May 28, 2008

Jatuh


‘Kay jatuh?’

‘Iya.’

'Di mana?’

‘Di lumah Bu Laban. Liyat layang-layang.’

‘Nangis nggak?'

'Nangis.’

‘Gimana nangisnya?’

‘Aaaaa!’

May 26, 2008

Ayam Colkat

‘Gambal ayam colkat, Ba!’ seru Kay sambil menyorongkan tubuhnya di antara Baba dan sebuah surat kabar yang TTS mingguannya sedang Baba isi.

‘Gambar ayam apa?’ tanya Baba.

‘Ayam colkat.’

‘Ayam cokelat?’

‘Iya.’

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Cokelat,’ kata Baba membenarkan.

‘Iya.’

‘Ayam apa?’ tanya Baba lagi.

‘Colkat,’ jawab Kay.

‘Cokelat. Apa?’

‘Iyaa,’ kata Kay.

‘Ayam apa?’

‘Colkat.’

‘Ayam cokelat,’ kata Baba lagi, senyum iseng Baba mengembang.

‘Iyaa,’ kata Kay sambil senyum, seolah-olah dia memang sengaja menghindari kata itu.

‘Gambar di mana?’ tanya Baba.

‘Di sini. Yang beshaaaaaaaaal!’ teriaknya melengking sambil menunjuk surat kabar yang terbentang di lantai.

Baba pun segera menggambar seekor ayam cokelat dengan pena hitam di tangan Baba.

‘Nih, udah,’ kata Baba. Kay tersenyum puas.

‘Gambal ayam putih, Ba,’ pintanya lagi.

May 16, 2008

Let's Go, Kay!

‘Let’s go, Kay!’ kata Baba. Kami baru saja keluar dari pom bensin dekat rumah, hendak menuju sekolah Kay.

‘Let’s go, Kay!’ kata Kay menjawab ajakan Baba.

‘Lho, kok?’ protes Teteh, ‘jawabnya “let’s go, Ba!”, gitu.’

‘Let’s go, Ba!’ kata Kay memperbaiki ucapannya.

‘Ke mana kita?’ tanya Baba.

‘Ke Giant,’ katanya.

‘Nggak ke Marvin?’ tanya Baba lagi.

‘Iya. Aku mau ke Giant, jadi ingat susu,’ dendang Kay.

Apr 15, 2008

Telur Asin

‘Eeh, jangan mainin pintu kulkas,’ suara Teteh terdengar, ditingkahi langkah-langkah kaki yang makin mendekati Baba yang sedang bersantai di hari Minggu sambil membaca buku di teras depan rumah.

‘Baba, telol ashin, Baba,’ kata Kay sambil mengacungkan sebutir telur asin ke wajah Baba.

Sebelum Baba berhasil memberi komentar ia sudah melaju ke arah dapur.

‘TELOL ASHIN, TETEEEH!’ seruannya terdengar melengking.

‘Mau makan pake telor asin?’ tanya Teteh.

‘Mau mamam pake telol ashin,’ jawabnya mengekor.

Teteh Iis mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi, membelah telur asin itu menjadi dua, lalu menyuapi bocah yang menyambut makanan sederhana itu dengan lahap.

‘Itu telor dia ambil sendiri?’ tanya Baba.

‘Iya, tadi buka kulkas, terus ambil telor, minta makan deh,’ jawab Teteh.

Baba kembali melanjutkan bacaan. Kay masuk ke dalam, Teteh mengikuti. Sejurus kemudian lagu dari komputer mainan Kay terdengar.

‘Tigaa, duaa, entel!’ suara Kay terdengar sayup-sayup. Kode 32 adalah kode untuk musik, biasanya ia akan memilih musik yang diiringi dengan gambar seekor paus menari di layar.

‘Ikan, Teteh. Ikan paus!’

Betul, kan?

Kurang lebih 45 menit berlalu. Kay kembali ke teras dan memilih beberapa buku bergambar yang menjadi favoritnya.

‘Ayam, Teteh. Ayam, Baba,’ katanya sambil menunjuk gambar ayam di bukunya.

‘Belum selesai makannya?’ tanya Baba.

‘Wah,’ kata Teteh, ‘ini udah nambah. Yang tadi mah udah habis.’

‘Nambah?’ tanya Baba heran, ‘Cuma sama telor asin aja makannya nambah?’

‘Iya, dia kan memang doyan telor asin.’

Kay memang suka telur asin, tapi baru kali ini Baba melihat dia makan dengan telur asin sampai nambah.

Apr 2, 2008

Kangen

‘Bobo siang sampai jam 4 sore,’ kata Teteh Iis sambil menutup pintu kamar. Ia baru saja melongok Kay yang sedang dikeloni oleh Nenek.

