pintu mobil yang baru saja Baba parker di garasi. Ia langsung disambut oleh tangan Kay yang melambai-lambai.

‘Dadaaaaa!!’ kata Kay sambil melambai. Artinya ia ingin Bibi pergi dari situ. Wah, Bibi juga nggak laku. Semua dikalahkan oleh Mama.

Esok harinya, ketika sedang bermain-main, Kay selalu menyempatkan diri untuk memeluk Mama sambil bergumam ‘Duuh shayangnya.’

Selain itu ia juga sering menghentikan permainannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mama. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Mama ia akan menunjuk bahu atau dada Mama sambil berkata:

‘Mama!’

Seolah-olah ia tidak percaya Mama yang sekarang ada di hadapannya adalah yang asli dan bukan foto.

Yah, begitulah, sejak tanggal 25 Desember hingga sekarang hari-hari kami lalui bertiga lagi. Ke rumah Nenek di Subang, ke rumah Uyut hingga kondangan ke Nagreg yang menyebabkan Kay dihukum oleh Baba. Tapi itu kisah yang lain lagi.