‘Udah tidur?’ tanya Baba. Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Baba baru tiba di rumah dan hendak menyantap makan malam.

‘Belum,’ jawab Teteh, ‘tidur sampai sore, bisa-bisa tidur jam sebelas.’

Selesai makan malam, tiba-tiba tangisan Kay terdengar dari kamar. Baba segera mencuci tangan dan masuk ke kamar.

Kay sedang berbaring di atas tubuh Nenek, menangis tersedu-sedu. Nenek berusaha membujuknya.

‘Kenapa, Nak?’ tanya Baba.

‘Nenek salah ngomong,’ jelas Nenek, ‘maunya bilang “bobo sama Nenek?” eh keluarnya malah “bobo sama Mama?”. Terus langsung nangis.’

‘Ooh, sayang,’ kata Baba sambil menggendong Kay. Yang digendong segera meletakkan kepalanya di bahu Baba. Sedu-sedannya masih berlanjut.

‘Kenapa?’ tanya Teteh Iis yang melongokkan kepalanya di pintu kamar.

Sebelum sempat menjawab Kay sudah mendengus mengeluarkan ingusnya. ‘Aduh, aduh, ingus,’ kata Teteh sambil meraih handuk, ‘sini dilap dulu ingusnya.’

Setelah dilap ingusnya tangisan Kay berhenti, namun ia masih terisak.

‘Mau bobo sama siapa?’ tanya Baba.

‘Shama Baba,’ jawabnya lirih.

‘Bilang dulu sama Nenek.’

‘Nek, Kay mau bobo dulu, ya,’ bisiknya.

‘Iya,’ jawab Nenek, ‘tidur yang nyenyak, ya.’

‘Kiss dulu Neneknya,’ kata Baba.

Kay menyorongkan tubuhnya dan Nenek mencium pipi tembam Kay.

‘Udah, bobo, ya,’ kata Nenek, ‘ Nenek keluar, ya.’

Di tempat tidur, Kay segera memeluk Baba dengan erat.

‘Kenapa Kay tiba-tiba nangis, Sayang?’ tanya Baba.

Pelukannya makin erat.

‘Kay kangen sama Mama?’

‘Iya,’ jawabnya lirih.

‘Sabar, ya. Sebentar lagi Mama pulang, kok,’ kata Baba.

‘Iya,’ jawab Kay sambil menyembunyikan wajahnya di dada Baba dan mempererat pelukannya.

‘Udah, bobo, ya.’

‘Iya.’

Mar 31, 2008

Pamitan Untuk Main & Bujukan Untuk Pulang

‘BABAAAAAA!!!’ teriaknya dari garasi.

‘Eh, jangan teriak-teriak,’ susul suara Teteh Iis sedetik kemudian, ‘bilangnya dari dekat.’

‘BABAAAA!!’ teriak Kay lagi. Suaranya makin mendekat.

‘Hey,’ kata Baba, ‘Kenapa? Sini bilangnya.’ Beberapa detik kemudian sosoknya muncul di ambang pintu.

‘Baba,’ kata anak yang masih memakai piyama itu melangkah masuk dari garasi, ‘Kay mau ke lumah desweidesweideswei yaaaa…’ lanjutnya tidak jelas karena ia langsung lari keluar takut ditinggal oleh Teteh.

Kay memang belakangan ini sedang sangat suka sekali bermain di luar rumah. Ia biasanya bermain sambil sarapan atau makan sore di rumah salah seorang tetangga sambil memperhatikan ikan atau burung yang menjadi peliharaan mereka. Kalau sudah begini biasanya ia sulit diajak pulang. Harus dengan ekstra bujukan yang dilakukan dengan ekstra sabar. Biasanya, kalau waktu sarapan, Baba yang sudah bersiap berangkat ke kantor harus kembali ke rumah sambil menggendong seorang anak yang menangis sedih.

‘Eeh, kan ada waktunya main dan ada waktunya pulang, ingat Bing & Bong juga pulang kalau sudah waktunya pulang kan?’ kata Baba membujuk sambil menyebut salah satu filler Playhouse Disney yang menjadi kesukaan Kay. Kedua tokoh utama dalam serial itu memang selalu pulang bila alarm sudah memanggil mereka.

‘Huhuhuhuu,’ isak Kay, lalu ia akan mendengus, ‘Ingush, minta handuk,’ katanya. Setelah handuk diberikan ia akan mengusap air mata dan ingusnya sendiri.

Biasanya setelah ia tiba di rumah, Kay sudah lupa akan marahnya dan kembali melompat-lompat kegirangan menuju bak mandi…

Mar 17, 2008

Pagi Ini

“Baba lagi nyemil shepatu dulu, ya,” kata Kay sambil menghampiri Baba, lalu ia duduk di belakang Baba.

“Iya, Baba sedang menyemir sepatu.”

“Shedang menyemil shepatu,” katanya mengikuti.

“Sepatu siapa?”

“Shepatu Baba.”

“Kay sedang apa?”

“Shedang duduk.”

“Sambil?” tanya Baba, mengharapkan ia menjawab bahwa ia sedang melihat Baba menyemir.

“Mamam.”

“Mamam apa?”

“Nashi.”

“Nasi apa?”

“Nashi liwet.”

Hehe, padahal dia makan nasi tim tahu dan ceker ayam.

“Baba mau berangkat ke?” tanya Baba setelah siap berangkat.

“Ke kantol.”

“Kay di?”

“Di lumah.”

“Sama?”

“Shama Bibi.”

“Sama siapa lagi?”

“Shama Teteh.”

“Baik-baik di rumah, ya. Nurut sama Bibi dan Teteh.”

“Iya.”

“Mamam yang banyak, ya.”

“Iya.”

“Mimi yang banyak, ya.”

Diam.

“Ok?”

Diam.

“Okie?”

“Dokie.”

“Supaya?” tanya Baba mengharap ia menjawab ‘supaya sembuh.’

“Nggak cekukan,” jawabnya di luar dugaan.

“Kemalen di Bandung naik kuda,” katanya lagi.

“Iya. Kay mau naik kuda lagi?”

“Mau.”

“Oke. Sembuh dulu, ya. Baba berangkat ya. Dadaaa,” kata Baba melambaikan tangan.

“Dadaaaaaaa,” Kay membalas lambaian Baba.

Feb 28, 2008

Pengenalan Profesi 2

'Kay, apakah tugas dokter?' tanya Baba.

'Memeliksha olang shakit!' jawab Kay sambil nyengir.

'Apakah tugas suster?'

'Membawa obat!'

'Apakah tugas guru?'

'Mengajal mulid-mulid!'

'Apakah tugas polisi?'

'Menangkap olang jahat!'

'Horeeee!!! Kay pintar!' Baba bertepuk tangan di hadapan bocah yang cengar-cengir dengan penuh kebanggaan.

'Lagi! apakah tugash dokteeeel?' pintanya...

Mengantar Mama

‘Kita mau ke mana, Kay?’ tanya Mama.

‘Ke bandala,’ jawab Kay.

‘Ke bandara mau lihat apa?’

‘Liyat peshawat.’

Percakapan tersebut terjadi saat kami sekeluarga (plus Engki, Nenek, Uwa, dan tentu saja Teteh) terjebak macet di jalan tol menuju bandara Soekarno-Hatta beberapa hari yang lalu. Liburan musim dingin Mama sudah selesai dan ia harus kembali meneruskan studinya di Swedia.

Kay, yang selama seminggu terakhir ini menjadi sangat kolokan dan manja pada Mama, sudah mengijinkan Mama berangkat kembali ke Swedia.

‘Mama boleh pergi ke Swedia lagi, Kay?’ tanya Mama.

‘Boleh.’

‘Teteh Iis boleh pulang ke Garut nggak?’ tanya Mama lagi.

‘Jangan!’ jawab Kay merajuk.

Mama nggak ada kok Teteh mau pulang ke Garut? Nanti aku sama siapa? Mungkin itu yang ada dalam benak Kay.

Di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa, Kay berlarian tidak keruan. Meskipun demikian ia tidak mau lepas jauh-jauh dari Mama.Setiap beberapa menit berlarian ia pasti akan menghampiri dan memeluk Mama.

Waktu Mama sedang check-in dan membayar airport tax, ia agak kesal dan mencari-cari Mamanya.

‘Mau shama Mama aja!’ teriaknya sambil memukul-mukul kursi dengan marah.Untung saja ia mudah dialihkan perhatiannya ke hal-hal lain.

‘Cepot, Baba!’ katanya sambil berusaha meraih wayang golek Cepot yang berada di etalase di dekat kami duduk. Baba segera mencegahnya sebelum ia sempat menyambar golek itu.

‘Iya, Cepot,’ kata Baba, ‘warnanya apa?’

‘Melah.’

Akhirnya waktu untuk boarding tiba.

‘Kay,’ kata Mama, ‘Mama berangkat sekolah lagi ya. Kay harus nurut sama Baba, sama Nenek, sama Kakek, sama Bibi dan sama Teteh ya?’

Kay diam.

‘OK?’ kata Mama lagi.

Kay masih diam.

‘Okie?’ kata Mama lagi.

‘Dokie,’ jawab Kay, lalu ia memeluk dan mencium Mama.

‘Jaga dia ya, Ba,’ bisik Mama ke Baba.

‘Pasti. Jangan kuatir,’ jawab Baba tersenyum.

Kemudian Mama berangkat.

Cepat selesaikan sekolah lalu pulang, ya Ma, supaya kita bisa jalan-jalan bertiga lagi.

Hugs and kisses dari Kay.

Feb 19, 2008

'Telima Kashih'

Waktu menunjukkan pukul 17:30 di hari Sabtu minggu lalu. Mama dan Baba sedang bersiap-siap berangkat ke sebuah acara makan malam di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta ketika pintu terkuak dan Kay dengan santai masuk ke dalam kamar.

Ia langsung mendekati dan memeluk kaki Mama.

‘Telima kashih ya, Ma,’ katanya tiba-tiba. Mama segera berbalik dan memeluk anak manis itu, matanya berkaca-kaca.

‘Iya, Sayang,’ kata Mama, ‘terima kasih kembali.’

Kay melepaskan diri dari pelukan Mama, lalu memeluk kaki Baba yang sedang memperhatikan pemandangan mengharukan itu.

‘Telima kashih ya, Ba,’ katanya sambil tersenyum lebar, kepalanya menengadah menatap wajah Baba.

‘Iya, sama-sama,’ kata Baba sambil membalas pelukan Kay.

Jan 14, 2008

Pengenalan Profesi

‘Kay, ini pekerjaan apa?’ tanya sang terapis sambil menunjukkan gambar seorang polisi.

‘Polishi,’ jawab Kay pasti.

Dalam salah satu sesi terapi Kay dia memang diajarkan untuk mengenal benda-benda dan profesi yang ada di sekelilingnya.

‘Kalau ini apa?’

‘Pemadam kebakalan.’

‘Yang ini?’ sang terapis menunjukkan seorang yang mengenakan jas medis.

‘Doktel.’

‘Kalau yang ini apa, Kay?’ tanya Sang Terapis lagi sambil menunjukkan gambar seorang lelaki bertubuh tegap berseragam loreng dan memegang senjata.

Kay memperhatikan sejenak gambar yang baru pertama kali ia lihat itu.

Kemudian tanpa keraguan sedikitpun ia menjawab:

‘Pengamen.’

Sambil menahan tawa Sang Terapis mengoreksi jawaban Kay.

‘Ini bukan pengamen, Kay. Ini tentara.’

‘Telima kashih, Bu,’ kata Kay melanjutkan sambil membungkukkan badannya menirukan pengamen yang baru saja diberi uang.

Beberapa minggu kemudian saat Baba dan Mama sedang mengantarkan Kay sekolah, Ibu Widya, sang terapis bercerita tentang sesi terapi yang baru saja selesai.

‘Sekarang Kay sudah tahu tentara. Tadi begitu saya tunjukkan gambar tentara ia bisa mengenalinya dengan tepat.’

‘Sudah tidak dibilang pengamen lagi ya,’ kata Baba.

‘Tidak. Tapi ketika saya tanya “tentara bawa apa, Kay?” ia menjawab, “Bawa gitar.” Rupanya senjata yang dibawa tentara itu dikira gitar oleh Kay,’ kata Ibu Widya sambil tertawa.

Kay memang anak yang tidak mengenal senjata karena Baba dan Mama memang tidak pernah membelikan senjata mainan dan tidak pula mengijinkan Kay menonton acara-acara (sekalipun dikatakan sebagai acara anak-anak) yang tokoh-tokohnya memiliki senjata. Akibatnya memang ia mengira senjata yang dipegang oleh tentara dalam gambar itu adalah gitar.

Sebelum berangkat sekolah pagi itu, saat Mama sedang menonton BBC World yang menampilkan kebakaran karena kerusuhan di salah satu kota di dunia, Kay berkomentar dengan mantap:

‘Ada kembang api banyak, Mama.’

Jan 11, 2008

Mama Datang!

Hai, Gentles, Kay dan para pendukungnya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2008!

Iya, iya, sekarang sudah tanggal 11, sudah lumayan terlambat untuk mengucapkan selamat, tapi nggak apa-apa tokh? Soalnya Baba punya alasan yang sangat bagus:

Mama lagi di Jakarta.

Nah, bagus kan alasannya? Makanya agak lama nggak ada update di halaman-halaman buku harian Baba dan Kay. Kami sedang asyik bermain-main bertiga.

Apa? Kapan Mama datang? Tanggal 25 Desember yang lalu.

Tentu saja peristiwa ini membuat Kay menjadi luar biasa gembira dan bahagia.

Waktu Mama keluar dari imigrasi di bandara Soekarno-Hatta, Kay masih malu-malu.

‘Mau sama Mama nggak?’ tanya Mama sambil menawarkan diri untuk menggendong Kay.

Yang ditanya membuang muka, tapi senyumnya lebar sekali.

Mama mengulangi pertanyaan yang sama hingga tiga kali, barulah Kay mau pindah dari gendongan Baba ke pelukan Mama.

Menuju mobil, Mama bertanya lagi pada Kay:

‘Mau digendong Baba?’

‘Shama Mama aja,’ jawab Kay, ‘Biola,’ katanya lagi sambil menunjuk sebuah poster bergambar biola.

‘Sama Teteh mau?’ goda Mama lagi.

‘Ng! Shama Mama aja! Ng!’ jawabnya setengah marah.

‘Ok, ok,’ kata Baba, ‘wah, nggak laku lagi nih.’

‘Duuh, shayangnya,’ kata Kay sambil memeluk Mama dengan erat. Di dalam mobil ia tidak mau beranjak dari pangkuan Mama. Sepanjang perjalanan mungkin ada sekitar empat puluh kali Kay menyatakan ia sayang Mama.

Di rumah, Bibi menyambut dengan membuka pintu mobil yang baru saja Baba parker di garasi. Ia langsung disambut oleh tangan Kay yang melambai-lambai.

‘Dadaaaaa!!’ kata Kay sambil melambai. Artinya ia ingin Bibi pergi dari situ. Wah, Bibi juga nggak laku. Semua dikalahkan oleh Mama.

Esok harinya, ketika sedang bermain-main, Kay selalu menyempatkan diri untuk memeluk Mama sambil bergumam ‘Duuh shayangnya.’

Selain itu ia juga sering menghentikan permainannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Mama. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah Mama ia akan menunjuk bahu atau dada Mama sambil berkata:

‘Mama!’

Seolah-olah ia tidak percaya Mama yang sekarang ada di hadapannya adalah yang asli dan bukan foto.

Yah, begitulah, sejak tanggal 25 Desember hingga sekarang hari-hari kami lalui bertiga lagi. Ke rumah Nenek di Subang, ke rumah Uyut hingga kondangan ke Nagreg yang menyebabkan Kay dihukum oleh Baba. Tapi itu kisah yang lain lagi.

Nov 29, 2007

Dyslexia?

‘Nashi wolit,’ gumam Kay yang sedang terbaring bermalas-malasan di lantai, ‘nashi wolit.’

Baba yang sedang sarapan terheran-heran. Kok kedengarannya tak asing, tapi ada yang salah. Apa sebenarnya yang digumamkan Kay?

Setelah beberapa saat akhirnya Baba sadar bahwa ‘nashi wolit’ yang ia gumamkan maksudnya adalah ‘nasi liwet’.

‘Nasi liwet?’ tanya Baba.

‘Nashi liwet,’ kata Kay mengulang.

Beberapa menit yang lalu Bibi memang menggoda Kay dengan menawarkan nasi liwet.

‘Kay mau makan pake nasi liwet?’ kata Bibi, ‘enak. Nasi liwet pake peda goreng.’

Kata ‘liwet’ rupanya masih asing di telinga Kay, sehingga—seperti biasa—ia masih suka terbalik-balik dan salah mengulangnya.

‘Nashi wolit. Nashi wolit,’ demikian kata Kay berulang-ulang.

‘Bukan nasi wolit, Nak,’ kata Baba membetulkan, ‘tapi nasi liwet.’

‘Nashi liwet,’ katanya sambil senyum.

‘Coba suruh dia ngomong bakwan,’ kata Teteh.

‘Coba bilang ‘bakwan’ Kay!’ perintah Baba.

Sambil nyengir si bocah berucap: ‘Bawkan.’

‘Bukan bawkan, bakwan,’ kata Baba.

‘Bawkan,’ kata Kay lagi.

‘Ba’wan,’ kata Baba, kali ini dengan ‘k’ lemah.

‘Ba’wan,’ kata Kay mengulangi.

Kay memang seringkali mengucapkan kata-kata yang baru ia dengar dengan salah. Dulu sekali ia pernah berucap ‘pakeya’. Mama dan Baba bingung memahami kata yang dia ucapkan itu sampai akhirnya ia memeragakan lagu Kepala Pundak Lutut Kaki.

Sambil berucap ‘pakeya’ ia memegang kepalanya.

Boks

Boks mainan itu terbuat dari plastik, dengan ukuran yang cukup besar sehingga saat tidak terisi penuh oleh mainannya, boks itu terkadang diisi oleh tubuh Kay yang lumayan besar dan didorong oleh Baba, Teteh atau Bibi. Bocah yang duduk di dalamnya biasanya akan tertawa-tawa kegirangan, terutama saat boks itu berhenti mendadak karena menabrak dinding atau meja.

Selain menjadi tempat menyimpan mainan dan ‘mobil’ atau ‘kereta’ Kay, boks itu juga mempunyai fungsi lain, yaitu menjadi alat pengasah imajinasi Kay.

Bagaimana caranya?

Selain didorong di dalamnya, Kay juga gemar mendorong boks itu mondar-mandir. Biasanya ia melakukan kegiatan itu sambil ‘menjajakan dagangan’.

Suatu kali sambil mendorong boks berisi mainan itu ia akan berteriak-teriak, ‘Kue, kueeeee!!’

Di lain waktu ia akan berujar lantang: ‘Ikan pindaaaang!! Bu, bade* pindang??’

Pada saat berpura-pura berdagang inilah Baba menemukan bahwa Kay cukup memperhatikan detail.

Satu saat ia menghunjamkan stik drum mainannya ke ‘gerobaknya’ dan memegang stik drum yang mencuat itu dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang salah satu sisi boks. Lalu ia mendorong boks itu sambil berteriak lantang: ‘Mangga, manggaaaaa!!’

Kay dengan cermat memperhatikan dan menirukan tukang mangga keliling yang memang mendorong gerobaknya dengan memegang gagang gerobak dengan tangan satu dan tangan satunya lagi memegang pasak yang mencuat di tengah gerobak.

Kecermatannya memperhatikan tukang keliling yang sering menjajakan dagangannya di sekitar kompleks kami diperlihatkan lagi saat Baba memergoki Kay tidak mendorong boks itu, melainkan menghelanya.

‘Dagang apa sekarang, Pak?’ tanya Baba menggoda.

Yang ditanya cuek.

‘Mangga?’

Masih diam.

‘Kue?’

Tanpa menoleh Kay menjajakan ‘dagangannya’.

‘Balang, balaaaang*!!’ serunya menirukan tukang barang dan koran bekas yang memang biasanya menghela, dan bukan mendorong gerobak mereka.


*bade = mau
* balang = barang, Kay masih cadel.

Nov 23, 2007

Ngambek?

Baba melongok ke dalam kamar. Di tempat tidur ada seorang anak kecil yang sedang dikeloni oleh neneknya. Anak itu mengangkat kepalanya, nyengir dan berkata:

‘Baba mandi dulu aja!’

Baba melangkah masuk ke dalam kamar.

‘Bobo shama Nenek aja! Baba mandi dulu aja!’ katanya lagi.

‘Okay,’ jawab Baba, ‘tapi kiss dulu dong Babanya.’

Baba menundukkan kepala dan Kay mencium pipi Baba.

‘Dadaaaa!!’ katanya sambil melambaikan tangan, kurang dari sedetik setelah pipi Baba dicium olehnya.

‘Dadaaaaa!!’ serunya lagi. Lambaian tangannya makin bersemangat.

Akhir-akhir ini itulah yang sering dilakukan Kay. Ia sudah bisa memilih dikeloni siapa pada saat mau bobo. Dan biasanya bukan Baba yang diminta mengeloni dia. Bisa Bibi atau Teteh Iis.

‘Bobo shama Bibi aja,’ begitu katanya, ‘Baba ngetik aja!’

‘Bobo shama Teteh aja,’ begitu pintanya di lain hari, ‘Baba mamam aja!’

‘Tapi kan Baba udah mamam, baru aja selesai,’ protes Baba.

‘Ah! Ah! Baba ngetik aja! Shama Teteh aja! Dadaaaaa!!’ serunya sambil melambaikan tangan, tanda ia meminta Baba untuk pergi.

‘Ya udah, kiss dulu.’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Lho, pipi kirinya belum?’

‘Mmmuah! Dadaaaa!!’

‘Tos dulu!’

‘Tosh! Dadaaaaa!!’

Wah, wah, wah, mungkin ia kesal karena akhir-akhir ini Babanya seringkali membawa pekerjaan ke rumah dan terlihat asyik mengetik di depan komputer saja.

Maafkan Baba ya, Nak. Meskipun Baba terlihat sibuk, bukan berarti Baba nggak sayang dan nggak mau main atau ngeloni Kay kok.

Nov 12, 2007

Tolpes dan Lateral Thinking

‘Apa ini, Kay?’ tanya Baba.

‘Tolpes,’ jawabnya.

‘Bukan tolpes, tapi toples,’ kata Baba berusaha membenarkan.

‘Tolpes,’ katanya lagi.

‘Bukan tolpes, Nak, top—?’ kata Baba lagi, maksudnya agar Kay mengikuti suku kata yang Baba ucapkan.

‘—pes,’ lanjut Kay.

‘Hahahahaa! Bukan, ikutin Baba, ya: top—?’

‘Top-pes,’ kata Kay.

‘Hahahahaha, tungguin Baba dong. Top-les, gitu.’

‘Tolpes.’

Kay memang masih sangat cadel dan selalu terbalik dalam mengucapkan kata-kata dengan huruf l dan r yang menempel dengan huruf lain, misalnya: ‘coklat’ dan ‘jigrak’. Ia akan menyebutkan kedua kata itu sebagai ‘colkat’ dan ‘jilgag’.

Tetapi, dalam hal yang lain, ia menunjukkan kecerdasannya. Mungkin ini menunjukkan kemampuan lateral thinking Kay.

Suatu hari ia diminta oleh Kakak memakai sandal. Ketika ia sedang memasukkan kakinya ke dalam sandal jepit favoritnya itu, secara tidak sengaja sandal itu tertendang sehingga posisinya berubah, sebelah kanan ada di sisi kiri dan sebaliknya.

Kay tidak menunjukkan tanda-tanda akan memperbaiki posisi sandal, ia malah terlihat cuek dan tetap menyorongkan kakinya ke dalam sandal itu.

‘Eh,’ kata Kakak, ‘sandalnya terbalik. Benerin dulu, dong.’

‘Iya,’ tambah Yangti, ‘nanti jatuh, lho.’

Kay cuek dan menyilangkan kaki kanannya ke depan kaki kiri dan memakai sandal kanan, lalu ia melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Akhirnya ia tidak memakai sandal terbalik.

‘Wah, udah pintar, ya, ternyata,’ kata Kakak memuji.

Aku udah tau kok kalo sendalnya terbalik. Kan bisa juga makenya kayak gini, nggak usah pake bungkuk-bungkuk ngebenerin posisinya dulu, mungkin itu pikir Kay.

Oct 26, 2007

Sebelum Tidur Semalam

'Kay? Kay kangen sama Mama nggak?'

'Kangen.'

'Kalo ketemu Mama mau diapain mamanya?'

'Uh-uh-uh-uh-uh.' (mengeluarkan suara manja dan gemas sambil memeluk leher Baba.)

'Terus Kay bilang apa?'

'Shayaaaaaaaaaaang.....' (tangannya mengelus-elus rambut Baba dengan lembut.)

Oct 23, 2007

Kue Dari Tante Mandy--Update

Tadi pagi Baba tanya ke Bibi apakah Kay menyukai kue keju lempeng yang diberikan Tante Mandy.

'Suka kok,' jawab Bibi, 'kemaren siang mau dia makan itu.'

Wah, kalau begitu mungkin kemarin pagi itu dia masih kenyang atau belum terbiasa memakan kue keju super enak buatan Eyang Hiang Marahimin, hehehehe...

Pagi ini setelah sarapan Baba menyuapkan sepotong kue keju lempeng itu dan dia menyantapnya tanpa protes.

Oct 22, 2007

Kue Dari Tante Mandy

‘Kay, ini ada kue dari Tante Mandy,’ panggil Baba sambil mengeluarkan dua macam kue keju, dua toples kue keju lempeng dan satu kemasan cheese stick.

Baba meletakkan ketiga kemasan kue tersebut di hadapan Kay. Seperti seorang raja kecil, Kay langsung memeriksa upeti tersebut dengan saksama.

Baba memotret Kay dengan kue-kue tersebut untuk bukti bahwa titipan Tante Mandy telah sampai dengan aman ke tangan Kay.

‘Ini kue keju, Nak,’ kata Baba.

‘Bukain, Baba,’ pinta Kay begitu ia mendengar kata “keju”.

Baba membuka selotip penyegel salah satu toples kue keju lempeng, lalu membuka tutupnya. Tangan mungil Kay segera meraih dua lempeng kue tersebut…

…lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

Ia menggigit setengah lempeng, mengunyahnya, dan beranjak pergi meninggalkan satu setengah lempeng kue keju di atas kemasan cheese stick.

‘Lho, kok ditinggal?’ tanya Baba.

Kay mengacuhkan pertanyaan itu dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari berisi mangkuk dan peralatan plastik dan mulai mengeluarkan semuanya. Ia lalu bermain-main dengan berbagai mangkuk dan tutup gelas dari plastik tersebut.

Beberapa saat kemudian ia kembali ke ruang tengah dan menghampiri piggy bank miliknya.

‘Kay mau keju nggak?’ tanya Baba sambil mendekat. Tangan Baba memegang sebuah kue keju lempeng.

‘Mau!’ jawabnya saat ia mendengar kata “keju”. Kay menoleh dan melihat kue keju lempeng di tangan Baba, lalu segera berucap, ‘nggak! Shimpen aja!’

‘Lho?? Nggak mau kue keju ini?’ tanya Baba.

‘Nggak!’ ia kabur ke tempat cuci piring.

‘Ya udah, Baba aja yang makan ya?’

‘Shimpen aja!’ lalu ia merengek sambil mendongakkan kepalanya.

‘Iya, Baba yang makan, bukan Kayril,’ kata Baba sambil memasukkan kue itu ke dalam mulut.

Wah, Tante Mandy, kayaknya dia nggak suka kue keju lempengnya nih…

Tapi begitu Baba membuka cheese stick Kay langsung melahap dua atau tiga batang dan tidak pernah menolak ketika Baba menyuapkan cheese stick padanya.

My Little Angel -- Aduuuuuh -- 'Keju, Baba!'

‘Kay ke mana, Ma?’ tanya Baba ke Nenek. Sabtu siang itu Baba baru saja tiba di rumah Nenek di Subang untuk menjemput Kay kembali ke Jakarta.

‘Pergi sama Papa tadi, beli makanan,’ jawab Nenek.

‘Sudah lama?’

‘Baru aja berangkat.’

Baba masuk ke dalam rumah, membaca buku dan segera tertidur lelap.

Dua jam kemudian Baba terbangun dan berjalan gontai ke teras belakang rumah. Di atas tikar di lantai teras itu Kay terlelap. Wajahnya tenang sekali, bagai malaikat. Baba mencium pipi gembilnya dan menunggu Kay terjaga sambil meneruskan membaca buku di sisinya.

‘Tadi dia baru datang girang sekali melihat mobil bapaknya,’ kata Kakek, ‘Papa suruh bangunin kamu tadi. Dia nggak mau, malah kabur sambil tertawa-tawa cekikikan. Lucu sekali anak ini.’

Wah, pasti tidak keruan sekali tingkahnya tadi!

Kurang lebih satu jam kemudian Kay terjaga. Baba mendekat dan tangannya langsung meraih leher Baba dan menariknya ke dalam pelukan.

‘Aduuuuh,’ katanya lirih.

Tangannya semakin kencang memeluk leher Baba. Baba berbaring di sebelahnya. Kali ini kakinya ikut merangkul perut Baba.

‘Duuh, aduuuh.’

‘Wah, ogoan*nya,’ kata Baba, ‘kenapa? Kayril kangen sama Baba?’

‘Aduuuuh,’ jawabnya, pelukannya mengencang.

‘Kayril kangen sama Mama nggak?’

‘Kangen.’

‘Kalo ketemu mau diapain Mamanya?’

‘Aduuuuuuuuh,’ jawabnya lagi. Pelukannya makin mengencang.

Beberapa menit (dan pelukan serta ‘aduh, aduh’) kemudian Kay bangkit dan mulai lasak, tapi ia tidak pernah jauh dari Baba. Bahkan beberapa kali ia berjalan sambil memeluk paha Baba, yang tentu saja membuat Baba agak sulit untuk berjalan.

‘Makannya lagi jelek, nih, sejak kemarin,’ kata Nenek, ‘dilepeh melulu. Padahal dua hari sebelum ini makannya bagus sekali.’

Memang sore harinya Kay makannya jelek, padahal Nenek memasakkan nasi tim kesukaannya. Akhirnya ia hanya menghabiskan setengah cheese john yang Baba belikan di toko roti dalam perjalanan menuju Subang.

‘Mau keju,’ katanya antusias. Ketika keju di tempat kuenya habis (walaupun rotinya belum) ia blingsatan ke dapur mencari-cari keju.

‘Tambah kejunya,’ katanya sambil celingukan di sekitar tempat cuci piring.

‘Di sini kejunya, Nak,’ Baba memanggil Kay, ‘di atas meja makan.’

Kay segera menghampiri meja makan dan berusaha mengambil sisa cheese john kesukaannya itu. Paruhan roti itu jatuh ke atas meja, tapi dengan cueknya Kay menyendoki keju parut yang berserakan di atas meja di sekitar cheese john tersebut.

‘Keju,’ katanya, ‘Keju, Baba!’


*Kolokan, manja